Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Ajakan Jordan


__ADS_3

"Apa yang mau dijelaskan? Apa kau tidak bisa mendengarnya?" Leona justru memanfaatkan kesempatan tadi untuk membuat Jordan marah dan menjauh dari hidupnya.


"Baby girl, itu tidak boleh," ucap Jordan dengan wajah sedih.


"Ada yang salah? Kami hanya berpacaran. Tidak akan sampai menikah juga," jawab Leona sangat santai.


"Kau memang wanita yang sangat menyebalkan!" umpat Jordan kesal.


"Kau juga pria yang sangat menyebalkan!" jawab Leona tidak mau kalah.


"Aku membencimu!" teriak Jordan semakin kesal.


"Aku juga membencimu!"


"Aku mencintaimu!"


"Aku-"


"Katakan Baby girl," ucap Jordan dengan bibir tersenyum tipis.


Wajah Leona memerah. Wanita itu membuang tatapannya ke arah lain. Ia tidak ingin terlihat grogi di depan Jordan. Hampir saja ia salah ucap dan mempermalukan dirinya sendiri "Pergi kau dari sini!" ketus Leona.


Jordan memutar tubuhnya. "Baiklah."


Leona memutar tubuhnya. Ia mendengus kesal saat Jordan pergi begitu saja tanpa mau membujuknya lagi. Jordan terlihat berjalan dengan sangat santai. Pria itu memegang handle pintu sebelum membuka pintu secara perlahan.


"Tadi aku hanya membantu Kwan latihan. Dia ingin menyatakan cintanya kepada Alana. Wanita yang sangat ia cintai," ucap Leona dari kejauhan.

__ADS_1


Jordan menahan langkah kakinya. Pria itu memutar tubuhnya lagi lalu menatap wajah Leona dengan saksama. "Baby girl, apa kau takut aku marah?" sindir Jordan dengan wajah penuh kemenangan.


Leona tertegun. "Kenapa aku harus menjelaskan hal itu padanya? Lihatlah dia. Semakin besar kepala jadinya," gumam Leona di dalam hati.


"Baby girl, ayo kita turun. Aku akan membawamu ke suatu tempat," ajak Jordan dengan wajah serius.


"Kemana?" tanya Leona dengan wajah penasaran.


"Ikut saja. Aku tunggu di bawah. Ganti pakaianmu dengan pakaian yang lain. Itu terlalu pendek," ucap Jordan sebelum keluar meninggalkan kamar Leona.


Leona hanya diam membisu. Ia tidak tahu, harus menuruti permintaan Jordan apa tidak. Tapi, saat ini Leona masih membutuhkan bantuan Jordan. Tanpa adanya Jordan, Serena tidak akan mengijinkannya untuk pergi ke Jerman.


Jordan menemui Kwan yang saat itu ada di balkon. Pangeran Cambridge itu terlihat sangat penasaran dengan penyerangan sore yang telah terjadi di rumah utama.


Kwan terlihat sibuk dengan ponselnya. Ia mengukir senyuman indah saat Alana membalas pesan yang ia kirimkan. Dari kejauhan, Jordan muncul dengan ekspresi dingin. Pria itu menaikan satu alisnya saat melihat Kwan tertawa sendirian.


Kwan menatap wajah Jordan sejenak sebelum memandang ponselnya lagi. "Apa kau tidak jadi tidur di rumahku?"


Jordan mengangkat kedua bahunya. "Sepertinya tidak jadi. Apa kau akan pergi ke Jerman besok?"


"Kita, bukan aku saja," ucap Kwan dengan senyuman.


"Siapa yang menyerang tadi?" tanya Jordan penasaran.


"The Devils," ucap Kwan dengan wajah serius. Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Aku tidak menyangka kalau pria itu bisa senekad ini. Setelah tiba di Jerman, Kak Leona ingin segera membunuh pria itu," ucap Kwan dengan wajah penuh dendam.


Jordan mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan membantu Leona untuk menghabisi pria itu. Bukankah orang jahat harus segera dimusnahkan?" ucap Jordan dengan tawa kecil.

__ADS_1


"Kau juga bukan pria baik," sindir Kwan dengan bibir tersenyum tipis. "Bisa-bisanya seorang pangeran membunuh polisi," sindir Kwan saat kejadian di Meksiko.


Jordan mengangguk pelan. "Ternyata cinta bisa membutakan mataku hingga seperti itu."


Saat Jordan dan Kwan sedang asyik berbicara, suara high heels Leona terdengar dengan begitu jelas. Jordan dan Kwan sama-sama memutar tubuh mereka untuk melihat wajah sang pemilik suara.



Leona mengenakan pakaian yang sangat sopan dan rapi. Wanita itu menuruti permintaan Jordan untuk tidak memakai pakaian yang pendek seperti biasanya. Rambutnya tergerai dengan indah.


"Apa ada yang salah? Kenapa kalian melihatku seperti itu?" ucap Leona dengan tatapan yang sangat tajam. Tanpa adanya senyuman.



"Tidak ada. Kau sangat cantik dan sempurna, Baby girl," puji Jordan dengan wajah bahagia.


Kwan menepuk pundak Jordan. "Kau harus bisa menjaga kekasihku dengan baik," sindir Kwan lagi.


Jordan memukul perut Kwan dengan siku tangannya. Setelah puas membalaskan perbuatan Kwan, Jordan berjalan mendekati Leona.


"Ayo Baby girl. Kita akan mengunjungi tempat yang sangat indah," ucap Jordan penuh percaya diri. Pria itu mengulurkan tangannya.


Leona menatap tangan Jordan sebelum memutar tubuhnya. "Jangan bersikap sepeti itu. Aku tetap tidak mau berpacaran denganmu," ucap Leona sambil berjalan menuju tangga.


Jordan mengepal tangannya dengan embusan napas yang sangat berat. Dari arah belakang, Kwan tidak henti-hentinya menertawakan Jordan.


"Pangeran Cambridge, Anda belum beruntung," ledek Kwan dengan wajah yang sangat puas.

__ADS_1


Jordan menatap wajah Kwan sebelum mengejar Leona. Pria itu tidak ingin menyerah. Ia ingin Leona menjadi miliknya dan bisa menerima cinta sucinya.


__ADS_2