Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Berapa Lama Lagi?


__ADS_3

Matahari kembali bersinar. Cahaya matahari menembus masuk menerangi kamar Jordan. Pagi ini, kepala Jordan terasa berat dan sedikit sakit. Jordan berusaha mengambil gelas berisi air minum yang ada di atas nakas. Dengan kepala yang sangat sakit, Jordan berusaha meraih gelas tersebut. Jordan meneguk air itu dengan cepat, hingga hanya menyisakan satu gelas kosong.


Jordan melawan semua rasa sakit yang kini ia rasakan. Memaksakan tubuhnya untuk bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi. Pagi ini Jordan tidak ingin berendam, ia lebih memilih mandi di bawah pancuran shower. Membersihkan dirinya agar kembali segar.


Setelah beberapa menit menghabiskan waktu di kamar mandi, Jordan keluar dengan handuk melilit di pinggangnya. Pria itu berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian yang akan ia kenakan. Wajahnya memang terlihat sedikit pucat bahkan suhu tubuhnya juga sedikit meningkat. Dengan segera ia mengenakan pakaian yang telah ia pilih.


“Apa lagi sekarang?” umpat Jordan cepat. Pria itu memandang vitamin yang ada di atas meja. Ia ingin segera sarapan agar bisa meminum vitamin tersebut. Jordan berharap tubuhnya tidak lemah untuk hari ini. Ada banyak hal yang haru ia lakukan. Salah satunya menyelidiki masalah dan kehidupan Leona.


Jordan melangkah cepat menuju ke arah pintu. Pengawal miliknya sudah berdiri tegab di depan pintu kamar. Pengawal itu menunduk hormat, sebelum memberi salam kepada Jordan.


“Selamat pagi, Pangeran,” ucap sang pengawal dengan senyum ramah.


“Apa Leona sudah bangun?” Jordan melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Sudah, Pangeran. Saya sudah mengirimkan pelayan untuk membantunya bersiap,” jawab pengawal itu seadanya.


Jordan mengangguk pelan sebelum berjalan menuju ke arah tangga. “Suruh dia menemuiku di bawah.”


“Baik, Pangeran,” ucap pengawal itu.


***

__ADS_1


Leona terbangun dari tidurnya, saat seorang pelayan membangunkanya. Leona membuka matanya yang masih terasa berat dan duduk di atas tempat tidur dengan malas. Sejenak ia hampir lupa kalau pagi itu tidak bangun di atas tempat tidur yang selama ini ia tiduri.


“Ada apa? Aku masih ingin tidur,” rengek Leona malas. Matanya terbelalak kaget. Leona kembali sadar, kalau saat ini ia tidak tidur di kamarnya, “Apa sudah siang?” Leona menatap wajah pelayan itu.


“Sudah nona, ini baju anda.” Pelayan itu meletakkan baju di atas tempat tidur, “Anda sudah di tunggu Tuan di bawah, Nona. Saya permisi dulu.” Pelayan itu menunduk hormat sebelum melangkah pergi, meninggalkan kamar Leona.


“Astaga, ini sudah sangat siang. Aku bisa terlambat.” Leona berlari kencang menuju kamar mandi.


Dalam waktu singkat, Leona sudah menyelesaikan mandinya. Ia mengenakan baju yang sudah di siapkan Jordan untuknya. Dengan wajah sedih, Leona mengenakan gaun berwarna biru muda itu. Ia bukan tidak suka dengan bajunya. Hanya saja, secara tidak langsung Jordan telah mengingatkan dirinya dengan kehidupan sebelum masuk ke dalam dunia mafia.


“Ini sangat menyebalkan!” umpat Leona kesal. Ia berjalan cepat ke arah pintu untuk meninggalkan kamar. “Hari ini aku harus bisa kabur dari tempat ini. Tidak akan ada hari esok. Aku juga harus menemui Queen Star di markas,” umpat Leona kesal di dalam hati.


Satu pengawal sudah menunggu Leona. Lagi-lagi Leona di temani, untuk bertemu dengan Jordan di lantai bawah. Leona menuruni anak tangga dengan begitu cepat. Di lantai bawah, Jordan membicarakan sesuatu yang penting bersama Pengawalnya. Suara high heels Leona, mengalihkan pandangan Jordan.


“Maafkan aku, aku kesiangan. Bisakah kau mengantarku pulang? Saat ini juga.” Leona bernapas dengan terengah-engah.


“Aku akan mengantarkanmu pulang, setelah sarapan,” ucap Jordan dengan ekspresi dingin favoritnya. Karena memang kurang enak badan. Jordan sedikit mengurangi senyuman di bibirnya.


“Tidak bisa. Oliver, aku mohon. Jangan menahanku lagi.” Leona melirik ke arah jam besar yang terlihat di rumah itu, “Ku mohon,” ucap Leona lirih. Kali ini tidak ada cara lain selain merengek. Ya, Leona harus memasang wajah memelas agar pria yang ada di hadapannya tersentuh dan mengijinkannya pergi dari rumah besar itu.


“Sebentar saja, ayo kita sarapan,” ucap Jordan sembari menarik tangan Leona. Pria itu menyeret paksa wanita itu ke arah meja makan. Sudah ada banyak makanan yang terhidang di sana.

__ADS_1


“Tapi ....” ucapan Leona tertahan. Wanita itu berusaha menurut dan menjadi wanita yang baik budi. Hanya dengan seperti itu, Leona berharap bisa mendapatkan ijin dari pria tersebut untuk pergi meninggalkan rumah mewah itu.


Jordan tidak lagi memperdulikan permintaan Leona. Jordan menarik tangan Leona dengan paksa, menuju ke arah meja makan. Leona tidak lagi melakukan penolakan, saat melihat aneka makanan yang terhidang di atas meja.


“Kalo Cuma lima menit makan, aku rasa tidak terlalu lama,” gumam Leona di dalam hati.


Leona duduk di sebuah bangku yang telah di sediakan untuknya. Jordan tersenyum tipis, saat melihat  Leona memakan beberapa roti dengan cepat.


“Kau terlihat begitu lapar, kenapa bisa menolak untuk makan,” gumam Jordan di dalam hati.  Pria itu menggeleng pelan kepalanya.


Leona memakan roti itu, sambil memandang wajah Jordan. Dahinya mengkerut, saat melihat wajah Jordan yang terlihat sedikit pucat.


“Apa yang terjadi? Kenapa dengan wajahmu?” Leona menghentikan makannya, dan beranjak dari duduknya untuk mendekati Jordan, “Apa kau sakit?” tanya Leona lagi. Wanita itu memegang dahi Jordan untuk memeriksa suhu tubuh pria tersebut.


Jordan hanya menatap Leona dalam diam. Saat ini, wajah Leona benar-benar dekat dengannya. Jantungnya terasa cepat untuk berdetak. Aroma sampo yang di kenakan Leona tercium dengan begitu jelas di dalam hidungnya. Jordan terpesona hingga beberapa detik. Namun, dengan cepat Jordan menghilangkan perasaan itu. Ia menatap dingin ke arah Leona.


“Aku baik-baik saja,  cepat habiskan sarapanmu!” ucap Jordan ketus. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan wanita. Jordan mengalihkan pandangannya dari Leona.


“Baiklah, maafkan aku.” Leona kembali duduk dan melanjutkan sarapannya. Wanita itu kembali merenungi apa yang  baru saja ia lakukan. “Apa peduliku padanya? Mau dia sakit atau tidak itu urusannya. Kenapa aku harus repot-repot mengkhawatirkannya?” umpat Leona kesal di dalam hati.


“Aku sudah menemukan handsfreemu. Aku meletakkannya di kamar,” ucap Jordan sambil menyudahi sarapannya.

__ADS_1


Leona mengukir senyuman. Tanpa banyak kata lagi, Leona beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu sudah tidak sabar untuk menanyakan kabar dari anak buahnya. Wanita itu ingin meminta pasukan khusus miliknya untuk menolongnya agar bisa kabur dari kediaman pria yang sudah menculiknya saat ini.


Jordan melihat punggung Leona yang sudah menjauh dari meja makan. Pria itu menggeleng pelan. “Padahal aku belum menyelesaikan kalimatku. Tapi, ia sudah pergi begitu saja,” ucap Jordan dengan senyuman tipis.


__ADS_2