
Waktu bergulir dengan begitu cepat. Hingga tidak terasa matahari ingin tenggelam secepatnya. Leona, Letty dan Miller masih melakukan upaya pencarian di lokasi. Bahkan di seluruh hutan, Queen Star sudah menelusurinya. Namun, tidak menemukan petunjuk apapun. Hanya tubuh lelah yang tersisa. Jejak Jordan dan Oliver hilang seperti di telan bumi. Bahkan hingga detik ini kabar ledakan itu masih mereka rahasiakan. Hanya mereka bertiga yang tahu. Leona takut jika nanti seisi istana tahu, akan membuat semua orang menjadi khawatir.
Sudah berjam-jam mencari mereka tidak menemukan tanda-tanda apapun. Leona sendiri yang terlihat semakin pucat membuat Letty panik bukan main. Hingga akhirnya Letty membawa Leona pulang ke istana. Di sana juga Leona hanya di sambut Katterine. Setahu yang lain Leona hanya jalan-jalan mencari udara segar. Sedangkan Jordan dan Oliver di anggap sedang sibuk mengurus sesuatu.
Leona duduk di atas tempat tidur dengan wajah yang sangat sedih. Katterine ada di sampingnya. Sejak tadi Leona belum menceritakan apapun hingga membuat Katterine dipenuhi tanda tanya. Namun, untuk memaksa Leona bercerita Katterine tidak berani. Ekspresi wajah Leona terlihat membingungkan.
“Katterine, jika dua pria itu pergi. Apa yang akan kau lakukan?” celetuk Leona tiba-tiba. Selama ini Leona bukan tipe wanita yang mudah menyerah. Namun kali ini ia benar-benar hilang arah. Tidak tahu harus bagaimana hingga berakhir pasrah.
“Kak, apa yang kakak katakan? Dua pria? Maksud kakak Kak Jordan dan Oliver? Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka? Kak, apa tadi kakak sudah bertemu dengan mereka? Bagaimana keadaan mereka? Apa mereka terluka? Kenapa kakak tidak kembali bersama dengan mereka?” Sejuta pertanyaan lolos dari bibir Katterine. Wanita itu terus saja mendesak Leona ketika Leona mulai mengatakan pentanyaan tidak jelas dan membingungkan.
“Mereka baik-baik saja. Hanya saja, mereka tidak mau kita temui.”
“Apa alasannya? Kak, di mana mereka? Kenapa mereka tidak mau kita temui?”
Leona mengukir senyuman dan mengusap pipi Katterine. “Mungkin karena mereka tidak mau kita terluka.”
Di sisi lain. Setelah mengantar Leona ke istana, Miller membawa Letty pulang ke apartemen. Akan tetapi wanita itu menolak. Ia tidak suka berada di tempat yang nyaman saat saudaranya tidak tahu di mana keberadaannya. Hingga akhirnya Miller membawa Letty ke suatu tempat. Pria itu berharap Letty bisa jauh lebih tenang jika ada di sana.
“Aku tidak bisa tidur dengan tenang. Sepertinya malam ini aku akan melakukan pencarian lagi. Aku harus memastikan kalau Jordan dan Oliver baik-baik saja di suatu tempat,” ucap Letty sambil berjalan ke bagian depan mobil. Ia melihat pemandangan laut yang begitu indah. Sayangnya pemandangan itu tidak sama dengan suasana hatinya saat ini. Tangis dan rasa khawatir Leona terus mengiang di dalam ingatannya. Ia tahu bagaimana perasaan Leona saat ini.
“Mereka baru saja menikah dan pulang dari bulan madu. Tapi, sekarang sudah di hadapkan dengan kondisi seperti ini.” Miller menghela napas. Ia membuka minuman kaleng dan memberikannya kepada Letty. Letty menerimanya. Setelah itu Miller membuka minuman kaleng lain untuk dirinya.
“Aku tahu kalau mereka pasangan yang tangguh. Tapi, jika terlalu sering mendapat masalah seperti ini. Aku takut mereka merasa lelah,” sambung Miller lagi.
“Tidak akan. Leona dan Jordan pasti bisa melewati masalah ini. Justru aku memikirkan Katterine. Dia dan Oliver baru saja mengenal cinta. Namun, sudah mengalami perpisahan. Aku tidak menemukan jenazah Oliver dan Jordan di lokasi. Itu berarti mereka masih selamat. Aku yakin saat ini mereka sedang berada di suatu tempat. Pastinya masih di dunia.”
“Dua pria tangguh itu pasti sedang merencanakan sesuatu. Aku yakin!”
***
Serena membawa segelas susu menuju ke kamar Leona. Ia ingin bercerita dengan putri tercintanya. Daniel menunggu di kamar. Pria itu memutuskan untuk istirahat di dalam kamar. Tadi siang kabar yang di dengar para orang tua kalau Gold Dragon berhasil mengalahkan musuh. Di titik itu, semua orang menganggap masalah ini telah selesai. Musuh telah dikalahkan. Jadi, tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Zeroun sendiri terlalu sibuk merayu sang istri agar tidak marah lagi. Sampai-sampai kabar bohong yang sengaja di buat Leona dan Letty ia percayai begitu saja. Padahal biasanya pria itu akan menyelidiki sebelum mempercayai. Tapi kali ini sepertinya Emelie menjadi pusat perhatiannya. Di tambah lagi, sekarang Zeroun tidak lagi berani berbohong atau menyembunyikan apapun dari Emelie. Apa lagi sampai meninggalkan Wanita itu ketika sedang tidur. Sudah tidak mungkin ia berani.
Serena sedikit ragu ketika ingin mengetuk pintu. Walau ia tahu Jordan tidak akan pulang malam ini karena suatu urusan. Tapi, tetap saja ia bingung harus bagaimana menghadapi putrinya yang sudah menikah. Kira-kira bagaimana sikapnya yang baik dan yang benar.
“Tante?” Katterine yang baru saja keluar dari kamar Leona kaget ketika melihat Serena berdiri di depan sana. Ia segera menghapus air matanya agar Serena tidak curiga.
“Katterine, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?” Wajah Serena berubah panik. Susu itu ia letakkan di atas meja yang berada tidak jauh dari kamar. Setelah itu Serena memeriksa keadaan Katterine dan memastikan wanita itu baik-baik saja.
“Tidak Tante. Tidak terjadi apa-apa,” lirih Katterine dengan bibir gemetar. Tiba-tiba saja wanita itu berhambur ke dalam pelukan Serena dan melanjutkan tangisnya yang setengah-setengah.
“Katterine, ada apa?”
Katterine kembali ingat pesan Leona. Mereka harus merahasiakan ini. Jika sampai besok malam Jordan dan Oliver tidak kembali mereka baru akan menceritakan semuanya. Terkadang Jordan dan Oliver selalu memiliki kejutan ya walau kejutan itu membuat yang lain sedikit geram.
“Katterine tidak mau mommy dan daddy berkelahi,” jawab Katterine penuh kebohongan. Serena menghela napas lega ketika mengetahui sumber tangis Katterine adalah kedua orang tuanya. Wanita itu mengusap punggung Katterine untuk menenangkannya.
“Mereka akan segera baikan. Lihat saja besok pagi.”
“Benarkah?”
__ADS_1
Serena mengangguk. “Ya, percaya sama Tante.”
Katterine menghapus sisa air matanya. Ia memandang segelas susu yang tadi di bawa Serena. “Apa itu untuk Kak Leona?”
“Ya. Apa Leona sudah tidur?”
“Tidak. Kak Leona sedang mandi. Tante bisa masuk dan menunggu di dalam.”
Serena menghapus sisa air mata yang ada di pipi Katterine. “Walau sudah tua, terkadang orang tua masih akan menemukan perselisihan. Tapi, percayalah. Dua insan yang saling mencintai tidak akan memilih untuk berpisah. Apa lagi jika sudah menikah.”
“Tante, apa ikatan pernikahan itu kuat? Apa ketika kita sudah menikah keberuntungan akan banyak berpihak kepada kita?” Katterine berharap pernikahan antara Leona dan Jordan akan membawa jalan kebaikan bagi semua orang.
“Ya. Pernikahan sangat suci. Cinta sejati antara dua orang yang menikah akan bisa mengalahkan cobaan apapun.”
“Apapun?” tanya Katterine kurang yakin.
“Ya. Kecuali kematian, keturunan dan kesehatan. Bukankah itu sudah ada yang mengatur?” ucap Serena lagi.
Kedua mata Katterine perih. Ia mengangguk sambil tersenyum terpaksa. “Terima kasih, Tante. Katterine mau ke kamar dulu.” Wanita itu pergi begitu saja tanpa peduli dengan ekspresi bingung Serena malam itu.
“Aneh. Aku tidak terlalu dekat dengan Katterine. Tapi, dari matanya ia sedang menyembunyikan sesuatu.” Serena mengambil susu yang ia buat untuk Leona dan wanita itu masuk ke dalam kamar.
Setibanya di dalam kamar. Serena memperhatikan ruangan yang begitu rapi. Bahkan tempat tidur saja seperti belum ditiduri. Tersusun sangat rapi dengan seprei warna hitam. Serena tersenyum. Walau sudah menikah Leona tetap saja mencintai warna gelap. Ia berjalan ke arah sofa. Serena ingin menunggu Leona sampai selesai mandi di sana. Detik itu Serena belum menyadari apapun karena memang semua berjalan dengan lancar.
Setelah setengah jam menunggu bahkan susu yang ia bawa juga sudah dingin, Leona keluar dari dalam kamar mandi. Wanita itu kaget ketika melihat Serena. Sadar kalau ibunya wanita yang bisa menerka masalah orang lain, Leona bersikap sewajar mungkin agar Serena tidak curiga.
"Ma, sejak kapan mama ada di sana?" Leona berjalan dengan senyuman. Ia memperhatikan tingkah laku Leona yang ceria seperti biasanya.
Leona melirik susu yang ada di atas meja. "Kenapa mama tidak memanggil Leona?"
"Bukankah tidak enak jika sedang berendam di ganggu?" Serena tersenyum saat putrinya duduk di sampingnya. Tanpa pikir panjang Leona meminum susu buatan Serena walau tidak habis.
"Sayang, kenapa kau tidak ikut Jordan?"
Leona terlihat bingung. Wanita itu meletakkan susunya di atas meja dan tersenyum lagi. "Aku lelah, Ma. Besok malam Jordan juga sudah pulang."
"Benarkah?" ada penekanan di dalam pertanyaan Serena.
"Benar, Ma. Apa yang mama pikirkan? Aku sedang program. Bukankah dokter bilang tidak boleh terlalu capek. Pekerjaan Jordan sangat melelahkan. Apa lagi jika itu menyangkut soal Gold Dragon."
"Syukurlah. Mama juga tidak bisa lama di sini. Besok mama harus kembali. Sepertinya masalah di istana ini sudah selesai. Mama harus pulang."
"Ma, kenapa cepat sekali?" rengek Leona tidak setuju. Rasa kangennya belum selesai. Ia tidak mau Serena pergi saat ia masih membutuhkannya.
"Sayang, sekarang Tamara ada di rumah kita. Mama tidak mau dia merasa segan dan memutuskan pulang."
"Dokter Tamara ada di rumah? Kok bisa?"
"Ya, jadi mama menjadikan Tamara dokter pribadi keluarga kita. Dia anak yang pintar. Resep yang diberikannya juga cocok dengan kesehatan mama."
"Bagaimana dengan Kak Aleo, Ma? Bagaimana dengan Clara?"
__ADS_1
Serena diam sejenak. Ia terlihat memikirkan sesuatu. "Sayang, sebenarnya ini salah mama. Hanya saja mama tidak pernah mau mengakui kesalahan mama di depan kakakmu dan papamu."
"Kesalahan? Apa yang sudah mama lakukan?"
"Melihat Aleo tidak memiliki pacar dan tidak kunjung membahas soal pernikahan. Mama memutuskan untuk mencarikan wanita yang cocok untuk Aleo. Bukankah kakakmu adalah orang yang sulit menerima orang baru? Jadi mama putuskan untuk mencari wanita yang pernah di kenal Aleo. Clara adalah satu-satunya wanita yang dekat dan sangat dikenal Aleo. Jadi mama memutuskan untuk mempertemukan mereka kembali."
"Ma, terus masalahnya ada di mana?"
"Mama tidak tahu kalau sebenarnya Aleo menyukai Tamara."
"Benarkah?" tanya Leona kurang yakin. Sulit dipercaya jika kakak kandungnya itu bisa tertarik dengan wanita. Mengingat selama ini tidak ada wanita yang sangat dekat dengannya.
"Mama jadi serba salah. Kalau Tamara kan sudah pasti ya. Dia berasal dari keluarga baik-baik. Dia putri Tama dan Anna. Orang terdekat kita. Kalau Clara?"
"Clara juga wanita baik yang berasal dari keluarga baik-baik, Ma."
"Tapi. Mama lebih suka dengan sikap Tamara. Clara sedikit centil. Mama takut kakakmu terkena pergaulan bebas jika dekat dengan Clara."
Leona mendesah. "Ma, Kak Aleo adalah laki-laki. Kalau dia melakukan hal aneh-aneh tinggal suruh tanggung jawab saja," jawab Leona asal saja. Sebenarnya ia tidak terlalu kosentrasi karena masih memikirkan Jordan.
"Mama juga jadi tidak enak dengan Clara."
"Ma, biar Kak Aleo yang menentukan hidupnya. Mama sebagai orang tua hanya menyetujui dan mendukung."
"Sayang, bagaimana kalau Kakakmu benar-benar berjodoh dengan Clara?"
"Itu tandanya mama harus menikah mereka. Ma, Tamara juga tidak menunjukkan tanda-tanda mencintai Kak Aleo selama ini. Bagaimana kalau cinta Kak Aleo bertepuk sebelah tangan."
"Leona, kau salah paham. Tamara terlihat cemburu ketika melihat Clara dan Aleo bersama."
Leona menjauhkan kepalanya di atas pangkuan Serena. Ia memejamkan mata dan mengatur posisi tidurnya. Kedua kakinya sudah ada di atas sofa. Posisinya miring ke kiri sambil melihat gelas susu yang masih tersisa.
"Ma, Leona ngantuk. Apa mama mau menemani Leona sampai Leona terlelap? Leona lelah, Ma."
Serena menghela napas. Ia mengusap lembut rambut panjang Leona yang tergerai dan masih setengah basah.
"Tidurlah sayang. Mama akan menemanimu. Ceritakan sama mama jika ada sesuatu yang terjadi di dalam hidupmu. Mama akan selalu ada di sampingmu. Membantumu menemukan solusinya."
Leona hanya mengangguk. Ia masih belum mau menceritakan apa-apa karen berharap memang masalah ini telah selesai.
***
Di malam yang dingin, di atas gedung duduk seorang pria dengan sebotol wine di tangannya. Pria itu terlihat sangat tenang ketika angin dingin menerpa tubuhnya yang terbuka. Dada telanjangnya mengeluarkan keringat karena ia baru saja berlatih.
Pria itu adalah Zean. Ia adalah pria bertopeng yang sudah memukul kaca mobil Leona. Zean terpaksa melakukan semua itu karena tanpa sengaja ia melihat Leona dalam bahaya. Penembak jitu telah mengincar wanita itu dan siap menghabisinya. Zean muncul dan memecahkan kaca mobil Leona agar Leona sadar dari lamunannya.
Tadinya Zean berpikir kalau Leona akan turun dari mobil dan menghajarnya. Tidak di sangka kalau wanita itu justru kabur begitu saja. Ia sedikit tenang setelah memastikan Leona tidak lagi dalam bahaya.
"Kenapa kita harus bertemu lagi? Aku sempat berpikir kalau malam itu pertemuan kita yang terakhir. Dan lokasi ini, apa yang kau lakukan di sekitar sini Leona? Di sini tidak ada tempat yang menyenangkan yang bisa dikunjungi. Tempat bertransaksi barang terlarang dari orang-orang tidak berguna." Zean meletakkan botol minumnya yang telah kosong. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam dan mandi. Tubuhnya sudah terasa sangat panas. Zean juga butuh istirahat untuk menghilangkan rasa lelahnya.
__ADS_1