
Leona melempar pandangannya ke arah Jordan. Tidak tahu kenapa ia sangat sulit untuk mengeluarkan kata detik itu. Leona merasa ada yang melukai hatinya. Tapi, tidak tahu siapa dan dengan cara apa. Setelah bangun dari koma, justru Leona merasa baik-baik saja. Bahkan hatinya terasa sempurna karena bisa memaafkan semua yang telah melukainya.
"Dia mantanmu ... Pangeran Jordan," ledek Kwan dengan tatapan menuduh. Bahkan pria itu menunjuk ke arah Jordan dengan tawa tertahan. Sangat puas bagi Kwan untuk meledek dan membuat Jordan merasa terpojokkan. Seperti hiburan tersendiri baginya. "Wanita itu meminta Clouse membunuh Kak Leona karena dia cemburu. Bukankah begitu?" ucap Kwan lagi.
Jordan membalas tatapan Kwan dengan wajah yang serius. Ekpresinya sangat dingin hingga membuat ruangan itu seperti dipenuhi dengan es. "Ya."
"Habislah kau! Berani sekali kau menjawab jujur. Di depan Kak Leona lagi!" celetuk Kwan dengan wajah berubah serius.
Oliver memandang wajah Jordan dengan tatapan bingung. Ia tidak menyangka kalau Jordan mau mengakui Putri Isabel sebagai mantannya. Padahal jelas-jelas mereka belum pernah bertemu sama sekali.
Leona merema*s bantal kursi yang ada di hadapannya. Ia memandang wajah Jordan dengan saksama. Giginya saling menggertak hingga membuat aura membunuh wanita itu kembali bangkit.
"Kau yang menyebabkan masalah ini!" ucap Leona menuduh. Tidak tahu kini wanita itu marah karena Tama hilang atau karena cemburu. Ketiga pria yang ada di ruangan itu memandang Leona dengan pikiran mereka masing-masing.
"Ya. Aku yang menyebabkan semua ini. Aku yang menyebabkan istana Cambridge hancur. Aku yang menyebabkan keluargamu terluka. Aku yang menyebabkan Katterine sampai di culik. Aku juga yang sudah menyebabkan dirimu koma!"
Kali ini wajah Jordan benar-benar serius. Tidak ada candaan sama sekali dari aura wajah pria itu. Ia terlihat sedih dan sangat menyesali semua yang terjadi. Jordan merasa ia sosok pangeran yang tidak berguna. Sosok kakak yang tidak berguna. Bahkan sosok pria yang tidak berguna karena tidak bisa melindungi wanita yang ia cintai.
Leona diam membisu ketika mendengar kalimat yang terucap dari bibir Jordan. Wanita itu membuang tatapannya ke arah lain.
__ADS_1
Kwan dan Oliver saling memandang satu sama lain dengan wajah bingung. Kini keadaan semakin memburuk. Mereka bukan bersatu justru berselisih. Oliver terlihat menuduh dan menyalahkan Kwan karena telah menyebabkan semua ini.
"Tadinya aku ingin melihat Kak Leona cemburu. Kenapa jadi seperti ini?" gumam Kwan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kak Leona, apa kau sudah makan?" ucap Kwan penuh basa basi. Ia tidak mau suasana itu terus-menerus kaku seperti itu.
Leona berdiri untuk pergi menjauh dari tempat itu. Ia tidak ingat kalau kini kakinya belum bisa menopang tubuh. Setelah berdiri sekian detik, tubuh Leona tersungkur ke arah depan. Kedua tangannya terangkat ke atas.
Kwan bergerak cepat untuk menolong Leona. Ia berusaha memegang tangan Leona. Namun, tangannya tidak berhasil menggenggamnya.
Jordan tidak hanya mau diam saja. Pria itu segera beranjak dari kursinya dan berusaha menangkap tubuh Leona. Kali ini memang takdir masih memberi keberuntungan kepada Jordan. Hanya sekali gerakan saja, Pangeran Cambridge itu berhasil menangkap tubuh Leona. Ia memegang kedua lengan Leona agar wanita itu tidak terjatuh.
"Sebenarnya apa yang membuatmu marah? Kenapa kau sangat membenciku!" umpat Jordan kesal. Ia memandang wajah Leona dengan ekspresi dingin.
"Leona, kenapa kau diam saja? Katakan padaku. Kenapa kau sangat membenciku? Sejak pertama bertemu hingga detik ini."
"Kau lelah melihat sikapku?" jawab Leona dengan suara yang sangat pelan. Bahkan hanya Jordan saja yang bisa mendengar dengan jelas apa yang Leona ucapkan.
"Tidak! Aku bukan pria yang mudah lelah. Apa lagi untuk memperjuangkan sesuatu yang ingin aku dapatkan. Hanya saja, aku ingin kau bersikap wajar. Seperti kau memperlakukan Kwan dan yang lainnya. Setiap kali bersamaku, kau selalu emosi," ucap Jordan dengan jujur.
"Sebenarnya aku sendiri tidak tahu, kenapa aku tidak bisa bersikap sewajarnya saja ketika ada di dekatmu," gumam Leona di dalam hati.
__ADS_1
"Baby girl, aku mencintaimu tulus. Tadi aku berkata ya, bukan berarti Isabel adalah mantan pacarku. Aku berkata ya, untuk pertanyaan Kwan yang kedua. Aku hanya mengaitkan yang sudah terjadi. Sepertinya benar, Clouse melakukan semua ini karena perintah Isabel," ucap Jordan penuh penjelasan. Pria itu membuang napasnya dengan kasar sebelum mengangkat tubuh Leona ke dalam gendongannya.
"Apa yang kau lakukan?" protes Leona lagi-lagi dengan wajah juteknya.
"Aku ingin membawamu jalan-jalan untuk melihat pemandangan di sekitar sini. Mungkin hatimu jauh lebih dingin jika melihat pemandangan laut yang biru," ucap Jordan sambil berjalan pergi.
Kwan dan Oliver sama-sama bersandar di sofa dengan tatapan ke arah langit-langit ruangan. Dua pria itu bisa kembali lega ketika melihat Jordan tidak memperpanjang masalah ini lagi.
"Pangeran Jordan pria yang sabar ...," ucap Oliver tanpa mau memandang Kwan.
"Kak Leona juga wanita yang baik. Sayangnya semua berubah sejak Zean menyakitinya. Sangat sulit memahami jalan pikirannya untuk saat ini." Kwan memandang Oliver dengan serius. "Kau lihat sendiri tadi kan. Dia berubah menjadi pemaaf dan tidak menyalahkan siapapun. Itu adalah Kak Leona sebelum terjun ke dunia mafia. Tapi, setelah dia bertikai dengan Jordan. Dia kembali lagi menjadi Ratu Mafia," ucap Kwan sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kau setuju jika Pangeran Jordan dan Nona Leona berpacaran?" tanya Oliver pelan.
Kwan tertawa kecil. "Bukan hanya pacaran. Bahkan aku berharap mereka segera menikah. Tidak tahu bagaimana bentuk rumah tangga mereka nanti jika sifat Kak Leona belum berubah. Dia sangat mirip dengan Tante Serena. Paman Daniel sangat takut dengan Tante Serena. Sama dengan Papa Kenzo juga takut dengan Mama Shabira."
"Bukan hanya mereka saja. Daddy juga takut dengan Mommy," sambung Oliver ketika membayangkan wajah Lana dan Lukas.
"Oliver, apa kau mau membantuku?" ucap Kwan dengan wajah yang serius.
__ADS_1
Oliver menyipitkan kedua matanya. "Kali ini apa yang kau rencanakan?"