
“Tante ...,” lirih dokter yang baru saja muncul dihadapan Serena. Dokter cantik itu mengukir senyuman karena tidak menyangka akan bertemu dengan wanita yang sangat ia rindukan. Bibirnya mengukir senyuman indah. Tiba-tiba saja air mata bahagia muncul di pelupuk matanya.
Serena memandang wajah wanita yang baru saja menyapanya. “Angel,” ucap Serena dengan rasa ragu.
Serena dan yang lainnya beranjak dari kursi yang mereka duduki. Serena mengukir senyuman saat melihat wajah dokter cantik yang kini berdiri di hadapannya. Ia juga merasakan hal yang sama dengan Angel. Tidak menyangka kalau ia bisa bertemu dengan Angel. Putri dari sahabat terbaiknya, Diva.
“Tante, apa yang Tante lakukan di sini?” Angel berhambur ke dalam pelukan serena. Wanita itu sudah lama berpisah dengan Serena. Dan kini ... saat takdir mempertemukan mereka kembali, Angel merasa sangat bahagia.
“Angel, kau masih ingat dengan Tante? Kalian pergi kemana selama ini? Tante sangat mengkhawatirkan kalian. Kalian menghilang begitu saja,” protes Serena dengan tetes air mata yang masih deras. Sejak tadi ia masih merasa sedih karena putri tercintanya berbaring lemah di dalam. Namun, kini ada Angel yang membuatnya kembali menangis karena bahagia.
“Tante, ceritanya sangat panjang. Maafkan kami, Tante,” ucap Angel masih dengan tubuh memeluk Serena. Ia sangat ingat dengan wajah Serena. Diva sering memberi tahunya foto wanita yang telah berjasa dengan kehidupannya dulu. Bahkan Angel juga masih mengingat jelas saat terakhir kali ia melihat wajah Serena. Saat masih sekolah, Serena dan Angel sering ketemuan di beberapa negara untuk berlibur. Hanya ada Angel dan Serena saja. Walau memiliki seorang putri, tapi sejak dulu Leona jauh lebih dekat dengan Ny. Edritz daripada dengannya.
“Angel, apa terjadi sesuatu? Apa kalian dalam masalah?” ucap Serena dengan wajah khawatir. Serena memandang wajah Angel dan memegang kedua pipi wanita tersebut.
__ADS_1
Angel menghela napas dengan wajah yang berubah. Wanita itu terlihat memikirkan sesuatu. “Tante, Mama sakit dan papa memintaku untuk merahasiakan semua ini dari Tante dan yang lainnya. Papa bilang, hidup Tante sudah bahagia. Dia tidak ingin merepotkan Tante.”
“Sayang, kenapa kalian berpikiran seperti itu? Sampai kapanpun, Tante tidak akan pernah merasa di repotkan. Diva sakit? Sakit apa?” ucap Serena lagi.
“Tante, sebenarnya adik Angel tidak meninggal. Adik Angel menghilang setelah di lahirkan. Pihak rumah sakit menukar adik Angel dengan bayi yang sudah tidak bernyawa. Seseorang melakukan itu karena memiliki dendam dengan Papa. Beberapa bulan terakhir ini, Mama dan Papa baru saja mengetahui kebenaran itu. Mama syok dan jatuh sakit. Mama tidak mau berbicara dengan siapapun termasuk Angel.” Tangis Angel pecah ketika ia harus mengatakan kebenaran yang ia ketahui. Walau berat, tapi rasanya ada rasa lega di dalam hatinya setelah menceritakan semua itu kepada Serena.
Serena menggeleng kepalanya pelan sebelum menarik tubuh Angel ke dalam pelukannya.
Daniel hanya diam membisu. Memang sudah sejak lama Dokter Adit tidak memberi kabar kepadanya. Daniel sendiri tidak memiliki nomor yang bisa di hubungi. Daniel berpikir kalau sahabatnya sudah berumur dan mungkin kini memikirkan masa depan anak mereka. Terakhir kali mereka bertemu saat di pemakaman anak kedua yang dilahirkan oleh Diva.
“Sayang, bagaimana kabar putrimu?” ucap Serena lagi. Serena mendapatkan kabar dari pengawal pribadinya beberapa tahun yang lalu Angel menikah dan dua tahun ini sudah memiliki seorang putri. Walaupun begitu, Serena tidak melakukan hal apapun selain diam di rumah. Ia benar-benar trauma dengan masalah yang ia hadapi bersama dengan Emelie. Serena tidak mau memaksa sahabatnya untuk tetap dekat dengannya jika mereka terlihat keberatan.
“Tante, putriku sangat sehat. Ia sudah bisa berlari dan memanggil namaku setiap kali ia membutuhkan sesuatu,” jawab Angel dengan wajah ceria. Setidaknya ada hal yang mereka bahas dengan hati yang bahagia.
“Siapa namanya? Dia pasti cantik seperti dirimu? Apa kau bekerja di rumah sakit ini?” tanya Serena lagi.
__ADS_1
Angel merubah ekspresi wajahnya lagi. “Tante, papa mengalami kerugian. Kami bangkrut dan .... aku harus menikah dengan pria yang di pilihkan oleh papa. Seorang pria pemilik rumah sakit yang kini menjadi tempatku bekerja. Dia pria yang baik," ucap Angel dengan bibir tersenyum indah.
Serena memandang wajah Daniel. Ada raut wajah bingung yang terlihat jelas di wajah Serena. Ia merasa terlalu santai hingga tidak tahu apa yang terjadi dengan kehidupan sahabatnya saat ini. Kabar ini merupakan kabar buruk yang tidak bisa ia terima dan tidak bisa membuat Serena diam saja.
Semua orang diam sambil mencerna masalah yang kini telah menimpah keluarga Dokter Adit. Si pria murah senyum yang terlihat selalu santai dan seolah tidak memiliki masalah hidup. Daniel berpikir kalau Adit tidak mungkin bisa bangkrut dan sampai menjual putrinya. Kecuali, ia di jebak oleh seseorang.
“Tante, apa yang tante lakukan di sini?” tanya Angel dengan wajah penasaran.
“Dok, mereka keluarga pasien,” bisik perawat yang sejak tadi setia menemani Angel.
“Keluarga pasien?” celetuk Angel kaget. “Maksudnya yang di dalam adalah Leona putri Tante? Adikku?” Suara Angel semakin meninggi. Ia pernah melihat foto Leona, namun saat Leona masih kecil. Wajahnya sudah banyak berubah jika di bandingkan dulu. Hingga pada akhirnya, Angel tidak mengenali Leona yang sekarang.
Serena mengangguk. “Iya, sayang. Dia adikmu.” Serena memutar tubuhnya dan menunjuk Aleo yang berdiri di sana. “Ini adikmu juga. Aleo,” ucap Serena dengan suara pelan.
Aleo dan Angel saling memandang sebelum melempar senyuman. Mereka sangat bahagia ketika kembali bertemu dengan keluarga mereka. Kwan yang baru saja muncul memandang wajah Angel dengan saksama. Ia merasa asing namun tidak terlalu peduli juga saat semua orang terlihat akrab dengan wanita berstatus dokter tersebut.
__ADS_1
Kwan memandang wajah Serena. “Tante, Paman Biao dan Paman Tama sudah dalam perjalanan. Setelah operasi Kak Leona berjalan lancar, kita akan pindahkan Kak Leona ke rumah sakit yang jauh lebih baik,” ucap Kwan mantap. “Paman Tama sudah mengatur semuanya.”