
“Aku tidak tertarik untuk membunuh sebuah keluarga. Bukankah kau tahu pria seperti apa yang aku bunuh selama ini?” ucap Leona dengan wajah tidak setuju.
“Bos, tapi-”
“Aku ingin memberimu tugas baru. Selidiki orang yang sudah mengorder misi ini. Aku ingin lihat, apa yang akan dilakukan orang tersebut, jika posisinya kita balikkan kepada dirinya,” ucap Leona dengan senyuman tipis.
“Baik, Bos.” Lawan bicara Leona tidak lagi bisa membantah. Panggilan telepon itu terputus bersamaan dengan Leona meletakkan ponselnya kembali ke dalam laci. Ia menurunkan kedua kakinya untuk keluar dari dalam kamar. Leona ingin memeriksa, sejauh mana kedua orang tuanya mencegah dirinya untuk kabur dari rumah megah tersebut.
Leona memegang handle pintu dan menariknya secara perlahan. Betapa kagetnya wanita tangguh itu ketika melihat tiga pria berbadan tegab berdiri di depan pintu kamarnya. Saat melihat Leona muncul dari dalam kamar, ketiga pria itu membungkuk hormat dan siap menjaga Leona agar tidak berbuat yang aneh-aneh.
“Mama benar-benar serius dengan ucapannya,” gumam Leona di dalam hati. Wanita itu menutup pintu kamarnya lagi sebelum berjalan ke arah tangga. Ia mengeryitkan dahi saat merasa kalau ketiga pria berbadan tegab tadi mengikutinya dari belakang. Wanita itu memutar tubuhnya dengan gerakan cepat.
Tapi, ketiga pria itu juga tidak mau kalah. Mereka memutar tubuh mereka secara acak hingga tidak terlihat kalau sedang mengikuti Leona saat itu. Hal itu membuat Leona mengumpat kesal. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang marah.
“Jangan ikuti aku! Ini masih di rumah!” teriak Leona dengan suara yang lantang.
“Maaf, Nona. Tapi, ini perintah dari Nyonya Serena,” ucap salah satu pria dengan wajah bersalah. Pria itu bingung harus menuruti perintah yang mana.
“Lupakan,” umpat Leona kesal sebelum memutar tubuhnya. Wanita itu berjalan cepat menjejaki anak tangga. Tiba-tiba saja, saat di tengah tangga, Leona kembali ingat akan sesuatu.
Siapa lagi kalau bukan Jordan. Sudah berminggu-minggu ia menjauh dari pria tersebut. Bukan hanya menjauh, bahkan mereka memutuskan untuk tidak saling kenal lagi. Leona kembali ingat saat Jordan rela terluka hanya untuk menyelamatkannya dari tangga. Bukan hanya itu saja. Bahkan Jordan juga yang sudah mencegahnya untuk bunuh diri di saat dirinya dalam keadaan putus asa.
__ADS_1
Saat itu, hati Leona tiba-tiba saja tergelitik untuk menyelidiki kehidupan pribadi Jordan. Namun, Leona tidak tahu harus memulai darimana. Ia tidak memiliki petunjuk apapun saat ini. Satu-satunya petunjuk yang di miliki Leona hanya Gold Dragon dan nama Oliver. Leona melihat kalau malam itu Oliver yang asli dan Jordan terlihat sangat akrab dan saling melindungi. Leona juga penasaran dengan dendam Letty. Ia ingin tahu, alasan utama Letty memintanya untuk membunuh Jordan malam itu.
“Leona, apa yang kau lakukan di situ?” ucap Shabira yang baru saja tiba di rumah utama.
Leona memandang wajah Shabira dengan senyuman yang sangat bahagia. Selain Serena, sejak dulu memang Shabira adalah ibu kedua yang sangat ia sayangi dan ia pedulikan. Kali ini, kemunculan Shabira menimbulkan harapan besar di dalam hati Leona. Wanita itu ingin Shabira membantunya untuk membujuk Serena agar mengijinkannya untuk pergi meninggalkan Sapporo sebelum musim salju tiba.
“Tante, Tante apa kabar?” tanya Leona sambil menjejaki anak tangga. Wanita itu menatap wajah Shabira dengan senyuman yang sangat indah.
Shabira mengeryitkan dahi saat melihat tiga pria berbadan kekar itu mengikuti langkah kaki Leona. Setelah tubuh Leona memeluknya, Shabira menatap wajah Leona dengan tatapan penuh tanya. “Siapa mereka?”
Leona mengangkat kedua bahunya. “Mama membayar mereka untuk menjagaku,” ucap Leona dengan wajah sedih. “Tante, apa Kwan akan segera kembali?”
Leona menghela napasnya. Wanita itu merangkul lengan Shabira dan membawanya menuju ke arah sofa. “Tante, itu semua tidak seperti yang tante pikirkan. Leona hanya bertanya Kwan jadi pulang atau tidak. Jika tidak ... Leona juga tidak akan marah padanya,” ucap Leona dengan wajah mulai sedih. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di sebuah sofa.
Shabira ikut duduk di samping Leona. Wanita itu menghela napas dengan senyuman kecil. “Leona, apa kau tidak mau menikah?” tanya Shabira tiba-tiba.
Leona menatap wajah Shabira dengan tatapan menuduh. “Tante, apa itu sebuah pertanyaan atau sebuah kalimat sindiran?” ucap Leona dengan kedua mata menyipit.
Shabira tertawa kecil sebelum membuang tatapannya ke arah depan. “Tante punya keponakan tampan. Dia seorang Pangeran. Apa kau mau menikah dengannya untuk menjadi Ratunya?” tanya Shabira sekali lagi. Kali ini wajah Shabira berubah serius.
Leona hanya bisa menyeringai. Sejak tadi ia sudah cukup pusing memikirkan cara untuk kabur dari rumah utama secepatnya. Tapi, detik ini justru Shabira datang membawa masalah baru untuknya.
__ADS_1
“Tante, Kwan tidak pernah cerita kalau dia memiliki sepupu,” ucap Leona untuk mengalihkan pembicaraan Shabira saat itu.
Shabira mengangguk pelan. “Ya, dia tidak mengenal sepupunya sendiri. Kami tidak pernah bertemu. Terakhir bertemu, saat usiamu masih sepuluh tahun. Malam itu menjadi malam terakhir pertemuan kami.” Nada bicara Shabira mulai melemah. Kedua matanya berkaca-kaca. Hatinya tersentuh saat membayangkan momen indah yang pernah terjadi sekitar 20 tahun yang lalu.
“Tante, apa Tante baik-baik saja?” Leona mengusap pundak Shabira saat melihat kesedihan di wajah Shabira saat itu.
Shabira tersadar dari lamunanya. Wanita itu menghapus tetes air mata yang mulai membasahi kedua pipinya. “Semua itu sudah berlalu. Sekarang Tante sangat senang karena bisa melihat wajah kedua keponakan Tante lagi,” ucap Shabira dengan senyuman indahnya.
Leona semakin bingung. Wanita itu menghela napas dan mulai menyatukan potongan-potongan cerita yang baru saja dikatakan oleh Shabira. “Sepupu? Maksudnya anak dari Kakak Tante? Kakak angkat Tante? Apakah seperti itu?”
Shabira menggeleng pelan. “Tante memiliki kakak kandung di Cambridge, Leona. Kami berpisah karena terjadi-”
“Shabira, kau sudah datang?”
Shabira menahan kalimatnya. Wanita itu memutar tubuhnya untuk melihat wajah wanita yang baru saja menyapanya. “Kakak.” Shabira segera beranjak darikursi yang ia duduki. Kedua matanya menatap tajam mata Serena. Ada sebuah kode yang di buat Serena agar Shabira tidak menceritakan semuanya saat ini kepada Leona.
“Apa kau mau membantuku di dapur? Ada beberapa menu yang harus di masak koki. Tapi, aku bingung menentukan menunya apa-apa saja,” ucap Serena dengan senyuman. Kedua matanya beralih pada Leona yang hanya duduk tanpa memberi reaksi apa-apa. Bahkan Leona tetap membelakangi Serena walau saat itu Serena berdiri di belakang kursi yang ia duduki.
“Ya, tentu saja,” jawab Shabira cepat. Wanita itu memandang wajah Leona dan mengusap lembut pipinya. “Tante ke dapur dulu ya. Nanti kita sambung lagi ceritanya,” ucap Shabira pelan. Wanita itu berjalan mendekati Serena. Ia merangkul lengan Serena sebelum bersama-sama berjalan ke arah dapur.
Leona memandang punggung Serena dan Shabira saat dua wanita itu telah menjauh dari posisinya duduk. “Mama benar-benar marah padaku. Bagaimana ini?” gumam Leona di dalam hati. Wanita itu mengambil bantal kursi dan membenamkan wajahnya di sana.
__ADS_1