
Zean berhasil tiba di kota ketika hujan telah berhenti. Hal yang pertama ia lakukan adalah mencari toko baju untuk mengganti pakaiannya yang basah. Tidak lupa ia membeli topi dan kaca mata agar tidak ada yang melihat wajahnya. Setelah itu Zean berjalan ke sebuah toko yang bisa memperbaiki elektronik. Zean merasa ponselnya rusak. Ia tidak bisa sembarangan mengganti ponselnya dengan ponsel yang baru karena data di dalam ponsel itu jauh lebih berharga daripada harga ponselnya.
"Permisi, apa Anda pemilik toko ini?" Zean memandang pria seusianya yang kini duduk di balik meja. Pria itu menunduk sambil memegang obeng dan ponsel di tangannya. Ia mengangkat kepalanya secara perlahan ketika Zean berdiri di sana.
"Ya. Ada yang bisa saya bantu?"
Zean meletakkan ponselnya di atas meja. "Saya tidak bisa menghubungi siapapun sejak kemarin. Apa Anda bisa membantu saya? Mungkin saja ponselnya rusak."
Pria itu terlihat tidak tertarik. Apa lagi ketika ia melihat ponsel versi lama milik Zean. "Saya masih sibuk. Letakkan saja di sana, nanti akan saya periksa kerusakannya."
Zean yang sudah di ambang kesabaran menggerakkan giginya. Tangannya terkepal kuat. Belum ada yang sepele seperti ini sebelumnya. Dengan gerakan cepat saja Zean berhasil meraih kerah baju pria itu.
"Perbaiki sekarang atau aku akan menghilangkan semua gigi yang ada di dalam mulutmu itu!" ancam Zean dengan sorot mata yang tajam. Walau Zean kini menggunakan kacamata hitam tetap saja pria itu bisa melihat tatapan membunuh dari kedua mata Zean.
"Siapa kau?"
Zean tidak tertarik untuk menjawab. Ia justru mengangkat sebelah tangannya hendak memukul wajah pria itu. Sepertinya pria itu butuh peringatan agar patuh terhadap perintahnya.
"Baik-baik Aku akan memeriksanya sekarang," jawab pria itu dengan wajah ketakutan. Kedua tangannya sudah menyatu dengan wajah memohon. Zean segera melepas cengkramannya. Ia menarik kursi yang ada di sampingnya dan duduk dengan posisi yang nyaman. Sedangkan pria si pemilik toko segera mengambil ponsel Zean untuk memeriksa kerusakannya.
"Apa kota ini selalu sunyi seperti ini setiap hatinya?" tanya Zean tanpa memandang.
"Ya," jawab pria itu singkat. "Apa kau pendatang baru? Apa ini pertama kalinya kau tiba di kota ini?"
Zean melirik tumpukan permen di dalam gelas. Ia mengangguk sambil mengupas satu permen untuk dimasukkan ke dalam mulut.
"Berhati-hatilah. Walau kau hebat, jika satu lawan banyak kau tetap akan kalah."
Pria itu kembali fokus pada ponsel Zean yang sudah ada di tangannya. Zean melepas maskernya lalu melahap permen yang audah terkupas dari bungkusnya. Secara diam-diam, pria yang kini memegang ponsel Zean menghubungi seseorang. Sepertinya ia memberi tahu keberadaan Zean kepada pasukan Cosa Nostra yang kini mencari keberadaan Zean.
"Apa rusaknya parah?" Pertanyaan Zean membuat kaget pria tersebut. Bahkan ponselnya sendiri terlepas dari tangan. Wajahnya pucat karena dia panik dan gugup.
"Aku masih memeriksanya," jawabnya terbata-bata. Zean mulai curiga. Ia memperhatikan ke arah luar toko. Masih aman. Tapi, tidak tahu kenapa firasat buruk telah menyelimuti dirinya.
"Di mana ponselku?" Zean mengulurkan tangannya. Ia mengurungkan niatnya untuk memperbaiki ponsel tersebut.
"Aku akan memperbaikinya. Sebaiknya tunggu saja dulu!" Pria itu berusaha mengulur waktu agar pasukan Cosa Nostra segera tiba dan menangkap Zean. Tentu saja ia akan mendapat bayaran yang besar jika berhasil membantu Cosa Nostra.
"KEMBALIKAN!" Kali ini Zean tidak main-main. Ia tahu kalau sudah ada jebakan di sana. Pistol yang sejak tadi ia bawa juga sudah mengarah ke kepala pria pemilik toko tersebut.
Pemilik toko itu melempar ponsel Zean ke belakang. Ponsel yang terbentur dinding langsung remuk seketika. Serpihan ponsel itu berserak di lantai. Layarnya retak. Yang tadinya masih aktif karena jaringan saja yang tidak bisa, kini sudah tidak bisa hidup lagi. Ponsel itu menjadi rusak bahkan tidak bisa lagi digunakan.
Zean menggeram melihat kejadian tersebut. Dalam sekejap saja ia sudah berhasil menekan pelatuknya dan membuat pria di hadapannya tewas. Suara tembakan Zean membuat perhatian beberapa orang di depan toko. Sebagian ada yang lari sedangkan sebagian lagi ada menatap dengan wajah curiga.
"Sial!" Zean melihat ponselnya yang sudah tidak bisa digunakan lagi. Ia melompati meja untuk mengambil ponselnya. Walau tidak bisa di gunakan lagi, tapi alat-alat yang ada di dalamnya masih berguna. Zean menyimpan ponselnya di saku dan berlari pergi.
Beberapa mobil berhenti di hadapan Zean. Beberapa pria keluar lalu menodongkan senjata api mereka. Zean segera mencari tempat bersembunyi. Ia juga tidak mau kalah. Tembakan demi tembakan ia lepas agar musuhnya tidak berhasil mendekat.
"Aku tidak boleh sampai tertangkap!" Zean melihat pintu rumah yang terbuka. Pria itu berlari ke arah rumah tersebut. Ia butuh tempat untuk bersembunyi. Walau memang bisa di bilang orang di kota itu tidak ada yang bisa dipercaya satupun.
Setelah masuk Zean segera menutup pintu rumah tersebut. Sedangkan pasukan Cosa Nostra yang sempat menyerang Zean berlari untuk mencari Zean. Mereka belum sadar kalau Zean telah ada di dalam rumah tersebut. Zean mengintip dari celah yang sempit dengan tatapan yang waspada.
__ADS_1
"Siapa kau?" Zean segera berpaling. Ia menodongkan senjatanya buat jaga-jaga kalau yang mengajaknya bicara adalah musuh.
Seorang anak kecil berusia 8 tahun melirik senjata di tangan Zean. Tapi, wajahnya sama sekali tidak takut. Ia justru melipat tangannya di dada dan duduk di kursi.
"Kau buronan Cosa Nostra ya?"
"Kau kenal dengan mereka?" Zean tertarik mengintrogasi anak kecil di depannya.
"Tentu saja. Kota ini milik mereka. Siapapun yang berani mencari masalah di dengan mereka, maka akan tewas. Seperti ayah dan ibuku," jawabnya lagi.
Zean tertegun dengan rasa kasihan. "Lalu kau tinggal di rumah ini sendirian?"
"Ya."
Zean melihat jam di tangannya. Hari sudah semakin siang. Ia harus segera menemukan mobil agar bisa menjemput Clara dan bawahannya.
"Terima kasih atas persembunyiannya. Aku harus pergi." Zean membuka pintu.
"Jangan dari sana. Mereka akan melihatmu."
Zean kembali menatap wajah anak kecil itu. "Kau punya jalan rahasia?"
Anak kecil itu tersenyum hingga terlihat giginya yang putih. "Di belakang. Kau juga harus menggunakan pakaian seperti itu agar tidak ketahuan."
Zena melihat jubah putih yang tergantung di dinding. Tanpa banyak tanya lagi, Zean memakai jubah tersebut. Tidak lupa topi dan masker masih melekat di wajahnya.
"Berhati-hatilah."
Saat berlari dari pintu belakang, Zean menemukan gerombolan orang yang kini memakai jubah yang sama dengannya. Zean tahu ide anak kecil itu. Ia tersenyum sesaat sebelum masuk ke dalam rombongan. Entah apa yang akan dikerjakan rombongan itu. Tapi yang pasti, mereka menyambut Zean karena pria itu muncul dengan jubah yang sama dengan mereka.
***
Waktu terus berlalu. Matahari bersinar dengan cerah. Jalanan yang sempat basah mulai kering. Zean sudah mendapatkan mobil untuk mereka melanjutkan perjalanan. Pria itu kini menuju ke hutan tempat Clara dan pengawalnya terjebak.
Kepulan asap di depan membuat Zean khawatir. Ia mempercepat laju mobilnya agar segera tiba di lokasi. Ketika tiba, wajahnya terlihat panik. Zean turun dari mobil dan berlari menuju lokasi mobil mereka berada.
"Apa yang terjadi?" Zean mematung melihat mobilnya yang masih dipenuhi api. Entah di mana Clara dan pengawal pribadinya.
"Bos …." Ada suara lirih seseorang dari samping. Tepatnya di balik pepohonan yang tidak jauh dari lokasi mobil mereka terbakar. Zean melihat pengawalnya yang sudah dipenuhi darah bersandar di pohon. Tangan pria itu memegang perutnya yang kini dipenuhi darah segar.
"Apa yang terjadi? Di mana Clara?" Zean berjongkok. Ia memegang tangan pengawalnya berharap pria itu masih bisa di selamatkan.
"Mereka datang dalam jumlah banyak. Nona Clara di bawa pergi dengan helikopter. Mereka sengaja meledakkan mobil kita agar kita tidak memiliki senjata lagi."
Zean merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Clara dengan baik. Walau begitu Zean juga sangat mengkhawatirkan bawahannya.
"Kita ke rumah sakit!"
"Tidak, Bos. Percuma. Lukanya sangat parah. Lokasi di sekitar sini adalah wilayah mereka. Kita hanya akan berada dalam bahaya jika sampai bertemu dengan mereka."
"Kau pasti sembuh."
__ADS_1
"Uhuuk uhuk." Pria itu batuk dan mengeluarkan banyak darah. Ia terlihat semakin lemah dan sudah tidak sanggup lagi.
"Bos, maafkan saya karena tidak bisa menjaga Anda lagi."
"Jangan katakan hal itu."
"Bos, sebelum Nona Clara masuk ke dalam helikopter. Dia berpesan agar Anda pergi saja. Jangan pedulikan dia lagi."
Zean semakin merasa bersalah. Baru kali ini ia gagal melindungi orang terdekatnya. Apa lagi pengawalnya itu sudah menemaninya sejak dulu.
"Kau pasti sembuh."
Pria itu tersenyum sambil menahan rasa sakit di tubuhnya. Lama kelamaan kedua matanya terpejam. Ia sudah tidak bisa bertahan lagi. Luka di tubuhnya benar-benar menyiksa.
Zean menunduk dengan wajah sedih. Kehilangan orang yang ia percaya memang menyakitkan. Dendam di hati mulai berkobar.
"Aku tidak akan pernah membiarkan mereka menang. Cosa Nostra! Apapun resikonya, aku akan membalas perbuatan kalian!"
***
Clara baru saja tiba di lapangan luas yang ada di halaman samping sebuah mansion. Ia memandang gerombolan pria yang berbaris menyambutnya. Mereka semua bersenjata. Tidak ada jalan lagi untuk kabur karena kini kondisinya sangat sulit.
"Semoga saja pria tadi berhasil menyampaikan pesanku pada Zean. Aku tidak mau merepotkannya lebih jauh lagi. Dia hanya pengawal biasa. Mana mungkin bisa berhadapan dengan orang-orang berbahaya seperti ini. Sepertinya memang sudah takdirku seperti ini," gumam Clara di dalam hati.
Clara menahan langkah kakinya ketika melihat sosok pria paruh baya berdiri di hadapannya. Senyum pria itu membuat Clara mual bahkan ingin muntah. Senyumnya yang dipenuhi tatapan mesum sudah seperti lelaki hidung belang yang ada di club' malam.
"Nona Clara, selamat datang. Akhirnya, kita bertemu juga."
"Siapa kau? Apa kau tidak memiliki kemampuan memilih wanita cantik hingga akhirnya mencari wanita dari negara lain? Kau juga bukan pria yang kekurangan uang. Untuk apa kau menginginkan hidupku?"
"Karena kau sangat berharga!" jawab pria itu dengan senyuman jahatnya.
"Berharga? Utang di antara kau dan orang tuaku adalah urusan kalian. Aku tidak pernah terlibat di dalamnya."
"Harta kedua orang tuamu tidak akan bisa membayar utang mereka."
"Berapa utang mereka? Aku akan membayarnya. Beri aku waktu!"
"Sudah terlambat! Malam ini kami akan melelangmu dengan harga yang mahal. Bukan hanya utang kedua orang tuamu saja yang lunas. Tapi kami juga mendapatkan keuntungan dari sana!" Pria itu tertawa. Ia seperti tidak peduli dengan kesedihan Clara saat ini.
"Pria tua bangkah! Kau akan mati dengan cara yang menyedihkan!" umpat Clara.
Pria itu menghentikan tawanya. Ia menatap kedua pria yang kini membawa Clara. "Bawa dia! Pastikan dia menjadi wanita paling menarik nanti malam!"
"Siap, Bos."
"Lepaskan!" berontak Clara. Ia masih berusaha melepaskan diri walau semua tidak mungkin.
Pria itu menatap wajah Clara dengan senyuman jahat. Memandang Clara sama saja ia memandang uang yang akan segera ia dapatkan nanti malam.
"Clara! Dia akan menjadi harta karunku dalam acara nanti malam!"
__ADS_1