
Katterine memandang Oliver dengan wajah panik. Ia menggeleng pelan dan mengangkat satu tangannya ke udara. “Pergilah! Kenapa kau membuka pintunya!” teriak Katterine dengan suara semakin marah.
Oliver tidak memperdulikan teriakan Katterine. Pria itu masuk ke dalam toilet dan berjongkok. Memang saat itu posisi Katterine berjongkok sambil memegang perutnya. Matanya memerah karena menangis. Oliver menyentuh pipi Katterine dan memegang air matanya. Ia menunjukkannya di hadapan Katterine.
“Apa ini?” tanya Oliver dengan wajah tidak suka.
Katterine memalingkan wajahnya. Kedua matanya terpejam. Ada rasa sakit yang begitu luar biasa di bagian perutnya. Ia kesulitan untuk menahannya lagi. “Mommy ...,” lirih Katterine dengan kepala menunduk.
Oliver semakin bingung. Ia memegang tangan Katterine agar wanita itu berdiri. Tapi, Katterine terlihat menolak. Ia tidak ingin di sentuh oleh Oliver.
“Katakan padaku apa yang terjadi. Jadi aku bisa menolongmu.” Oliver terlihat semakin frustasi.
“Kau tidak akan mengerti masalah wanita!” teriak Katterine dengan emosi yang tidak terkendali. Wanita itu memukul Oliver. “Aku membencimu!”
“Putri, apa yang Anda lakukan?” Oliver menutup wajahnya yang saat itu dipukuli Katterine. Ia semakin bingung dan tidak tahu harus bagaimana saat ini.
“Aku membencimu!” teriak Katterine lagi.
__ADS_1
“Oke, oke. Aku salah. Maafkan aku. Aku mohon jangan seperti ini!” ucap Oliver dengan suara membujuk. Ia tidak mau Katterine terus saja marah-marah seperti itu.
Katterine mulai bisa mengendalikan dirinya. Ia menatap wajah Oliver. “Dia datang. Ini sangat sakit. Perutku selalu sakit setiap kali dia datang.” Katterine masih bingung menceritakan keadaannya yang sebenarnya. Wajahnya terlihat kesakitan dan itu serius. Tidak ada rekayasa di sana.
Oliver mengeryitkan dahi. Ia semakin bingung dengan apa yang terjadi kepada Katterine. “Datang? Siapa yang datang? Katakan padaku, siapa yang sudah membuatmu sakit. Apa yang dia lakukan hingga perutmu sakit. Aku akan membunuhnya!” ucap Oliver dengan wajah yang serius. “Di mana dia? Apa dia ada di sini?”
Katterine menahan tawa ketika melihat ekspresi wajah Oliver yang berubah seperti itu. Ia menutup wajahnya karena malu. Ia tidak menyangka kalau Oliver masih tetap mengkhawatirkannya. Selama ini Katterine tidak pernah terjebak di luar ketika datang bulan. Ada Emelie yang selalu menemaninya. Katterine menutup rapat aibnya ini dari Oliver dan orang lain karena malu.
“Hei, kenapa kau tertawa? Katakan padaku. Di mana dia,” ucap Oliver dengan wajah bersungguh-sungguh. “Jangan melindunginya!”
“Dasar pria! Kekasihmu itu sedang datang bulan. Memang beberapa wanita mengalami reaksi seperti itu,” sambung wanita yang sejak tadi ada di depan wastafel dan menguping obrolan Katterine dan Oliver.
Katterine mengangguk pelan. “Apa kau bisa mengusirnya agar tidak membuat perutku sakit?” ledek Katterine dengan tawa geli. “Silahkan, usir saja,” timpal Katterine lagi.
Oliver menghela napas. “Ayo, aku akan membawamu ke dokter.”
Katterine menggeleng pelan. “Ada yang lebih buruk.”
__ADS_1
“Apa lagi sekarang?”
“Aku butuh gaun baru. Dia kelihatan di belakang gaunku.” Katterine benar-benar malu ketika mengatakan kalimat seperti itu kepada pria tangguh seperti Oliver.
Oliver sudah paham apa yang terjadi. Pria itu membawa Katterine berdiri. Ia melepas jasnya dan melilitkannya di pinggang Katterine. Mengikat lengan jasnya di bagian depan. Setelah memastikan kalau ikatannya sangat kuat, ia segera mengangkat Katterine dan menggendongnya.
Katterine mengukir senyuman ketika ada di dalam gendongan Oliver seperti itu. Suasana hatinya memang kerap kali berubah setiap kali ia datang bulan. Tapi, kali ini untuk pertama kalinya ada Oliver yang akan menemaninya melewati masa-masa sulit itu. Rasa sakit yang tadi terasa begitu melilit kini hilang secara berangsur-angsur.
“Aneh, kenapa tidak sakit lagi ketika melihatnya dari jarak yang begitu dekat seperti ini? Aku sangat mencintainya. Semakin mencintainya,” gumam Katterine di dalam hati. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Oliver dengan manja. Kedua matanya terpejam. Tangannya ia lingkarkan di leher jenjang Oliver.
Oliver melirik wajah Katterine sekilas sebelum memandang ke arah depan. Ia kembali membayangkan tingkahnya yang aneh di toilet tadi. Ada senyuman di sudut bibirnya. “Bisa-bisanya dia menangis. Apa benar sakitnya sangat parah? Aku belum pernah melihatnya menangis karena kesakitan seperti ini.”
“Aku ingin pulang. Aku ngantuk,” ucap Katterine dengan suara pelan.
“Baiklah, aku akan mengantarkanmu kembali ke istana. Tapi, sebelum pulang kita ke dokter dulu agar perutmu tidak sakit lagi.”
“Sudah sembuh ketika kau menggendongku seperti ini,” jawab Katterine dengan mata terpejam. Wajahnya terlihat sangat nyaman. Katterine memposisikan kepalanya senyaman mungkin agar bisa tertidur di dalam gendongan Oliver. “Bahkan aku tidak ingin turun dari gendonganmu,” ucapnya lagi.
__ADS_1
Oliver diam membisu tanpa tahu mau berkata apa-apa lagi. Pria itu menghela napas dan memperlambat langkah kakinya menuju mobil. Ia memperhatikan wajah Katterine yang mulai terlelap dalam tidurnya. Ada senyuman bahagia di bibirnya. Hatinya merasa sedikit lega ketika Katterine bilang sakitnya sudah sembuh. Tidak ada lagi wajah khawatir di wajahnya.
“Dia sangat cantik dan menggemaskan kalau lagi tidur seperti ini,” gumam Oliver di dalam hati. Namun, tiba-tiba saja ia tersadar. Pria itu memandang ke depan dan mengalihkan wajahnya ke arah lain. “Apa yang aku katakan? Sebaiknya aku segera mengantarkannya ke istana!”