
Sudah hampir satu jam mereka berlari. Kali ini Katterine duduk di rerumputan yang ada di bawah pohon rindang. Ia terlihat sangat lelah. Oliver memberikan air minum yang sejak tadi ia siapkan. Ia sudah bisa menebak kalau Katterine pasti membutuhkan minuman itu.
"Pantas saja kau sering ke tempat ini, ternyata tempatnya sangat nyaman dan indah ya. Anginnya juga bertiup dengan kencang. Sangat menenangkan. Sayangnya jauh dari istana, jadi aku tidak berani datang ke sini sendirian." Katterine meneguk minuman yang diberikan Oliver. Wanita itu terlihat lelah karena terlalu jauh berlari. Tubuhnya dipenuhi keringat hingga bajunya basah.
"Lain kali kalau mau datang ke sini, kau bisa mengajakku untuk menemanimu," ucap Oliver tanpa memandang. Pria itu duduk di samping Katterine dan memandang ke depan.
"Benarkah?" Oliver hanya mengangguk pelan tanpa menjawab. "Kalau begitu, setiap hari temani ak-"
"Sesekali saja," potong Oliver cepat. Ia sudah tahu lanjutan kalimat Katterine.
"Kau memang pria menyebalkan. Awas saja kau. Jika nanti kau sudah jatuh cinta padaku dan tergila-gila padaku. Aku akan gantian bersikap cuek seperti ini kepadamu. Agar kau tahu bagaimana rasanya dicuekin," umpat Katterine di dalam hati.
Suasana kembali hening. Baik Katterine maupun Oliver tidak ada yang mengeluarkan kata lagi. Mereka lebih memilih menikmati suasana pagi itu. Hingga tiba-tiba saja sebuah pedang menancap di rumput. Tepat di hadapan Katterine.
Seorang pria muncul dengan cepat dan menendang Oliver hingga terjatuh. Pria itu terlentang di permukaan rumput. Sedangkan penyusup itu dengan siaga menodongkan pedang di depan leher Oliver. Satu gerakan saja yang dilakukan penyusup itu maka akan membuat nyawa Oliver melayang.
Katterine segera beranjak dari duduknya. Ia benar-benar syok melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Katterine memandang keadaan sekitar. Sunyi. Tidak ada yang bisa dimintai tolong. Berteriak juga tidak mungkin ada yang dengar. Hanya mereka bertiga di lokasi tersebut.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Oliver dengan tenang. Sambil berkata, ia berpikir keras agar tidak melakukan kesalahan. Jarak pedang itu hanya 5 centi dengan lehernya. Salah gerak maka pedang itu akan mengiris urat nadinya.
__ADS_1
"Nyawamu!" jawab penyusup itu dengan senyum jahat di bibirnya.
"Tidak. Aku tidak bisa membiarkan Olive celaka," gumam Katterine di dalam hati.
Katterine mengambil pedang yang tadi tertancap di permukaan rumput. Wanita itu berlari kencang dan berusaha menghadang pedang yang kini ingin menebas leher Oliver. Ia tidak rela Oliver terluka. Apapun akan ia lakukan agar Oliver baik-baik saja. Walau ia sendiri tidak yakin usahanya kali ini berhasil atau gagal.
Prangkk...(anggap aja suara pedangš¤)
Tenaga Katterine memang sangat kuat. Wanita itu berhasil membuat pedang yang ada di tangan penyusup itu terlepas dan tergeletak di samping kiri Oliver. Setelah melihat musuhnya tidak memiliki senjata, Katterine yang mengambil tindakan untuk melukai dan mengalahkan penyusup itu.
Sayangnya, kemampuan bela diri Katterine memang tidak seimbang dengan musuh itu. Pedang yang ingin digunakan Katterine sebagai senjata justru dengan mudah digenggam oleh penyusup itu. Penyusup itu tidak peduli walau kini darahnya berkucur dengan deras. Ia menatap wajah Katterinen dengan penuh dendam dan ingin mencelakai Putri Cambridge tersebut.
Katterine mundur dan lebih memilih menjadi penonton. Seperti apa yang ia pikirkan sejak tadi, dalam hitungan detik saja pria itu sekarat di tangan Oliver. Kali ini Oliver membuat pria itu kesulitan bernapas. Oliver mencekik lehernya dan mengangkatnya ke atas.
"Siapa yang mengirimmu?" tanya Oliver dengan sorot mata yang tajam. Karena terlalu emosi, Oliver tidak lagi memberi kesempatan pria itu untuk bernapas.
Penyusup itu juga kelihatannya lebih memilih mati daripada harus berkhianat. Hingga tidak lama kemudian, penyusup itu tewas di tangan Oliver. Setelah melihat musuhnya tewas, Oliver melemparkannya begitu saja. Ia memutar tubuhnya dan memandang Katterine. Oliver ingin memastikan kalau Katterine baik-baik saja.
Katterine menatap wajah Oliver dengan perasaan lega. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Musuh sudah tewas dan Oliver baik-baik saja. Hingga tiba-tiba saja wanita itu kepikiran satu hal.
__ADS_1
"Aduh, kakiku sakit. Ini ... ini pasti terkilir gara-gara dia menahan pedangku tadi. Dia memang sangat jahat. Bagaimana penjagaan di istana? Kenapa penyusup bisa masuk," ucap Katterine sambil memegang kaki kirinya. Ia memasang wajah sedang kesakitan agar aktingnya terlihat serius.
"Apa itu benar-benar sakit?" Kali ini Oliver sendiri tidak bisa membedakan apakah Katterine sedang bercanda atau serius. Tadi memang ia sempat melihat kalau Katterine terdorong saat pria itu menahan pedangnya.
"Daddy, Kak Jordan ... di mana kalian. Aku tidak mau naik kuda kembali ke istana. Bukankah pria di hadapanku ini tidak mau menggendongku," rengek Katterine sambil menghapus matanya seolah-olah sedang menghapus air mata.
Oliver mendesah. Ia tahu kalau lagi-lagi Katterine hanya berakting. Pria itu berjalan mendekati Katterine dan menatapnya dalam-dalam. Tanpa banyak protes ia mengangkat Katterine ke dalam gendongannya.
Wajah Katterine benar-benar bahagia. Ia segera melingkarkan kedua tangannya di leher jenjang pria itu. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Oliver. "Ini sangat menyenangkan," ucapnya tanpa sadar.
"Kenapa kau suka sekali berbohong?" tanya Oliver sambil memandang ke depan.
"Kakiku benar-benar sakit." Katterine memegang kakinya yang sebelah kanan. Karena terlalu bahagia ia sampai lupa kalau tadi dia bilang kakinya yang kiri yang sakit.
"Sekarang berpindah ke kaki kanan, tadi yang kiri," ketus Oliver tanpa mau memandang Katterine lagi.
"Apa benar tadi aku bilang yang kiri?" tanya Katterine dengan wajah kaget.
Oliver tidak mau menjawab lagi. Pria itu melanjutkan langkah kakinya agar segera tiba di istana. Tatapannya sangat tenang. Kali ini ia tidak mempermasalahkan kebohongan yang sudah dilakukan Katterine. Justru pria itu sedang memikirkan penyusup yang baru saja mengancam nyawanya.
__ADS_1