
“Strategi yang bagus,” ucap Zean sambil membuang tatapannya ke arah jendela. Walau kini ia mengajak Jordan berbicara, tapi tetap saja ia tidak mau memandang lawan bicaranya yang ada di depan.
Zean telah tiba ketika Jordan dan Oliver menghadang mobil Miller. Awalnya pria itu ingin membantu. Tapi ketika melihat trik yang dilakukan Jordan sangat cerdas, pria itu mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk menjadi penonton saja.
Jordan hanya diam. Pria itu bersandar dengan mata terpejam. Ia tidak tertarik untuk berbincang hangat dengan Zean. Bagaimanapun juga, semua masalah ini berawal dari Zean. Jika Zean tidak melukai hati Leona, mungkin Leona tidak akan balas dendam dan berada di rumah sakit.
Kini Jordan dan Zean sudah berada di dalam jet pribadi milik Zean. Mereka ingin segera tiba di Jerman agar bisa melihat Leona.
“Leona akan segera di pindahkan ke Rumah sakit Amerika. Sepertinya, rumah sakit itu cukup baik dan terkenal. Wanita bernama Tamara adalah salah satu dokter yang menjadi pemilik rumah sakit," ujar Zean lagi.
Jordan menghela napas. Pria itu membuka matanya dan memandang wajah Zean. “Apa kau lupa kalau kita bermusuhan?” ketus Jordan dengan wajah tidak suka. “Aku tidak akan memaafkanmu begitu saja.”
Zean tertawa kecil. “Kau seharusnya berterima kasih kepadaku. Jika aku tidak menyakiti Leona, sekarang kau tidak akan bisa bersama dengannya. Walau kalian memiliki hubungan yang dekat sejak kecil, tapi tetap saja kau dan Leona di pisahkan sejak kecil,” sindir Zean dengan tatapan meledek.
Jordan membuang tatapannya ke arah jendela. Semua yang dikatakan Zean benar adanya. Zeroun sendiri yang sudah bercerita kenapa mereka berdua berpisah. Jika saja Jordan tidak bertemu dan jatuh cinta kepada Leona, mungkin detik ini ia sudah bertunangan dengan Isabel. Emelie tidak akan mau menjodohkan Jordan dan Leona jika tahu kalau Leona mencintai pria lain.
“Tapi, kau belum menang. Aku akan berjuang untuk mendapatkan hatinya lagi,” sambung Zean sebelum meneguk wine yang ada di genggaman tangannya. Pria itu mengukir senyuman kecil sambil memainkan gelas wine yang ada di tangannya.
Jordan membalas tatapan Zean. Pria itu mengambil gelas yang berisi wine dan meneguknya dengan rakus. Setelah isinya habis, Jordan membanting gelasnya di atas meja. “Coba saja kalau kau bisa!” ancam Jordan sebelum beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu memilih pindah kursi dari pada harus ada di hadapan Zean dan akhirnya terpancing emosi.
Zean tertawa kecil melihat tingkah laku Jordan saat itu. “Mereka terlihat saling melengkapi. Yang satu sangat sabar, yang satunya lagi sangat keras kepala,” gumam Zean di dalam hati.
__ADS_1
***
“Apa ini sakit?” ucap Katterine sambil membersihkan darah yang ada di wajah Oliver. Wanita itu juga memandang ngeri pada luka bekas tembak yang kini ada di lengan kekar Oliver.
Oliver meringis di dalam hati. Ia tidak ingin terlihat kesakitan di depan wanita. Apa lagi di depan Katterine yang selalu saja memperlakukannya layaknya anak kecil. “Ini hanya luka kecil. Aku sudah biasa mendapatkannya,” ucap Oliver dengan ekspresi dinginnya.
Katterine menyipitkan kedua matanya. Wanita itu merema*s lengan Oliver yang masih berdarah karena pelurunya baru saja dikeluarkan oleh Oliver.
“Au, sakit!” ucap Oliver dengan wajah kesakitan.
Katterine membuang pandangannya. “Kau tidak bisa bohong dariku,” ucap Katterine dengan suara yang lembut.
Oliver mengukir senyuman ketika merasakan sakit di lengannya berangsur-angsur telah hilang. “Anda marah, Putri?”
"Ehm, baiklah. Kau marah padaku?" ucap Oliver sekali lagi.
Katterine mengangguk cepat. “Kau tidak menjagaku dengan baik.”
Oliver mengeryitkan dahi dan memikirkan letak kesalahannya saat itu. “Maafkan Aku. Aku harus membantu Pangeran Jordan dan harus meninggalkanmu,” ucap Oliver dengan suara yang lembut dan hati-hati. Ia juga tidak mau membuat Katterine bersedih dan sakit hati atas perkataannya.
“Mama pernah menceritakan sebuah dongeng dulunya. Ceritanya sangat mirip dengan Letty,” ucap Katterine dengan suara pelan sambil mengingat kembali cerita masa kecilnya yang sering diceritakan oleh Emelie.
__ADS_1
“Cerita dongeng?” ucap Oliver ragu-ragu.
Katterine mengangguk. Ia memandang wajah Oliver dengan wajah yang sangat serius. “Mama bilang ada seorang bayi mungil yang sangat cantik di depan gerbang istana. Ia di angkat oleh Keluarga kerajaan dan di perlakukan layaknya seorang putri. Padahal di dalam istana, Raja dan Ratu telah memiliki seorang putri yang sangat cantik. Tapi, karena kasihan ... mereka menolong putri itu dan memberi gelar kepadanya. Kedua putri ini hidup bahagia layaknya kakak adik. Mereka bersama dengan bakat masing-masing. Suatu ketika, pertikaian terjadi. Apa kau mau tahu apa yang terjadi?” tanya Katterine dengan wajah yang sangat serius.
Oliver mengeryitkan dahinya. Pria itu mengangguk pelan. Walau terkesan konyol karena seorang bos mafia kini mendengar cerita dongeng, tapi Oliver tidak memiliki pilihan lain. Katterine wanita yang ia hormati dan sangat ia hargai. Oliver tidak memiliki pilihan lain selain menjadi pendengar setia saat itu.
“Apa putri yang di angkat itu menghancurkan istana?” celetuk Oliver hati-hati.
“Bukan ... jadi, putri angkat ini membunuh Raja dan Ratu dengan cara yang licik. Apa kau tahu apa yang menyebabkan dia berubah jahat?”
Oliver menghela napas saat Katterine memperlakukannya layaknya anak kecil. “Putri Katterine. Selesaikan cerita Anda dengan baik dan benar. Saya tidak bisa menjawab apa yang Anda tanyakan kepada saya. Sejak dulu Mommy dan Daddy tidak pernah menceritakan cerita dongeng,” protes Oliver namun masih tetap menggunakan nada yang lembut. Walaupun terlihat jelas Oliver sedang tertekan.
Katterine menghela napasnya dengan tangan terlipat di depan dada. Ia membuang tatapannya. “Ya, sejak kecil kau sudah di latih menembak dan ilmu bela diri. Sama seperti Kak Jordan. Aku yakin, saat kalian lahir juga kalian sudah di latih berenang dan panjat tebing,” sindir Katterine dengan suara pelan bahkan nyaris hilang.
Oliver mengukir senyuman sambil memandang wajah Katterine yang cantik. Saat sedang marah seperti itu, Katterine memang terlihat semakin cantik. “Lalu, bagaimana ceritanya. Aku tidak akan bisa tidur jika kau tidak menyelesaikan dongengnya,” ucap Oliver dengan suara merayu. Ia tahu kalau Katterine telah kesal dengannya.
Katterine masih tidak mau memandang wajah Oliver. “Pikirkan saja sendiri,” ketusnya dengan kesal.
“Aku tahu. Putri angkat itu membunuh Raja dan Ratu karena pria yang ia cintai mencintai Putri kandung Raja bukan?” sambung Oliver dengan wajah penuh percaya diri. Bahkan pria itu terlihat bersemangat.
“Bukan seperti itu,” rengek Katterine. Ia menghela napasnya dengan kasar. “Baiklah, aku akan melanjutkan ceritanya. Aku juga tidak mau bos mafia Gold Dragon tidak bisa tidur hanya karena dongeng yang tidak selesai,” ucap Katterine bersungguh-sungguh. Wanita itu melanjutkan ceritanya dengan penuh semangat.
__ADS_1
Sedangkan Oliver menjadi pendengar setia yang sangat budiman. Mereka berdua tidak pernah tahu, dongeng yang kini mereka bahas adalah kisah nyata dalam kehidupan Emelie. Bahkan di dalam kisah itu juga diceritakan bagaimana sang putri bertemu dengan pangembara yang baik dan menikah dengannya. Pengembara yang di maksud Emelie tidak lain adalah Zeroun Zein.
Jangan Lupa Hadiah dan Vote nya ya reader sayang. Terlove love