Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 71


__ADS_3

Leona dan Jordan sudah tiba di London. Mereka jalan-jalan di taman bunga yang berada tidak jauh dari lokasi hotel. Siang itu mereka benar-benar menikmati udara segar dengan aroma bunga-bunga bermekaran. Leona jalan lebih dulu karena ia ingin segera duduk di kursi karena lelah. Tanpa sadar kalau Jordan telah tertinggal jauh di belakang sana.


Leona menghentikan langkah kakinya ketika melihat Zean berdiri di hadapannya. Wanita itu memutar tubuhnya beberapa detik itu memeriksa keberadaan Jordan. Namun, sang suami tidak ada di belakangnya. Tidak tahu entah nyangkut di mana. Padahal beberapa menit yang lalu Jordan  masih bersama dengan Leona.


“Leona, ada hal penting yang ingin aku katakan,” ucap Zean memulai pembicaraan. Pria itu berjalan mendekati Leona.


“Ya. Ada beberapa hal juga yang ingin aku tanyakan,” ucap Leona setelahnya. Ia memandang kursi yang ada di dekatnya. “Kita bisa berbicara di sana.” Leona berjalan lebih dulu. Zean mengikuti Leona dari belakang.


Leona meletakkan tasnya di samping. Ia memandang ke arah lain untuk mencari keberadaan Jordan. Namun, memang tidak tahu pria itu entah di mana. Seperti hilang di telan bumi. Bahkan pengawal yang seharusnya terlihat juga tidak tahu bersembunyi di mana.


“Aku tahu kalau semua orang kini sedang berburuk sangka terhadapku, Leona.” Zean duduk di samping Leona sambil memandang ke depan. 


“Apa cukup untuk mempercayai orang yang pernah jahat kini sudah benar-benar berubah? Apa ....”


“Tidak, Zean. Mereka tidak memikirkan hal buruk tentangmu. Mereka hanya merasa aneh.  Bukankah kita bersahabat? Saat kami kesulitan kenapa kau hanya diam tanpa melakukan apapun?” Leona memasang wajah yang begitu serius. Ia tidak mau ada salah paham antara keluarnya dan Zean.


“Semua kebetulan. Aku juga tidak tahu masalah yang kalian hadapi awalnya.”


Zean merapatkan kesepuluh  jarinya. Ia menghela napas sambil mengenang sesuatu.


Beberapa hari yang lalu.


Zean ada di ruangannya sambil berbincang dengan cliennya. Siang itu Zean baru saja mendapatkan proyek besar yang membuatnya bisa menjadi milyader dalam waktu satu hari saja jika berhasil. Zean sangat yakin kalau dirinya pasti akan berhasil melakukan proyek tersebut.


“Kalau boleh saya tahu, pekerjaan apa yang harus saya lakukan. Dari nominalnya saya sangat tertarik.” Zean menuang minuman beralkohol di gelas cliennya. Setelah itu ia memenuhi gelas miliknya.


“Tentu saja pekerjaan yang tidak mudah. Tapi, saya yakin Anda bisa melakukannya.” Pria itu mengambil gelasnya dan meneguk isinya secara perlahan.


“Saya sudah berhenti membunuh orang tidak bersalah,” sambung Zean sebelum ia meneguk minumannya juga.


“Tidak tidak. Saya tidak sejahat itu.” Pria itu meletakkan gelasnya di meja. “Saya sudah berjuang untuk mendapatkannya tapi tidak berhasil.”


“Oke, jika tidak membunuh saya akan menyangupinya.”


“Begini, Tuan Zean. Saya memiliki tanah di Cambridge. Tidak jauh dari wilayah istana Cambridge. Namun, salah satu adik ipar saya sangat jahat. Dia memalsukan surat tanah tersebut. Jika Anda tidak percaya, saya bisa menunjukkan surat kepemilikan yang saya miliki.” Pria itu menyodorkan berkas-berkas penting yang sudah ia persiapkan sejak awal. Zean mengambilnya dan memeriksa isi di dalamnya. Zean juga pria pembisnis. Dia bisa menilai mana yang benar dan mana yang salah. Kali ini cliennya benar dan benar-benar membutuhkan petolongan.


“Tuan, saya bukan notaris!” Zean mengembalikan berkas tersebut setelah memeriksanya.


“Ya. Saya tahu, Anda mafia bukan notaries atau pengacara.”


Zean tersenyum simpul. “Siapa yang bilang kalau saya mafia?”

__ADS_1


“Itu cukup rahasia tapi saya tahu tentang Anda.”


“Anda ingin mengancam saya?”


“Tidak, Tuan. Tolong jangan salah paham.” Pria itu mengatur posisi duduknya. Ia bertekad untuk menyakinkan Zean agar mau membantunya.


“Saya sudah tidak mau tanah ini. Jika hari ini saya kembali memiliki tanah ini, itu tidak akan  menjamin kedamaian di dalam hidup saya. Keluarga ipar saya tidak akan tinggal diam setelahnya. Mereka juga orang-orang berduit. Bisa-bisa mereka menyewa pembunuh bayaran untuk menyingkirkan saya.”


“Ya. Itu biasa terjadi.” Zean mengangguk pelan.


“Tuan, saya hanya mau Anda membakar semua tanaman yang tumbuh di lahan itu. Saya yakin, setelah tanah itu kosong tanpa tanaman. Tanah itu tidak akan berguna lagi bagi mereka. Mereka juga tidak akan sanggup menanamnya kembali karena ilmu dan pengalaman mereka tidak sampai ke sana.” Pria itu kali ini benar-benar serius agar bisa mendapatkan pertolongan Zean.


“Anda pasti kaget, pria sibuk seperti Anda kenapa harus melakukan hal sepele seperti itu. Tuan, ketahuilah kalau sudah beberapa orang saya bayar untuk melakukannya tapi tidak ada satu pun yang berhasil.”


“Membakar? Itu sangat mudah.”


“Tanah itu berada di berbatasan dengan istana Cambridge.”


Zean mematung sejenak setelah mendengarkan penjelasan lebih lanjut. Ia tahu besarnya resiko yang akan ia hadapi jika sampai lahan milik istana Cambridge terbakar.


“Apa Anda sanggup melakukannya?”


Zean terlihat berpikir keras. Seharusnya itu hal yang sangat mudah karena ia hanya perlu menemui Jordan dan mengajak pria itu bekerja sama. Tidak akan sulit karena sudah pasti Jordan tidak akan mempersulit hidupnya. Tapi, untuk bertemu lagi dengan Leona. Apa dia sangup? Setelah pergi menjauh Zean justru semakin merindukan Leona dan itu sangat menyiksanya. Apa lagi harus bertatap muka langsung dan melihat romantisnya hubungan antara Leona dan Jordan. No. Dia tidak akan tahan. Bisa-bisa setan kembali menggodanya dan membuatnya menjadi pria yang jahat.


“Ya. Saya juga tidak mau terlalu terburu-buru. Saya harap Anda mau menerima tawaran saya, Tuan.”


Setelah pertemuan itu, Zean dan timnya pergi menuju ke Cambridge. Mereka tiba di lahan yang seharusnya menjadi target mereka. Dari sana Zean tidak merasakan hal aneh apapun. Tanpa bantuan Jordan juga dia bisa mengatasinya. Walau mungkin pembakaran itu harus di lakukan dengan strategi yang pas. Hingga tiba-tiba saja Zean dan timnya melihat segerombol orang berkumpul di lokasi tersebut. Secara diam-diam Zean dan timnya menguping.


Mereka adalah Pasukan Pieter. Mereka sedang merencanakan strategi untuk menyerang istana Cambridge di pagi hari yang cerah. Zean awalnya ingin maju untuk menghalangi. Namun, ia sendiri penasaran sebenarnya siapa yang sudah berani menyerang keluarga besar itu. Zean dan timnya berusaha menjadi penonton saja. Bahkan di saat penyerangan itu terjadi. Mereka yakin, tanpa bantuan  mereka juga sudah pasti keluarga Zeroun akan menang. Di saat itu tanpa sengaja Zean memandang Katterine dan begitu juga sebaliknya. Tidak mau ketahuan Zean segera pergi.


Tidak selang beberapa jam kemudian, lagi-lagi tanpa sengaja Zean melihat Leona dalam bahaya. Karena masih belum mau memperlihatkan dirinya, Zean memutuskan untuk memakai topeng dan seolah-olah sedang menyerang Leona.


Tidak sampai di situ, di saat Zean ingin melakukan transaksi dengan cliennya yang lain di sebuah hutan. Anak buah Zean memberi kabar kalau Leona berada dalam bahaya. Pasukan Zean tahu kalau kini Leona menyamar dan ingin melakukan sebuah misi. Kali ini Zean tidak bisa diam lagi. Ia mengerahkan angotanya untuk membantu Leona. Sebenarnya sebagian orang yang berada di rumah tempat Marco di sandera adalah anak buah Zean. Maka dari itu Leona tetap aman. Bahkan seorang pria yang menyuruh Leona mengambil minuman juga bagian dari pasukan Zean. Hanya saja Leona tidak menyadarinya.


Saat Pangeran Martine dan Leona berbincang Zean sudah ada di sana. Mengawasi dengan begitu waspada. Satu hal yang membuat Zean kecewa. Kenapa Jordan tidak ada di sana. Di mana yang lain? Kenapa mereka semua membiarkan Leona sendirian. Zean tidak memberi perintah kepada bawahannya untuk menyelidiki masalah Leona dan Jordan lagi. Alasannya sederhana. Ia tidak mau ikut campur. 


Saat melihat bom akan meledak, Zean berlari hingga lupa memakai masker sebagai bentuk penyamarannya. Di detik yang begitu menegangkan ia berhasil menyelamatkan Leona. Hal itu membuat rasa lega yang begitu luar biasa di dalam hatinya.


***


Leona tersenyum mendengar cerita Zean. Ia sudah menebak sejak awal tidak mungkin Zean ikut campur dalam masalah yang mereka alami. Sejahat-jahatnya Zean tidak akan setega itu. 

__ADS_1


“Lalu, bagaimana tentang pertemuanmu dengan Letty?” tanya Leona lagi.


Zean mengukir senyuman. “Itu juga tidak di sengaja. Dari sekian banyaknya mini market kenapa harus bertemu Letty di sana.”


“Sepertinya takdir ingin kau menunjukkan keberadaanmu di hadapan kami agar tidak ada salah paham dan kita bisa bersatu melawan musuh.” 


“Leona, kau bercanda. Tim kalian sudah cukup kuat. Lihat saja sekarang, kalian sudah menang bukan? Sebenarnya tadinya aku memiliki niat untuk menghajar Jordan. Bagaimana bisa ia membiarkan istrinya berada dalam bahaya. Ternyata Jordan juga terjebak di tempatnya. Kalau saja aku tahu sejak awal, mungkin tidak akan sama keadaannya.”


“Jordan sudah kembali dan semua masalah masih bisa di atasi. Soal Pangeran Martine juga daddy tidak mau kami turun tangan. Dia bilang masalah ini bisa di selesaikannya sendiri. Sepertinya luka orang tua kami nnyang tidak kunjung sembuh.”


Zean tertawa geli. Ia kembali ingat dengan dendam kakeknya hingga harus berakhir pisah dengan Leona. “Hidup kita tidak akan pernah tenang jika kita tidak menghentikannya dari sekarang. Membunuh bukan solusi, justru akan menimbulkan masalah baru.”


“Kau benar, Zean.”


Saat Leona dan Zean diam dengan pikiran mereka masing-masing. Di saat itu Jordan muncul. Sebenarnya ia sudah muncul sejak tadi hanya saja tidak ingin mengganggu perbincangan antara Zean dan Leona. Dengan membawa tiga kaleng minuman dingin, Jordan berjalan mendekati Zean dan Leona.


“Jordan, kau ke mana saja?” Tanpa menjawab, Jordan hanya memamerkan minuman yang ia bawa. Zean segera beranjak dari sisi Leona karena tidak mau Jordan salah paham.


“Jangan pergi sebelum menghabiskan minuman ini.” Jordan memberikan satu kaleng minuman dingin kepada Zean sebelum membaginya kepada Leona.


“Terima kasih, Jordan.” Zean membuka tutup minuman kaleng itu dan meneguknya tanpa  menuggu.


“Bakar saja jika kau menginginkannya. Lakukan pada malam hari. Aku akan pura-pura tidur saat kebakaran itu terjadi,” ucap Jordan dengan senyuman. Zean dan Leona saling memandang. Kalimat yang dikatakan Jordan sudah membuktikan kalau Jordan sudah sejak tadi ada di sana dan menguping pembicaraan  mereka.


“Ya. Uangnya juga lumayan. Aku bisa bersenang-senang sampai tua tanpa harus bekerja,” sambung Zean dengan tawa kecil.


Jordan mengangguk pelan. “Maafkan keluargaku karena sudah sempat menuduhmu yang aneh-aneh. Terutama Letty.”


“Aku tahu kalau Letty memang seperti itu. Dia sangat suka berburuk sangka kepada orang lain. Sebenarnya mereka tidak salah. Segala bukti menunjukkan aku terlibat,” jawab Zean apa adanya.


“Zean, salah paham ini sudah selesai. Aku dan Leona akan menjelaskan semuanya kepada yang lainnya.”


“Terima kasih, Jordan.” Zean memandang wajah Leona sejenak. “Jaga dia.”


“Terima kasih Zean karena kau telah menyelamatkan Leona. Aku sudah mengirim orang untuk mencarimu tapi tidak juga berhasil. Kau sulit di temukan akhir-akhir ini.”


“Tidak masalah. Bukankah semua hanya kebetulan?”


“Zean, bagaimana kalau kita makan siang? Sudah lama kita tidak berbincang-bincang.”


“Tidak, Jordan. Aku-”

__ADS_1


“Kau tidak boleh menolak.” Tiba-tiba saja Jordan merangkul pundak Zean dan membawa pria itu pergi. Ia tahu kalau sahabatnya itu akan menolak sehingga ia perlu memaksa. Tangan Jordan yang lain memegang pergelangan Leona dan membawa wanita itu pergi. Dengan wajah yang santai Jordan pergi membawa Zean dan Leona menuju restoran terdekat.


__ADS_2