Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 99


__ADS_3

Mendengar pernyataan Miller, Letty justru mengangguk pelan. Ia memberikan ruang kepada Miller untuk maju. Sedangkan Letty sendiri lebih tertarik mengurus pria-pria yang kini mengelilingi mereka.


"Kenapa kau mundur?" bisik Miller bingung.


"Bukankah kau bilang kau yang ingin maju? Silahkan saja. Aku juga tidak mau bertarung terlalu lelah sebelum Queen Star tiba," jawab Letty santai.


Miller menghela napas. "Bukankah kau seorang ketua mafia? Apa seperti ini sikap seorang ketua ketika menghadapi masalah?"


"Sudahlah, maju sana. Sepertinya dia sudah tidak sabar bertarung denganmu." Letty mendorong tubuh Miller agar lebih maju ke depan. Bersamaan dengan itu Letty mulai melakukan aksinya. Ia menembak beberapa pria yang ada di dekatnya untuk memulai peperangan.


"Dasar wanita!" umpat Miller sebelum menghajar pria yang ada di hadapannya. Namun pukulan pertama Miller meleset dan justru dirinya yang mendapat tendangan hebat dari pria berjaket hitam itu.


BRUAKK. Miller mundur beberapa langkah sambil memegang perutnya. "Sial! Pukulannya boleh juga."


Miller kembali memperhatikan lawannya. Tubuh kekar dengan kulit seperti besi yang sangat sulit di lukai. Di tambah lagi pria itu tinggi dan memiliki otot yang kuat. Bahkan saat berlapis jaket saja sudah kelihatan. Miller merasa menghadapi petarung arena tinju malam ini.


"Hei kau! Maju lah kalau kau berani!" tantang Miller lagi walaupun sudah jelas-jelas di awal tadi ia kalah.


Pria itu semakin bersemangat untuk menghajar Miller. Ia membuka jaketnya dan berjalan maju. Letty melirik kejadian itu dan mulai waspada. Sebenarnya ia juga tidak mau sampai Miller terluka. Apa lagi terluka karena melindungi dirinya seperti itu.


"Berhati-hatilah. Aku pernah menembak dan berusaha menusuknya. Namun ia tidak mengalami sakit sedikitpun," ucap Letty memperingati. Mendengar penjelasan Letty, Miller hanya bisa mengangkat satu alisnya ke atas.


"Tenang, Honey. Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku," jawab Miller sebelum memukul pria itu lagi. Seperti apa yang dikatakan Letty, tertusuk berlatih saja pria itu tidak apa-apa. Apa lagi hanya sebuah tangan berlapis kulit. Pria itu tidak goyah dan justru membalas Miller dengan pukulan yang luar biasa menyakitkan. Hingga akhirnya Miller yang memiliki tubuh proporsional itu terpental dan tergeletak di jalanan.


"Miller!" Letty berlari menolong Miller. Pria berbadan tegap itu dengan sigap memegang pergelangan tangan Letty dan menahannya mendekati Miller. Bersamaan dengan itu pasukan Queen Star telah tiba. Mereka menyerang pasukan yang bergerombol. Tapi tidak dengan pria yang kini memegang tangan Bos mereka. Karena memang mereka sendiri tidak tahu cara mengalahkan pria berbadan kekar itu.


"Serahkan gelang itu maka kau akan bebas?" ucap pria itu lagi memperingati.


"Tidak akan! Aku sudah menjualnya pada seseorang dengan harga yang fantastis!" jawab Letty. Ia berpikir saat berbohong seperti itu kepada Miller berhasil. Kali ini Letty berharap kebohongannya juga dipercaya oleh musuh yang menahan tangannya.


"Kau tidak akan bisa membohongi kami! Gelang itu masih ada di sini. Bersamamu! Sistem kami tidak pernah salah!"


BRUAAKKK. Pukulan dilayangkan pria tersebut ke arah perut Letty. Letty merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan sampai darah keluar dari mulutnya. Sakitnya sungguh luar biasa. Letty mengerahkan kekuatannya untuk melawan. Tapi orang yang kini ia hadapi memang bukan seperti manusia. Hanya satu tindakan saja pria itu berhasil mengangkat tubuh Letty ke udara dan membuangnya seperti boneka kecil yang menyedihkan.


Tubuh Letty benar-benar remuk kala itu. Miller yang berusaha bangkit di bantu pasukan Queen Star juga berusaha keras mengalahkan pria itu. Tapi, menang seperti tidak ada titik lemahnya. Pria itu masih tetap segar walau tubuhnya di hujani tembakan dan tusukan.


Sambil memegang perutnya yang sakit, Letty memandang Miller dan pasukannya yang kini berjuang keras.


"Pasti di gelang ini ada alat pelacak. Makanya ia tahu kalau gelangnya masih bersamaku," gumam Letty di dalam hati. Ia berdiri lagi dan memastikan gelang itu masih bersamanya.


"Hentikan! Aku akan menyerahkan gelang ini!" Letty memperlihatkan gelang yang sejak kemarin bersamanya. Miller menggeleng tidak setuju saat melihat Letty ingin memberikan gelang tersebut.


"Bagus, Nona. Berikan padaku dengan cara baik-baik maka aku akan pergi dengan cara baik-baik juga." Pria itu mengulurkan tangannya.


"Letty, jangan lakukan itu!" tolak Miller. Karena kesal mendengar perkataan Miller, pria itu menghajar Miller hingga babak belur. Letty mengepal kuat gelang tersebut. Ia tahu kalau satu-satunya cara agar terhindar dari masalah adalah membuang sumber masalah.


"Jika kau melukainya seperti itu. Aku akan meremukkan gelang ini hingga tidak terbentuk lagi!" ancam Letty agar pria itu mau menghentikan aksinya menghajar Miller.


Pasukan Queen Star juga banyak yang kalah. Menghadapi pria itu memang tidak asal Sajam Andai mereka tahu akan di serang mungkin malam ini strategi yang disiapkan Letty akan lebih matang.


"Baiklah!" jawab pria itu sebelum menghempaskan tubuh Miller yang menurutnya tidak seberapa.


Letty berjalan pelan untuk menyerahkan gelang tersebut. Ketika jarak mereka sudah beberapa meter, Letty segera mengeluarkan pistolnya dan ....


DUARR DUARRR


Dua peluru ia keluarkan dengan cepat. Bukan bagian vital yang ia incar, melainkan kedua mata pria tangguh itu. Pria itu seperti kaget ketika kedua bola matanya di penuhi timah panas. Darah segar keluar dan ia tidak bisa melihat apapun. Ia berteriak kesakitan dan berjalan tidak tentu arah berharap bisa menangkap Letty dalam keadaan buta.

__ADS_1


Letty mundur dan menolong Miller. Ia segera memasukkan gelang itu agar lebih aman.


"Kita harus segera pergi sebelum pria yang sama muncul di sini," ucap Letty sambil memegang tangan Miller. Dengan rasa sakit yang luar biasa Miller hanya bisa mengangguk. Pria itu di bantu Letty dan Queen Star berlari menuju mobil untuk kabur.


Tembakan mengejar mereka namun masih berhasil mereka hindari. Pria berbadan kekar itu terjatuh di jalanan sambil mengerang kesakitan. Letty hanya bisa melihatnya dari balik kemudi sebelum meninggalkannya begitu saja. Perkara gelang yang ia curi ini memang tidak main-main. Bahkan jika tidak cerdas ia bisa tewas di tangan pria itu tadi.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Letty kepada Miller yang kini mengerang kesakitan.


"Seperti ada duri tajam di jarinya. Saat memukulku dengan tangan, rasanya seperti di tusuk lima belatih sekaligus. Ini benar-benar menyakitkan. Sebenarnya dia manusia atau bukan?"


"Aku belum menyelidikinya. Gelang pembawa sial! bagaimana bisa tunanganmu itu menyimpan gelang yang diincar pria berbahaya seperti itu?"


"Entahlah. Jika memang mereka mengincar gelangnya sejak awal, kenapa tidak merebutnya secara paksa selama gelang itu di bawa Bella. Mereka akan lebih mudah mendapatkannya karena pertahanan Bella tidak sekuat Queen Star."


"Kau benar! Ada yang aneh di sini." Letty menambah laju mobilnya sambil sesekali melirik ke belakang. Ia tidak mau ada yang mengikutinya hingga ke markas.


***


Bella duduk di depan cermin sambil menangis. Ia memandang foto kembarannya dengan kesedihan. Jemarinya mengusap bagian wajah Ella yang ada di foto.


"Sudah lama kau pergi, tapi kenapa baru ini aku merasa sedih? Ke mana saja air mataku bersembunyi selama ini? Ella, bagaimana caranya mendapatkan gelang itu lagi? Tadinya aku pikir dengan menjadikan seorang polisi tunanganku, aku bisa melindungi gelang itu dengan baik. Baru saja mengumumkan pertunangan aku sudah sial karenanya. Ella, berikan petunjuk. Aku benar-benar takut gelang itu jatuh di tangan yang salah. Seperti apa yang kau katakan dulu. Aku juga tidak mau jatuh miskin. Ella, aku takut!"


_______


"Bella, kenapa kau menangis?" tanya Ella dengan suara lemahnya.


"Bagaimana aku tidak menangis. Keadaanmu memburuk. Bahkan dokter bilang tidak ada lagi harapan bagimu untuk sembuh. Ella, sebenernya sakit apa yang kau derita? Kenapa kita tidak bisa menemukan obat untuk menyembuhkannya?" Bella memegang tangan Ella dan meletakkannya di pipi kanan. Ia belum siap kehilangan saudara kembarnya secepat ini. Ia masih butuh Ella di sisinya.


"Bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Ella basa basi agar Bella tidak semakin sedih.


Ella hanya tersenyum. "Kau yang terbaik Bella. Bella, apa kau mau melakukan sesuatu untukku?"


"Apa?"


"Apa kau tahu gelang favoritku?"


"Ya, aku tahu. Gelang kino itu. Kenapa dengan gelangnya?"


"Seluruh harta kita ada di dalam gelang itu. Apa kau bisa menjaganya setelah aku pergi nanti?"


"No! Jangan katakan hal menakutkan seperti itu. Aku tidak akan sanggup!" Bella semakin senggugukan.


"Bella, pandang aku. Jangan lemah seperti ini. Kau harus kuat setelah aku tiada."


"No. Aku tetap ingin jadi wanita manja asal kau ada di sampingku."


"Tidak bisa Bella. Ingat pesanku. Kau harus menjaga gelang itu jika tidak ingin jatuh miskin."


"Kenapa? Apa harta kita ada di gelang itu?"


"Tidak. Tapi rahasia keluarga kita ada di dalamnya. Ada beberapa kristal yang menyelimutinya. Di makan usia mungkin akan menjadi rapuh. Jangan sampai kristalnya terlepas. Kau harus menjaganya layaknya benda yang rapuh."


"Ella, apa lagi sekarang? Kau memberiku tugas yang tidak masuk akal. Bagaimana bisa kekayaan kita ada di gelang itu?"


"Gelang itu incaran beberapa gangster Bella. Gelang itu milik keluarga kita. Jika sampai jatuh ke tangan orang yang tidak tepat, kau tidak akan bisa membayangkan akibatnya."


"Ella, aku ingin kau sembuh agar kau bisa menjaganya sendiri!"

__ADS_1


"Maafkan aku, Bella. Andai aku masih bisa bersamamu, segala cara pasti akan aku lakukan. Satu lagi, jika aku tiada. Kau harus menghilang untuk beberapa tahun."


"Ella, apa lagi sekarang? Aku baru saja memulai karirku bagaimana bisa kau memintaku bersembunyi?"


"Bella, menurutlah. Ini demi keselamatanmu. Jangan pernah muncul di pemakamanku apa lagi pulang ke rumah. Gunakan uang tunai setiap kali kau membayar sesuatu."


"No!"


"Bella, berjanjilah!" Ella memandang wajah Natalie yang kini juga ada di ruangan itu. Beberapa dokter terlihat berjuang keras menyelamatkan nyawanya.


"Bella, apa yang terjadi pada wanita itu?"


"Aku tidak tahu dan tidak peduli." Bella menutup wajahnya di atas tubuh Ella.


"Dok, apa yang terjadi padanya?"


Dokter yang mendengar pertanyaan Ella segera mendekat. "Dia adalah wanita yang membutuhkan donor jantung Anda."


"Jantung saya?"


"Ya, Nona," jawab Dokter itu dengan tenang.


Ella memandang wajah Bella yang masih menangis. "Bella, aku tahu soal ini?"


"Ya. Keluarganya ada di depan."


"Serahkan jantungku padanya, Bella."


"Apa lagi sekarang? menyerahkan jantung mu sama saja membunuhmu!" Bella berdiri dengan wajah marah.


"Dia pasti bukan wanita sembarangan. Donor jantung tidak bisa dilakukan orang biasa. Bella, kau bisa menggunakan keluarga mereka untuk melindungimu ketika aku tidak ada."


"No, Ella. No!"


"Bella, dengarkan aku! Hidupku memang tidak akan lama. Cepat atau lambat aku akan pergi. Lakukan apa yang aku katakan. Jangan manja! Karena setelah aku pergi, kau tidak akan bisa bersikap seperti itu lagi."


Bella semakin tidak kuat. Ia memalingkan wajahnya. "Lakukan apa yang kau inginkan. Terserah kau saja. Berikan jantungmu padanya. Bila perlu seluruh organ tubuhmu berikan saja pada yang membutuhkan. Jangan pedulikan perasaanku."


Saat Bella asyik mengomel tiba-tiba kondisi Ella semakin drop. Bella syok dan panik. Beberapa dokter mengelilingi untuk mengambil tindakan.


"Nona, operasi pengangkatan jantung tidak bisa dilakukan jika keluarga tidak setuju."


Bella diam membisu memandang surat perjanjian di depannya. Ia tidak sanggup berdiri lagi. Namun, ia berusaha kuat.


"Berikan surat itu padaku!" Bella segera menandatangani suratnya.


"Aku tidak akan menangis Ella. Aku akan tertawa saat kau pergi. Ini yang kau mau kan? Ella bangun!" teriak Bella dengan suara yang mulai hilang.


"Ella, aku akan pergi. Pergi yang jauh bersama gelang murahan itu," sambung Bella lagi. Namun sepertinya kakinya tidak lagi bertenaga. Hingga akhirnya Bella jatuh dan tidak sadarkan diri. Beberapa dokter tetap fokus pada Ella dan Natalie sebelum terlambat sedangkan beberapa perawat membawa Bella untuk istirahat.


________


"Kenapa kau pergi dengan cara seperti itu, Ella? Gelang itu sekarang sudah hilang. Apa benar hidupku juga akan berakhir? Aku tidak bisa hidup sambil menjaga gelang itu. Awalnya aku pikir bersama dengan Miller bisa menjadi lebih tenang. Kenapa justru memburuk? Ella, apa kau mendengar apa yang aku katakan? Jika kau mendengarku, tolong bantu aku mengatasi masalah ini."


Bella merasa lelah karena terlalu lama menangis hingga akhirnya kedua matanya mulai terpejam. Walau kini posisinya duduk, tapi tetap saja ia bisa tidur karena ada foto Ella yang menemaninya. Entah masalah apa yang akan ia hadapi setelah gelang itu hilang. Tapi saat ini Bella benar-benar takut. Ia takut celaka ia juga takut jatuh miskin seperti apa yang pernah dikatakan Ella sebelum pergi.


Hanya Miller yang bisa di andalkan Bella untuk menemukan gelang itu kembali. Ingin sekali rasanya Bella menguburkan gelang itu di suatu tempat agar tidak hilang lagi. Membawanya kemana saja ternyata bukan solusi yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2