Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 72


__ADS_3

Leona dan Jordan sudah ada di kamar hotel. Sambil kembali membahas perbincangan mereka dengan Zean tadi, Jordan sesekali menjahili Leona dengan menggelitiknya. Hari yang begitu membahagiakan bagi mereka berdua. Setelah tiba di istana mereka akan menjelaskan semuanya kepada semua orang. Terutama kepada Letty agar tidak ada salah paham lagi.


Zean juga sudah terlihat jauh lebih tenang saat Jordan berjanji untuk menjaga Leona. Bahkan Jordan juga berkata, tidak akan mengulang kesalahan yang sama lagi. Jordan tahu bagaimana khawatirnya Zean kemarin. Jika dirinya ada di posisi Zean mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Walau wanita yang ia tolong sudah bersuami.


"Baby girl, I Miss you." Jordan menggelitik tubuh Leona dengan gemas. Membuat Leona tertawa adalah hal terindah yang sangat ia sukai.


"Jordan, jangan seperti itu. Geli." Leona berusaha menjauh dari Jordan. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas. Memang sejak tadi ia tidak ada membuka ponsel. Di tambah lagi ponsel itu tanpa dering. Leona lupa mengaktifkan deringnya.


"Leona, aku mau mandi." Jordan membuka jasnya dan melempar jas itu kepada Leona. Ia ingin mengganggu istrinya. Tapi sepertinya Leona terlalu asyik dengan ponselnya. Ia tidak membalas tatapan Jordan saat itu.


"Ya. Mandilah. Aku akan mandi setelah kau selesai," jawab Leona sambil mengotak ngatik ponselnya.


Jordan membuka satu persatu kancing kemejanya. Ia melakukan gerakan itu sangat lambat dan berharap mau memandang tubuhnya yang sudah tidak dipenuhi perban. tapi sepertinya Leona tidak kunjung sadar dengan keinginan sang suami. Bukan memandang wajah Jordan, Leona justru mencari posisi yang nyaman. Ia mengangkat kedua kakinya dan meletakkannya di sofa. Jordan yang mulai kesal membuka kemejanya dengan kasar. Sebelum berjalan menuju kamar mandi pria itu melempar kemejanya ke arah wajah Leona.


"Apa yang kau lakukan?" protes Leona sambil menurunkan kemeja yang menutupi wajahnya.


"Tidak sengaja," jawab Jordan asal saja sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Leona semakin bingung. Namun tiba-tiba saja ponselnya berdering. Leona memandang ke arah ponselnya dengan wajah tidak percaya.


"Kwan? Apa ini benar-benar Kwan? Dia masih ingat denganku?" Leona melekatkan ponselnya di telinga. Ia sudah tidak sabar untuk bergosip dengan adik sepupunya itu.


"KWAN!!" teriak Leona dengan suara yang begitu keras. Sudah pasti lawan bicaranya yang ada di kejauhan sana kini kaget bukan main.


"Kak, apakah saat ini Kakak sedang ada di hutan?"


"Hutan? Tentu saja tidak."


"Kenapa berteriak seperti binatang buas?" ledek Kwan kesal.


"Kwan, Kau terlalu sombong akhir-akhir ini. Tidak memberi kabar apapun kepadaku. Apa kau masih menganggapku sebagai kakak mu?"


"Kak, kau sudah menjadi istri Jordan. Bagaimana mungkin aku mengganggumu lagi setiap detik nya. Ditambah lagi sekarang aku sudah memiliki Alana. Memikirkan tentang nya saja rasanya tidak cukup waktu 24 jam."


"Terlalu banyak alasan! Apa kau tahu kalau aku baru saja mengalami masalah?"


"Ya. Maka dari itu aku menghubungi Kak Leona. Apa semua baik-baik saja?"


"Seharusnya semua baik-baik saja."

__ADS_1


"Seharusnya?"


"Ya. Ada sedikit salah paham. Tapi akan segera teratasi."


"Syukurlah. Kak, aku akan ke sana besok. Bersama Alana."


"Benarkah?"


"Ya. Lakukan penyambutan yang meriah!"


"Kwan, aku pasti akan menyambutmu dengan meriah."


"Kak, aku akan menikah dengan Alana. Aku sangat mencintainya."


Leona tersenyum. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah bahagia Kwan saat ini. Di pria playboy yang sedang jatuh cinta pasti terlihat sangat lucu.


"Kwan, kau harus belajar setia."


"Tentu saja. Bahkan aku juga harus menjaga jarak!" sambung Kwan lagi.


"Jaga jarak?"


Tiba-tiba saja Leona mendengar suara berisik di kamar mandi. Seperti suara orang terjatuh. Leona segera beranjak dengan wajah panik. Ia takut Jordan celaka di dalam sana.


"Jordan, apa kau baik-baik saja?" Leona mengetuk pintu untuk mendengar suara Jordan. Namun, sudah kesekian kali mengetuk Jordan tidak kunjung menjawab.


"Jordan?" Kali ini Leona tidak bisa bersabar lagi. Ia segera membuka pintu kamar mandi untuk memeriksa langsung ke dalam. Ketika pintu terbuka, Leona tidak melihat Jordan di dalam sana. Karena semakin penasaran Leona masuk ke dalam.


"Jordan, kau di mana?" Leona kembali mengingat-ingat. Ia sangat yakin kalau tadi Jordan masuk ke kamar mandi.


Hingga tiba-tiba saja Jordan memeluk Leona dari belakang. Pria itu membuat Leona kaget hingga jantungnya berdebar tidak karuan.


"Jordan, kenapa kau mengerjaimu seperti ini? Kau membuatku kaget?" Leona memandang wajah Jordan yang kini ada samping lehernya. Dengan badan basah kuyup Jordan memeluk erat tubuh Leona agar istrinya juga basah.


"Setelah aku sakit kau sedikit cuek. Seperti sedang menghindar. Tidak mau menemaniku mandi. Bahkan terkadang kau suka membuka kancing kemejaku, tapi akhir-akhir ini tidak lagi," bisik Jordan dengan penuh kesedihan.


Leona mengangkat tangannya dan mengusap rambut Jordan yang basah. "Aku hanya tidak ingin mempersulitmu saja."


"Mempersulit?" Jordan mengeryitkan dahinya dengan wajah bingung.

__ADS_1


Leona berdehem pelan karena mulai bingung cara menjelaskannya. Wanita itu memandang lukisan buah yang ada di kamar mandi. Tiba-tiba saja ia memegang perutnya ketika mulutnya dipenuhi Saliva.


"Jordan, di mana aku bisa mendapatkan buah itu?" Leona memandang lukisan buah itu dengan penuh harap. Sepertinya ia benar-benar menginginkannya.


"Buah? Buah apa?" Jordan terlihat bingung sambil mencari-cari di sekeliling kamar mandi.


"Itu." Leona menunjuk dinding yang terdapat lukisan buah. Jordan mengikuti arah yang di tunjuk Leona sebelum mengeryitkan dahinya.


"Buah leci?"


Leona mengangguk. "Tapi aku ingin petik dari pohonnya langsung. Sepertinya jauh lebih manis dan segar." Leona semakin tidak kuasa mengontrol salivanya. Ia benar-benar menginginkannya.


"Aku akan cari tahu. Di mana ada kebun leci sebelum kita berangkat untuk memetiknya. Tapi ... apa kau benar-benar menginginkannya?" tanya Jordan lagi dengan wajah ragu.


Leona mengangguk. Ia memutar tubuhnya dan bergelayut manja di lengan kekar Jordan yang masih lembab. "Jordan, cepat. Kau sudah tidak sabar untuk memetiknya."


"Oke, baiklah. Tapi sebelum mencari. Temani aku mandi dulu. Satu jam lagi kita berangkat untuk mencarinya. Bagaimana?"


Leona mengangguk pelan. Wanita itu mengecup pipi kanan Jordan dengan penuh cinta. "Terima kasih, sayang."


Jordan hanya tersenyum bahagia melihat sang istri bahagia. Pria itu segera membawa Leona ke bak mandi untuk berendam di sana.


***


Jordan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena membaca artikel yang baru saja ia buka. Ada beberapa negara yang menghasilkan leci. Namun, tidak ada negara terdekat yang bisa ia kunjungi detik ini juga.


"Amerika, Mauritius, Australia, Afrika Selatan, Madagascar, China. Kenapa pohon leci terbaik tidak ada di Cambridge? Apa petani Cambridge tidak bisa menanamnya? Atau jangan-jangan warga Cambridge tidak menyukainya."


Jordan menurunkan ponselnya dan memikirkan cara agar bisa segera tiba di kebun leci. Sebenarnya tidak akan sesulit ini jika Leona mau memakan buah yang sudah di petik. Tapi, sulitnya kini Leona ingin memetiknya secara langsung. Hal itu membuat Jordan sedikit ragu. Apa lagi pohon leci akan berbuah pada musim panas. Kali ini ia harus benar-benar menentukan waktu yang tepat.


"Jordan, aku sudah siap." Leona keluar dengan penampilan yang rapi. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan rambut di gerai yang sudah di buat gelombang. Senyumnya yang manis membuat Jordan terpaku beberapa detik.


"Kau sangat cantik Leona," puji Jordan sebelum beranjak. Pria itu sudah tidak sabar memeluk dan menghirup aroma tubuh sang istri.


"Apa sudah tahu di mana pohon leci itu berada?" tanya Leona penuh semangat.


"Ada di manapun tapi aku tidak tahu sedang berbuah atau tidak. Bagaimana kalau kita cari di supermarket saja?"


"No! Aku ingin petik langsung," protes Leona tidak setuju.

__ADS_1


"Oke, baiklah. Tapi kita pulang ke Cambridge dulu ya. Kita tidak bisa pergi begitu saja tanpa sepengetahuan orang istana. Mereka akan khawatir."


"Baiklah," jawab Leona pasrah. Ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba pikirannya sangat ingin memetik leci dan memakannya langsung di bawah pohonnya. Sebelumnya ia belum pernah bersikap seperti ini.


__ADS_2