Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Penyelidikan Jordan


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Leona sudah menyelesaikan makan malamnya. Leona beranjak dari duduknya untuk kembali ke kamar.


Jordan menggenggam tangan Leona dengan cepat dan menariknya agar kembali duduk.


“Mau kemana?” tanya Jordan dengan ekspresi wajah yang dingin. Cukup berbeda jika dibandingkan dengan ekspresi wajah sebelumnya.


“Aku mau kembali ke kamar,” jawab Leona dengan wajah tidak bersalah.


“Ikut denganku.” Jordan beranjak dari kursi dan menarik tangan Leona. Pria itu membawa Leona ke ruang pribadinya.


Leona hanya bisa diam tanpa kata. Ia ingin protes. Tapi, kekuatan Jordan belum bisa ia kalahkan. Jika mamutuskan untuk berkelahi lagi, tentu saja Leona akan kalah. Di tambah lagi, kini ia belum tahu apa tujuan utama Jordan hadir di dalam hidupnya.


Leona hanya memandang ruangan itu dengan seksama. Sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Di sebuah lemari berukuran besar, tertata rapi aneka minuman beral*kohol. Ada meja bar mini di depan lemari tersebut. Meja bar mini itu, terlihat simple dan sangat elegan. Beberapa gelas bertangkai tersusun rapi sana.


“Kau mau minum, Leona?” tawar Jordan dengan senyuman. Jordan berjalan ke arah kulkas. Pria itu ingin memberikan Leona minuman kaleng awalnya.


Leona mengangguk pelan, “Tentu saja. Bukankah minuman seperti ini sangat nikmat,” ucap Leona sambil memperhatikan deretan minuman beralkohol yang ada di hadapannya.


Jordan tertawa kecil. Pria itu menggeleng pelan. Ia mengurungkan niatnya untuk mengambil minuman kaleng. Jordan mengambil sebotol anggur merah dan menuang minuman beralkohol itu ke dalam dua gelas kosong. Jordan memberikan segelas anggur merah kepada Leona. Pria itu duduk di samping Leona. Ia memandang wajah Leona dengan seksama sebelum meneguk minumannya.


Leona kembali diam dan meneguk minuman itu secara perlahan sebelum meletakkan gelasnya di atas meja. Leona beranjak dari sofa tersebut. Ia berjalan perlahan menuju satu lemari buku.


“Apa kau suka membaca?” tanya Leona sambil memperhatikan koleksi buku milik Jordan.


“Ya, aku sangat suka membaca buku.” Jordan Mendekat ke arah Leona, “Ini buku favoritku.” Jordan menyodorkan sebuah buku di hadapan Leona.

__ADS_1


“Aku tidak suka membaca,” jawab Leona. Wanita itu menolak tawaran Jordan dan berjalan ke arah sofa lagi. Leona menjatuhkan tubuhnya di atas sofa merah, “Tempat ini sangat nyaman,” ucap Leona sambil duduk bersandar dengan posisi yang sangat nyaman.


Jordan kembali meletakkan buku itu, melipat kedua tangannya dan memperhatikan Leona dari kejauhan.


“Leona, ceritakan tentangmu!” ucap Jordan dengan wajah penasaran.


“Tentangku?” Leona menunjuk ke dirinya sendiri.


“Ya, tentang hidupmu.” Jordan berjalan ke arah sofa yang sama dengan Leona. Pria itu duduk dengan posisi yang nyaman. Ia memperhatikan wajah Leona yang terlihat jelas sedang berpikir keras untuk menjawab pertanyaannya.


“Tidak ada yang bisa di ceritakan, semua biasa-biasa saja,” jawab Leona tersenyum manis. Wanita itu membuang tatapannya ke arah lain.


“Apa kau bekerja?” Jordan semakin tertarik untuk membahas kehidupan pribadi Leona. Selama ini belum ada yang berhasil mengetahui latar belakang Leona. Hanya dengan menanyakan kepada orangnya langsung, agar Jordan bisa mengetahui kehidupan Leona.


“Apa kau punya keluarga?” tanya Jordan tanpa memandang. Pria itu kembali ingat dengan bawahan yang ia kirim untuk menyelidiki hidup Leona. Tidak ada satupun yang berhasil mengetahui asal usul Leona.


“Aku tidak terlalu suka menceritakan kehidupanku,” jawab Leona pelan.


“Ok, baiklah. Aku tidak akan membahas itu lagi.” Jordan menyandarkan tubuhnya, “Kenapa pria tadi ingin menembakmu?” ucap Jordan sambil mengingat dua pria yang menodongkan senjata apinya ke arah Leona tadi sore.


“Aku tidak tahu,” jawab Leona cepat.


“Leona, apa kau pernah mendengar geng mafia?” Jordan menatap tajam kepada Leona.


“Pernah, aku pernah menonton film seperti itu beberapa kali,” jawab Leona santai. Tentu saja tidak semudah itu bagi Leona untuk membuka identitasnya. Apa lagi dengan istilah keceplosan. Itu tidak mungkin.

__ADS_1


Jordan tertawa terbahak-bahak, jawaban Leona yang polos, membuat hatinya begitu geli. Padahal niat awalnya, Jordan ingin Leona jujur atas geng mafia yang kini ia pimpin. Bukan mendapat jawaban yang sesuai, justru pria itu di buat tertawa lucu oleh Leona.


“Aku tanya di dunia nyata, Leona. Mafia di dunia nyata,” ucap Jordan lagi dengan tawa kecil di bibirnya.


“Apa mafia ada di dunia nyata?” jawab Leona dengan wajah pura-pura bingung.


“Tentu ada. Apa kau ingin melihatnya?” Jordan mendekatkan wajahnya di hadapan Leona.


“Di mana aku bisa menemukannya?” tanya Leona polos.


“Di sini, di hadapanmu. Aku pemimpin geng mafia Gold Dragon, Leona.” Tatapan Jordan berubah menjadi dingin. “Aku Oliver,” ucap Jordan lagi untuk memastikan kalau Leona benar tidak kenal dengan mafia Gold Dragon milik sepupunya, Oliver.


“Kau seorang mafia?” tanya Leona dengan kedua mata yang dipenuhi selidik.


“Apa kau takut, Leona?” tanya Jordan dengan alis terangkat.


Leona diam sejenak untuk menjernihkan pikirannya. Menatap wajah Jordan dan memperhatikannya dengan seksama. “Apa tujuannya memberi tahuku identitasnya saat ini?” gumam Leona di dalam hati. “Aku tidak takut,” jawab Leona singkat.


“Terima kasih, karena kau tidak takut. Sekarang kau sudah bisa kembali ke kamar,” ucap Jordan sebelum mengalihkan pandangannya. Pria itu terlihat memejamkan mata dengan wajah yang sangat tenang. Seperti seorang polisi yang baru saja selesai mengintrogasi seorang tersangka.


Tanpa lama menunggu, setelah mendengar perkataan Jordan. Leona beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Leona tidak mengucapkan satu katapun lagi. Begitu juga Jordan. Jordan hanya memejamkan mata. Ia membuka matanya saat tahu Leona sudah menjauh. Pria itu memperhatikan punggung Leona yang menghilang di balik pintu.


Jordan kembali tertawa saat mengingat jawaban Leona, “Dia bisa berakting dengan begitu polos. Cukup sulit memancingnya agar berbicara jujur.” Jordan merentangkan kedua tangannya di atas sofa, “Maafkan Jordan, Paman Lukas. Kali ini Jordan terpaksa meminjam nama geng mafia anda untuk menjerat wanita yang sudah membuat Jordan jatuh cinta,” ucap Jordan pelan sebelum memejamkan matanya lagi.


Leona berjalan ke arah tangga. Ia menyerah. Tidak ada cela sama sekali untuknya kabur meninggalkan rumah megah dan mewah itu. “Aku akan memikirkan cara untuk kabur besok pagi saja. Malam ini sebaiknya aku mengalah dan berlindung di rumah ini. Aku juga sangat yakin kalau Zean pasti akan menyelidiki pembunuh pria tua itu,” gumam Leona di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2