Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 127


__ADS_3

DHOOOM


Suara dentuman akibat ledakan dari lokasi pelelangan membangunkan big boss Cosa Nostra. Ia segera berlari keluar kamar ketika mendengar suara yang begitu memekakan telinga. Setelah tiba di depan, wajahnya justru semakin kaget lagi. Pasukan miliknya kini sedang bertarung mati-matian untuk menyelamatkan mansion mereka. Ada yang menggunakan belati, pistol dan pedang. Tidak sedikit yang gugur namun tidak sedikit juga mereka mengalahkan musuh.


“Apa yang terjadi?” teriaknya histeris. Ia tidak menyangka kalau hari ini akan menjadi hari sial baginya. Sudah rugi jutaan dollar kini ia harus mengalami penyerangan dadakan.


“Bos, mereka datang lagi.”


“Mereka?” Alisnya saling bertaut.


Belum sempat bawahannya menjawab, Zean sudah muncul di sana. Pria itu menatap wajahnya dengan tatapan penuh dendam. Mungkin kalau pengawal kepercayaannya tidak sampai tewas ia tidak akan sedendam ini.


“Siapa kau?”


“Kau tidak perlu mengenalku. Aku datang untuk membebaskan para wanita yang akan jual seperti barang!”


“Tidak! Jangan lakukan itu. Ini bisnisku. Kau tidak perlu merusak bisnis orang lain!” protesnya tidak terima.


“Bisnis kau bilang? Apa kau pikir wanita adalah makhluk paling lemah yang layak kau perlakukan seperti itu?” sambung Leona penuh emosi. Sesuai dengan perkataan Jordan, wanita itu tidak akan mau menjauh dari suaminya.


Pria tua itu melangkah mundur. “Apa yang terjadi? Kenapa kalian kembali? Bukankah masalah kita sudah selesai?” Pria itu tidak mau istana megah miliknya hancur. 


“Awalnya sudah selesai. Tapi, setelah kami tahu kalau bisnis yang kau kerjakan adalah bisnis yang begitu merugikan kaum wanita, aku kembali untuk balas dendam. Atas nama wanita yang sudah kau bunuh! Malam ini kau juga akan menyusul mereka dan merasakan apa yang mereka rasakan.”


Pria tua itu menahan langkahnya. Ia memandang pria yang siap siaga melindunginya dari bahaya. “Jackal! Panggilkan Jackal!”


“Baik, Bos!”


Leona menahan langkah kakinya. Jordan dengan cepat memegang pergelangan tangan Leona. Sedangkan Zean, pria itu sudah tidak sabar memulai peperangan. Ia segera menyerang pengawal pria tua itu sebelum ia sempat memanggil pria yang tadinya di sapa dengan mama Jackal.


Melihat pengawal setianya tidak ada tanda-tanda akan menang, pria itu berlari kencang ke lift. Ia turun ke lantai bawah tanah. Sepertinya ia ingin kabur dari sana. Leona berlari untuk mengejar namun langkahnya di tahan oleh Jordan.


“Aku sudah bilang untuk tidak berlari!”

__ADS_1


“Tapi kita akan kehilangan pria itu!”


“Oliver!” teriak Jordan. Oliver muncul bersama dengan Gold Dragon. Pria itu sudah paham dengan maksud Jordan dan segera berlari mengejar. Leona menghela napas. Ia juga ingin bertarung tapi Jordan benar-benar mengekang dan menghalanginya untuk beraksi.


“Aku tidak mau anakku kenapa-kenapa.” Jordan yang paham dengan apa yang dipikirkan Leona hanya bisa mengelus perut Leona untuk membujuknya.


“Apa pria itu benar-benar pemilik asli Cosa Nostra? Pertahanan mereka sama sekali tidak kuat,” ucap Leona sambil memperhatikan komplotan musuh yang sudah mulai kalah.


“Sayang, bukan mereka yang tidak kuat. Tapi, jumlah kita yang terlalu banyak dan sangat kuat. Kita bersatu. Mereka hanya satu,” jawab Jordan.


Zean melempar pria yang ia duga sudah membunuh pengawalnya dari lantai atas. Hatinya benar-benar puas ketika melihat pria itu berbaring di lantai dengan tubuh berlumur darah. “Ini  untuk pengawalku dan Clara!” umpat Zean saat memastikan musuhnya telah tewas.


Di sisi lain, Oliver menahan langkah kakinya ketika sudah tiba di ruang  bawah tanah. Ia melihat pria tua tadi berdiri di samping pria berbadan kekar. Pria itu memegang pecut berbahan besi yang dikelilingi dengan benda-benda runcing seperti pisau.


“Bos, sepertinya mereka memiliki peliharaan yang lumayan tangguh!” bisik bawahan Oliver.


“Kirimkan satu orang ke atas dan katakan apa yang terjadi di sini.”


“Baik, Bos.”


Saat pria tua itu banyak bicara, Si pria yang di panggil Jackal hanya diam memandang wajah Oliver. Ia seperti sedang memikirkan strategi yang pas untuk mengalahkan Oliver detik ini juga. Oliver bersikap tetap tenang. Ia memandang lingkungan sekitarnya yang ternyata dipenuhi dengan tengkorak manusia.


“Bagaimana dengan dinding ruangan ini? Kami membangunnya dengan menggunakan tengkorak wanita yang sudah tidak berguna!” sambung pria tua itu.


DUARRR


Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan. Leona yang emosi mendengar perkataan sombong pria itu tidak lagi bisa menahan kesabarannya. Ia emosi dan ingin segera membuat pria itu menderita. Tembakan Leona hanya berhasil mengenai bagian kaki. Walau memang kesakitan, tapi pria itu tetap saja masih hidup.


Zean berdiri di samping Oliver. Kali ini mereka berdua yang akan melawan Jackal. Jordan akan tetap bersama Leona dan membantu jika keadaan memaksa.


“Kalian tidak akan bisa keluar dari sini. Kita akan mati bersama-sama.” Pria itu menekan sebuah tombol. Hingga tiba-tiba saja jalan masuk menuju ruang bawah tanah tertutup. 


Namun, Leona dan yang lainnya tetap tenang. Sudah sering mereka menghadapi keadaan seperti itu. Pertarungan pun di mulai. Zean yang menyerang lebih dulu. Oliver yang juga segera menyusul langsung mencari titik lemah pria berbadan kekar tersebut.

__ADS_1


Leona mengangkat senjatanya. Sorot matanya sangat tajam. Ia mengincar bagian jantung pria itu agar ia tidak lagi bisa tertawa di dunia ini. Namun Jordan segera memegang pistol Leona. Ia menggeleng tidak setuju.


“Kenapa?”


“Aku tidak mau ka uterus membunuh Leona.” Jordan merebut senjata api itu. Ia membidik pria tua itu sebelum menembak bagian perutnya.


“Jordan, dia tidak mati! Jika hanya seperti ini, semua keluarga korban juga tidak akan terima.”


Saat sepasang suami istri itu berdebat, Jackal jatuh ke lantai. Senjata kebanggaan yang sejak tadi ia genggam sudah terlepas. Walau begitu, tetap saja ia sudah berhasil membuat luka di tubuh Oliver dan Zean. Jordan melangkah maju ketika melihat Zean dan Oliver sudah kehabisan tenaga.


DUARRR


Langkah Jordan terhenti ketika Leona membunuh Jackal dengan cara menembak dahinya. Wanita itu tidak berhenti. Ia menembak big boss hingga tewas. Tidak peduli larangan suaminya tadi. Jordan hanya bisa menghela napas. Ia lebih memilih membantu Zean dan Oliver berdiri.


“Apa dia sangat hebat?”


“Ya. Lumayan,” jawab Zean dengan tawa.


Leona melempar senjata apinya. Musuh mereka telah tewas dan kini waktunya mereka berpikir jalan keluar dari sana. “Apa kita akan terkurung di sini?” ucap Leona penuh basa-basi.


“Tidak akan. Peta yang diberikan Ben masih bersamaku. Ada jalan keluar di balik dinding ini,” ujar Zean penuh semangat. Ia menekan dinding yang kelihatannya tidak ada apa-apa di sana. Dinding itu ternyata menghubungkan mereka dengan jalan keluar menuju halaman belakang. Halaman yang berisi beberapa helikopter di sana.


Jordan mengulurkan tangannya agar Leona tidak hanya diam pada posisinya. “Ayo.”


“Apa kau tidak marah?”


Jordan tersenyum. Ia menarik Leona dan memeluknya dengan erat. “Aku hanya tidak mau anakku di dalam perut kaget. Bukankah kata dokter selama hamil kau harus menjaga emosimu?”


“Tapi ….”


“Sudahlah. Semua sudah selesai. Ayo kita pulang.”


Zean dan Oliver berjalan lebih dulu. Kebetulan sekali ada helikopter di sana. Mereka bisa menggunakannya menuju ke bandara. Para wanita yang mereka bebaskan juga sudah berada di bandara menuju ke kota mereka masing-masing. Di antaranya ada Anne dan Sarah. Mereka sangat bahagia mendengar kabar Clara telah bebas.

__ADS_1


Penduduk kota juga tidak takut lagi. Karena mulai saat ini, wilayah Cosa Nostra akan menjadi wilayah kekuasaan The Devils. Zean sengaja menguasai wilayah itu karena ia ingin memberikan wilayah itu kepada Ben jika nanti anak kecil itu telah dewasa.


__ADS_2