Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 36


__ADS_3

Leona dan Jordan merapikan barang-barang mereka. Sebenarnya mereka pergi tanpa membawa apapun. Tidak tahu kenapa ketika mau pulang ada banyak koper yang terisi penuh. Sebagian besar hadiah sebagai bentuk oleh-oleh. Sisanya justru berisi beberapa pakaian ganti yang belum terpakai.


"Baby girl, apa itu?" Jordan memandang kertas yang dipegang oleh Leona. Kertasnya cukup unik hingga membuat Jordan sangat penasaran.


"Dengan kertas ini aku mendengar semua kalimat yang dikatakan Lusya. Tapi hari ini aku belum mendengarkannya."


Leona berjalan ke arah sofa. Ia membuka laptop untuk mendengarkan rekaman suara yang sudah berhasil ia dapatkan. Jordan mengikuti Leona dan duduk di samping wanita itu. Pangeran Cambridge itu juga terlihat sangat antusias ketika hal yang mereka bahas berhubungan dengan Lusya.


"Pieter?" celetuk Jordan dan Leona bersamaan. Sepasang suami istri itu juga saling memandang dengan wajah bingung.


"Apa Pieter yang dia maksud adalah pengawal kerajaan Belanda?"


"Pria yang membawa Isabel pergi? Aku pikir dia ada di pihak kita karena tidak melindungi Isabel sampai akhir." Leona menutup layar laptopnya. Ia bersandar di dada Jordan dan memeluk pria itu dengan mesra.


"Seharusnya dia ada di lokasi Isabel dan Clouse tewas. Tapi dia tidak ada di sana. Apa itu berarti dia memang sengaja menyelamatkan diri agar bisa balas dendam?"


"Apa luka di Belanda kembali membuat kita tidak tenang? Lalu bagaimana bisa Lusya kenal dengan mereka?" Leona memandang wajah Jordan untuk menagih sebuah jawaban.

__ADS_1


"Sayang, apa kau tahu apa pekerjaan pria yang dinikahi oleh Lusya? Bukankah mereka bilang akan menetap di Las Vegas?"


"Lusya bilang suaminya hanya pemabuk dan pengangguran. Maka dari itu dia jadikan alasan kalau ia dijual oleh suaminya demi melunasi hutang."


"Sepertinya kita harus menyelidiki semua orang yang pernah di temui Lusya. Dia memang bukan wanita tangguh tapi, sepertinya dia yang menjadi penghubung atas semua masalah ini. Aku juga ingin tahu, sebenarnya siapa yang sudah berhasil menangkap Pieter."


"Tunggu! Jika Pieter tertangkap itu berarti dia sudah membuat sebuah masalah. Jordan, tanpa sepengatahuan kita di sana keluarga kita sudah mendapat masalah."


Jordan diam dan berusaha tetap tenang. Ternyata keputusannya untuk tidak menggunakan ponsel selama bukan madu benar-benar tidak tepat. Pria itu beranjak dari sofa dan berjalan ke arah laci.


"Mencari ponsel. Aku harus menghubungi Oliver."


"Tapi bulan madu kita bekum berakhir," protes Leona dengan senyuman.


Jordan memandang wajah Leona dan menahan gerakannya. Ia tahu bagaimana Leona menahan rindu ketika ia bermimpi bertemu keluarganya. Namun wanita itu tidak pernah mengingkari janji mereka. Namun kini, saat Jordan merasa keluarganya dalam bahaya ia justru mengambil keputusan untuk menggunakan ponsel mereka.


"Aku tahu kau sangat khawatir. Tapi ...." Leona beranjak dari sofa. Ia berjalan mendekati Jordan. Kedua tangannya ia kalungan di leher Jordan dengan mesra.

__ADS_1


"Ini malam terakhir kita di momen bulan madu kita yang manis. Mungkin besok tidak akan seperti ini lagi. Mungkin kita tidak akan bisa tidur dengan nyenyak lagi."


"Maafkan aku sayang." Jordan mencium Leona dengan mesra. Ia tahu di tengah masalah yang mereka hadapi saat ini tidak seharusnya mereka melupakan tujuan bulan madu ini. Pangeran kecil.


Ya, Jordan dan Leona sudah berkonsultasi ke dokter agar segera mendapatkan momongan. Semua cara yang dikatakan dokter telah mereka turuti berharap pulang nanti mereka bisa membawa kabar gembira. Jordan tidak mau kalau sampai program mereka gagal hanya karena satu malam terlewatkan gara-gara masalah.


"Kita bukan sepasang pengantin yang baik. Cepat atau lambat masalah pasti akan datang menghampiri. Entah itu karena dendam masa lalu darimu atau dendam masa laluku. Hanya saja ketenangan akan membuat musuh kita kalah satu langkah. Jika kita panik mereka akan bahagia dan dengan mudah mencium gerakan kita," bisik Leona sambil mengusap rambut Jordan.


Jordan menyipitkan kedua matanya. Ia memandang ke arah jendela. Detik itu Jordan sadar kalau sudah ada yang secara diam-diam menguping pembicaraan mereka. Benar kata Leona. Jika detik ini juga mereka membahas sebuah strategi, semua itu akan membuat mereka kalah.


"Aku mencintaimu Leonaku."


"Sudah lama tidak mendengar kalimat seperti itu rasanya aku ingin terbang melayang."


Di sisi lain, Lusya mengepal kuat tangannya. Ia baru saja berdiri di sana untuk menguping pembicaraan Leona dan Jordan. Tidak di sangka hal yang ia dengar justru membuat dadanya terasa sesak.


"Lihat saja Leona, setelah membuat kerajaan Cambridge hancur aku pastikan kau akan menderita!"

__ADS_1


__ADS_2