
Waktu bergulir dengan sangat cepat. Setelah bersiap-siap, Leona dan Jordan segera berangkat ke restoran yang diinginkan Leona. Jarang-jarang wanita itu meminta sesuatu. Ketika ia meminta sudah pasti di kabulkan. Sebenarnya jika setiap hari wanita tangguh itu ingin di manja Jordan, Jordan juga tidak keberatan memanjakannya. Semakin hari rasa cinta di antara keduanya semakin bertambah hingga membuat hati dan raga mereka semakin menyatu. Ya, seperti itulah kehidupan setelah menikah Leona. Setelah ia menemukan pria yang tepat untuk hatinya.
Leona, Jordan dan Letty sudah berada di salah satu restauran cepat saji yang ada di kota London. Leona terlihat sangat menikmati makan malamnya. Kali ini ia ingin memakan pizza yang memang sudah sejak lama tidak ia nikmati. Jordan dan Letty tidak terlalu banyak memakan makanan mereka. Malam itu justru daya tarik yang tidak ingin terlewatkan adalah melihat Leona makan dengan lahap.
"Kau sedikit gendut, Leona. Apa menikah sangat menyenangkan?"
Pertanyaan yang dilontarkan Letty membuat tatapan Jordan dan Leona tertuju pada dirinya. Leona tersenyum dengan wajah memerah. Dengan mulut dipenuhi makanan wanita itu mengangguk pertanda setuju.
Letty menghela napas setelahnya. Sedangkan Jordan tersenyum bahagia melihat jawaban sang istri.
"Aku tahu. Jika kita bertemu dengan orang yang tepat kita akan bahagia. Sepertinya kau dan Oliver sudah menemukan wanita yang cocok dengan kehidupan kalian. Maka dari itu kalian terlihat sangat bahagia."
"Oliver? Kau tahu di mana Oliver?"
"Tentu saja aku tahu. Bahkan saat dia sedang ...." Letty menahan kalimatnya karena tahu hal yang ingin ia bahas bisa menimbulkan salah paham.
"Ada apa? Apa mereka baik-baik saja? Katterine bersama Oliver, kan?" Leona terlihat sangat khawatir. Bahkan wanita itu meletakkan alat makannya dan meneguk minuman dingin agar makanan yang di dalam mulut tertelan seluruhnya.
"Tidak. Ehm, maksudku ... ya, mereka baik-baik saja. Mereka sedang menikmati makan malam yang begitu romantis." Letty meneguk minumannya dengan sedotan dan memandang ke arah lain.
"Kau ini. Kenapa suka sekali membuatku khawatir."
"Letty, soal ramuan ini. Apa kau bisa membantu kami?" Jordan ingin kembali memastikan kalau Letty bisa membantu mereka kali ini. Walau memang sejak awal wanita itu sudah menyetujuinya.
"Ya, aku akan memeriksanya sendiri bersama ahlinya. Tenang saja." Letty memandang botol yang ada di tangannya. Di dalam botol itu telah ada ramuan yang selama ini di minum oleh Emelie secara rutin.
"Tidak tahu kenapa, aku merasa kalau ramuan ini asli. Tidak ada racun di dalamnya." Leona memandang botol tersebut dengan tatapan yang serius.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Lalu apa gunanya ramuan ini aku bawa?" protes Letty dengan wajah juteknya.
__ADS_1
"Leona, kenapa kau berubah pikiran? Bukankah saat di istana kau setuju untuk memeriksa ramuan ini?" Jordan sendiri juga bingung melihat istrinya yang plin plan.
"Saat dalam perjalanan menuju ke sini, aku kembali mencerna cerita yang dikatakan Jordan. Daddy Zeroun bukan pria sembarangan? Minuman ini di minum oleh mommy. Istri yang sangat dicintai Daddy Zeroun. Apa mungkin Daddy Zeroun tidak menyelidiki semuanya sebelum ramuan ini di konsumsi Mommy dalam jangka waktu yang panjang?"
Untuk sejenak suasana berubah hening. Baik Jordan dan Letty mulai memikirkan kebenaran dari kalimat Leona.
"Sayang, bisa saja Daddy lupa karena merasa percaya kepada para pelayan yang ada."
Leona menggeleng pelan. "Seseorang pernah bilang padaku. Kalau Daddy Zeroun adalah pria yang sangat waspada. Apa lagi jika hal itu menyangkut wanita yang ia cintai."
"Siapa yang mengatakannya?" Jordan menatap Leona dengan wajah yang serius.
"Papa." Leona menyeringai dengan senyuman indah. "Papa juga bilang kalau dia akan melakukan hal yang sama jika Mama mengalami masalah."
"Oke, itu hanya tebakan kau saja. Untuk lebih jelasnya kita harus memeriksa ramuan ini. Selain itu kita juga harus memeriksa satu persatu orang yang ada di istana. Aku tahu ini sangat merepotkan. Tapi, demi kebaikan semuanya kita harus bisa melakukannya."
"Ya, kau benar Letty." Leona kembali melanjutkan makan malamnya. Walau sudah hampir dingin tapi wanita itu tidak tega membiarkan makan malamnya terbuang sia-sia.
Oliver tidak berhenti tersenyum ketika mendengar suara merdu Katterine yang kini sedang bernyanyi. Mereka berdua sudah dalam perjalanan pulang. Berbeda dengan Leona dan Jordan. Katterine harus kembali tepat waktu jika berpergian sekarang. Wanita itu benar-benar di jaga oleh Zeroun setelah kejadian buruk yang pernah ia alami.
"Kau menyukai lagu yang aku nyanyikan?" tanya Katterine dengan wajah berbinar. Oliver hanya mengangguk setuju tanpa mengeluarkan kata. Walau sebenarnya pria itu tidak tahu lagu apa yang di nyanyikan oleh Katterine.
"Kau suka musik bahkan menari. Mommy pernah menceritakan suatu tempat padaku. Di sana para penari jalanan berkumpul. Rata- rata memang para penjahat. Tapi, mereka hanya preman jalanan saja. Apa kau mau ke sana? Aku akan membawamu ke tempat itu jika kau mau." Sambil menyetir mobilnya. Oliver menyempatkan diri untuk melihat wajah Katterine sesekali.
"Tentu saja aku mau. Dimana?"
"Brazil."
"Kapan kita akan ke sana?" Katterine terlihat sangat bersemangat. Kali ini ia benar-benar ingin menikmati hubungan spesialnya dengan Oliver.
__ADS_1
"Nanti, setelah masalah ini selesai."
Ponsel Oliver berdering. Pria itu merogoh kantongnya untuk mengambil ponsel. Alisnya saling bertaut ketika melihat nomor yang menghubunginya berasal dari pasukan Gold Dragon yang ada di rumah sakit.
"Siapa?" tanya Katterine cepat.
"Gold Dragon." Oliver segera melekatkan ponselnya. Menurunkan laju mobilnya agar mereka tetap aman.
"Ada apa?"
"Bos, pria itu menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Dokter sedang memeriksa keadaannya. Apa Anda tidak ingin menemuinya?"
Oliver melirik jam di tangannya. Dia masih memiliki beberapa jam sebelum memulangkan Katterine ke istana. Lagian, Zeroun akan paham jika dia menjelaskan apa yang terjadi.
"Aku akan ke sana." Oliver mematikan ponselnya dan menambah laju mobilnya. Kali ini pria itu ingin melihat keadaan Roberto secara langsung.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Katterine memegang sabuk pengamannya ketika laju mobil itu tiba-tiba berubah sangat kencang.
"Kita ke rumah sakit."
"Siapa yang sakit?" Wajah Katterine semakin panik.
"Roberto."
Sejak awal memang Oliver belum mengatakan kepada Katterine kalau Roberto kini sudah ditemukan. Tadinya ia ingin mengatakannya besok pagi saja. Malam ini mereka merayakan makan malam yang begitu manis hingga Oliver tidak mau merusaknya dengan memberi tahu kabar Roberto yang kritis.
"Ro ...Roberto? Dia tidak tewas dalam kecelakaan?"
"Tidak. Aku berhasil menemukannya. Tapi keadaannya sangat buruk."
__ADS_1
Katterine menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia tidak tahu harus berbicara apa lagi. Hanya harapan kalau Roberto cepat sembuh yang kini ada di dalam pikirannya.