Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 78


__ADS_3

"Jangan di pecahkan lagi kaca pesawatnya," bisik Miller dengan penuh ledekan. Letty menghentikan langkah kakinya dan menatap wajah Miller dengan senyuman.


"Kenapa kau suka sekali meledekku. Aku sudah bilang, tidak sengaja melakukannya."


"Jika kau kembali di tahan di negaraku, aku masih sanggup membebaskan mu. Tapi, kalau di negara lain aku ...."


"Aku tidak akan membuat kekacauan lagi."


Miller tersenyum bahagia. Ia memberikan Letty sebuah paper bag yang memang sejak tadi ia bawa.


"Ambillah."


"Apa ini?" Letty memandang paper bag itu dengan wajah bingung.


"Terima saja. Kau harus memberikan benda di dalamnya kepada Tante Lana. Tapi, katakan itu darimu. Oh ya, ini tidak gratis. Kau harus membayarnya. Transfer ke rekeningku ya." Miller mengedipkan sebelah matanya.


Letty menerimanya dengan senyuman. "Pakaian dan biaya perawatan salon tadi tidak mau sekalian di hitung?"


"Boleh juga jika kau tidak keberatan."


"Kau ini. Ternyata matre juga." Letty mengambil barang yang ada di dalam paper bag. Ia melihat sebuah syal dan kartu ucapan. Ketika ia membuka kartu tersebut, Letty tertegun membaca tulisan di dalamnya.


_I love you so much, Mom._


"Cukup simple tapi aku yakin bisa membuat para ibu di dunia ini bahagia. Aku sudah mencobanya berulang kali. Seorang ibu tidak perlu kata-kata puitis yang panjang. Mereka hanya perlu tahu sebenarnya apa yang kita rasakan ketika kita-"


Miller tidak bisa melanjutkan kata-katanya ketika Letty tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan erat. Wanita itu benar-benar bahagia ketika Miller membantunya untuk berubah menjadi yang lebih baik.


"Terima kasih, Miller."


Miller mengangkat tangannya secara perlahan. Namun tidak tahu kenapa gerakannya terhenti. Akhirnya kedua tangannya memegang pundak Letty dan melepas pelukan wanita itu.


"Semoga berhasil."


Letty mengangguk pelan sambil menghapus air matanya. "Aku menjadi wanita yang cengeng sekarang."


"Kau wanita tangguh yang kuat. Oh ya, pesawatnya akan segera berangkat. Cepat sana pergi. Aku tidak memiliki waktu untuk mengantarmu ke Cambridge."


"Baiklah. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya." Letty memandang wajah Miller untuk sejenak. Kedua mata mereka saling bertemu hingga beberapa menit. Pada akhirnya Miller yang kalah dan mengedipkan matanya. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Pergi sana."


"Baiklah." Letty tertawa kecil sebelum memutar tubuhnya. Ia berjalan dengan hati yang riang. Berbeda dengan apa yang ia rasakan ketika ia pertama kali tiba di bandara tersebut. Sebenarnya Miller masih ingin Letty lama-lama ada di dekatnya. Namun, ia tahu tidak mau kecewa. Miller tidak mau menyimpan harapan besar terhadap Letty.


"Aku tidak tahu, kapan kita akan bertemu lagi," gumam Miller sambil melihat punggung Letty yang semakin menjauh.


Letty berjalan dengan bibir yang tersenyum indah. Sesekali ia memegang pipinya yang terasa kaku. Ini pertama kalinya ia sebahagia ini hingga tidak lagi mengingat musuh yang berkeliaran di sekitarnya.


"Aku sudah sering berada di antara pria. Tapi hari ini aku merasa ada yang beda. Rasa bahagia yang aku rasakan saat ini terasa tentram dan damai. Seolah-olah hanya aku orang yang paling bahagia di dunia ini. Karena apa? Apa semua ini karena Miller? Hei Letty! Apa yang kau pikirkan. Kau harus ingat kalau kalian hanya teman. Apa yang kau harapkan? Astaga, apa yang aku pikirkan." Letty memukul kepalanya agar tidak terus memikirkan Miller. Wanita itu berjalan lebih cepat lagi agar segera masuk ke dalam pesawat.


***


Lana dan Lukas duduk santai didalam kamar. Mereka berdua masih ada di Cambridge. Lana tidak mau kembali ke Hongkong sebelum kondisi Oliver benar benar sehat total. Berbeda dengan apa yang sekarang ini di pikirkan oleh Lucas. Pria tangguh itu tidak ingin mengetahui pertarungan yang akan terjadi antara Pieter dan Oliver. Pertarungan itu bisa gagal bila Lana berada di barisan penonton, walau dulunya Lana biasanya melihat pertarungan tapi saat ini keadaanya berbeda. Sebagai seorang ibu Lana tidak akan sanggup melihat anaknya bertarung dan terluka.


"Apa yang kau pikirkan? aku perhatikan sejak tadi kau terus aja melamun," tanya Lana sambil menyenggol lengan tangan kanan Lukas.


"Tidak lama lagi putra kita akan menikah. Aku tidak menyangka kalau Oliver bisa jatuh cinta."


"Tidak ada yang tidak mungkin, buktinya saja aku dulu bisa membuatmu jatuh cinta," sindir Lana dengan tawa kecil.


"Oliver sangat jauh berbeda dengan diriku, dia memiliki karakter yang keras. Sekali saja dia bilang tidak maka selamanya dia juga akan bilang tidak. Aku sempat khawatir ketika dia berkata tidak ingin menikah seumur hidupnya, mungkin dia trauma melihat Mommy yang galak terhadap Daddy." Lukas melirik Lana untuk melihat reaksi dari wanita itu.


"Lukas jangan mulai lagi. Aku tidak ingin bercanda malam ini."

__ADS_1


Lukas segera memeluk tubuh Lana. Ia bahkan mengecup leher istrinya hingga berulang kali. "Apa yang kau pikirkan? Aku tahu sejak tadi kau memikirkan sesuatu. Kau tidak sedang menonton televisi yang ada di depan. Justru televisi itu yang sedang menonton dirimu yang melamun. Apa semua ini karena Letty?"


"Apa sangat kelihatan kalau aku sedang memikirkan Letty di saat ini?" tanya Lana dengan wajah sedih.


"Sayang, sejak kita menikah tidak ada lagi yang bisa kau sembunyikan dariku. Ceritakan padaku sebenarnya apa yang kau inginkan dari Letty? Aku sudah sering menjelaskannya kepada mu. Anak-anak kita mengikuti jejak kita. Mereka tidak suka dikekang apalagi disuruh tinggal di satu tempat yang tetap."


"Tidak, Lukas. Aku tidak pernah mempermasalahkan kehidupan mereka yang suka berada di luar rumah. Hanya saja hingga detik ini, aku merasa kalau Letty tidak pernah menganggapku sebagai ibunya. Dia dia memandangku sama seperti ketika memandang Nona Emelie atau yang lainnya. Tidak ada bedanya. Berbeda dengan tatapan Oliver ketika menatap wajahku. Kau pasti tahu kalau sejak dulu aku tidak pernah membandingkan antara Oliver dan Letty. Aku memberikan kasih sayang kepada mereka yang sama besar. Bahkan melatih mereka dengan latihan yang sama tanpa membedakan laki-laki atau perempuan. Tapi, Kenapa Letty harus tumbuh dengan tatapan yang berbeda dari Oliver? Aku tahu kalau aku bukan ibu kandungnya. Tapi ... apakah tidak bisa hal itu dihapuskan saja. Kenapa Letty tidak menganggapku sebagai ibu kandungnya?"


"Sssttt... jangan berpikiran aneh-aneh. Letty juga sangat menyayangimu sebagai ibunya. Dia wanita yang keras sama seperti Oliver. Tidak peka. Satu-satunya wanita yang pernah membuatnya tertawa adalah Kristal. Sejak wanita itu pergi, ia berubah menjadi seperti orang asing. Mungkin, hatinya berubah menjadi batu ketika ia merasakan sakit yang begitu luar biasa. Dia pernah merasakan bagaimana sakitnya di buang. Dalam waktu yang tidak begitu lama ia merasakan sakitnya kehilangan."


"Tidak, Lukas. Hal itu tidak bisa dijadikan alasan. Sejak kecil aku yang merawatnya. Tidak seharusnya Ia memperlakukanku seperti orang lain. Bahkan memanggilku dengan sebutan Mami saja baru-baru ini. Sejak dulu ia memanggilku dengan sebutan tante."


"Bagaimana kalau kita kembali saja ke Hongkong? Mungkin kau akan jauh lebih tenang ketika ada di sana. Aku tidak bisa melihat dirimu seperti ini. Aku kuingin kau selalu tersenyum bahagia."


"Tidak. Aku masih ingin ada di dekat anakku. Pulang ke Hongkong sama saja menjauh dari Oliver."


"Baiklah. Terserah kau saja."


"Apa kau sudah membahas hubungan anak kita dengan bos Zeroun? Bagaimana responnya? Apa dia tidak keberatan jika Oliver menjadi suami Katterine."


"Soal itu tidak perlu dipikirkan lagi karena memang sejak awal bos Zeroun sudah merestui hubungan antara Oliver dan Katterine. Bahkan membantu agar mereka berdua bersatu."


"Lalu, kenapa kita tidak segera membahas tanggal pernikahannya saja? Apa lagi yang ditunggu? Bukankah Oliver sendiri tidak mau ada acara pertunangan? Dia ingin segera menikah dengan Ketterine."


"Aku belum berani mendesak hal itu kepada bos Zeroun."


"Kenapa?"


"Karena aku dan Bos Zeroun masih memikirkan pertarungan yang akan terjadi antara Pieter dan Oliver. Setelah dendam ini mendapat solusi mungkin kami akan membahas tanggal pernikahannya," gumam Lukas di dalam hati.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Lana kesal ketika Lukas hanya melamun saja.


"Soal itu, mungkin karena masalah di istana Cambridge masih banyak jadi aku tidak tega mendesak Bos Zeroun."


Lukas bersandar dengan posisi yang nyaman. "Bukankah hal itu sudah dibicarakan. Setelah Jordan menikah Nona Emelie dan Bos Zeroun akan pergi meninggalkan istana."


"Tidak. Tidak seperti itu. Jadi, Nona Emelie tidak mau kedua anaknya mengurus istana lagi. Dia tidak mau memaksa Jordan maupun Katterine untuk menjaga istana ini."


"Lalu, siapa yang akan menjadi penerus istana Cambridge?"


Lana menghela napas. "Kau pasti kaget ketika mendengar nama penerus yang sudah dipikirkan oleh Nona Emelie."


"Siapa?"


"Dia adalah ...."


Tok tok .


Lana menahan kalimatnya ketika seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Wanita itu segera beranjak. Ia takut terlalu lama membuka pintu. Siapa tahu saja yang kini ada di depan kamarnya adalah Emelie.


"Ya, sebentar." Lana mempercepat langkah kakinya ketika ketukan pintu itu tidak berhenti. Ketika Lana menarik pintunya dan melihat seseorang yang berdiri di sana. Ia kaget bukan main. Bukan karena sosoknya. Tapi penampilannya yang tidak biasa membuat Lana tercengang.


"Letty, apa ini benar-benar kau?" tanya Lana tidak percaya.


"Selamat malam, Mom." Letty terlihat gugup malam itu. Semua kalimat yang di ajarkan Miller seakan hilang begitu sana. Letty tidak tahu harus berkata apa saat ini.


"Letty. Apa kau yang memilih pakaian ini?" Lana menunjuk gaun yang kini dikenakan Letty.


Letty hanya mengangguk pelan. Ia memberikan paper bag yang ia bawa kepada Lana. "Aku membelinya. Aku tidak tahu mommy suka atau tidak."


"Apa ini?" Lana menerima paper bag itu. Wanita itu sudah tidak sabar untuk membuka isi di dalamnya. Jarang-jarang Letty memberinya sesuatu. Bahkan hampir tidak pernah.


"Hanya hadiah kecil." Letty menunduk dengan wajah bingung. Kedua matanya terpejam untuk menunggu respon yang akan diberikan Lana setelah melihat hadiah yang ia berikan.

__ADS_1


"Syal ini sangat bagus." Lana tersenyum dan memamerkan syal yang ada di dalam paper bag. "Apa kau yang memilih warnanya? Mommy sangat suka dengan warnanya."


Letty mengangguk pelan. Ia menunggu Lana membaca kertas yang ada di dalam paper bag itu. Tapi, sudah beberapa menit Letty menunggu Lana tidak kunjung membaca surat yang sudah ia persiapkan.


"Sayang, apa kau mau masuk?" tawar Lana dengan senyuman.


Letty mengeryitkan dahi dengan wajah kecewa. Ia melirik paper bag itu untuk memeriksa isi di dalamnya.


"Apa kau mencari sesuatu?" tanya Lana bingung.


"Mom, apa aku boleh meminta paper bag nya?"


"Tentu saja boleh." Lana memberikan paper bag itu kepada Letty. Setelah paper bag itu ada di tangan Letty, ia segera mencari surat yang sudah ia persiapkan.


"Di mana benda itu. Aku yakin sudah memasukkannya ke dalam sini tadi. Apa mungkin terjatuh?" gumam Letty dengan suara pelan. Bahkan tidak terdengar oleh Lana.


"Sayang, apa yang kau cari?"


"Tidak ada, Mom. Mom, Letty ke kamar dulu ya?" Tanpa menunggu persetujuan dari Lana, tapi segera memutar tubuhnya dan berjalan cepat. Sedangkan Lana semakin bingung melihat sikap yang terkesan aneh.


"Sebenarnya apa yang dia cari?" Lana menunduk ke bawah. Ia melihat sebuah surat tergeletak di lantai. Tepat di bawah kakinya. Wanita itu membungkuk untuk mengambil surat tersebut.


"Apa benda ini yang di cari Letty?" Lana segera memandang ke depan untuk memanggil Letty. Tapi wanita itu sudah menghilang entah ke mana.


"Sebenarnya apa isi di dalamnya?" Lana membuka surat itu dengan wajah yang sangat penasaran.


_I love you, Mom_


Masih membaca sampulnya saja sudah membuat Lana bahagia dan tersenyum berseri. "Apa Letty yang menulis semua ini?"


Lana membuka surat kecil yang terlipat rapi. Ia sudah tidak sabar membaca isi di dalamnya.


"Mom, maafkan Letty. Sebenarnya Letty sangat menyayangi Mommy. Hanya saja, Letty takut mommy pergi. Letty lelah menyayangi, Mom. Semua orang yang Letty sayangi pergi. Letty tidak mau ketika Letty menyayangi mommy secara berlebihan, mommy juga akan pergi.


Mom, maafkan Letty. Letty tidak pernah sadar kalau sikap Letty selama ini melukai mommy. Letty berpikir kalau kasih sayang tidak peru diungkapkan dengan kata-kata. Letty masih ingat kesalahan yang pernah Letty perbuat


Ketika ikan kesayangan mommy Letty bunuh, sebenarnya mommy ingin marah kepada Letty tapi mommy tidak melakukannya.


Mom, maafkan Letty. Letty tahu mommy tidak marah bukan karena marah. Tapi ... karena mommy sayang sama Letty.


Letty sangat sama mommy. Hanya mommy wanita terbaik yang ada di dalam hati Letty. Dulu, sekarang hingga seterusnya."


Lana tidak bisa menghentikan air mata yang menetes deras di pipinya. Ia benar-benar terharu membaca surat yang di tulis Letty di dalam pesawat itu. Sambil menangis, Lana memeluk syal dan surat pemberian Letty.


"Putriku. Dia juga menyayangiku. Oh Letty. Terima kasih."


Lukas yang baru saya muncul panik bukan main melihat istri tercinta menangis. Pria itu menarik tubuh Lana dan memeluknya dengan erat.


"Ada apa? Siapa yang sudah berani membuatmu menangis?"


"Aku bahagia."


"Kau menangis ketika bahagia?" tanya Lukas tidak percaya. Lana mengangguk setuju. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana karena terlalu bahagia. Ia memeluk erat tubuh Lukas dan menangis sejadi-jadinya.


"Aku aku bahagia. Sangat sangat bahagia." Lukas yang semakin bingung karena tidak tahu apa-apa hanya bisa memeluk erat tubuh sang istri. Dia juga membawa wanita itu kembali masuk kedalam kamar agar tidak ada yang melihat ketika Lana sedang menangis. berulang kali ia bertanya jawabannya tetap sama.


"Kau semakin cengeng sekarang," ledek Lukas agar sang istri tertawa. Tapi bukan tertawa justru Lana semakin menangis.


"Aku mencintaimu."


"Oke, baiklah. Aku juga sangat mencintaimu. Apa kau bisa menghentikan air mata ini? Jika kau tidak berhenti menangis aku akan membunuh orang yang sudah menyebabkan kau menangis," ancam Lukas dengan wajah yang serius.


Lana menggeleng tidak setuju. ia memberikan surat yang berisi tulisan Letty agar Lukas tahu sendiri apa yang kini ia rasakan.

__ADS_1


"Kau pasti juga akan bahagia setelah membacanya."


__ADS_2