
Part sebelumnya bada yg salah ya. tapi Uda saya revisi. Oliver anak pertama kok.
Zeroun menemui Oliver di halaman belakang. Bersama dengan beberapa pasukan Gold Dragon, pria itu menunduk hormat ketika menyambut kedatangan Zeroun.
"Oliver, bagaimana? Apa semua baik-baik saja?" Zeroun memandang wajah Oliver dengan begitu khawatir. Ia sudah menceritakan pesan yang dikirimkan oleh Roberto. Bahkan Oliver sendiri juga sudah membacanya. Setelah mengetahui kalau Roberto ingin bunuh diri Oliver segera pergi untuk menghentikan semuanya.
"Saat tiba di sana, kami tidak bisa menemukannya di rumah itu. Beberapa anggota kita menyelidiki rumah Roberto. Tidak ada hal yang mencurigakan di sana. Saya juga sudah mencari ke beberapa tempat namun tidak berhasil menemukan keberadaannya. Dia menghilang seperti di telan bumi."
"Oliver, bukankah kau pernah bilang kalau Roberto bukan pria yang cerdas. Pria sepertinya pasti bisa dengan mudah kutemukan. Kecuali ada orang yang dengan sengaja menyembunyikannya dari kita." Zeroun tidak terima jika Roberto sengaja menghilang karena patah hati. Bagaimanapun juga kini pria itu terlibat dalam masalah keluarga mereka. Zeroun merasa berhutang budi kepada Roberto.
"Saya akan menyelidikinya lagi, Bos."
"Dad!" Belum selesai perbincangan antara Zeroun dan Oliver, tiba-tiba saja mereka melihat Katterine muncul di sana. Wanita itu berlari dengan wajah yang begitu panik.
"Sayang, berhati-hatilah," ucap Zeroun khawatir. Sama halnya dengan Oliver, hanya saja pria itu tidak berani mengeluarkan satu katapun.
"Dad, Roberto!" ucap Katterine dengan napas terputus-putus. Wanita itu memegang kedua tangan Ayah kandungnya dan berusaha mengatur debaran jantungnya yang tidak karuan karena berlari terlalu jauh.
"Roberto? Apa dia menghubungimu?"
"Tidak, Dad. Dia kecelakaan. Aku dan mommy baru saja melihat berita tentangnya di televisi." Katterine menyelesaikan kalimatnya dengan kesulitan. Ia memandang wajah Oliver dan memukul pria itu.
"Ke mana saja kau!"
Zeroun hanya diam sambil memikirkan kabar yang baru saja di bawa oleh Katterine. Ia memandang wajah Oliver sambil memikirkan sesuatu.
"Oliver, pergilah ke lokasi di mana Roberto kecelakaan."
__ADS_1
"Aku ikut," ucap Katterine cepat.
"Tidak sayang!" bantah Zeroun.
"Tapi Dad ...."
"Oliver harus melakukan tugasnya. Kau istirahat di kamar. Luka itu belum sembuh. Daddy tahu kalau kakak mu juga khawatir tadi. Hanya saja dia menyembunyikannya. Dia tidak mau mommy tahu."
Katterine terlihat tidak setuju. Dia mau ikut ke mana saja Oliver pergi. Tapi, Zeroun pria yang tegas. Sekali pria itu bilang tidak maka selamanya tidak.
"Baiklah. Kau harus cepat kembali dan hati-hati."
"Baik, Putri," jawab Oliver penuh hormat.
"Hei, panggil aku sayang," protes Katterine dengan wajah kesal.
Zeroun menghela napas melihat tingkah manja putrinya. "Ayo kita masuk. Di mana Mommy? Kau meninggalkan mommy mu sendirian?"
***
Di dalam kamar Jordan dan Leona juga tidak sedang istirahat seperti yang dipikirkan oleh semua orang. Sepasang suami istri itu sedang berkomunikasi dengan Queen Star. Mereka sudah memulai penyelidikan mengenai Lusya dan Pieter. Walau memang hingga detik ini mereka belum mendapatkan petunjuk apapun.
"Dari informasi yang mereka dapatkan. Lusya tidak pernah menikah. Pria yang pernah berdampingan dengannya di pelaminan hanya seorang gelandangan. Itu berarti sejak pertama kali dia mengundang kita untuk datang ke pesta nya, saat itulah dia sudah memulai rencana jahatnya." Jordan mulai menyatukan beberapa informasi yang mereka dapatkan. Walau baru secuil kenyataan yang mereka ketahui.
"Sejak sekolah dulu, Lusya wanita yang begitu baik. Aku tidak menyangka Jika dia berubah menjadi wanita jahat seperti ini. Seingatku aku juga tidak pernah memiliki masalah dengannnya. Kenapa sekarang dia tiba-tiba muncul kembali untuk mencelakai ku," ucap Leona dengan wajah kecewanya.
"Sayang, Jangan memikirkan pertemanan dengan orang yang tidak pernah menghargai pertemanan itu sendiri. Lusya sudah terbukti jahat dan sekarang dia adalah musuh yang harus kita berantas."
__ADS_1
"Ya, Aku tahu itu. Dan hal itulah yang membuat aku sedih."
"Pieter, pria itu juga bukan pria sembarangan. Kita harus tahu apa hubungan Pieter dengan Lusya. Mereka tidak memiliki hubungan saudara. Bahkan tinggal di negara yang jauh berbeda. Riwayat pertemanan juga tidak ada. Bagaimana bisa mereka bekerja sama untuk menghancurkan keluarga kita."
"Bukankah sudah jelas tujuan awalnya? Lusya jatuh cinta padamu dan ingin menjadi istrimu. Sedangkan Pieter melakukan semua ini karena ingin membalas dendam atas kematian kekasihnya? Mereka bertemu karena memiliki tujuan yang sejalan."
"Oke, bisa diterima. Tapi kenapa mereka juga ingin mencelakai mommy? Sayang, jika alasan mereka balas dendam seperti apa yang baru saja kau katakan. Seharusnya orang tua kita tidak terlibat dalam hal ini."
"Kenapa kau berpikir tidak terlibat? Dengan menggunakan orang tua, mereka berharap kita akan menjadi orang yang lemah dan menyerahkan segala yang mereka inginkan. Sayang sekali mereka tidak tahu kalau orang tua kita adalah orang tua yang hebat. Bahkan jauh lebih hebat dari kita."
"Mommy bukan orang hebat. Maka dari itu mereka mengincar Mommy, karena Mommy tidak bisa apa-apa."
"Bisa jadi. Alasan yang masuk akal," sambung Leona. Wanita itu berbaring di atas tempat tidur karena tubuhnya merasa sangat lelah. Ia memandang langit-langit kamar sambil membayangkan keluarga yang selama ini ia tinggalkan.
"Jangan terlalu dipikirkan karena aku tidak mau kau jatuh sakit."
"Aku hanya berpikir, apakah Papa dan Mama di Sapporo tidak menjadi target mereka?"
Jordan terlihat berfikir. Namun dalam hitungan detik saja pria itu tersenyum. "Jika mereka kembali mengingat bagaimana cara kita membunuh Clouse. Seharusnya mereka tidak berani mengusik keluargamu lagi."
"Jordan, aku merasa masalah ini penuh dengan teka-teki. Aku lebih suka musuh yang bertarung secara langsung. Itu terlihat jauh lebih nyata daripada harus bermain tebak-tebakan seperti ini."
"Tidak lama lagi kita akan mengetahui semuanya. Tenanglah. Kita tidak hanya berdua. Di samping kita ada banyak orang-orang hebat yang siap kapan saja membantu kita."
"Aku lelah. Aku ingin tidur saja."
"Tidurlah. Aku akan menjagamu di sini."
__ADS_1
"Jangan pergi tinggalkan aku ketika aku sedang tidur."
"Aku bukan Daddy Zeroun. Aku tidak akan seperti itu." Leona hanya tersenyum mendengar perkataan Jordan. Secara perlahan wanita itu memejamkan matanya untuk istirahat.