Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 30


__ADS_3

"Setelah jatuh cinta aku tidak lagi mengenal diriku sendiri. Tingkah laku yang aku buat terlihat seperti orang lain. Aku tidak sengaja melakukannya. Tapi, aku tidak menghiraukannya. Berubah demi dia membuatku menjadi bahagia. Namun di saat aku kehilangan wanita yang aku cintai seperti ini, aku pikir aku bisa dengan mudah menemukannya. Selama ini aku selalu bisa mengatasi semua masalah dengan tenang. Tidak aku sangka, membayangkan dia ketakutan dan kedinginan membuat kemampuan analisisku hilang dalam sekejap." Oliver.


Berjam-jam sudah Oliver dan Miller menelusuri hutan gelap dan dingin. Seluruh pasukan Gold Dragon juga turun tangan. Mereka harus mencari sesuatu tanpa petunjuk apapun. Cukup mustahil memang. Tapi Oliver sendiri bertekad tidak akan kembali sebelum menemukan Katterine. Tidak ada waktu esok baginya. Ia harus menyelematkan Katterine sesegera mungkin.


Miller yang sudah mulai lelah tidak berani banyak bicara. Ia sendiri sedih melihat keadaan sahabatnya itu. Oliver terlihat pucat. Memang seharian dia tidak makan dan tidak minum. Saat Miller lebih memilih makan dan minum untuk memenuhi asupan gizinya. Oliver memutuskan untuk diam sambil berpikir.


Embusan angin malam memang telah menusuk kulit. Langkah kaki yang sudah mulai lelah membawa mereka ke sebuah tempat yang semakin gelap. Oliver terus saja berjalan maju setiap kali melihat jalanan setapak di sana. Ia sendiri mulai paham kalau hutan yang menjadi tempatnya mencari Katterine bukan hutan belantara. Melainkan hutan yang sering di kunjungi orang untuk mencari kayu atau sekedar berburu.


"Katterine, di mana kau berada? Aku sangat takut kehilangan dirimu. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga dirimu dengan baik." Oliver berjalan tanpa melihat jalanan yang ia lewati. Ada banyak ranting kayu di sana. Hingga akhirnya, sebuah ranting yang cukup besar membuat langkahnya terhalangi. Oliver jatuh terjungkal.


Miller yang mendengar jatuhnya Oliver segera mempercepat langkah kakinya. Posisi Miller memang ada jauh di belakang Oliver karena pria itu lebih memilih banyak istirahat.


"Oliver, apa kau baik-baik saja?" Miller segera membantu Oliver agar kembali berdiri.


Namun, Oliver menolak ajakan Miller. Ia merasa ada yang aneh dengan tanah yang ia duduki saat ini. Gembur seperti baru saja di cangkul. Kedua tangan Oliver meraba tanah yang kini ia duduki. Memang keadaan gelap hingga membuat penglihatan mereka terbatas.

__ADS_1


"Ada apa?" Miller sendiri kebingungan ketika melihat tingkah laku Oliver yang tiba-tiba aneh. Bahkan sempat-sempatnya pria itu memegang dahi Oliver dan memastikan Oliver tidak terkena roh jahat dari hutan.


"Hei, jangan menakutiku!" teriak Miller ketika Oliver tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Pria itu diam saja seperti orang kesurupan.


"Sejak tadi berjalan, aku belum ada menemukan kuburan."


Setelah diperhatikan dengan saksama, bukan hanya ranting pohon yang menyebabkan Oliver terjatuh. Melainkan gundukan tanah yang kini ada di hadapannya. Miller sendiri mulai menerangi lokasi sekitar. Ia menemukan sebuah pipa yang berada tidak jauh dari posisi Oliver terduduk.


"Pipa apa ini?" Miller memegang pipa itu dan meneranginya untuk melihat apa fungsi dari benda tersebut.


"Katterine," celetuk Oliver tiba-tiba. Ia segera beranjak dan menggali gundukan tanah yang ada di hadapannya. Hanya menggunakan tangan kosong karena memang tidak ada alat apapun yang bisa mereka gunakan untuk membantu.


***


Seluruh pasukan Gold Dragon membantu menggali hingga akhirnya tanah itu habis dan menyisakan sebuah peti. Bahkan pipa yang sempat mereka lihat berhubungan langsung dengan peti tersebut. Oliver dan Miller sama-sama membuka peti tersebut. Betapa kagetnya Oliver ketika melihat sosok yang ada di dalam sana adalah Katterine. Dengan kepala yang dipenuhi darah wanita itu memejamkan mata.

__ADS_1


"Katterine!" Oliver segera masuk ke dalam peti untuk mengangkat tubuh Katterine. Pria itu mengguncang tubuh kekasihnya untuk memastikan kalau ia masih hidup.


"Bawa dia ke atas," ucap Miller ketika Oliver kunjung naik. Dengan dibantu Miller dan beberapa pasukan Gold Dragon, Katterine berhasil di angkat ke atas dari lubang yang dalam tersebut.


"Katterine, bangun Katterine." Oliver memegang pipi Katterine dan menatap wanita itu dengan penuh kesedihan.


Miller memegang tangan Katterine. Ketika ia tahu kalau Katterine masih hidup hatinya menjadi jauh lebih lega.


"Kita harus membawanya ke rumah sakit."


Oliver mengangguk. Ini pertama kalinya ia ingin menangis ketika melihat Katterine terluka. Dengan cepat ia mengangkat tubuh Katterine. Sepanjang jalan pria itu tidak henti-hentinya memanggil nama Katterine agar wanita itu terbangun dan menatap wajahnya.


"Miller, tubuhnya sangat dingin. Apa dia baik-baik saja?"


Miller hanya mengangguk. Ia sendiri juga panik melihat Katterine berada di tempat seperti itu. Jika saja sampai mereka tidak menemukan Katterine malam ini juga, mungkin wanita itu akan benar-benar tewas karena kehilangan banyak darah dari kepalanya.

__ADS_1


Oliver memeluk erat tubuh Katterine sambil berlari sekencang mungkin. Ia tidak tahu lagi apa yang akan ia katakan jika nanti Zeroun meminta penjelasan atas semua ini. Ia merasa seperti pria tidak berguna dan tidak bisa di handalkan.


"Maafkan aku Katterine, maafkan ...."


__ADS_2