Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 51


__ADS_3

Saat Miller dan Letty terlihat tenang mengejar musuh. Di dalam mobilnya Lusya terlihat sangat panik. Berulang kali ia menoleh kebelakang hanya untuk memastikan kalau mobil yang mengejarnya tidak lagi mengikuti.


"Pieter. Lebih cepat lagi. Aku tidak mau tertangkap. Apa lagi sampai masuk penjara. Aku tidak mau di sisa hidupku berakhir di penjara!" teriak Lusya tanpa peduli apa yang kini dirasakan Pieter. Sebenarnya pria itu sendiri merasa tidak yakin bisa menghindar dari kejaran mobil di belakangnya. Kemampuannya sudah ia keluarkan tapi tidak juga berhasil menjauh dari mobil Miller.


"Jika kau terus berteriak, aku akan menurunkanmu di jalan!" ancam Pieter dengan wajah yang serius.


Lusya membungkam mulutnya karena sadar tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Ia memegang sabuk pengamannya agar tetap aman.


Di depan adalah jalanan yang dipenuhi keramaian. Ada lampu merah dan banyak orang yang ingin menyebrang. Di sisi jalan sebelah kanan ada truk yang siap melaju karena tidak lama lagi giliran jalurnya yang berwarna hijau.


Pieter terus menambah laju mobilnya. Kali ia benar-benar ingin mengambil resiko yang begitu besar. Satu-satunya nyawa yang kini ia miliki akan ia korbankan demi terhindar dari kejaran mobil di belakangnya.


"Pieter, apa yang kau lakukan?" Lusya mulai panik ketika Pieter tidak berhenti walau lampu sudah merah. Pria itu mendahului mobil yang ada di depannya dan ingin menerobos jalan di depan. Bersamaan dengan itu, truk yang tadi ada di sisi kanan mulai melaju. Kecepatannya mulai bertambah seiring laju yang ia lalui.


"Pieter, stop!" Lusya berteriak untuk memperingati. Jika pria itu tidak berhenti mereka akan mati karena tertabrak truk besar yang kini menghalangi jalan.


Namun sepertinya teriakan Lusya hanya lelucon semata. Pieter sama sekali tidak menghiraukannya. Pria itu telah fokus pada laju mobilnya dan jalan di depan.


Hanya beberapa meter lagi jarak antara mobil Pieter dan truk tersebut sebelum bertabrakan. Namun Pieter justru menambah laju mobilnya. Ia ingin tiba lebih dulu sebelum truk besar itu tiba di tengah jalan dan menghalangi jalannya.


"Aku pasti bisa!" Pieter memegang kuat stir mobilnya. Keringat dingin berkucur deras. Sebenarnya kini debaran jantungnya tidak karuan.


Saat jarak antara mobilnya dan truk itu sudah hampir dekat. Pieter berhasil melewati truk itu dengan cepat. Bersamaan dengan itu jalan tertutup karena truk itu lewat. Tidak henti-hentinya supir truk tersebut menghidupkan klaksonnya sebagai tanda peringatan. Bahkan supir truk itu tidak segan-segan untuk memaki supir mobil yang melintas di depan mobilnya tanpa kenal aturan.


Pieter menghela napas lega ketika berhasil lolos dari kejaran Miller. Sedangkan Lusya masih memejamkan mata dengan napas tertahan. Rasanya ia tidak mau melihat dunia lagi karena merasa usianya tidak akan lama lagi.

__ADS_1


"Ye!" Pieter bersorak kegirangan ketika ia berhasil melalui semua rintangan tersebut. Seperti baru saja memenangkan lotre. Pieter benar-benar bangga dengan kemampuannya yang muncul dadakan.


Di belakang, Miller hanya diam sambil menatap truk yang melintas di hadapannya. Ia menghela napas dengan wajah kesal. Namun, kejadian tadi memang cukup beresiko. Jika Miller tetap mengejar mobil Pieter mungkin mobilnya yang akan mengalami kecelakaan.


"Kita bisa mencarinya nanti. Jangan terlalu dipikirkan." Letty menepuk pundak Miller seolah mengerti dengan jalan pemikiran pria itu.


"Ya. Secepatnya kita pasti bisa menemukan persembunyiannya. Lalu sekarang, kau ingin aku antarkan ke mana?"


"Aku menyewa apartemen di dekat sini. Aku tidak suka tinggal bersama Queen Star. Aku lebih suka menyendiri."


"Apa aku boleh numpang untuk beberapa hari?"


"Tentu saja."


***


Pieter menghentikan laju mobilnya ketik telah tiba di depan rumah persembunyiannya. Lusya segera turun dari mobil dan membanting pintu mobil itu dengan kesal. Ia menapakkan kakinya saat masuk ke dalam rumah dengan begitu kuat.


"Aku tidak percaya jika kau ingin membunuhku tadi."


"Membunuhmu? Bahkan aku juga akan mati jika tadi truk itu menyentuh mobil kita." Pieter dan Lusya masuk ke dalam rumah. Selama beberapa hari mereka akan tinggal di rumah tersebut sambil menunggu perintah Pangeran Martine selanjutnya.


"Apapun yang kau katakan. Tetap saja aku hampir mati tadi!"


Lusya menghentikan langkah kakinya ketika sudah tiba di dalam rumah. Begitu juga dengan Pieter. Pria itu tidak bisa melangkah atau mundur saat ini. Berdirinya seseorang di hadapan mereka membuat Pieter kembali memikirkan strategi untuk kabur.

__ADS_1


"Pieter. Senang bertemu denganmu lagi. Bagaimana kabar istana Belanda? Apa semakin maju?" Jordan melipat kedua tangannya dengan senyuman penuh ledekan. Kali ini ia tidak akan melepaskan Pieter begitu saja.


Pieter berusaha mengambil senjata api yang ada di pinggangnya. Namun saat tangannya belum berhasil memegang pistol tersebut tiba-tiba pelipis kanannya menempel sesuatu yang terasa dingin. Pieter menghela napas dan berusaha melirik benda di pelipisnya. Ia sangat kaget ketika melihat senjata api milik Oliver tertancap di pelipisnya. Bahkan kini Oliver juga menatapnya dengan senyuman licik.


Lusya gemetar ketakutan. Ia tahu ia telah kalah. Mau berlari juga tidak mungkin. Mau berontak ia tidak berani. Lusya berlutut di lantai dan mengatupkan tangannya. Wanita itu memohon maaf dari Jordan agar membebaskan dirinya dan tidak melukai tubuhnya.


"Pangeran, maafkan saya. Semua ini saya lakukan karena Pieter mengancam akan membunuh saya. Dia tahu kalau saya dekat dengan Leona hingga akhirnya ia memanfaatkan saya," ucap Lusya mencari alasan.


Pieter kaget bukan main ketika mendengar pengakuan Lusya. Ingin sekali ia membunuh wanita itu detik ini juga. Rasanya ia benar-benar muak melihat wanita bermuka dua seperti Lusya ada di hadapannya.


"Kau pikir aku akan percaya?" Jordan melangkah maju. Bersamaan dengan itu, pasukan Gold Dragon muncul dan mengelilingi Pieter dan Lusya. Mereka ada di tengah-tengah dengan todongan senjata yang melingkari.


"Aku tidak salah. Jadi aku pikir aku tidak perlu takut. Setahuku, kalian akan melakukan hal yang sama jika anggota keluarga kalian dilukai. Bagaimana denganku? Apa saat aku balas dendam aku salah? Atau kalian menutup kesalahan keluarga kalian dan melemparkan kesalahan itu kepada orang lain. Pangeran Jordan, Anda terkenal dengan sifat yang begitu bijaksana. Jika saya adalah rakyat Cambridge yang memiliki hak untuk Anda lindungi, apa yang akan Anda lakukan jika saya menceritakan apa yang kini saya alami? Apa Anda akan membunuh saya untuk menghilangkan bukti atau menghukum pengawal setia Anda ini karena kesalahan yang sudah ia perbuat?"


Pieter benar-benar tenang walau kini sudah tidak ada jalan keluar lagi untuknya kabur. Ia tahu, kalimat panjang yang baru saja ia katakan tidak akan bisa menyelamatkan nyawanya. Sampai kapanpun Jordan akan tetap ada di pihak Oliver. Namun, ia ingin mengulur waktu sampai bantuan yang selama ini di persiapkan Pangeran Martine datang. Dengan begitu ia bisa kabur dan bebas.


"Saat itu aku tidak sengaja sudah membunuh wanita yang kau cintai, Pieter. Seharusnya kau datang setelahnya dan katakan semuanya padaku. Mungkin kita bisa berdamai," jawab Oliver cepat.


"Damai? Aku tidak pernah melihat ada kedamaian di dalam hidupmu Oliver. Kau pria yang keras dan suka membunuh. Jika aku datang menemuimu mungkin detik ini aku tidak akan bisa berdiri di sini!"


"Apa kau lupa, jika kau sudah mencelakai Katterine? Aku pikir itu hal yang impas. Jika saja malam itu Oliver tidak datang tepat waktu mungkin Katterine tidak akan selamat. Penyerangan yang kau lakukan pagi ini pantas mendapatkan balasan yang setimpal. Di tambah lagi kau sudah berani mengincar nyawa ibuku!" Jordan menggeram melihat sikap Pieter yang terlihat tenang. Walau sudah jelas saja salah tetap saja pria itu menyalahkan orang lain.


"Kau Pangeran terbrengsek yang pernah aku temui Jordan!" Tiba-tiba Pieter menggerakkan tubuhnya dengan sekuat tenaga. Pria itu mengambil pistolnya dan segera menodongkan senjata api itu di depan dahi Oliver.


"Bagaimana kalau hari ini kita mati sama-sama? Aku tidak keberatan untuk menjemput kekasihku yang telah tiada," tantang Pieter dengan wajah penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2