
Isabel duduk di depan cermin dengan wajah gelisah. Hingga detik ini Clouse belum juga menunjukkan batang hidungnya. Pria itu menghilang dan kini tidak tahu ada di mana. Dengan wajah kesal Isabel meremas gaun indah yang ia kenakan. Beberapa pelayan telah sibuk menata rambut wanita itu agar terlihat rapi dan indah.
“Apa tamu undangan sudah datang?” ucap Isabel kepada pelayannya.
“Sudah sebagian, Putri,” jawab pelayan itu dengan wajah takut-takut.
“Sebagian kau bilang? Seharusnya jam segini mereka sudah berkumpul!” umpat Isabel kesal.
“Maaf putri. Tapi, memang hanya beberapa tamu saja yang hadir,” ucap pelayan itu lagi.
Isabel memandang pantulan wajahnya di cermin. Ia berusaha mengatur emosinya agar wajahnya tetap terlihat cantik dan mempesona. “Apa Pangeran Jordan dan Putri Katterine sudah tiba?” tanya Isabel lagi.
“Mereka ....”
Belum sempat pelayan itu menjawab, tiba-tiba saja seorang pengawal masuk ke dalam kamar Isabel. Ia menunduk hormat di hadapan Isabel. Isabel terlihat khawatir ketika melihat pengawal tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Bahkan tidak permisi lebih dulu. “Ada apa? Apa kau sudah lupa tata krama di sini!”
“Maafkan saya, Putri. Pangeran Jordan sudah datang. Bersama dengan Putri Katterine,” ucap pengawal itu dengan wajah yang serius.
“Benarkah?” ucap Isabel dengan wajah berseri. Wanita itu beranjak dari kursi yang ia duduki. Sekali lagi ia merapikan penampilannya agar terlihat cantik. Isabel sudah tidak sabar untuk menemui Jordan dan berdansa dengan pria itu nanti.
“Tapi ....” Melihat sang Putri kegirangan, pelayan itu semakin terlihat tidak tega. Ia memandang wajah Isabel sebelum menunduk lagi. “Pangeran dan Putri Katterine tidak datang berdua saja, Putri. Mereka datang bersama dengan pasangan mereka,” ucap pengawal itu takut-takut.
__ADS_1
Isabel menghentikan aktifitasnya. Ia memandang pantulan dirinya di cermin dengan tidak bersemangat. “Apa maksudmu? Aku mengundang mereka agar datang berdua. Bukan bersama dengan orang lain!”
“Maafkan saya, Putri. Putri Katterine di damping oleh pria asing yang belum pernah saya lihat wajahnya. Sedangkan Pangeran Jordan membawa seorang wanita dengan memakai topeng berwarna hitam. Saya juga tidak berhasil melacak identitasnya.”
Isabel semakin menggeram. Wanita itu mengepal kuat kedua tangannya dan segera melangkah pergi. Ia sudah tidak sabar untuk melihat wajah wanita yang baru saja diceritakan oleh pengawalnya itu.
***
Leona merangkul lengan Jordan dengan mesra. Mereka berdua berjalan ke lokasi pesta layaknya sepasang kekasih. Sama halnya dengan Katterine. Wanita itu tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat Leona masih hidup. Ingin sekali ia memeluk wanita itu namun Oliver mencegahnya. Mereka tidak bisa merusak rencana yang sudah di buat secepat ini.
“Baby girl, lihatlah mereka. Apa kau mengenal mereka?” bisik Jordan di telinga Leona.
Leona memandang ke arah depan. Bibirnya mengukir senyuman saat melihat beberapa pelayan yang berlalu lalang adalah Kwan dan pasukan Queen Star. Ia tidak menyangka jika kini pasukan mereka sudah berkumpul di dalam istana Isabel.
“Setelah keributan di dalam terdengar hingga keluar. Para polisi akan segera masuk ke dalam istana. Saat itu kita akan meledakkan istana ini hingga hanya tersisa namanya saja,” ucap Jordan lagi.
“Ide yang bagus,” jawab Leona setuju.
“Baby girl, tapi masih ada masalah yang belum mendapat solusinya.” Wajah Jordan berubah serius. Pria itu menarik tubuh Leona agar wanita itu berdiri di hadapannya. “Aku tidak tahu cara kabur dari tempat ini. Jika istana ini hancur. Pasukan keamanan akan mengepung Belanda. Kemana saja kita pergi pasti akan tertangkap. Di tambah lagi, identitas kita yang kini buronan,” ucap Jordan dengan wajah yang serius.
Leona mengukir senyuman. “Selama mereka belum mengetahui wajah pemimpin Queen Star dan Gold Dragon yang asli, maka kita masih aman. Aku belum memikirkan caranya. Tapi, aku yakin ... akan ada malaikat yang menolong kita secara diam-diam nanti.”
__ADS_1
Jordan mengukir senyuman. “Ingat ya, Jangan jauh-jauh dariku ....”
Di sisi lain, Katterine dan Oliver juga sudah bergabung dengan tamu yang lainnya. Mereka memegang segelas minuman berwarna dan terlihat sedang mengobrolkan sesuatu.
“Oliver, apa benar itu Kak Leona?” tanya Katterine lagi. Kali ini wanita itu merangkul lengan kekar Oliver agar pria itu bisa mendengar suaranya.
“Ya, putri,” jawab Oliver apa adanya.
Jordan sendiri juga tidak lagi mau menutupi identitas Leona. Pertarungan kali ini yang akan menentukan mereka menang atau kalah. Apapun resiko yang akan mereka hadapi sudah mereka pikirkan matang-matang sebelumnya.
“Pantas saja Kak Jordan tidak mau pulang,” ucap Katterine lagi sebelum tertawa kecil.
“Putri, nanti Anda harus ikut dengan Letty. Letty akan membawa Anda pergi ke suatu tempat yang aman,” ucap Oliver sambil mencari-cari wajah Letty.
“Kenapa seperti itu?” protes Katterine tidak terima.
“Ya. Sangat bahaya di sini. Saya tidak mau Anda celaka,” ucap Oliver lagi. “Anda pasti tahu kalau kami ada di sini bukan untuk bersenang-senang.”
Katterine mengangguk pelan. Wanita itu memandang ke arah lokasi pesta. Ia merasa ada yang aneh dengan lokasi pesta itu. Keadaannya sangat sunyi. Tidak semeriah dan seramai yang sebelumnya ia pikirkan. Lagi-lagi Katterine memandang wajah Oliver dan menagih sebuah penjelasan.
“Oliver, apa tamu undangan di sini kalian juga yang mengaturnya? Aku bisa mengenal beberapa tamu bangsawan yang seharusnya hadir tapi tidak hadir saat ini,” ucap Katterine pelan.
__ADS_1
“Putri, Anda tunggu di sini dulu. Ada hal penting yang harus saya lakukan,” ucap Oliver sebelum melangkah pergi. Pria itu meninggalkan Katterine dengan pengawasan di bawah pasukan Gold Dragon yang sudah menyamar sebagai pelayan istana.
Katterine lagi-lagi harus mengumpat kesal. "Awas saja kau!"