Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Pasangan Kekasih


__ADS_3

Kwan menghentikan langkah kakinya. Biao dan Sharin yang baru saja turun dari tangga juga menghentikan langkah kaki mereka. Sepasang suami istri itu tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Kini bukan seorang pria yang sedang menyatakan cinta kepada Alana. Melainkan Alana sendiri yang mengatakan hal itu.


Kwan memutar tubuhnya. Wajahnya terlihat sangat serius. Sharin segera menarik tubuh Biao dan membawanya bersembunyi di balik tangga. Ia tidak ingin dengan kehadirannya, suasana yang sangat menegangkan itu menjadi berantakan.


“Kau mencintaiku?” ucap Kwan dengan tatapan yang tidak terbaca.


Alana meneteskan air mata dan mengusapnya dengan tangan. Bibirnya gemetar. Ia malu. Ia takut. Ia deg degan. Alana tidak tahu kenapa bibirnya bisa mengatakan kalimat itu. 


Kwan memperhatikan air mata yang menetes di wajah Alana. Pria itu tidak tega dan berlari mendekati Alana. Tanpa banyak kata lagi, ia memeluk Alana dan menenggelamkan kepalanya di rambut panjang wanita itu.


“Kenapa kau harus mengatakan hal seperti itu?” tanya Kwan dengan mata terpejam. Pelukannya semakin erat bersamaan rasa bahagianya yang begitu luar biasa. “Jangan menangis.”


Alana membalas pelukan Kwan. Tangisannya semakin deras. “Aku juga tidak tahu, kenapa air mata sialan ini keluar dengan begitu deras.”


Kwan tertawa geli. Pria itu melepas pelukannya dan memandang wajah Alana dengan jarak yang sangat dekat. “Alana, maafkan aku. Selama ini terus saja menunda untuk mengungkapkannya. Aku juga sangat mencintaimu, Alana. Sejak dulu hingga sekarang. Perasaan itu masih sama. Hanya kau satu-satunya wanita yang ada di hatiku. Percayalah. Ini bukan sekedar rayuan,” ucap Kwan dengan wajah yang menyakinkan.

__ADS_1


Alana mengukir senyuman bahagia. Ia sangat bahagia kini rasa cintanya telah terbalaskan. “Kau tidak mudah di tebak, Kwan. Aku tidak pernah bisa tahu apa yang kau pikirkan dan apa yang kau inginkan,” ucap Alana dengan wajah yang terharu.


“Aku mencintaimu, Alana,” ucap Kwan dengan wajah yang bersungguh-sungguh.


“Kwan, aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kau dalam bahaya. Aku ingin kau selalu ada di sampingku,” ucap Alana dengan wajah polosnya.


Kwan mengusap pipi Alana dengan lembut. “Alana, apa kau percaya padaku?”


Alana mengangguk pelan. “Ya. Aku selalu percaya padamu. Jika tidak, aku tidak mungkin bisa jatuh cinta padamu.”


“Beberapa bulan?” tanya Alana tidak percaya.


“Ya.”


Kwan meletakkan tangannya di pinggang Alana. Sedangkan tangan yang satunya menarik dagu wanita itu agar merapat dengan wajahnya. Kwan mendaratkan kecupan singkatnya di bibir Alana. Alana mematung. Ia memegang bibirnya dengan wajah memerah. Wanita itu segera memutar tubuhnya untuk pergi menjauh. Namun, Kwan dengan sigap menarik tangan Alana. Kali ini bukan hanya sekedar kecupan. Pria itu berhasil mengunci mulut Alana dengan ciuman khasnya yang sangat memabukkan. Kwan menguasai bibir Alana tanpa peduli dengan lokasi di mana ia kini berada.

__ADS_1


Sharin mengukir senyuman dengan wajah bahagia. Tidak dengan Biao. Pria itu menggeram dan ingin menghancurkan momen romantis putrinya dengan Kwan. Sharin mencegah Biao. Wanita itu memegang lengan suaminya dengan wajah galak yang sangat menakutkan.


“Kau ingin memarahi Kwan? Dulu kau juga melakukan hal yang sama kepadaku. Anggap saja sekarang karma itu turun ke anak kita,” ucap Sharin dengan wajah penuh penekanan.


“Sharin, itu tidak sama,” protes Biao. “Kau bisa lihat kalau dia memaksa Alana!”


“Berhentilah, Biao! Kwan sama saja sepertimu. Bedanya kau pembohong, dia sedikit mesum!” ucap Sharin dengan wajah menahan tawa.


Biao menghela napas dengan kasar. Kali ini bukan hanya Kwan saja yang ingin ia beri pelajaran. Tetapi, istri tercintanya juga. “Sharin, sepertinya kau sudah lama tidak melihatku marah.”


Cup. Sharin mendaratkan bibirnya di bibir sang suami. “Kali ini jika kau marah, aku akan menciummu terus sampai kau tidak marah lagi. Setelah menikah, kau tidak pernah marah kepadaku. Aku tidak yakin kau bisa,” ledek Sharin dengan wajah penuh percaya diri.


“Kalian ini. Ibu dan anak sama saja!” Amarah Biao meredah. Pria itu memandang ke arah Alana dan Kwan lagi. Kali ini ia sangat kaget ketika melihat sepasang kekasih yang baru saja jadian itu sudah menghilang. “Ke mana mereka?” tanya Biao dengan wajah bingung.


Sharin juga terlihat bingung ketika melihat Alana tidak ada di sana lagi. “Mungkin, mereka merayakan hari jadian mereka. Seperti kita dulu,” ucap Sharin dengan wajah yang serius.

__ADS_1


“Kita tidak pernah pacaran. Kita langsung menikah, Sharin.” Biao berjalan maju tanpa mau dihalangi lagi. Pria itu ingin mencari tahu keberadaan putri tercintanya saat ini.


__ADS_2