Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Jordan Lagi


__ADS_3

Leona melipat kedua tangannya. Wanita itu berjalan dengan santai untuk mendekati posisi pria tua itu berbaring. “Apa kau kaget? Apa kau tidak pernah menyangka, kalau wanita yang selama ini ingin kau bunuh kini membunuhmu lebih dulu?” ucap Leona dengan senyum kecil di bibir.


“Bos, Zean tiba di lantai bawah. Pria itu melangkah dengan wajah yang gusar. Anda harus segera meninggalkan kamar itu sebelum terlambat. Jika sampai ketahuan, kita harus bertarung melawan mereka. Tapi, jumlah kita saat ini tidak seimbang. Kita pasti akan tertangkap,” ucap lawan bicara Leona dari dalam Handsfree.


Leona memandang ke arah lemari. Wanita itu mencari baju yang bisa menutupi tubuhnya yang terbuka. Ia juga tidak ingin keluar dengan pakaian yang masih sama. Seksi dan terbuka. Leona menemukan mantel hitam di dalam lemari. Wanita itu memakainya dan segera mengatur posisi pria itu di atas tempat tidur. Ia juga tidak ingin ketahuan secepat ini.


Bagaimanapun juga. Zean belum tahu kalau kini Leona memimpin mafia Queen Star. “Ok. Semua beres. Hidupkan Alarmnya,” perintah Leona.


Leona berdiri di depan pintu. Wanita itu mengambil pistol yang memang sudah pasti ada di dalam ruangan pria tersebut. Dengan tatapan yang sangat tajam, Leona memandang ke arah pintu.


Dalam hitungan detik, Alarm kebakaran berbunyi. Pintu terbuka dengan cepat. Leona segera melayangkan tembakan yang tiada henti ke arah pintu.


DUARR DUARR.


Wanita itu melayangkan pukulan dan menembaki setiap musuh yang ingin menghalanginya.


“Bos, Zean masuk ke dalam lift. Anda harus masuk ke lift yang ada di sebelahnya,” ucap lawan bicara Leona dengan suara panik.


Leona memandang lift yang berjarak cukup jauh dari dirinya. Wanita itu menggenggam dua pistol di tangannya sebelum melanjutkan tembakannya. Ia mengambil dari salah stau bajunya sebuah bom dengan daya ledak yang kecil. Dengan gerakan cepat, Leona melempar bahan peledak tersebut sebelum menghindari ke sisi yang jauh.


DHOOMM


Leona memandang lift yang sudah hampir terbuka. Wanita itu segera berlari ke arah lift yang ada di samping lift tersebut. Ia sudah tidak bisa bernapas dengan tenang. Jika memang harus ketahuan detik ini juga. Leona sudah siap bertarung dengan Zean.

__ADS_1


“Apa kau sudah mematikan seluruh cctv?” ucap Leona sambil menunggu lift tersebut terbuka.


“Sudah, Bos,” ucap pria tersebut.


Pintu lift terbuka bersamaan dengan pintu lift Zean yang terbuka. Leona melayangkan tembakan ke arah lift yang di tempat Zean sebelum masuk ke dalam lift. Ia tidak ingin ketahuan.


Leona segera menutup pintu lift sebelum Zean dan pasukannya berhasil mencegahnya pergi. Keringat berkucur deras membasahi tubuh Leona. Wanita itu memejamkan mata dan bersandar dengan napas yang terputus-putus.


“Semua akan terlewati. Aku pasti akan selamat hari ini,” gumam Leona dengan napas yang masih tidak karuan.


Pintu lift terbuka. Leona sudah berada di lantai dasar. Beberapa pria berbadan tegab menyambutnya dengan puluhan peluru. Pada saat yang bersamaan, pasukan Queen Star muncul. Mereka melindungi Leona dari tembakan yang kini mengincarnya.


Leona segera berlari menyelamatkan diri. Ia juga tidak ingin Zean segera turun dan menangkapnya detik ini juga. Leona berlari menuju ke arah pintu yang menurutkan bebas dari para pengawal Zean.


“Ini hadiah kedua dariku, Zean. Hadian selanjutnya masih akan menyusul,” gumam Leona di dalam hati sambil terus berlari kencang.


“Maaf, maafkan saya,” ucap  pria yang baru saja di tabrak oleh Leona.


Pria itu adalah Jordan. Ia tidak menggunakan topeng seperti biasa. Pria itu juga mengenakan setelan yang sangat rapi. Tidak ada senjata api atau pengawal di sekelilingnya. Mata Jordan terbelalak kaget, saat melihat wajah wanita yang baru saja ia tabrak. Hatinya terasa senang saat melihat wanita itu berdiri tegab menghadap ke arah tubuhnya.


“Kau lagi!” ucap Leona dengan penuh kesal, “Aku tidak pernah berharap untuk bertemu denganmu lagi, setelah kejadian semalam.” Leona pergi meninggalkan Jordan, dengan langkah tertatih-tatih. Kakinya sakit. Ia cukup kuat dan bisa membunuh banyak orang selama ini. Tapi, tidak tahu kenapa. Tubuhnya sangat mudah terluka dan merasakan sakit. Mungkin ini yang dinamakan menjadi wanita tangguh setengah-setengah.


“Leona,” ucap Jordan untuk menghentikan langkah Leona.

__ADS_1


Leona tidak peduli, ia terus berjalan meninggalkan Jordan di sana. Satu tangannya memegang handsfree dan memasangnya dengan posisi yang benar. Ia ingin memberi perintah kepada bawahannya untuk menjemputnya di tempat tersebut. Belum sempat panggilan itu tersambung, tangan kekar Jordan menarik tubuhnya.


DUARR DUARR


Dua tembakan di lepas oleh pria berbadan tegap yang sejak tadi mengejar Leona. Leona menatap tajam wajah-wajah pria itu. Ia ingin membalas perbuatan pria-pria itu. Tapi, belum sempat Leona membalas perbuatan pria-pria itu, tiba-tiba mobil hitam berhenti di hadapannya.


“Maafkan aku.” Jordan berjongkok di hadapan Leona. Tanpa banyak kata lagi pria itu mengangkat tubuh Leona dan membawanya masuk ke dalam mobil. Hanya dengan cara itu ia bisa menyelamatkan Leona dari bahaya.


Suara tembakan itu semakin banyak. Bahkan setelah Jordan berhasil membawa tubuh Leona masuk ke dalam mobil, tembakan itu masih terdengar dengan jelas.


“Apa yang kau lakukan, beraninya kau!” ujar Leona dengan kesal. Wanita itu mencari handsfreenya yang terjatuh di luar mobil. Ia memandang benda kecil itu dari balik jendela, “Handsfreeku,” ucapnya sambil berusaha turun dari dalam mobil.


“Hei, kau dalam bahaya. Bisa-bisanya kau memikirkan benda kecil itu saat ini,” ucap Jordan menahan tangan Leona. Pria itu menarik tangan Leona dan meletakkan tubuh Wanita itu di dalam pelukannya agar tidak lari, “Jalan cepat!” perintah Jordan pada sang supir.


Sang supir hanya melirik sebentar ke arah Leona, sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ini pertama kalinya ia melihat majikannya bersikap kurang ajar seperti itu kepada wanita. Selama ini Jordan terkenal sebagai pria lembut dan penuh kesopanan.


“Kau! Apa yang kau inginkan dariku!” teriak Leona di dalam mobil.


“Aku hanya ingin menyelamatkanmu,” jawab Jordan sebelum melepas pelukannya. Ia sudah kembali tenang karena Leona tidak akan mungkin melompat lagi dari dalam mobil.


“Kau membuat hidupku dalam masalah. Berhenti!” perintah Leona cepat kepada sang supir. Bahkan wanita itu sengaja memajukan posisi duduknya agar suaranya terdengar dengan jelas di telinga sang supir. Namun supir itu tidak memperdulikan perintah Leona. Satu-satunya orang yang ia patuhi, hanya Jordan, “Apa pria ini punya telinga! Kenapa dia tidak mendengarku!” ucap Leona semakin kesal.


“Kau akan baik-baik saja bersamaku,” ucap Jordan santai.

__ADS_1


Leona hanya melirik sinis ke arah Jordan sebelum membuang tatapan matanya. Ia tidak ingin menuruti keinginan Jordan. Sedikit saja ada cela ia akan berontak dan kabur dari mobil itu.


Jordan mengangkat tangannya. Pria itu memukul titik saraf Leona hingga wanita itu tidak sadarkan diri. Bibir Jordan tersenyum kecil, “Gadis nakal. Apa kau berpikir untuk kabur dariku? Eh?” ucap Jordan sebelum menarik tubuh Leona ke dalam pelukannya.


__ADS_2