Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 122


__ADS_3

Air mata Clara telah kering. Percuma saja menangis karena tidak akan ada yang bisa ia lakukan untuk lolos dari mansion Cosa Nostra. Kini Clara, Anne dan Sarah ada di sebuah ruangan yang mirip seperti salon. Ada wanita yang sedang merapikan rambut mereka. Melalui cermin, Clara melihat Anne yang kini terlihat tampil beda. Rambut wanita itu di potong dan kini di cat warna ungu. Berbeda dengan Sarah yang di biarkan panjang namun di buat bergelombang. Entah apa yang akan terjadi pada rambutnya. Melihat rambut rekannya di ubah dengan sesuka hati sudah  bisa membuat Clara marah.


“Apa  kau menyambung rambutmu?” tanya wanita yang kini mengurus rambut Clara.


“Hemm,” jawab Clara malas.


“Rambutmu terlihat indah. Sayang sekali kalau harus di potong. Aku hanya akan mewarnainya saja,” ujar wanita itu lagi.


Mata Clara mulai liar untuk mencari benda yang bisa iagunakan untuk melukai wanita yang kini memegang rambutnya. Gunting. Ya, ketika ia melihat gunting ia langsung berpikiran untuk menggunakan benda berbahaya itu menyelamatkan dirinya. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat maka rencananya akan berhasil.


“Percuma saja kau berpikiran untuk kabur. Lepas dari ruangan ini, masih ada lorong dan jalan panjang lainnya yang harus kau lalui,” ujar Anne yang seolah paham dengan pemikiran kabur Clara. Hingga akhirnya Clara hanya bisa menghela napas.


“Aku akan kehilangan hal berharga dalam hidupku malam ini. Ini benar-benar menyedihkan!” Clara menunduk. Anne menepuk pelan pundak Clara.


“Aku juga pernah ada di posisi itu. Kalau bukan demi sarah, mungkin aku sudah bunuh diri sejak kemarin.”


“Tidak ada lagi penyemangat hidupku. Sepertinya aku lebih memilih mati saja daripada harus menderita.”


“Kau yakin?” 


Obrolan mereka tertunda ketika wanita yang sempat merawat mereka  kembali muncul. Clara, Anne dan Sarah memilih untuk diam. Duduk manis dan menerima apapun yang akan dilakukan wanita itu kepada mereka.


Tidak lama kemudian, perawatan rambut telah selesai. Mereka hanya perlu ganti pakaian. Clara memekik kesakitan ketika melihat pakaian yang harus ia gunakan. Hal itu sampai membuat Anne bingung. 


“Kenapa? Apa perutmu sakit?”


“Ya.” Clara duduk di kursinya lagi dengan wajah sedih.


“Benarkah?”


“Perutku mual dan terasa mulas ketika aku melihat pakaian ini! Ini sama saja tidak pakai baju!” Clara melempar pakaian yang sempat ia pegang ke lantai.  Ia sama sekali tidak tertarik untuk mengenakannya.


Anne mengutip pakaian Clara. “Masih ada pakaian dalam. Tubuh kita tidak akan terlihat jelas. Anggap saja kita sedang mengunjungi pesta pantai.”


Clara menggeleng. “Anne, bagaimana bisa kau bersikap tenang seperti ini? Mereka sudah menyiksamu!”


“Clara, apa yang bisa aku perbuat. Aku tidak mau mereka menyiksa Sarah. Aku akan melakukan apapun yang mereka inginkan asalkan Sarah tetap hidup.” Clara tidak tahu  harus berbicara apa lagi. Ia memalingkan wajahnya dan lagi-lagi menangis.


“Belum ada yang pernah memperlakukanku seburuk ini, Anne. Hidupku sangat sempurna layaknya Nona muda. Aku memiliki perusahaan yang sedang berkembang. Uangku berlimpah. Kenapa tidak ada satu orangpun yang sadar kalau kini aku menghilang?”


Anne yang merasa kasihan memeluk Clara layaknya sahabat. “Kau harus sabar, Clara. Semoga saja ada orang yang menyadari hilangnya dirimu dan datang ke pelelangan untuk menyelamatkanmu.”

__ADS_1


***


Zean sudah ada di mansion. Dengan pakaian serba hitam, kaca mata, topi dan masker, penyamaran pria itu benar-benar sempurna. Zean berhasil membunuh siapa saja yang berani menghalanginya. Hingga akhirnya ia memiliki senjata untuk melawan musuh-musuhnya.


“Mansion ini benar-benar luas.” Zean bersandar di dinding. Ia kembali membuka peta yang ia bawa untuk mengetahui tempat yang akan ia tuju. Tempat utama yang di tuju Zean adalah pelelangan. Ia tahu kalau Clara akan ada di sana. Awalnya Zean ingin membeli Clara dan datang sebagai bos di acara pelelangan. Namun, saat ini apa yang bisa ia lakukan? Uang tidak banyak. Semua berantakan sejak ponselnya rusak dan anggotanya tidak ada di sisi. Zean hanya bisa berharap kalau data penting di dalam ponselnya baik-baik saja agar pasukan miliknya masih bisa menemukan posisi dirinya berada.


“Di sini. Seharusnya sekarang acaranya sudah berlangsung. Aku harus cepat menemui Clara.” Zean menggulung lagi peta yang ia bawa. Pria itu segera berlari menuju ke lorong yang akan menghubungkannya ke lokasi pelelangan.


DUARR


Langkah Zean terhenti ketika sebuah tembakan melintas di depan matanya. Ia melirik ke kanan dan melihat gerombolan musuh sudah ada di sana. Zean melihat camera CCTV yang ada di sudut ruangan. Padahal sebelumnya ia memeriksa dengan teliti tempat yang ada CCTV nya. Tapi detik ini justru ia ceroboh hingga akhirnya ketahuan.


Zean segera membalas tembakan para musuh. Ia berlari dengan arah yang berlawanan. Untuk detik ini ia belum berhasil masuk ke lokasi pelelangan karena banyak musuh yang  mengincar nyawanya. Bukan hanya dengan tembakan saja. Zean juga harus menggunakan tenaganya untuk membantai musuh yang berusaha menangkap dirinya. Tidak tahu apa ia akan bisa terus lolos selama ada di mansion luas itu. Mengingat jumlah musuh yang ia hadapi seperti tidak ada habisnya.


“Berhenti!” teriak seorang pria dari belakang. 


Zean menahan langkahnya. Tiba-tiba saja lokasinya sudah di kepung. Benar-benar tidak ada lagi jalan untuknya berlari. Zean tahu kalau senjata yang ia miliki juga pelurunya tinggal 3 buah. Menghadapi orang yang berjumlah puluhan tentu saja tidak akan membantu. Zean menyimpan senjata apinya. Ia akan menggunakan benda berbahaya itu ketika keadaan benar-benar genting. Zean mengeluarkan belati yang selalu ia bawa. Kali ini ia harus bertarung  nyawa hanya untuk menyelamatkan wanita yang baru saja ia kenali hitungan jam.


“Berani sekali kau masuk ke dalam markas kami!” Seorang pria yang sebelumnya pernah di temui Zean kini muncul lagi di hadapannya. Jika saat itu posisinya Zean yang menang. Bisa jadi kali ini Zean yang akan kalah. Tanpa senjata api semua tidak akan berarti.


“Hanya markas kecil. Apa yang di takutkan?” jawab Zean dengan wajah tetap tenang. “Apa di sini jagoan selalu menyerang keroyokan?”


Pria yang menjadi lawan bicara Zean merasa tertantang. Ia meminta pasukan miliknya menurunkan senjata api yang sejak tadi mereka arahkan ke arah Zean.


Zean tersenyum tipis. “Setuju!”


***


Clara semakin pucat melihat Anne dan Sarah di seret menuju ke sebuah kamar setelah ada pria yang berani membayar mahal. Tubuh Clara sampai gemetar. Walau di sana sangat dingin, tapi keringat berkucur deras membasahi kain tipis yang menutupi tubuhnya. Di dalamnya hanya ada bikini berwarna hitam berbahan renda yang memang sengaja di stel agar bisa membangkitkan ***** para pria. Rambut Clara tergerai dengan make up yang menjadikan wajahnya semakin cantik. 


“Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya kabur dari sini?” Clara memandang beberapa orang yang menjaganya. Kini posisinya duduk di belakang panggung seolah sedang menunggu giliran. Malam ini hanya Clara, Anne dan Sarah yang akan dijadikan bahan pelelangan. Dari celah yang ada, Clara bisa melihat beberapa pria hidung belang yang mau membayar mahal demi tidur satu malam dengan seorang wanita. 


Ini adalah dunia baru bagi Clara. Cukup menyiakan trauma dan sakit yang begitu mendalam. “Aku tidak mau!” Clara berdiri. Namun tiba-tiba saja seorang pria memegang pundaknya dan mendudukkannya dengan kasar.


“Duduk atau kau akan menderita malam ini!” ancam pria itu dengan sorot mata yang tajam.


Clara menangis lagi. Kedua tangannya menutupi bagian dada. Hingga saat waktunya tiba, Clara di seret secara paksa untuk berjalan ke panggung. Ia harus berjalan dengan pelan karena memang langkahnya sangat berat untuk melangkah. Lampu meneranginya. Hanya dirinya yang kini bercahayakan lampu terang tersebut. Sedangkan para tamu, terlihat gelap di kursi mereka. Clara tidak lagi bisa melihat dengan jelas orang-orang yang kini memandang kemolekan tubuhnya. Clara hanya bisa mendengar suara pria yang memanggilnya dengan sebutan Nona manis.


“Kami punya barang baru malam ini. Semoga Tuan-tuan tidak kaget dengan harganya.” Seorang wanita yang tidak tahu kini berada di mana sedang bersuara. Clara masih berusaha menutupi bagian dadanya yang terbuka. Wajahnya memerah karena malu. Kedua matanya lagi-lagi berkaca-kaca.


“Pastinya perawan dan … dia anak salah satu sultan yang pernah jaya pada masanya.” Sorak tepuk tangan semakin menjadi. Clara semakin sedih saat membayangkan kehidupannya saat ini. Lebih baik terlahir menjadi gadis biasa daripada harus terlahir sebagai Nona muda tapi hidupnya menderita dan tersiksa.

__ADS_1


“Baiklah, untuk mempersingkat waktu. Kita buka harga berlian baru kami dengan harga … 1 juta Dollar.”


Clara merasa seperti mau pingsan. Tapi entah kenapa tubuhnya seperti kokoh. Clara jugamulai merasa panas. Padahal jelas-jelas ia hanya memakai selembar selendang saja. Angin bisa menembus kulitnya yang mulus tanpa halangan.


“Apa yang terjadi? Apa jangan-jangan .....” Clara mulai sadar kalau dirinya sudah di beri obat. Ya, memang sebelum menuju ke lokasi pelelangan, Clara, Anne dan Sarah di paksa meminum pil yang tidak tahu apa fungsinya. Detik ini Clara mulai menyadari kalau pil yang ia minum adalah obat perangsang agar nanti ia bisa dengan mudah melayani pria yang membayarnya.


Kosentrasi Clara mulai hilang. Rasa malu yang ia rasakan juga tidak ada lagi. Justru tubuhnya kini membutuhkan sesuatu. Sesuatu yang hanya bisa ia dapatkan dari sentuhan pria.


“10 juta Dollar.” Samar-samar Clara mendengar nominal tertinggi yang berhasil membayarnya malam ini. Senyum kecil terukir di bibirnya. Ia tahu sekarang, seberapa berharganya dirinya hingga pemimpin Cosa Nostra rela menculiknya.


Tangan kekar memegang pergelangan Clara dan membawanya pergi. Clara semakin kesulitan menguasai kesadarannya. Lokasi yang begitu ramai tidak lagi terdengar. Padahal di sekelilingnya ada banyak pria yang melihatnya dengan rasa kagum. Mereka seolah menyesal karena tidak sanggup membayar mahal agar bisa tidur dengan Clara malam ini.


“Lepaskan!” Clara merasa dirinya mengigau. Tapi dia belum tidur. Clara tidak lagi sadar ke mana ia pergi saat ini. Hingga akhirnya tubuhnya di letakkan di bahu pria kekar dan di bawa masuk ke sebuah kamar. Dalam sekejap saja tubuhnya terpental di atas ranjang yang empuk. 


“Wanita yang cantik. Cepat tinggalkan aku!” Suara pria terdengar dengan jelas di telinga Clara. Tapi sayangnya Clara sudah tidak bisa melihat jelas wajah pria yang ada di dekatnya. Hingga tidak lama kemudian, tangan dingin menyentuh tubuhnya. Clara berusaha menghindar agar sesuatu yang ia takuti tidak terjadi.


“Menjauhlah!” lirih Clara.


“Sayang, aku sudah membayarmu mahal. Malam ini, kau akan bersenang-senang denganku!”


Tiba-tiba saja Clara merasa ada cairan yang begitu amis membasahi tubuhnya. Clara merasa seperti di siram air di bagian tubuhnya. Detik itu juga Clara memejamkan mata dan tidak lagi bisa mengingat semuanya.


Zean berdiri dengan wajah kasihan. Tubuhnya di penuhi luka. Secara perlahan ia menarik belati yang berhasil menusuk pria hidung belang tersebut. Zean segera menyingkirkan pria itu agar darahnya tidak lagi mengotori tubuh Clara.


Zean membuka jasnya dan memakaikannya di tubuh Clara. Clara yang sudah seperti orang mabuk hanya bisa meracau tidak jelas. Sesekali justru wanita itu memeluk Zean dan mencium bagian tubuhnya. Sedangkan Zean yang sudah paham dengan kondisi Clara hanya bisa menghela napas. Ia mengangkat tubuh Clara dan membawa wanita itu untuk segera pergi dari sana.


Zean membawa Clara pergi dengan meletakkan wanita itu di atas punggungnya. Sikap Clara yang liar malam ini membuat Zean kesulitan membawanya kabur. Lokasi pelelangan memang sudah sunyi. Hanya ada beberapa tukang bersih-bersih yang sedang membereskan botol dan gelas di lokasi. Kali ini Zean harus menyamar lagi menjadi seorang pelayan. 


“Bagaimana dengan wanita ini?” Zean melihat meja yang di gunakan para pelayan menyimpan botol kosong. Bibir Zean tersenyum. Walau terkesan menghina Clara meletakkannya bersama botol kosong, tapi Zean terpaksa melakukannya.


“Maafkan aku Clara.” Zean mengikat kaki dan tangan Clara. Tidak lupa membungkam mulutnya agar suara wanita itu tidak lagi terdengar. Setelah itu Zean memasukkan Clara ke bawah meja. Sedangkan Zean dengan wajah tenangnya mengikuti pelayan yang lain menuju ke luar mansion untuk membuang botol kosong yang baru saja di kutip.


“Entah apa yang akan terjadi besok. Yang terpenting, dia sudah bersamaku saat ini,” gumam Zean di dalam hati. 


Beberapa saat yang lalu.


Zean kalah ketika bertarung. Namun, pria itu tidak benar-benar kalah. Ia hanya pura-pura pingsan agar bisa segera menolong Clara. Pria yang memang sudah babak belur karena berkelahi dengan Zean merasa puas. Namun ia tidak mau mengurus Zean lagi karena melihat Zean sudah tidak sadarkan diri. 


“Urus pria ini!” perintah pria itu kepada bawahannya. 


“Baik, Bos.” Sebagian orang mengikuti pria itu pergi. Hanya tersisa lima orang yang akan mengurus tubuh Zean. Tadinya tubuh Zean akan di ikat sebelum di buang ke lautan. Namun, belum sempat tubuhnya di ikat, Zean lagi-lagi berhasil mengalahkan musuhnya. Hanya lima orang merupakan lawan yang kecil baginya. Tanpa suara dan tanda-tanda apapun, Zean berhasil menghabisi lima orang tersebut.

__ADS_1


“Aku harus menolong Clara.” Zean membuka seragam salah satu pasukan Cosa Nostra. Kali ini ia harus menyamar untuk menjadi bagian dari mereka agar bisa tiba di lokasi pelelangan tanpa halangan. 


Zean tiba ketika Clara sudah di bawa ke kamar. Tanpa di sadari semua orang, pria yang menyeret Clara dan membawa Clara menuju ke kamar adalah Zean. Semua itu sengaja ia lakukan agar penyamarannya sempurna. Ketika hidung belang mengusir Zean pergi, Zean tidak benar-benar pergi. Justru pria itu mengeluarkan belatihnya dan menusuk punggung pria hidung  belang itu dengan sadis. Tidak hanya satu kali. Bahkan berulang kali hingga darah berkucur deras dan berhasil mengotori tubuh Clara.


__ADS_2