
Tidak Paham
"Mommy," sapa Miller dengan bibir tersenyum ramah.
Sonia berjalan cepat tanpa peduli dengan sapaan putra kandungnya. Ia melewati Miller dan berjalan cepat ke arah Anna. Wanita itu memeluk tubuh Anna dan memperlihatkan betapa khawatirnya dia saat itu.
"Apa kalian baik-baik saja?" ucap Sonia sebelum melepas pelukannya. Belum sempat Anna menjawab, Sonia sudah memandang wajah Tama. "Maafkan aku. aku tidak tahu kalau kalian dalam masalah. Aku sangat syok ketika mendapat kabar dari Adit kemarin." Sonia meghapus air matanya yang saat itu mulai menetes.
Miller semakin tidak percaya dengan apa yang kini ia lihat. "Mommy menangis? Ini pertama kalinya aku melihat Mommy menangis karena orang lain. Mommy bukan wanita yang mudah menangis. Kecuali menyangkut keluarganya," gumam Miller di dalam hati.
"Kami baik-baik saja. Terima kasih Sonia karena sudah mengkhawatirkan kami dan mau datang ke sini," ucap Tama.
Sonia menghela napas lega ketika mendengar Tama kini baik-baik saja. "Aku tidak menyangka kalau masih ada orang yang mengusik ketenangan hidup kita."
"Aku sendiri belum tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan aku juga bingung, tujuan mereka melakukan penculikan ini apa. Tetapi, ketika aku mendapat kabar dari Kwan kalau Leona sudah tiada. Aku berpikir kalau ini menyangkut kehidupan Leona yang baru," ucap Tama dengan wajah sedihnya.
"Mom, Leona? Maksudnya Leona yang semalam kita jenguk di rumah sakit? Putri Paman Daniel dan Tante Serena?" tanya Miller dengan wajah panik dan syok.
"Ya," jawab Sonia tanpa mau memandang.
"Pria ini putramu?" tanya Tama penasaran.
"Ya. Dia anak pertamaku," jawab Sonia sambil membalas tatapan Tama.
"Bukankah anakmu bernama Natalie?" sambung Anna bingung.
__ADS_1
"Sebenarnya dia anak keduaku." Sonia berjalan mendekati Miller dan menggandeng lengan kekar pria itu. "Ini Miller. Putra pertamaku dan Aldi."
Kwan memandang Miller dengan wajah penuh selidik. "Mencurigakan sekali. Kenapa dia bisa kenal Kak Leona. Dan … siapa Tante ini. Mama tidak pernah menceritakan tentang mereka kepadaku. Sepertinya aku harus menanyakan hal ini sama mama langsung nanti," gumam Kwan di dalam hati.
"Ayo, aku akan membawa kalian ke suatu tempat untuk beristirahat," ajak Sonia sambil membawa Anna untuk ikut dengannya.
"Tante, tapi kami harus melewati proses pemeriksaan," ucap Kwan menolak.
"Pemeriksaan apa?" ujar Sonia dengan tatalan tidak suka. Wanita itu segera melempar pendanaannya ke arah Miller.
Miller menghela napas saat tatapan tajam ibunya kini tertuju pada dirinya. "Hmm, baiklah. Aku akan menutup kasusnya. Jadi, Paman ini tidak perlu melewati proses pemeriksaan."
"Siapa yang menyuruhmu menutup kasusnya?" ucap Sonia dengan wajah tidak terima. "Mami mau kau membantu Paman Tama untuk menangkap orang-orang yang sudah menculiknya. Jangan kembali ke rumah jika kau tidak berhasil menangkap pria itu," ancam Sonia lagi.
Miller mematung ketika mendengar perintah dari Sonia. Kini posisinya benar-benar dilema. Ia tidak tahu harus memihak ke mana. "Clouse, apa kau menjebakku lagi kali ini?" umpat Miller di dalam hati.
"Siapa pria itu? Apa dia musuh yang sedang menyamar?" ucap Oliver dengan wajah penuh tanya.
***
Tamara dan Aleo duduk di sebuah taman. Kali ini mereka ingin menenangkan pikiran mereka dengan menghirup udara segar di pinggiran danau. Menikmati embusan angin dan pemandangan indah yang menyejukkan mata.
"Leona ingin melihat salju di Jerman. Namun, saat salju turun dia sudah tiada," ucap Aleo dengan wajah yang sangat mneyedihkan.
Tamara hanya bisa diam sambil melamun. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Sejak awal ia tidak memiliki niat untuk mencelakai Leona. Hingga detik ini Tamara tidak percaya kalau Leona sudah tiada.
__ADS_1
Aleo memandang wajah Tamara. Ia memperhatikan bola mata abu-abu wanita itu. "Tamara, kau mengenakan softlanse?" tanya Aleo dengan wajah menyelidik.
Tamara membalas tatapan Aleo dan mengangguk pelan. "Ya. Aku sering menggunakan benda berwarna ini."
Aleo menarik tangan Tamara. Pria itu menatap kedua bola mata Tamara dari dekat dan memperhatikannya dengan saksama. Bibirnya mengukir senyuman bahagia ketika kini berhasil mengetahui alat pengintai yang digunakan musuh mereka pada tubuh Tamara.
"Ada kamera di sini," ucap Aleo sambil menunjuk softlanse tersebut. "Kapan terlahir kali kau ganti softlens?"
"Saat Kak Leona dipindahkan ke Amerika," jawab Tamara dengan wajah kaget. Wanita itu segera mengambil kotak softlansenya dari dalam tas. Ia segera membuka softlanse itu dari matanya.
"Mereka tidak mendengar apa yang kau katakan. Tapi, mereka melihat apa yang kau lakukan," ucap Aleo sambil menerima kotak softlanse yang diberikan Tamara kepadanya.
"Maka dari itu mereka tahu saat aku menulis surat itu kepada Kakak?" tanya Tamara cepat.
"Ya." Aleo menggenggam erat kotak tersebut. Ia sudah tidak sabar membawa benda mungil itu kepada Alana untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Aleo yakin, dengan ilmu tekhnologi yang dimiliki Alana, maka mereka bisa menemukan keberadaan musuh mereka saat ini. "Aku akan meminta Kwan mengirim benda ini kepada Alana."
"Kak, bagaimana dengan kedua orang tuaku?" ucap Tamara dengan wajah sedih.
"Kwan sudah berhasil menemukan mereka. Setelah badai salju berlalu, mereka akan kembali ke Jepang. Kau tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Ada banyak pengawal yang akan mendampingi mereka. Saat ini yang harus kau pikirkan adalah keselamatanmu."
"Aku tidak pernah menggangu hidup orang lain. Kenapa kini hidupku di usik?" ucap Tamara dengan wajah tidak bersemangat.
"Kau menyesalinya?" celetuk Aleo dengan wajah kecewa. Aleo merasa kini Tamara menuduh Leona karena sudah mengganggu ketenangannya.
"Tidak tidak. Kak Aleo jangan salah paham!" ujar Tamara cepat. "Aku hanya berpikir, kalau kami keluarga yang lemah. Sepertinya mereka tahu kalau aku wanita yang bodoh hingga akhirnya memutuskan untuk menjadikanku senjata bagi mereka." Tamara menutup wajahnya dengan tangan. "Aku masih tidak percaya kalau Kak Leona sudah tiada. Aku tidak melakukan apapun kepadanya."
__ADS_1
Tanara lagi-lagi harus meneteskan air mata. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Hal itu membuat Aleo tidak tega. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain selain tetap merahasiakan keberadaan Leona saat ini.
"Maafkan aku Tamara. Tapi, jika nanti waktunya tiba. Kau akan tahu sendiri kebenarannya," gumam Aleo di dalam hati.