Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 41


__ADS_3

Saat Jordan dan Leona sudah kembali ke kamar. Katterine, Emelie dan Zeroun memutuskan untuk membuka oleh-oleh yang di bawa Leona dan Jordan. Namun saat itu Katterine tidak tertarik membuka oleh-oleh tersebut seperti biasanya. Ia justru lebih tertarik  membahas sesuatu bersama Emelie.


“Mom, Jangan sembunyikan sesuatu dariku. Dari Ekspresi wajah Mommy dan Daddy tadi, aku bisa membaca dan tahu kalau ada rahasia yang kalian sembunyikan. Hal itu menyangkut Oliver. Bukankah aku pacar Oliver? Sebaiknya Mommy ceritakan saja apa yang terjadi.” Katterine memandang wajah Emelie dengan penuh harap. Di sampingnya ada Zeroun yang sedang terlihat sibuk dengan ponselnya. Karena topic pembahasan antara Emelie dan Katterine sangat seru, mereka lupa akan kesibukan Zeroun.


“Sayang, Daddy ke taman belakang dulu ya.” Zeroun beranjak dari sofa yang ia duduki. Pria itu tidak lupa mengusap wajah cantik istrinya. Setelah Zeroun menjauh, Katterine kembali menagih penjelasan atas cerita masa kecil kekasihnya.


Katterine tersenyum. “Kau sudah dewasa. Tidak mudah untuk di bohongi lagi sekarang.”


“Mom ...,” rengek Katterine semakin menjadi.


“Baiklah, Mommy akan ceritakan semuanya padamu.”


Katterine terlihat penuh antusias mendengar cerita ibunya. Semua yang menyangkut tentang Oliver menjadi hal utama bagi  hidup Katterine saat ini.


“Lana dan Lukas menjalankan Gold Dragon. Geng mafia yang tidak sedikit memiliki musuh. Rata-rata musuh masa lalu dari daddymu. Saat itu ketika Jordan dan Oliver berusia lima tahun, Lana mengandung anak keduanya. Kabar baik yang sangat menggembirakan bagi kami semua. Tapi, semua tidak berjalan dengan lancar.” Kedua mata Emelie terlihat berkaca-kaca ketika ia mengenang cerita lama itu.


***


Lukas mengangkat tubuh Lana. Langkahnya sangat cepat. Pria itu membawa istri tercintanya ke ruang IGD yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pintu depan rumah sakit. Beberapa dokter dan perawat menyambut kedatangan Lukas. Mereka segera memberikan sebuah brangkar sebagai tempat untuk Lana berbaring.


“Tolong istri saya,” pinta Lukas dengan wajah memohon.


“Tuan, letakkan istri anda di sini. Kami akan memeriksa keadaannya,” ucap salah satu perawat yang ada di hadapan Lukas.


Tanpa pikir panjang lagi, Lukas meletakkan Lana di atas brangkar. Kedua tangannya mengambil tangan Lana dan mengecup punggung tangan wanita itu sebelum membiarkannya masuk ke dalam ruang IGD.


Lukas menatap nanar ke arah ruang IGD yang telah kembali tertutup. Kemeja putihnya telah dipenuhi dengan darah segar milik sang istri. Lukas tidak pernah menyangka, kejadian seperti masih bisa terjadi lagi. Padahal, sejak awal ia sudah menyebar pasukan Gold Dragon dimanapun dan kapanpun istri dan anaknya berada.


“Daddy,” ucap seseorang dari arah belakang.


Lukas menghapus tetes air mata yang hampir terjatuh. Pria itu memutar tubuhnya untuk melihat sosok anak kecil yang baru saja memanggilnya. Bibirnya tersenyum indah. Walau senyuman itu hanya ukiran terpaksa sebagai bentuk ngelabuhi anak kecil berusia lima tahun yang ada di hadapannya.


“Di mana Mommy?” tanya Oliver lagi.


Lukas berjongkok di depan anak kecil itu. Beberapa pria berbadan tegab berdiri di belakang Oliver untuk menjaga anak tersebut dari bahaya lagi. Lukas memandang wajah beberapa bawahannya sesaat sebelum memandang wajah putranya lagi. “Mommy ... mommy di dalam sayang,” jawab Lukas dengan suara pelan.


“Oliver mau sama Mommy,” ucap Oliver dengan mata berkaca-kaca.


Lukas mengukir senyuman sebelum menarik Oliver ke dalam pelukannya. “Maafkan Daddy, Oliver. Maafkan Daddy,” bisik Lukas saat bibirnya berada di samping telinga Oliver. Rasa bersalah itu kian muncul di dalam hatinya. Seandainya sejak awal ia menuruti permintaan Lana, maka semua ini tidak akan terjadi. Seandainya saja sejak awal Lukas ada di samping Lana. Maka semua ini tidak akan terjadi.

__ADS_1


Seorang perawat keluar dari dalam ruang IGD. Wanita berseragam biru muda itu memandang wajah Lukas dengan tatapan yang sangat serius. “Tuan, Dokter ingin berbicara dengan anda,” ucap perawat tersebut.


Lukas mengangguk pelan. Pria itu melepas pelukannya dari tubuh Oliver. “Oliver, jagoan Daddy. Apa kau mau membantu Daddy?” ucap Lukas dengan wajah menyakinkan.


“Ya, Daddy,” jawab Oliver cepat.


“Kau harus pulang dengan mereka. Ambilkan pistol Daddy yang ada di laci kamar. Apa kau ingat dimana Daddy meletakkannya?” perintah Lukas pada anak pertamanya.


Satu hal yang cukup aneh saat mendengar seorang ayah memberi perintah seperti itu kepada anak berusia lima tahun. Tapi, memang seperti ituselama ini Lukas mendidik anaknya. Sejak keci ia sudah mengajari Oliver mengenal senjata api maupun senjata tajam. Bahkan tidak jarang pria tangguh itu mengajari putranya cara menggunakannya.


“Baik, Daddy,” jawab Oliver mantap. Setelah mendaratkan kecupan sayang di pipi kanan Lukas, Oliver memutar tubuhnya. Anakkecil itu berjalan cepat meninggalkan ayah tercintanya sendiri di sana.


“Kami permisi dulu, Bos,” ucap sebagian pasukan Gold Dragon. Mereka segera berjalan untuk mengikuti bos kecil yang sudah lebih dulu melangkah di depan.


Lukas menghela napas sebelum masuk ke dalam IGD. Hatinya tidak lagi tenang. Pria itu belum sanggup jika mendengar berita buruk di dalam IGD nantinya.


***


“Tuan, kami harus mengangkat rahim dan janin yang ada di dalam kandungan Nyonya Lana.” Dokter itu memberikan kode kepada perawat yang ada di sampingnya untuk meminta persetujuan Lukas. Ada surat yang harus di tanda tangani Lukas sebelum proses operasi di lakukan.


Lana yang masih bisa mendengar jelas apa yang di bicarakan Dokter itu dan Lukas mulai membuka mata. Ia menolak rencana pengangkatan itu. Lana tidak mau anak keduanya pergi meninggalkannya. Dengan gerakan cepat ia menarik lengan jas Lukas. Air mata mulai menetes di pipinya dengan begitu jelas.


“Jangan lakukan itu. Aku mohon, jangan ambil anakku,” ucap Lana dengan nada yang sangat lirih.


“Berikan kepada saya surat pernyataan tersebut. Saya akan menandatanganinya segera,” ucap Lukas dengan hati yang cukup berat.


“Jangan, aku mohon jangan,” teriak Lana dengan suara yang serak. Sebisa mungkin ia berontak dan menghalangi Lukas. Namun, usahanya seakan sia-sia saat Lukas tidak merespon sedikitpun permohonannya.


“Maafkan aku, Lana,” ucap Lukas sambil memandang surat pernyataan yang kini ada di genggamannya. Secara perlahan Lukas membuka tutup pulpen lalu melekatkannya di kertas yan harus di tandatangani. Hatinya perih seperih hati Lana saat ini.  


Momen kebahagiaan saat mereka mendapat kabar kehamilan Lana seakan menghantui. Wajah tertawa dan bahagia mereka. Bayang-bayang seorang bayi mungil yang akan mereka temui enam bulan lagi seakan hilang begitu saja. Satu tetes air mata jatuh tertahan saat Lukas mulai mengukir tanda tangannya.


Di sampingnya masih terdengar jelas teriakan Lana yang berontak karena tidak ingin bayi yang ia  kandung di ambil. Tangisan Lana yang terdengar lirih seakan mengiris perih di dalam hati Lukas.


Beberapa perawat yang ada di ruangan itu mulai menenangkan Lana. Mereka menyuntikkan obat penenang ke  dalam tubuh Lana agar wanita itu tidak berontak lagi. Lukas memberikan surat yang baru saja selesai ia tanda tangani. Sekuat mungkin ia menekan kesedihan yang kini ia rasakan.


“Sayang, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu,” ucap Lukas sambil memeluk tubuh Lana.


“Aku ingin anak kita. Aku tidak ingin kehilangannya,” ucap Lana berulang kali sambil melampiaskan tangisannya. Berulang kali ia memukul dada Lukas karena marah. Hatinya benar-benar terluka saat itu. Lama kelamaan, obat yang telah di suntikan mulai bereaksi. 

__ADS_1


Secara perlahan, Lana mulai kehilangan kesadarannya. Hanya tubuh Lukas yang ia rasakan. Kehangatan tubuh pria itu sedikit menenangkan hatinya sebelum ia memejamkan mata dan tidak lagi sadarkan diri.


“Maafkan aku, Lana,” bisik Lukas  lagi. Pria itu membaringkan Lana kembali di atas tempat tidur. Ia menatap para perawat dan dokter yang akan segera membawa Lana ke ruang operasi. 


Tidak ada kalimat yang terucap dari bibir Lukas lagi. Pria itu berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Walau wajahnya terlihat tenang dan tegar, tapi tidak dengan hatinya. Karena saat itu, hati Lukas menangis perih. Kejadian ini merupakan kejadian paling menyedihkan yang pernah singgah di dalam hidupnya. Mungkin saja juga akan menjadi kejadian yang tak terlupakan seumur hidupnya.


Satu tangannya terkepal kuat. Lukas berjalan terus menelusuri lorong rumah sakit tanpa tahu kemana tujuannya kini akan melangkah. Lukas seperti orang yang tidak memiliki tujuan hidup. Dari sekian masalah yang pernah singgah di dalam hidupnya. Detik ini adalah masalah yang paling buruk hingga membuatnya terpuruk.


Bayang-bayang tangisan Lana saat wanita itu memohon seakan memenuhi isi pikirannya. Lukas berhenti di pinggiran balkon. Pria itu memandang ke arah langit. Ia memejamkan mata. “Maafkan aku, Lana. Maafkan aku ....”


***


“Sejak saat itu, Lana seperti bukan Lana yang kami kenal. Ia murung bahkan tidak mau bersikap ramah terhadap Oliver. Sedangkan Lukas sibuk mengurus musuh-musuh yang terus mengincar nyawa mereka. Daddy mu juga sudah mengirim orang  bahkan kadang sudah turun langsung untuk mengatasinya. Tapi, saat itu masa tersulit bagi semua orang. Hingga akhirnya Lukas meminta kami untuk merawat Oliver. Oliver datang ke rumah ini. Sejak saat itu ia mulai menyayangimu. Dia menjagamu layaknya adik yang ia miliki. Begitu juga dengan Jordan.”


Katterine menghapus air mata yang sempat menetes. Cerita yang  baru saja ia dengar merupakan cerita yang begitu menyayant hati.


“Mom, lalu bagaimana dengan Letty?”


“Saat melakukan sebuah pertarungan, Tante Lana bertemu dengan Letty. Ia seperti menemukan anaknya yang sempat pergi. Tante Lana sangat menyayangi Letty. Letty seperti cahaya terang yang membuat keadaan menjadi jauh lebih baik.”


“Letty dan Oliver tidak sedarah. Apa mungkin Tante Lana pernah berpikiran untuk menjodohkan mereka?” 


“Tentu saja tidak. Kau jangan berpikiran seperti itu. Oliver mencintaimu. Letty hanya sekedar menyayangi Oliver.” Emelie mengusap rambut putrinya. Ia tidak mau putri kesayangannya itu salah paham. Sedangkan Katterine hanya diam sambil membayangkan betapa berharganya Letty. Ia tahu alasan Lana selama ini tidak mau menghukum Letty walau bersalah.


Emelie mengambil remot televisi. Wanita itu ingin melihat kabar hari ini. Saat pertama kali melihat layar televisi, mereka berdua di kagetkan dengan kabar yang begitu mengejutkan.


Kecelakaan hebat yang menimpah pengusaha ternama bernama Roberto. Mobil pria itu masuk ke jurang dan berakhir di dalam lautan. Hingga saat ini pihak kepolisian masih berusaha menyelidiki keberadaannya. Namun, melihat begitu tragisnya kecelakaan yang dialami Roberto membuat semua media menyatakan kalau Roberto tidak akan selamat.


Katterine menutup mulutnya dengan tangan. Wanita itu tidak percaya kalau usia Roberto sesingkat itu. Baru saja kemarin mereka bertemu dan pria itu tersenyum kepadanya.


"Mom, ini tidak mungkin. Pasti ada yang salah."


"Sayang, tenanglah. Jika kau panik mommy juga bingung."


"Mom, kejadiannya tadi malam. Itu saat Roberto kembali ke rumahnya."


"Sayang, tenanglah. Kita akan ceritakan masalah ini bersama dengan Daddy dan Oliver. Sekarang kau tenang ya."


Emelie kenal Roberto. Pria itu berulang kali muncul di istana Cambridge hanya untuk mencari perhatian Katterine. Emelie juga tahu kalau Roberto pria baik yang tulus mencintai putrinya. Namun, Emelie dan Zeroun tidak pernah mau memaksa Katterine memilih Roberto. Cinta ada di tangan Katterine.

__ADS_1


Kabar yang siang itu mereka terima tentu saja sangat mengejutkan. Di tambah lagi Roberto kecelakaan di tempat yang jauh dari lokasi rumahnya. Daerah perbukitan yang dikelilingi oleh lautan yang begitu dalam. Bukan hanya itu saja. Lautan di sana juga terkenal dengan ombak yang begitu mematikan.


"Roberto, kita tidak pernah memiliki kecocokan. Tapi aku tidak mau kau celaka seperti ini," gumam Katterine di dalam hati.


__ADS_2