
Leona terbangun saat merasakan panas matahari sudah memenuhi seisi kamarnya. Tubuhnya berkeringat. Aleo sengaja mematikan AC di kamar wanita itu. Dengan kepala masih sedikit pusing, ia duduk di atas tempat tidur. Leona kembali ingat kalau keberadaanya di dalam kamar karena ulah sang ibu. Satu tangan Leona mengusap pelipisnya sambil memijatnya pelan.
“Jika mama sampai benar-benar turun tangan, ini bisa kacau. Aku tidak mau mama tahu,” gumam Leona di dalam hati dengan wajah frustasi.
“Masih sakit?” ucap seseorang dari arah sofa.
Leona memandang wajah sang pemilik suara. Kepalanya kembali menunduk saat melihat wajah Aleo di sana. “Sejak kapan kakak ada di situ?” tanyanya masih dengan wajah jutek.
Aleo beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu berjalan pelan mendekati tempat tidur Leona. “Apa lagi kesalahan yang sudah kau lakukan sampai mama meminta kakak dan papa memperketat penjagaan rumah?” Aleo duduk di pinggiran tempat tidur. Ia memandang wajah Leona dengan tatapan penuh tanya.
Leona menggeleng pelan. “Aku yang salah. Tidak seharusnya aku mengatakan akan pergi lagi,” ucap Leona dengan suara pelan.
Aleo menghela napas. Pria itu memandang ke arah depan. “Apa masalahmu belum juga selesai? Sebenarnya masalah apa yang ingin kau selesaikan hingga waktu bertahun-tahun tidak cukup untuk menyelesaikannya? Leona, kakak sudah mengalah untuk tidak pergi keluar negeri hanya demi masalah yang ... sebenarnya kakak sendiri gak tahu sampai sekarang. Bentuk permasalahannya,” ucap Aleo dengan wajah serius.
“Kak, aku akan menceritakannya jika saatnya telah tiba nanti,” ucap Leona pelan. Tidak tahu kenapa, Leona masih ragu untuk menceritakan Queen Star kepada Aleo. Ia tahu kalau Aleo sangat dekat dengan Serena. Setelah ia bercerita, pasti berita rahasia itu akan segera sampai ke telinga sang ibu.
“Leona, kau tahu kalau nanti malam kita akan kedatangan tamu?” ucap Aleo dengan wajah serius.
Leona mengangguk pelan. “Ya. Teman bisnis papa kan?” ucap Leona untuk kembali memastikan.
__ADS_1
“Sebenarnya bukan rekan bisnis. Tamu kita yang akan datang kali ini adalah tamu penting. Mereka sahabat terdekat papa sepertinya. Sahabat lama gitu,” ucap Aleo pelan.
Leona mencari-cari ponselnya yang mengeluarkan suara namun tidak tahu dimana keberadaannya. “Kak, dimana ponselku?”
Aloe membuka laci dan memberikan ponsel Leona. Pria itu melirik sekilas password hp Leona. Selama ini Leona tidak pernah mengunci layar ponselnya dengan fassword. Tapi, sejak wanita itu terjun ke dunia mafia. Leona semakin waspada dan ia sangat menjaga segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia mafianya.
Leona menerima ponsel tersebut dengan ragu-ragu. Ada nomor baru di layar ponselnya dengan kode milik Queen Star. Wanita itu menatap wajah Aleo dengan tatapan yang dipenuhi keyakinan. “Kak, teleponnya sedikit privasi dan ....”
“Ok Ok, kakak akan keluar,” ucap Aleo cepat. Pria itu beranjak dari tempat tidur Leona. Ia mengacak-ngacak rambut Leona. “Satu hal yang harus kau tahu, Leona. Kakak sangat menyayangimu. Begitu juga dengan mama dan papa.”
Leona mengangguk pelan dengan tangan yang sudah mengangkat telepon. Wanita itu melekatkannya di telinga sambil memandang kepergian Aleo menuju ke arah pintu. Sorot mata Leona berubah tajam ketika pintu kamarnya kembali tertutup dan Aleo hilang di balik pintu tersebut.
“Bos, kita mendapat target baru dengan nilai yang sangat fantastis,” ucap lawan bicara Leona di dalam telepon.
“Apa kau ini waras? Kau membicarakan misi saat aku ada di rumah ini,” protes Leona dengan suara tidak suka.
“Terget kita ada di Sapporo, Bos. Mereka akan tiba nanti sore,” ucap pria itu lagi. “Mereka berani bayar dengan jumlah lima kali lipat dengan harga normal.”
Leona tidak tertarik dengan nominalnya. Selama ini memang ia tidak mengincar uang. Semua hanya untuk kesenangan semata. Yang buat Leona tertarik adalah misi yang baru saja di tawarkan kepadanya.
__ADS_1
“Siapa?”
“Mereka berasal dari keluarga kerajaan Cambridge.”
***
Aleo turun dari tangga. Pria itu melihat Serena yang sedang menata bunga di meja yang ada di depan pintu masuk. Bibirnya mengukir senyuman. Aleo semakin cepat mendekati Serena. Pria itu terlihat sangat tertarik dengan tamu yang akan berkunjung nanti malam.
“Ma, dimana papa?” ucap Aleo sambil mengambil beberapa rangkaian bunga dan ikut bergabung dengan Serena untuk merangkai bunga tersebut. “Mama suka bunga mawar merah. Setiap bunga mawar bermekaran di kebun belakang, mama selalu cepat menggantinya dengan yang baru.”
“Papa ada di depan bersama dengan pengawal,” jawab Serena masih dengan tatapan fokus ke bunga yang ia tata dengan indah.
Aleo memandang wajah Serena ragu-ragu sebelum melanjutkan kegiatannya. “Ma, ada apa dengan Leona? Mama marah sama Leona?” ucap Aleo tanpa memandang.
“Mama hanya ingin dia ada di depan mata mama untuk saat ini. Dia sudah terlalu tua untuk bersenang-senang seperti itu. Dia selalu bilang demi percintaannya. Tapi ... hingga detik ini Leona tidak pernah membawa pria yang ia cintai tersebut,” ucap Serena dengan wajah kesal.
“Ma, jangan marah-marah.” Aleo mengukir senyuman manis. “Ma, biar Aleo yang menjaga Leona. Mama jangan pikirkan Leona ya. Kita tidak harus mengurung Leona di rumah seperti ini. Biar Aleo yang akan menemani Leona jika dia ingin berjalan-jalan keluar rumah. Aleo jamin, Leona tidak akan kabur,” ucap Aleo dengan wajah menyakinkan.
Serena memandang wajah Aleo sekilas sebelum melanjutkan kegiatannya. “Kali ini, jika ia benar-benar kabur. Mama akan turun tangan langsung untuk menangkapnya dan memberinya hukuman,” ucap Serena dengan wajah tegas.
“Aleo takut, Ma. Mengingat mama adalah katua mafia yang cantik dan cukup menggemaskan.” Aleo menghentikan ucapannya saat Serena kini memandangnya dengan tatapan tanpa berkedip. Membuat Aleo menyeringai sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aleo hanya takut kalau mama marah dan jatuh sakit. Tidak ada yang lain yang Aleo pikirkan, Ma. Aleo sayang sama mama,” ucap Aleo dengan wajah bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Serena mengukir senyuman. “Maafkan mama.” Wanita itu memeluk tubuh kekar Aleo. Ia menyandarkan kepalanya untuk melampiaskan rasa lelah dan takut yang kini ia rasakan. Ia tidak ingin kedua anaknya pergi lagi. Hanya itu saja. Permintaan sederhana yang pasti selalu di miliki seluruh ibu di dunia ini.