
"Akhirnya dia datang juga."
Katterine mengukir senyuman ketika pria yang sudah ia persiapkan muncul di ruangan tersebut. Wanita itu pergi meninggalkan Robert begitu saja.
"Mau ke mana?" ucap Roberto sambil menahan langkah Katterine. Pria itu memegang pergelangan Katterine untuk menahan wanita itu agar tidak pergi. "Kita belum selesai berbicara."
Katterine melepas tangan Roberto secara perlahan. Ia mengukir senyuman kecil. "Ada yang harus aku lakukan. Robert senang bertemu denganmu, tapi maaf karena aku tidak bisa berlama-lama ada di dekatmu," ucap Katterine kepada Roberto. Ia berharap kalau pria yang kini ada di hadapannya mau mengerti dan segera melepaskan genggamannya.
"Katterine, tapi ...."
Tiba-tiba saja Oliver muncul. Pria itu menatap wajah Roberto dengan tatapan yang sangat tajam. Ia melirik tangan Roberto yang sudah berani menyentuh Katterine sembarangan. Tanpa mengatakan apapun, Oliver berhasil membuat Roberto melepas genggamannya. Pria itu berdiri tegap sambil merapikan penampilannya.
"Putri Katterine, apa dia kekasih Anda?" tanya Robert penasaran.
"Tidak!" jawab Katterine mantap. Ia segera melanjutkan langkah kakinya. Putri kerajaan itu ingin menemui pria yang sudah ia persiapkan untuk membuat Oliver cemburu. Bahkan kado yang sejak tadi ia bawa ia letakkan begitu saja di atas meja. Katterine ingin melangsungkan rencana yang sudah ia persiapkan di istana tadi.
"Alex, kenapa kau lama sekali," ucap Katterine dengan suara berbisik.
"Putri, tolong jangan lakukan ini. Pria itu sangat menyeramkan," ucap Alex sambil memandang wajah Oliver yang kini menatapnya dengan tajam.
"Tenang saja. Kau akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu," ucap Katterine dengan wajah yang menyakinkan.
"Tapi, putri ...."
Katterine menggandeng lengan Alex. Lengan pria itu jauh berbeda dengan Oliver. Tapi, Katterine merasa nyaman jika kini menggunakan pria itu untuk membuat Oliver cemburu. Katterine membawa Alex untuk bertemu dengan Oliver yang saat itu berdiri mematung.
"Oliver, perkenalkan. Ini Alex. Kami sangat dekat akhir-akhir ini. Sayang sekali kalau hingga detik ini ia tidak juga menyatakan cintanya kepadaku," ucap Katterine asal saja.
__ADS_1
Oliver memandang wajah Alex tanpa berkedip. Pria itu terlihat memikirkan sesuatu. "Ada yang aneh. Apa dia sengaja melakukan semua ini? Tapi, untuk apa?" gumamnya di dalam hati.
"Alek, perkenalkan. Dia adalah Oliver. Pengawal setia yang memiliki tugas untuk menjagaku dari bahaya," ucap Katterine dengan senyuman.
Alex mengangkat tangannya yang sejak tadi gemetar. Pria itu ingin bersalaman dengan Oliver untuk saling berkenalan. Keringat berkucur deras membasahi wajahnya. Alex tidak sanggup untuk bersalaman dengan Oliver. Ia merasa sangat takut.
Oliver memandang tangan Katterine yang merangkul lengan Alex dengan mesra. Pria itu membalas ukuran tangan Alex dan merema*snya dengan sangat kuat.
"Aku harap kau masih bisa menggunakan kedua tanganmu dengan baik besok pagi!"
"Eh?" celetuk Alex semakin ketakutan. Pria itu segera melepas lengan Katterine dan melangkah mundur untuk menjauh.
"Tuan, jangan salah paham. Putri yang memintaku untuk melakukan semua ini. Jangan hukum aku." Alex mengatupkan kedua tangannya dengan wajah ketakutan. Masih terlihat jelas bagaimana tubuh pria itu gemetar.
"Alex, apa yang kau katakan?" protes Katterine kesal.
Katterine terlihat kesal. Ia memandang wajah Oliver sejenak sebelum memutar tubuhnya. Katterine memutuskan untuk pulang. Wanita itu tidak bersemangat lagi ada di lokasi pesta. Rencananya gagal total bahkan di saat ia belum memulainya sama sekali.
Oliver segera berlari mengejar Katterine. Hingga detik ini, pria itu masih belum bisa memahami jalan pikiran Katterine. Oliver mengepal kuat tangannya dan siap memarahi Putri Cambridge itu di dalam mobil.
***
Di sisi lain. Leona terlihat gelisah dengan tidurnya. Wanita itu miring ke kanan dan miring ke kiri. Sudah berulang kali ia ganti posisi namun tidak juga menemukan posisi yang pas.
"Kenapa aku selalu saja terbangun seperti ini!" protes Leona terhadap dirinya sendiri. Leona memandang ponselnya. Ia melihat jam yang sudah mau menunjukkan pukul lima pagi. "Seharusnya di Cambridge masih jam 8 malam. Apa yang kini ia lakukan?" gumam Leona di dalam hati.
Tiba-tiba saja ponsel Leona menyala. Nama Jordan muncul secara tiba-tiba di layar ponselnya. Pria itu seperti memiliki ikatan batin dan tahu kalau kini Leona sedang terbangun. Leona mengukir senyuman. Wanita itu meneguk air putih agar suaranya bisa terdengar dengan jelas. Sebelum akhirnya, ia melekatkan ponselnya dan menerima panggilan masuk Jordan.
__ADS_1
"Hallo, Jordan," sapa Leona pelan. Kedua matanya terpejam dengan wajah memerah. Hatinya bahagia walau saat itu hanya panggilan telepon saja yang ia dapatkan.
"Kenapa belum tidur?" tanya Jordan dengan suara yang lembut. "Apa kau memikirkanku?"
"Kenapa dia bisa tahu?" gumam Leona di dalam hati. "Aku sudah tidur. Karena kau menghubungiku, aku jadi terbangun," ucap Leona penuh kebohongan.
Jordan tertawa kecil. "Aku tidak bisa untuk berhenti memikirkanmu. Walau kedua mataku ini sudah sangat mengantuk," ucap Jordan penuh rayuan.
"Jordan, semakin lama kau semakin pandai merayu." Leona melihat jam yang masih menunjukkan pukul lima pagi. Ini pertama kalinya Leona terjaga di saat jam segitu. Biasanya ia masih mimpi indah di bawah selimutnya yang nyaman.
Jordan tertawa kecil. "Leona, waktu kita sulit menyatu. Ketika kau tidur aku terjaga. Sebaliknya. Aku harus benar-benar menghitung waktu yang tepat agar bisa berbicara denganmu. Ini cukup sulit. Apa kau tahu?"
"Ya, aku tahu." Leona memiringkan tubuhnya. Ia mengukir senyuman manis.
"Baby girl, bayangkan kalau kini aku ada di hadapanmu. Menatapmu dengan bibir tersenyum," ucap Jordan dengan suara yang pelan.
"Untuk apa aku melakukan hal seperti itu?" protes Leona bingung.
"Agar kau bisa tidur lagi. Bukankah ini masih terlalu cepat untuk bangun?" ucap Jordan dengan suara yang serius.
Leona mengeryitkan dahinya. Wanita itu menuruti perintah Jordan. Ia membayangkan kalau kini Jordan ada di sampingnya. Menemaninya di saat ia ingin tidur lagi. Namun, tiba-tiba saja Leona tersadar. Wanita itu memandang layar ponselnya.
"Matikan saja teleponnya, aku mau tidur," ketus Leona dengan suara sedikit meninggi. Ia tidak mau Jordan tahu kalau dirinya sempat terbuai akibat rayuan Pangeran Cambridge itu.
"Baiklah. Selamat tidur Babygirl ...."
Leona meletakkan ponselnya di atas bantal yang ada di hadapannya. Bibirnya mengukir senyuman manis. "Kenapa bisa seperti ini? Apa mungkin kini aku jatuh cinta lagi?"
__ADS_1