
"Jika cinta katakan saja. Untuk apa kau menjadi penonton di sini?" Letty menyenggol lengan Oliver. Mengedipkan sebelah matanya dengan tatapan meledek.
Oliver memandang wajah Letty sejenak sebelum memalingkannya ke arah lain. "Kau masih kecil. Jangan ikut campur urusanku!"
ketus Oliver dengan wajah tidak suka.
"Aku memang belum dewasa, tapi aku tahu sikap orang yang sedang jatuh cinta dan ... cemburu." Letty tertawa puas karena bisa meledek Oliver malam itu. Ia pergi meninggalkan Oliver dengan wajah bahagianya.
Lana berjalan mendekati Oliver. Wanita itu merasa ada yang aneh dengan hubungan putranya dan Katterine. Selama ini apapun yang ingin dilakukan oleh Katterine pasti selalu bersama dengan Oliver. Tapi, saat tadi Lana melihat Katterine berdansa dengan Miller ada rasa aneh di dalam hatinya.
"Oliver, apa semua baik-baik saja?" Lana menatap wajah Oliver dengan begitu serius.
"Mom, Oliver mau keluar."
"Tunggu?" Lana memegang lengan putranya. Ia menatap pria itu dengan mata menyipit. Melihat sifat Oliver yang berbeda, membuat Lana semakin curiga. "Kau marahan dengan Katterine?"
"Gak, Mom."
"Apa Katterine meninggalkanmu karena datangnya Miller?" sambung Lana lagi.
"Gak, Mom!"
"Jadi?"
Oliver memandang wajah Lana sejenak sebelum memandang Katterine dan Miller yang sedang berdansa. "Mom, Oliver butuh waktu untuk sendiri."
Lana menghela napas. Sebenarnya ia tidak rela jika putranya harus pergi di acara bahagia seperti ini. Tapi, dia tidak memiliki pilihan lain lagi. "Baiklah, jika itu yang terbaik."
Belum sempat Oliver melangkah pergi, tiba-tiba saja Leona datang menghampiri. Dengan gaun kepanjangan, Leona terlihat kesulitan berjalan mendekati Oliver.
__ADS_1
Setelah tiba di dekat Oliver, Leona mengukir senyuman kepada Lana. "Tante, putranya aku pinjam sebentar ya."
"Lama juga tidak masalah Leona sayang," jawab Lana dengan senyuman.
Leona memandang wajah Oliver. "Ayo kita dansa."
Oliver tertegun melihat Leona yang tiba-tiba saja merangkul lengannya. Dia juga memandang Jordan yang saat itu tertawa melihatnya. Oliver tidak bisa menolaknya. Leona memegang lengannya dengan kuat. Jika dia melepaskan pegangan Leona dengan paksa, maka Leona bisa terjatuh.
"Apa lagi sekarang? Kenapa Nona Leona mengajakku berdansa? Bagaimana kalau Pangeran salah paham?" gumam Oliver di dalam hati.
Jordan membawa Letty berdansa dengannya. Mereka semua berdansa untuk menikmati alunan musik yang sudah memenuhi arena. Setiap pasangan terlihat sangat kompak. Di tengah acara dansa, Miller menukar Katterine kepada Oliver, sedangkan pria itu ingin berdansa dengan Leona.
Jordan tertawa geli ketika melihat rencana Miller malam itu. Ia tidak menyangka kalau pada akhirnya Katterine dan Oliver bisa bersatu menjadi pasangan dansa.
"Leona, kenapa kau cantik sekali?" puji Miller dengan wajah kagum.
Leona mengukir senyuman. "Miller, apa kau bisa mengembalikanku kepada pangeranku lagi?"
Leona tertawa kecil. "Letty cantik dan dia sangat cocok denganmu," jawab Leona.
Jordan melirik wajah Miller dengan tatapan tajam. Hal itu membuat Miller tidak mau berlama-lama berdansa dengan Leona. Secepat kilat ia mengembalikan Leona kepada Jordan. Dan, mengambil Letty untuk menjadi pasangan dansanya.
"Sejak tadi aku berdansa dengan putri yang sangat cantik. Tapi, kenapa sekarang aku harus berdansa dengan monster seperti ini?" gumam Miller di dalam hati.
Letty sendiri terlihat kesal. Ia merasa sudah di jebak dan masuk ke dalam perangkap Leona dan Jordan malam itu. Tapi, malam ini adalah malam bahagianya Leona. Letty tidak ingin membuat wanita itu kecewa lagi.
Semua orang telah mendapatkan pasangannya. Bulan hanya yang muda saja. Para orang tua juga tidak mau kalah. Mereka semua berdansa dengan pasangan mereka masing-masing. Acara ulang tahun dan pertunangan Jordan memang berlangsung dengan meriah. Bahkan sebelum acara inti di laksanakan. Semua orang terlihat bahagia dan menikmati suasana yang ada.
Para pria memakai jas hitam dan wanita memakai gaun berwarna putih. Sangat kompak dan indah untuk di pandang.
__ADS_1
Katterine mengalungkan kedua tangannya di leher Oliver. Ia menatap pria itu dengan tatapan serius. Ia bahagia. Tapi ada rasa kesal di hatinya ketika melihat sikap Oliver yang begitu cuek kepadanya.
"Oliver, apa kau marah?" tanya Katterine pelan.
Oliver memandang wajah Katterine. "Aku tidak pernah bisa marah kepadamu. Kau pasti tahu itu."
"Karena tugasmu sebagai pengawal?" sambung Katterine lagi. Oliver hanya diam sambil melanjutkan dansanya dengan Katterine. "Oliver, kau harus menjadi dirimu sendiri. Pandangan aku seperti kau memandang wanita pada umumnya."
"Katterine, sebaiknya kita tidak membahas masalah itu disini."
Katterine memutuskan untuk mengunci mulutnya. Wanita itu berusaha sabar agar tidak terpancing emosi. Ia juga memahami situasi yang ada. Seharusnya semua orang bahagia. Bukan memasang wajah sedih.
Jordan dan Leona terlihat sangat bahagia. Mereka masih berpikir kalau semua ini mimpi. Sepertinya baru kemarin mereka bermusuhan, namun kini mereka sudah bersatu dalam ikatan cinta.
"Aku sudah bilang, kalau kau pasti akan menjadi milikku," bisik Jordan mesra.
Leona menjatuhkan kepalanya di dada bidang Jordan. "Aku sangat mencintaimu."
Jordan memeluk Leona dengan erat. Pria Itu mendaratkan kecupan sayangnya di pucuk kepala Leona. "Aku juga mencintaimu, Baby girl. Sangat sangat mencintaimu."
__ADS_1