
Semua telah kembali ke rumah masing-masing dengan hati yang bahagia. Leona dan Jordan terlihat bahagia ketika mereka mendapat kabar kalau Zean sudah berhasil melaksanakan rencananya. Tadinya Jordan ingin mengundang Zean datang ke istana. Tapi sayangnya pria itu sudah tidak ada lagi di Cambridge.
Leona dan Jordan duduk di sofa untuk beristirahat. Tadinya mau langsung masuk ke kamar, tapi ketika Katterine dan Oliver juga ada di sofa tersebut, mereka lebih tertarik untuk berbincang-bincang lebih dulu.
"Sepertinya kau perlu dokter untuk mengobati lukamu itu," ledek Jordan sambil memandang Oliver. Walau sudah tidak pakai topeng lagi, tali tetap saja bekas luka itu terlihat jelas di wajahnya.
"Hanya luka kecil, Pangeran."
"Beraninya kau membohongi semua orang!" Jordan menatap Katterine sejenak. "Tapi, bagus juga. Setidaknya pesta Alana dan Kwan berjalan lancar tanpa kekhawatiran. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana hebohnya lokasi pesta kalau semua orang tau apa yang akan kau lakukan."
"Maafkan kami, Kak." Katterine merasa bersalah karena sudah membohongi kakak kandungnya. Selama ini dia belum pernah menutupi apapun dari Jordan.
"Yang terpenting kalian kini baik-baik saja," sambung Leona dengan senyuman.
"Oh ya, sejak tadi aku tidak melihat Letty. Di mana dia?" Leona terlihat mencari. Ia tahu kalau Lana dan Lukas kembali ke Hongkong tanpa Letty. Tadinya Leona berpikir kalau Letty ikut mereka pulang ke Cambridge. Namun, hingga tiba di bandara wanita itu terlihat batang hidungnya.
"Nomornya tidak bisa dihubungi, Nona," jawab Oliver apa adanya.
"Mungkin dia bersama Miller," sambung Katterine dengan senyuman. Ia mendukung jika memang benar antara Letty dan Miller ada hubungan spesial.
"Tidak. Miller berangkat sendirian. Kami bertemu dan sempat cerita saat di bandara," ujar Jordan.
"Benarkah? Lalu, dia ke mana?" Leona semakin penasaran.
"Letty tidak suka menetap di satu tempat, Nona. Anda tidak perlu mengkhawatirkannya." Oliver tidak mau semua orang panik karena Letty. Sejauh ini musuh sudah tidak ada lagi. Seharusnya dimanapun Letty berada, dia akan baik-baik saja."
"Ya, kau benar. Tapi, aku sedikit penasaran dengan kedekatannya dengan Miller. Sejak kapan mereka menjadi akrab?" Kali ini Jordan yang ingin tahu karena sudah beberapa kali ia memergoki Letty berduaan dengan Miller.
"Kak, Letty ada di mana saja. Mungkin saja secara tidak sengaja mereka bertemu dan berteman," jawab Katterine.
"Kira-kira kalau Letty dan Miller pacaran, bagaimana jadinya ya?" Leona tersenyum membayangkan ketika nanti Letty jatuh cinta.
Semua orang terdiam memikirkan Letty dan Miller. Mereka tidak pernah menyangka kalau ternyata hubungan antara Letty dan Miller kini tidak baik-baik saja.
***
Miller berbaring di kamar tidurnya sambil membayangkan wajah cuek Letty. Hatinya tidak tenang setiap kali mengingat sikap Letty yang begitu dingin terhadap dirinya.
"Apa dia marah? Seharusnya dia mendengarkan penjelasanku lebih dulu. Tapi ... kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Kenapa juga aku harus menjelaskannya kepada Letty?"
Terkadang Miller merasa bersalah terkadang ia merasa benar. Miller sendiri belum pernah dekat dan jatuh cinta kepada wanita. Jadi, wajar saja kalau ia tidak tahu cara yang baik dan benar memperlakukan wanita itu bagaimana.
Miller duduk di atas tempat tidur. Ia kembali ingat dengan adiknya Natalie. Kali ini ia berharap besar kalau adiknya itu bisa memberikan solusi atas masalah yang ia hadapi. Dengan santai Miller meninggalkan kamar tidurnya menuju kamar Natalie.
__ADS_1
Miller tidak pernah merasa kesulitan untuk masuk ke dalam kamar adiknya. Natalie memang tidak pernah mengunci pintu kamarnya karena yang berani masuk ke dalam kamarnya tanpa izin hanya Miller seorang.
Ketika ada di dalam kamar Natalie, kamarnya terlihat kosong. Tapi ada suara orang mandi yang terdengar jelas. Suara air itu bercampur potongan-potongan lagu yang dinyanyikan oleh Natalie. Miller memutuskan untuk duduk di sofa santai yang ada di kamar Natalie. Kebetulan sekali ada potongan buah segar di atas meja yang siap untuk di lahap.
"Dia tidak akan marah jika aku memakannya, bukan?" Miller memakan potongan buah dengan begitu lahap. Hingga tanpa ia sadari potongan buah itu telah habis di piring.
"Kakak! Apa yang kakak lakukan pada buah-buahan ku!" teriak Natalie tidak terima.
Miller memiringkan kepalanya. Ternyata terlalu lama menunggu Natalie membuatnya tidak sadar sudah menghabiskan potongan buah milik adiknya.
"Kau bisa meminta pelayan untuk membuat yang baru."
"Buah itu di kirim langsung oleh temanku dari Jepang. Hanya itu yang tersisa."
"Benarkah?" tanya Miller ragu.
Natalie menghela napas dengan wajah kecewa. Ia menjatuhkan tubuhnya di samping Miller dan memandang sedih piring yang telah kosong.
"Maaf. Aku akan memesannya lagi."
"Kakak benar-benar menyebalkan. Kenapa kakak pulang?"
"Kau tidak suka kakak pulang?" Miller mengeryitkan dahinya.
"Apa kau tidak merindukan kakakmu ini? Eh?" Miller merangkul Natalie dengan wajah meledek. Pria itu menarik hidung adiknya agar tidak marah lagi. "Aku punya sesuatu untukmu."
"Benarkah?"
"Ya. Coba tebak apa yang aku bawa."
"Ehm ... tas keluaran terbaru?" jawab Natalie girang. Miller mengangguk pelan dengan wajah bingung. Sebenarnya ia tidak menyiapkan apapun untuk Natalie. Pertanyaan itu terucap agar Miller tahu apa yang sebenarnya diinginkan adik kandungnya.
"Ya. Tapi barangnya belum sampai."
"Kakak selalu saja mengerajiku!" Natalie memajukan bibirnya dengan wajah kecewa.
"Tidak lama lagi barangnya akan datang," jawab Miller penuh keyakinan.
"Ya, baiklah." Natalie memandang wajah Miller dengan tatapan menuduh. "Ada apa?"
"Ada apa?"
"Ya. Biasanya datang ke sini karena ada masalah," jawab Natalie dengan ekspresi wajah santai.
__ADS_1
Miller tersenyum manis. "Kau masih ingat Bella?"
"Bagaimana bisa aku melupakannya. Jika tanpa dirinya aku tidak akan hidup sampai sekarang."
Miller mengangguk setuju. "Dia mengumumkan tanggal pertunangannya kemarin."
"Benarkah? Siapa pria yang membuatnya jatuh hati?" Natalie sangat antusias saat itu.
"Aku."
Natalie tertegun mendengar jawaban Miller. Ia memandang ke depan dengan wajah bingung. "Dia meminta kakak agar mau menjadi suaminya? Menikah dengannya?"
Miller mengangguk. "Kau pasti tahu kalau aku tidak pernah mencintainya."
"Aku yang berhutang budi padanya. Kenapa dia tidak meminta balas budi kepada aku saja?" Natalie terlihat sedih ketika melihat kakak kandungnya tidak lagi memiliki pilihan seperti ini.
"Jangan dipikirkan. Yang penting sekarang kau sehat. Bisa tersenyum indah di hadapanku." Miller mengusap rambut Natalie.
"Tapi ini gak adil buat kakak."
"Kita pikirkan solusinya sama-sama."
"Mommy pasti bisa membantu."
"Tidak. Mommy justru mendukung Bella."
"Kak, mommy tidak akan mendukung Bella kalau kakak bisa menunjukkan wanita yang kakak cintai."
Miller terdiam. Mendengar perkataan Natalie lagi-lagi membuatnya teringat kepada Letty.
"Apa kau yakin?"
"Ya. Mommy bersikap seperti itu pasti hanya karena ingin melihat wanita yang kakak cintai saja. Mommy juga tahu kak kalau Bella bukan wanita yang tulus. Ia selalu meminta imbalan atas jasa yang ia lakukan."
"Kau benar, Natalie." Miller beranjak dari sofa.
"Kakak mau ke mana?"
"Masih ada waktu satu bulan untuk membatalkan pertunangan ini. Kakak akan kembali bersama dengan wanita yang lantas mendampingi kakak."
"Siapa wanita yang kakak maksud?"
Buat yang punya Aplikasi KB*M bisa mampir baca karya Author ya. Judulnya "Cinta Mati"
__ADS_1
Terima kasih❤️