Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Strategi Awal


__ADS_3

Jerman.


Leona dan yang lainnya telah tiba di Jerman. Setelah turun dari pesawat, mereka segera menuju ke markas yang sudah dipersiapkan oleh anggota Queen Star. Mereka tiba di Jerman setelah langit sudah gelap. Segala lokasi dan semua informasi mengenai The Devils sudah ada di tangan Leona. 



Malam itu, Leona duduk di sebuah meja sambil memperhatikan beberapa lembar foto dan berkas yang berisi segala informasi tentang The Devils. Leona membaca dan memahaminya dengan saksama. Ia tidak ingin penyerangannya kali ini gagal. Zean harus mati di tangannya atau, Leona tidak mau hidup lagi di dunia ini.


Jordan muncul di dalam ruangan yang ditempati Leona. Pria itu berjalan mendekati Leona. Ia membawa dua gelas minuman hangat dengan bibir tersenyum indah. “Malam ini sangat dingin,” ucap Jordan sebelum meletakkan minuman hangat itu di atas meja yang ada di dekat Leona. Setelah meletakkan minuman itu, Jordan berjalan ke arah balkon.


Leona memandang minuman itu sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Jordan. Ia memutuskan untuk menyudahi pengamatannya. Sebuah rencana sudah tersusun rapi di kepalanya. Leona hanya perlu menunggu matahari kembali muncul sebelum melakukan penyerangan di markas baru milik Zean Wick. Sambil menggenggam minuman hangat buatan Jordan, Leona berjalan mendekati Jordan. Wanita itu berdiri tepat di samping Jordan.  


“Selama ini, tubuhku selalu terasa dingin karena aku kehilangan hati dan ketulusan yang dulu aku miliki. Aku tidak lagi pernah merasakan nyaman dan hangat setelah malam itu,” ucap  Leona sambil memandang taburan bintang di langit.



Jordan memandang wajah Leona sejenak sebelum memandang ke arah depan. Pria itu meneguk minumannya secara perlahan. Ada ukiran senyuman kecil di sudut bibirnya. “Apa pelukan orang terdekatmu juga tidak bisa mengembalikan kehangatan yang hilang?” ucap Jordan tanpa memandang.

__ADS_1


Leona menggeleng pelan. “Rasanya berbeda. Jika Mama dan seluruh keluargaku selalu ada di dalam hatiku dan memberi kenyamanan. Tapi, saat pria asing selalu terasa berbeda. Seperti denganmu,” ucap Leona lagi.


Jordan tertawa kecil saat mendengar perkataan Leona. Ia tidak menyangka kalau tujuan utama permbicaraan Leona malam itu adalah dirinya. Semua kalimat itu untuk menyindir dirinya. “Leona, kau hanya sekali di sakiti. Bagaimana dengan orang yang berulang kali di sakiti, tapi tetap bangkit? Jika semua wanita di dunia ini seperti dirimu, maka dunia mafia akan di pimpin oleh wanita,” ucap Jordan lagi dengan ekpresi dingin di wajahnya.


Leona melirik Jordan dengan tatapan tajam. Wanita itu ingin protes. Namun, saat ia memikirkan apa yang dikatakan Jordan. Leona memutuskan untuk diam saja dan meneguk minuman hangatnya. “Sedikit pahit,” protesnya lagi.


Jordan memandang wajah Leona dengan satu alis terangkat. “Leona, sebenarnya kau ini wanita yang seperti apa?” Kali ini wajah Jordan benar-benar serius. Pria itu menatap Leona tanpa berkedip. “Kau memiliki pekerjaan sebelum menjadi mafia?”


“Aku?” Leona menunjuk dirinya sendiri sambil mengeryitkan dahinya. Ia menghela napas  sebelum membuang tatapannya ke arah lain. “Aku seorang model. Pembisnis juga. Tapi, aku sama seperti Kwan. Pembisnis yang gagal. Tidak seperti Kak Aleo dan Alana,” ucap Leona dengan ukiran senyuman kecil. Tidak tahu kenapa, ia ingin menceritakan tentang hidupnya kepada Jordan.


“Model?” celetuk Jordan dengan kepala mengangguk pelan. “Ya, kau memang pantas menjadi model. Kau memiliki tubuh yang indah dan wajah yang cantik.”


Jordan membuang tatapannya dengan bibir tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka kalau saat-saat seperti ini akan tiba. Dimana Leona tidak lagi marah dan mengusir dirinya. Jordan bahagia, bahkan berharap besar kalau hubungan mereka bisa maju pada tahap yang lebih baik.


***


Zean duduk di sebuah sofa sambil menopang dagunya dengan tangan. Pria itu menatap wajah bawahannya yang baru saja tiba. Pria bawahannya itu berlutut di hadapannya dan terlihat sangat ketakutan. Tubuhnya gemetar dengan keringat yang berkucur deras.

__ADS_1


“Bos, maafkan saya,” ucap pria itu lagi.


Zean masih diam sejak beberapa menit yang lalu. Pria itu tidak memberi respon sedang marah atau memaafkan.


Bawahan Zean muncul dengan kabar buruk. Tanpa sengaja ia membawa musuhnya ke markas. Zean sudah berpikir keras membangun markas tersembunyinya agar tidak diketahui siapapun termasuk Leona. Namun, kali ini karena kecerobohan bawahannya. Markas rahasia milik mereka harus diketahui keberadaannya. Satu hal yang membuat Zean kembali tertarik adalah Leona. Pria itu memikirkan pertemuannya dengan Leona nanti. Belum juga diserang, Zean sudah bisa membayangkan bagaimana tatapan kebencian Bos Queen Star tersebut.


“Kapan mereka tiba?” ucap Zean dengan suara dan tatapan yang sangat tenang.


“Beberapa jam yang lalu, Bos.” Pria itu memandang Zean dengan tubuh ketakutan. “Bos, maafkan saya. Saya tidak sengaja melakukan semua ini. Maafkan saya, Bos. Jangan hukum saya,” ucap pria itu dengan tatapan memohon. Kedua tangannya menyatu dan memohon ampun kepada Zean.


“Dia sendiri?” tanya Zean lagi.


“Nona Leona bersama dengan Kwan dan ....” Pria itu terlihat bingung.


Zean mengambil pistolnya dan memutar-mutarnya di hadapan pria itu sebagai bentuk ancaman. “Apa kau ingin berkata tidak tahu? Atau mau berkata lupa?” ucap Zean dengan tatapan tajam dan membunuh. Pria itu siap membunuh bawahannya kapan saja. Ia tidak suka di bohongi, apa lagi di khianati.


“Dengan seorang pria, Bos. Tapi, saya tidak tahu siapa pria itu. Pria itu menggunakan topeng,” jawab Pria itu dengan wajah semakin takut.

__ADS_1


“Pria bertopeng?”’ celetuk Zean dengan dahi mengeryit. Wajahnya benar-benar bingung. “Siapa pria yang kini dekat dengan Leona?” sambungnya lagi. Ada perasaan cemburu yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya. 



__ADS_2