Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Dijodohkan


__ADS_3

Jordan dan Katterine sudah ada di Cambridge. Adik kakak itu mulai melakukan aktifitas dan menyelesaikan tugas yang biasa mereka kerjakan sebagai Pangeran dan Putri. Suatu siang, Jordan melepas lelah atas tubuhnya dengan menonton televisi di sebuah ruangan berukuran luas. Sebenarnya ia memiliki televisi berukuran besar di dalam kamar. Tapi, tidak tahu kenapa setiap kali ingin menonton televisi, Jordan memilih duduk di ruangan tersebut.


Dari arah belakang, terdengar suara benturan high heels Katterine dengan marmer. Wanita cantik itu berjalan dengan begitu anggun mendekati sofa yang di duduki Jordan. Ia memandang keadaan sekitar untuk mencari keberadaan Oliver. Biasanya pria itu selalu saja ada di dekat Jordan saat Jordan sudah tiba di dalam istana.


“Kak, Mommy sama Daddy mau bicara sama kakak,” ucap Katterine sembari menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Jordan. Wanita itu mengambil remot yang ada di genggaman Jordan untuk mengganti saluran televisinya.


Jordan memandang ke arah televisi sekilas sebelum menghela napas. Pria itu beranjak dari kursi yang ia duduki menuju ke kamar yang di tempati Emelie dan Zeroun. Tidak tahu apa yang ingin di bicarakan kedua orang tuanya itu. Tapi, yang pasti ia kini sudah merasakan firasat yang buruk.


Katterine memandang punggung Jordan sebelum memandang ke arah televisi. “Kak Jordan baru saja berusia 27 tahun. Kenapa semua orang memaksanya untuk menikah?” gumam Katterine di dalam hati.


Jordan masuk ke dalam kamar Zeroun dan Emelie. Pria itu mengukir senyuman sebelum berjalan mendekati tempat tidur. Zeroun duduk di sofa sedangkan Emelie duduk di atas tempat tidur dengan posisi bersandar.


“Apa semua baik-baik saja?” tanya Zeroun tanpa memandang.


Jordan memandang ke arah Zeroun sebelum memandang wajah Emelie lagi. “Tentu saja, Dad. Semua berjalan dengan lancar. Aku sangat menikmati liburanku di Meksiko,” jawab Jordan sebelum menjatuhkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur. Ia memandang wajah Emelie dengan wajah bahagia. “Apa Mommy merindukanku?” ucap Jordan pelan.


Emelie mengukir senyuman sebelum memeluk Jordan. Wanita itu memang sangat merindukan Jordan sejak lama. Walau hanya berpisah satu hari saja pun ia sudah mengganggap perpisahan itu sangat lama.


“Jika Mommy tidak mengirim Katterine dan Oliver, apa kau akan tetap pulang?” tanya Emelie dengan wajah serius.


Jordan menghela napas.  “Tentu saja, Mom. Jordan kan sudah janji akan pulang. Tentu saja Jordan akan pulang jika memang waktunya sudah tiba,” jawab Jordan sambil meraih tangan Emelie. Pria itu mengecup tangan ibu tercintanya dengan hati penuh tanya. “Apa Mommy masih dengan pemikiran yang lama? Menjodohkanku dengan putri ... siapa namanya?” ucap Jordan dengan wajah pura-pura lupa.


“Putri Isabel,” jawab Emelie cepat.


“Hmm, ya. Putri Isabel,” jawab Jordan dengan wajah mulai tidak tertarik. Di dalam hatinya sudah di isi nama Leona. Tentu saja tidak ada lagi tempat untuk wanita lain di dalam hatinya.


“Jordan, kau harus segera menikah. Mommy dan Daddy sudah lelah mengurus Istana. Sudah saatnya kami menikmati masa tua kami. Kau harus menduduki posisi Raja agar bisa menggantikan posisi Daddy mu,” ucap Emelie dengan wajah bersungguh-sungguh. “Kau harus menikah secepatnya.”

__ADS_1


“Mom, Jordan tidak mau menikah.” Jordan meraih tangan Emelie dan mengusapnya dengan lembut. “Jordan sayang banget sama Mommy. Semua permintaan Mama akan Jordan kabulkan. Tapi, tidak untuk permintaan yang satu ini, Mom.” Jordan mengatur posisi duduknya. Pria itu menatap wajah Emelie dengan sungguh-sungguh. Ia ingin menolak permintaan sang ibu namun tidak ingin melukai hatinya.


Emelie memandang wajah Zeroun sebelum mengukir senyuman indah. Wanita itu mengusap lembut pipi putranya. “Percayakan sama Mommy. Pilihan mommy dan daddy tidak akan pernah salah, Jordan. Kau seorang pangeran. Kau sudah cukup lama bermain selama ini. Kau harus ingat dengan tanggung jawabmu. Kau harus menikah dengan wanita yang bisa menerima posisimu sebagai pangeran.”


Jordan menggeleng pelan “Mom, Mommy sendiri yang bilang. Suatu saat nanti, Jordan boleh memilih wanita yang Jordan cintai. Tidak memandang harta, tahta atau masa lalu wanita itu. Cinta sejati bisa merubah seseorang yang jahat menjadi baik. Merubah yang hitam menjadi putih. Merubah-”


“Tangis menjadi tawa. Tentu saja mommy masih ingat, Jordan,” sambung Emelie cepat.


Zeroun memperhatikan anak dan istrinya dengan wajah yang sangat tenang. Pria itu meraih foto wanita yang akan ia jodohkan dengan Jordan. Hanya dengan menunjukkan fotonya, maka semua masalah perdebatan ini akan selesai.


“Jordan, kau mau melihat foto calon istrimu?” ucap Zeroun sambil memberikan foto tersebut kepada Jordan. Setahu Zeroun, selama ini Jordan belum pernah melihat foto wanita yang ingin mereka jodohkan.


Jordan memalingkan wajahnya. Pria itu tidak tertarik dengan selembar foto yang kini di berikan oleh Zeroun. Emelie mengukir senyuman lalu meraih foto tersebut dari tangan Zeroun. “Wanita yang sangat cantik. Dia memiliki senyum yang indah dan wajah galak seperti Mommy,” ucap Emelie dengan wajah berseri.


“Wanita yang aku cintai juga cantik, Mom,” sambung Jordan cepat. Pria itu masih tidak mau memandang foto calon istrinya. Sebelumnya ia sudah menyelidiki wanita yang akan menikah dengannya nanti. Seorang putri dari kerajaan Belanda yang sangat cantik dan memiliki kecerdasan yang luar biasa. Bahkan bawahan Jordan sendiri juga sudah menunjukkan foto wanita tersebut padanya. Jordan tidak tertarik. Saat ini, di mata Jordan hanya Leona yang cantik dan hanya wanita itu yang mempesona.


Jordan memasang wajah bingung saat mendengar nama wanita yang ia cintai disebutkan oleh sang ayah. Pria itu memutar kepalanya lalu merebut paksa foto gadis yang dijodohkan dengannya. Bibirnya mengukir senyuman indah saat melihat wajah Eleonora yang ada di dalam foto.


“Leona,” ucapnya pelan dengan wajah berseri.


Emelie dan Zeroun saling memandang, “Kami akan menjodohkan Leona dengan Oliver saja. Bukankah kau tidak mau dengannya?”


“Mom, Oliver menyukai Katterine,” sambung Jordan cepat. Pria itu hanya menjawab asal saja untuk mengurungkan niat kedua orang tuanya agar tidak menjodohkan Leona dengan Oliver.


“Kate?” celetuk Emelie dan Zeroun bersamaan.


Jordan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Mungkin saja,” jawabnya pelan.

__ADS_1


Emelie menarik telinga Jordan. “Sejak kapan kau suka menyebarkan berita palsu.”


“Mom, dari mana mommy tahu kalau saat ini Jordan menyukai Leona? Apa mommy dan daddy mengirim orang untuk mengikuti Jordan?” protes Jordan dengan wajah serius. “Dan ... Leona. Dia pemimpin mafia, Ma. Mama setuju jika Jordan menikah dengan wanita bar bar seperti ini,” ucap Jordan lagi penuh keyakinan.


“Tidak ada yang salah dengan mafia,” ucap Zeroun cepat.


Emelie memandang wajah Zeroun dengan senyuman penuh arti. “Terkadang seseorang dengan pekerjaan yang selalu di pandang buruk, belum tentu memiliki hati yang buruk juga. Justru seseorang yang biasa di pandang terhormat, kebanyakan memiliki hati yang buruk.”


Jordan mengeryitkan dahi. Ia merasa ada yang aneh dari sikap kedua orang tuanya. “Mom, tapi bagaimana dengan pihak istana ini. Semua tidak akan semudah ini jika mereka tahu kalau calon istriku seorang ketua mafia. Di tambah lagi ia akan menjadi Ratu Cambridge nantinya,” ucap Jordan dengan wajah bingung.


“Pikirkan cara agar dia mau menerimamu, Jordan. Jangan pikirkan tentang istana ini,” sambung Zeroun cepat.


Jordan memandang wajah Zeroun dengan saksama. “Daddy benar. Aku harus bisa membuat Leona jatuh hati padaku. Tapi, dimana aku bisa menemukannya?” tanya Jordan lagi.


“Soal itu, biar Mommy dan Daddy yang urus,” ucap Emelie dengan satu kedipan mata.


Jordan mengukir senyuman bahagia. “Mommy memang yang terbaik,” ucap Jordan bahagia.


“Lalu, Daddy?” ucap Zeroun cemburu.


“Bukankah anak Daddy, Katterine? Apa Daddy tahu kalau Katterine bisa membawa mobil?” ucap Jordan sambil mengingat kembali cerita yang dikatakan Oliver. “Mobil sport, Dad. Dia bahkan berhasil mengimbangi kecepatan mobil Jordan dan Oliver,” ucap Jordan dengan suara yang meninggi.


Emelie memandang wajah Zeroun dengan tatapan penuh selidik. Belum sempat Emelie mengeluarkan kata, Zeroun dengan cepat memotong pembicaraan wanita itu. “Jordan, bakat seperti itu memang harus dimiliki Katterine agar dia bisa menyelamatkan dirinya jika dalam kondisi berbahaya,” jawab Zeroun tanpa bersalah.


Emelie menghela napas.  “Sayang, apa kau melatih Katterine menembak dan memukul juga?”


Zeroun mengangkat kedua bahunya dengan senyuman manis miliknya.

__ADS_1


__ADS_2