
“Clara, apa kau baik-baik saja?” tanya Leona hati-hati ketika sudah tiba di kamar perawatan Clara. Dengan tubuh tertutup selimut, Clara memandang keluar jendela yang ada di dekatnya. Secara perlahan ia beranjak dari sana dan duduk di atas tempat tidur.
“Leona.”
“Bagaimana kabarmu?”
“Sangat buruk. Pengalaman terburuk yang belum pernah aku alami sebelumnya,” lirih Clara dengan wajah sedihnya. “Mereka memperlakukan wanita layaknya mainan yang bisa di pinjamkan kepada siapa saja. Menganggap nyawa manusia ada di genggaman tangan mereka layaknya Tuhan. Manusia seperti apa mereka, Leona? Aku tidak mau bertemu dengan mereka lagi.”
Leona segera memeluk Clara. Ia tahu kalau trauma Clara tidak bisa di hilangkan begitu saja. Apa lagi hal ini baru saja terjadi pada hidupnya.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka sampai mengenalmu?”
“Aku juga tidak tahu. Mereka muncul saat itu berusaha melupakan Kak Aleo. Kau pasti tahu kalau Kak Aleo memilih Tamara daripada diriku.”
“Clara, walau begitu kau tetap sahabat terbaik Kak Aleo.”
“Entahlah. Aku merasa kesulitan bersahabat dengannya. Aku takut cemburu dan sakit hati, Leona.”
“Baiklah, setelah ini kau ingin tinggal di mana? Apa kau mau tinggal sendirian di rumahmu? Kau tidak takut?”
“Tentu saja aku akan pulang. Tapi … aku tidak pulang sendirian. Semoga saja Zean mau menjadi pengawalku.” Clara tersenyum malu-malu ketika membayangkan wajah Zean yang tangguh.
“Tunggu. Kau ingin menjadikan Zean pengawal?” tanya Leona tidak percaya.
“Ya. Bukankah dia juga pengawal kalian? Dia pengawal S.G. Group bukan?” Clara menatap wajah Leona untuk menagih kejelasan.
Leona terdiam. “Apa Zean sengaja menyembunyikan statusnya? Jika memang benar seperti itu, aku tidak bisa menceritakan yang sebenarnya,” gumam Leona di dalam hati.
“Leona, apa kau keberatan melepaskan satu pengawalmu? Aku butuh Zean. Aku akan membayarnya jauh lebih besar daripada kalian.”
“Hmm, soal itu. Aku serahkan kepada Zean.” Leona tersenyum.
Clara menghela napas. “Semoga saja Zean mau bekerja denganku. Aku akan membalas segala kebaikan yang sudah ia lakukan kepadaku.”
Leona hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Mungkin ini urusan Zean dan Clara. Sebaiknya aku tidak ikut campur. Yang terpenting mereka sudah selamat.”
“Leona, ada dua wanita yang bernasip sama denganku. Apa kau bisa membebaskan mereka? Mereka sangat menyedihkan. Harus menjadi alat untuk membuat pria tua bangka itu kaya. Aku tidak tega membayangkan hidup mereka nantinya.”
“Dua wanita?”
“Ya, namanya Anne dan Sarah. Mereka kakak adik. Leona, bayangkan saja jika mereka saudara kita. Kau terlihat mudah berada di wilayah ini. Tolong mereka ya. Please ….”
“Baiklah. Aku akan bicarakan soal ini dengan Jordan.”
“Terima kasih, Leona.” Clara memeluk tubuh Leona dengan erat. Ia berharap besar kalau Leona bisa menyelamatkan Sarah dan Anne agar dua wanita itu bisa hidup bebas seperti dirinya.
***
Sore harinya. Semua orang berkumpul kecuali Clara. Wanita itu masih harus menghabiskan beberapa botol infuse agar keadaannya benar-benar membaik sebelum melakukan perjalanan nantinya. Leona sudah menceritakan permintaan Clara. Di saat yang bersamaan, Zean juga bilang akan memberi pelajaran kepada Cosa Nostra karena sudah membuat pengawal setianya tewas. Walau terkesan menyerang tanpa sebab, tapi mereka harus melakukannya. Queen Star dan Gold Dragon tidak akan tinggal diam jika The Devil berada dalam masalah.
“Kapan?” celetuk Leona.
“Malam ini. Sebelum berangkat aku ingin meratakan mansion mereka. Terutama tempat perlelangan para wanita itu. Membebaskan wanita yang sudah menjadi sandreaan mereka dan memusnahkan pria tua itu agar kasus yang sama tidak terjadi lagi,” jawab Zean mantap.
“Harus ada yang menjaga Clara dan Ben,” ujar Oliver yang seolah tahu jalan pikiran musuhnya saat ini.
__ADS_1
“Kita tidak bisa membiarkan mereka berdua ada di sini. Sebelum melakukan penyerangan, pastikan Ben dan Clara sudah ada di pesawat,” jawab Jordan memberi solusi.
“Ya. itu ide yang bagus!” Zean terlihat setuju. “Aku juga tidak mau mereka dalam bahaya lagi.”
“Baiklah. Aku akan atur semuanya dari sekarang.” Oliver berdiri dari kursinya. Ia harus mengatakan strategi mereka kepada pasukan yang ia miliki.
“Aku juga ingin menemui Clara dan Ben.” Zean juga beranjak.
Leona menatap wajah Zean dengan serius. “Kau berpura-pura menjadi pengawal S.G. Group untuk mendekatinya? Atau … ada alasan lain?”
“Hei, dia yang memandangku seperti itu sejak awal. Aku tidak mengatakan apapun padanya,” sangkal Zean dengan wajah malu-malu.
“Benarkah?” sambung Jordan yang juga tidak percaya.
“Soal itu jangan bahas sekarang. Aku akan menjelaskannya sendiri kepada Clara ketika nanti keadaan sudah aman.”
“Baiklah. Sekarang cepat temui Clara dan katakan apa rencana kita. Waktu kita tidak banyak.”
Zean melangkah pergi meninggalkan Jordan dan Leona. Oliver juga sudah tidak ada di sana. Sambil berjalan, Zean kembali memikirkan perkataan Leona. Ada rasa aneh di hatinya. “Kenapa sejak awal aku tidak mengatakan yang sebenarnya kalau aku bukan pengawal S.G. Group. Kenapa aku senang ia memandangku seperti itu?” gumam Zean di dalam hati. Ia melihat pintu ruangan Clara dengan ragu. Entah kenapa ia tidak bisa bersikap sewajarnya saja saat ini.
Pintu terbuka lebih dulu. Ben berdiri di sana dan memandang Zean. “Paman.”
“Ben, kau mau ke mana?”
“Tante Clara memintaku untuk memanggil paman.”
“Benarkah? Baiklah. Paman akan masuk.” Zean masuk ke dalam. Sedangkan Ben lagi-lagi memutuskan pergi karena tidak mau menjadi pengganggu di dalam sana.
Clara yang sedang membaca majalah tersenyum melihat Zean. Ia meletakkan majalahnya di atas meja. “Cepat sekali.”
“Ya. Aku baru saja menyuruh Ben memanggilmu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan.”
Zean duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur. “Apa yang ingin kau bicarakan? Katakan saja.”
Clara menghela napas. “Zean, aku sudah meminta izin kepada Leona agar kau menjadi pengawal pribadiku.”
“Pengawal?” Zean menunjuk dirinya sendiri. “Aku jadi pengawal?”
“Hei, kenapa kau kaget? Bukankah memang itu pekerjaanmu?” Clara tersenyum meledek.
Zean memandang ke arah lain sambil mengangguk pelan. “Ya. Tapi ….”
Clara memegang tangan Zean. “Kau tidak akan aku perlakukan layaknya pengawal. Aku akan memandangmu sebagai sahabat. Orang yang akan melindungiku dalam bahaya. Tenang saja, berapapun uang yang kau minta akan aku berikan.”
“Kau tidak akan bisa membayarku, Clara.”
“Zean … jangan sombong. Aku akan memohon kepada Leona agar S.G. Group menghukummu jika kau tidak mau menjagaku.”
Zean menghela napas. “Hidupku bebas. Aku tidak suka menetap di satu tempat saja.”
“Kalau begitu, bawa aku pergi bersamamu,” jawab Clara mantap. Untuk beberapa saat mereka saling memandang. Bibir Zean terkunci ketika mendengar jawaban Clara. Wanita yang blak-blakan tanpa peduli dengan harga dirinya. Senyum wanita itu seperti racun yang membuat Zean ingin mati saja karena terbawa perasaannya.
“Ikut denganku?” tanya Zean sekali lagi.
“Ya. Apa kau keberatan?” Kedua mata Clara yang terlihat tulus membuat Zean lagi-lagi ingin memeluknya. Namun, itu tidak mungkin. Zean masih menahan dirinya.
__ADS_1
“Ya. Kenapa tidak. Kita akan berkeliling dunia dengan catatan, kau yang bayar.”
Clara tertawa geli mendengar perkataan Zean. “Baiklah, Itu berarti kita sudah sepakat ya.” Zean hanya bisa mengangguk dengan senyuman kecil. Bahkan untuk memberi tahu Clara rencana mereka mengirim Clara pulang lebih dulu sampai lupa. Mendengar tawa Clara memang bisa membuat Zean lupa keadaan.
***
“Jangan jauh-jauh dari aku, Leona. Jangan melompat apa lagi menendang dengan kaki. Pastikan perutmu di jaga dengan baik. Tembak siapa saja yang sudah lima meter di dekatmu. Jangan berikan ruang bagi mereka menyentuh tubuhmu,” ujar Jordan dengan wajah serius.
Leona sendiri hanya mengangguk dengan senyum tertahan. Sedangkan Oliver yang mendengar semuanya sejak tadi hanya bisa diam saja. Ia paham bagaimana khawatirnya Jordan saat ini. Mungkin jika dia ada di posisi Jordan dia juga akan melakukan hal yang sama.
“Pangeran, apa Zean sudah mengantar Clara dan Ben ke bandara?”
“Ya. Mereka sudah ada di sana. Kita juga harus bergerak cepat sebelum musuh menyadari rencana kita.”
“Aku rasa Zean dan Clara sangat cocok.” Leona kembali membayangkan tingkah laku keduanya jika sudah di ajak mengobrol. Mereka terlihat saling melengkapi satu sama lain.
“Sayang, berhentilah menjodohkan. Mereka yang memiliki perasaan biar mereka yang menentukan kehidupan mereka kedepannya. Untuk sekarang, pikirkan baik-baik rencana yang sudah kita buat,” ujar Jordan sebelum berjongkok di depan Leona. Ia mengajak bicara baby nya yang masih di dalam perut dan menciumnya berulang kali. Untungnya hanya ada Oliver di sana. Jadi, Leona tidak merasa segan apa lagi malu.
“Pangeran, saya ingin menemui Zean.”
“Ya. Pergilah. Kita berjumpa di titik kumpul.”
“Baik, Bos.”
Di bandara, Zean dan Clara berjalan beriringan. Ben sudah berlari lebih dulu masuk ke dalam pesawat. Clara terlihat tidak rela pergi sendirian. Ia merasa sangat mengkhawatirkan Zean yang kini bertahan di markas musuh.
“Sudah waktunya. Cepat masuk ke dalam pesawat. Leona dan yang lainnya sudah menungguku.”
Clara mengangguk pelan. “Apa kau akan segera menyusul kami?”
“Tentu saja. Aku sudah meminta bantuan Letty untuk menjagamu dan Ben. Dia sedikit galak, tapi sebenarnya Letty wanita yang baik.”
Clara menghela napas sekali lagi. Ia kembali ingat bagaimana cara dia tiba di kota itu beberapa hari yang lalu. Bahkan turun dari pesawat saja harus di seret paksa sampai kakinya terasa sakit. “Kota yang buruk. Aku tidak mau mengingat kota ini lagi. Bahkan aku menganggapnya tidak ada di peta dunia.”
“Baiklah, sudah waktunya. Sekarang cepat pergi.” Zean menunjuk tangga di depan.
“Bye.”
Clara mulai melangkah menaiki anak tangga di depannya. Sedangkan Zean masih berdiri di sana untuk memastikan Clara masuk ke dalam pesawat dalam keadaan selamat. Tiba-tiba saja Clara menahan langkah kakinya. Hal itu membuat Zean mengeryitkan dahi. Clara berputar dan berlari turun dari tangga. Ia segera berhambur ke dalam pelukan Zean.
“Kembalilah dalam keadaan selamat. Jangan ada luka tambahan. Aku sudah menghitung luka pada tubuhmu,” ujar Clara. Ia segera mendaratkan bibirnya di bibir Zean sebelum melepas pelukannya dan pergi. Wanita naik ke atas tangga dengan cara berlari. Zean hanya diam mematung mendapat kecupan singkat Clara. Seperti mimpi.
Pintu pesawat tertutup rapat. Zean melangkah mundur. Ia masih diam mematung. Seperti orang yang syok karena mendapat kabar yang mengejutkan.
“Bravo! Bagaimana rasanya?” ledek Oliver yang ternyata menyaksikan kejadian langkah itu. Zean memutar tubuhnya dan memasang wajah sangarnya. Ia tidak mau menjadi bahan ledekan Oliver sampai pulang nanti.
“Apa yang kau lihat tidak sama dengan yang kau bayangkan,” ujar Zean sambil berjalan cepat ke mobil.
“Sudah waktunya kau memiliki pendamping. Semua sudah menikah. Jangan sampai menjadi pejaka tua,” ledek Oliver lagi.
“Sejak kapan big boss Gold Dragon suka mengurus hidup orang? Apa ini perubahan yang kau dapat setelah menikah?” umpat Zean sebelum masuk ke dalam mobil.
Tiba-tiba saja Oliver tersadar. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa seriang itu melihat Zean dekat dengan wanita. Pria itu memasang ekspresi dingin menakutkan sebelum masuk ke dalam mobil. Saat mobil mereka melaju, pesawat yang di tumpangi Clara juga terbang.
Di dalam pesawat, Clara hanya bisa tersenyum sambil memegang bibirnya. “Astaga. Apa yang aku lakukan. Bodohnya aku. Bagaimana caranya aku memandang Zean jika bertemu lagi nanti. Ini sangat memalukan,” gumam Clara di dalam hati sambil memukul kepalanya.
__ADS_1
2 Bab sebelum tamat ya. Semoga malam ini selesai. Amiin.