
Leona tiba–tiba saja tidak bersemangat seperti biasanya. Ia merindukan Daniel, Serena dan Aleo. Bahkan pelukan hangat Emelie juga sangat ia rindukan. Sambil memegang bantal diatas pangkuaanya, kedua mata Leona tampak berkaca – kaca. Ia berpikir kalau keputusan Jordan berbulan madu tanpa membawa ponsel adalah ide yang buruk, seharusnya detik ini ia bisa mendengar suara Serena. Sekedar melepas rindu dan memastikan kedua orang tuanya baik–baik saja.
Jordan yang masih berada di dalam kamar mandi tidak mengetahui kesedihan sang istri. Leona sendiri sangat pintar menyembunyikan kesedihanya. Setiap kali ada Jordan ia segera memasang wajah seceria mungkin. Seolah–olah tidak terjadi apa-apa. Semua ia sembunyikan di dalam hati. Ia tidak mau bulan madunya berakhir dengan pertengkaran.
“Masih ada waktu satu hari lagi di kapal ini sebelum kami berangkat ke Swiss. Apa Jordan tidak merindukan keluarganya? Ia terlihat happy dan merasa kalau kini kebahagiaanya sudah lengkap. Walau ia tidak mendapat kabar dari kedua orang tauanya. Aku pernah berjauhan hingga bertahun–tahun lamanya. Tapi tidak pernah serindu ini. Ternyata seperti ini rasanya merindukan orang tua ketika sudah menikah.”
Leona memandang ke arah kamar mandi, ia ingin memastikan kalau Jordan lama lagi berada di dalam sana. Ia menurunkan satu persatu kakinya lalu berjalan pergi. Leona ingin keluar sejenak untuk melupakan kesedihannya. Leona berharap kalau udara segar di luar kamar bisa memberinya ketenangan.
“Beberapa hari disini, aku merasa seperti tinggal di hotel saja. Kapal ini benar–benar nyaman.” Leona berjalan mengikuti lorong. Ada beberapa pelayan yang bertatap muka dengannya, semua orang terlihat sangat ramah. Leona berjalan menuju ke sebuah restoran. Ia melewati sebuah pintu yang ia sendiri tidak tahu isinya apa.
Prankk
Langkah kaki Leona terhenti ketika ia mendengar suara ribut-ribut di dalam sana. Ia melihat ke kanan dan ke kiri untuk memastikan kalau tidak hanya dia sendiri yang ada di sana. Kebetulan sekali, sekitar itu kosong. Suara teriakan minta tolong serta pecahan kaca semakin terdengar jelas. Leona tidak bisa bersabar lagi, ia segera membuka pintu itu untuk memeriksa isi di dalamnya.
“Ampun, Tuan. Maafkan saya.” Seorang wanita dengan rambut acak–acakan duduk di permukaan lantai. Pecahan kaca di mana–mana. Namun sama sekali tidak membuat wanita itu takut. Ia justru lebih takut dengan pria yang kini berdiri di hadapannya.
"Saya tidak akan mengulanginya lagi." Wanita itu mundur hingga tangannya terkena pecahan kaca. Darah segar menetes di lantai berwarna putih itu. Ia masih belum sadar kalau kejadian itu sudah di saksikan oleh Leona.
Pria itu mengambil sebuah gelas dan ingin melempar wajah wanita itu. Baginya belum cukup jika hanya luka ringan seperti itu saja.
Leona segera menahan tangan pria itu. Tidka main-main, wanita yang pernah menjadi big Boss Queen Star itu menghadiahkan sebuah pukulan terbaiknya ke rahang pria itu. Spontan saja pria itu melangkah mundur sambil memegang wajahnya. Ia menatap wajah Leona dengan tatapan tidak suka.
"Siapa kau? Kenapa kau ikut campur dengan urusanku?"
"Kau sudah mengganggu ketenangannku. Itu berarti, kau yang sudah menggangguku!" jawab Leona dengan tatapan yang sangat tajam. Ia memutar kepalanya dan memandang wajah wanita yang menjadi korban. Betapa kagetnya Leona ketika melihat wanita penuh luka itu adalah sahabatnya.
"Lusya?" Leona segera berjongkok dan memeriksa keadaan Lusya. Ia menarik pecahan kaca yang menancap di telapak tangan Lusya. "Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa di sini?" Leona benar-benar tidak menyangka kalau di detik terakhirnya ada di kapal itu bisa bertemu dengan sahabatnya.
"Leona, kau. Apa benar kau adalah Leona?" Lusya memegang tangan Leona dengan kedua mata memerah. Ia tidak sanggup membendung kesedihannya. Wanita itu segera memeluk Leona dengan wajah bahagia. Seperti baru saja bertemu dengan malaikat penolongnya.
"Lusya, kenapa kau bisa seperti ini?"
__ADS_1
Pria yang tadi menyiksa Lusya tidak terima dengan perlakuan Leona. Ia mengambil pisau dan ingin menusuk tubuh Leona. Namun Leona bisa menyadarinya. Ia segera menjegal kaki pria itu hingga terjatuh. Pisau yang melayang di udara ia tangkap dengan mudah.
"Lusya, siapa pria ini?" Leona membawa Lusya agar berdiri. Ia menatap wajah pria itu dengan waspada.
"Leona, ceritanya panjang. Aku tidak bisa cerita sekarang. Dia pria yang jahat." Lusya menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Leona. Ia tidak lagi berani menatap wajah pria yang sempat menyiksanya itu.
"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?" Jordan juga muncul di ruangan itu. Pria itu benar-benar panik ketika keluar dari kamar mandi tidak lagi menemukan wajah istrinya. Beruntung kini Leona tidak jauh dari kamar jadi Jordan bisa menemukannya dengan mudah.
"Jordan, dia pria yang jahat." Jordan mengikuti arah yang di tunjuk Leona. Ia mengepal kuat tangannya saat melihat pria itu.
"Apa yang sudah ia lakukan?" tanya Jordan untuk kembali memastikan kira-kira tindakan apa yang pantas ia ambil saat ini.
"Dia mau menusukku dengan pisau ini." Leona memainkan pisau yang masih ada di tangannya.
"Beraninya kau!" Emosi Jordan memuncak. Pria itu mendekatinya dan segera memberi pukulan yang sangat menyakitkan. Keributan itu memancing perhatian pihak keamanan kapal. Beberapa pria berseragam juga muncul dan berusaha memisahkan Jordan dengan pria yang tidak diketahui namanya itu.
"Tuan, apa yang terjadi?" tanya salah satu pria sambil memandang Jordan.
"Aku mau pria ini tidak ada lagi di kapal!" ketus Jordan dengan wajah memerah.
"Baik, Pangeran. Serahkan semuanya kepada kami. Kami memiliki tim keamanan yang bisa di percaya."
Jordan mengangguk pelan. Ia kembali memandang Leona. Menarik wanita itu dan memeriksa setiap inci tubuhnya. Ia ingin memastikan kalau istrinya baik-baik saja.
"Sayang, apa ada yang terluka? Atau jangan-jangan ada luka dalam?" Jordan memutar tubuh Leona dan memeriksa tubuh wanita itu dengan wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja. Tapi, Lusya. Dia terluka. Aku akan segera mengobati lukanya." Jordan memandang wanita yang sejak tadi berdiri di dekat istrinya. Ia kembali ingat kalau wanita itu adalah salah satu sahabat Leona yang pernah mereka temui.
"Lusya, ayo ikut denganku. Aku akan mengobati lukamu. Kau harus menjelaskan semua ini nanti." Leona memegang tangan Lusya dan membawa wanita itu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Tidak lupa Leona membawa Jordan juga ikut bersama dengan dirinya.
***
__ADS_1
Di sisi lain, Katterine memandang wajah Oliver yang kini sedang menyuapinya minuman hangat. Karena di paksa oleh Oliver mandi lagi, kali ini Katterine mengerjai Oliver dengan mengatakan sangat kedinginan. Oliver yang panik langsung membungkus tubuh Katterine dengan selimut. Pria itu juga membuatkan segelas minuman hangat dan memberikannya kepada Katterine dengan sendok.
"Oliver, katakan lagi. Yang tadi kurang jelas," pinta Katterine dengan senyuman.
Oliver melirik wajah Katterine sekilas sebelum membuang tatapannya ke arah lain. "Kau sendiri yang bilang katakan sekali saja. Jadi, jangan memaksaku untuk mengatakannya berulang kali."
Katterine memajukan bibirnya. Ia sangat menyesali kalimat seperti itu. Seandainya saja ia tidak mengatakan seperti itu pasti Oliver tidak memiliki alasan untuk menyangkal permintaannya.
"Tidak tahu kapan lagi dia akan mengatakan kalau dia mencintaiku. Kenapa aku harus jatuh cinta pada pria yang perhitungan seperti ini?" protes Katterine di dalam hati.
"Apa yang kau pikirkan? Kau menghinaku di dalam hati?" Oliver meletakkan gelas yang sejak tadi ia genggam.
"Itu bukan hinaan, tali pujian. Kenapa tidak ada camera cctv tadi. Aku bisa memutarnya berulang kali jika ada." Katterine menggenggam selimutnya. Tiba-tiba saja ia kembali ingat dengan Roberto. Namun, bukan saat yang tepat untuk membahas tentang pria itu saat ini. Ada Oliver yang emosinya selalu saja memuncak setiap kali mendengar nama Roberto.
"Kenapa kau diam saja saat dia memelukmu tadi?" Oliver masih belum bisa melupakan kejadian tadi begitu saja. Ia ingin memberi pelajaran yang berharga kepada Roberto karena sudah berani menyentuh wanita yang ia cintai.
"Bagaimana bisa kau bilang diam saja. Aku sudah berusaha melepaskan diri. Tapi pelukannya sangat kuat. Berbeda dengan pelukanmu yang selalu penuh perasaan dan kehangatan." Katterine tersenyum manis dengan wajah memerah.
Oliver menghela napas. Ia tahu kalau Katterine pasti akan menjawab seperti itu. "Aku ingin menemuinya. Aku harus memberi pelajaran kepadanya!" Oliver beranjak dari tempat tidur. Kali ini ia ingin memastikan agar Roberto pergi sejauh mungkin dari hidup Katterine.
"Jangan lakukan itu!" Katterine memegang tangan Oliver. Menahan agar pria itu tidak meninggalkannya.
"Kau masih berani membelanya?" Oliver mengeryitkan dahi dengan wajah tidak terima.
"Jangan berburuk sangka seperti itu. Aku hanya tidak ingin kau berkelahi. Lebih baik di sini temani aku. Aku juga berpikir kalau tadi Robert tidak sadar melakukan hal itu. Dia terlihat sangat frustasi." Katterine mengecilkan suaranya agar Oliver tidak mendengar dengan jelas.
"Katterine! Berhenti menyebut namanya. Dan, jangan halangi aku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan!" Oliver tetap berjalan pergi meninggalkan kamar. Ia tidak peduli dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Katterine.
"Kepalaku. Kenapa kepalaku sakit sekali." Katterine memegang kepalnya yang sebenarnya sama sekali tidak sakit. "Apa ini karena terkena air tadi. Oh my God, di mana obatku. Aku tidak bisa menahan sakitnya."
Oliver yang baru saja memegang handle pintu lagi-lagi hanya bisa menghela napas. Ia memutar tubuhnya dan memandang wajah Katterine.
__ADS_1
"Aku harus pergi, maafkan aku!" Oliver menarik pintu dan keluar dari sana. Ia cukup tahu kalau itu hanya akting Katterine semata.
Di dalam kamar Katterine memajukan bibirnya dengan wajah kesal. "Kenapa sulit sekali membuatnya percaya. Dia selalu saja tahu kalau aku sedang berbohong!"