Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Bujukan Adik


__ADS_3

Sapporo, beberapa hari kemudian.



"Kakak, tapi aku ingin memiliki usaha lagi," rengek Leona sambil terus saja mengikuti langkah Aleo dari belakang. Setelah Leona terjun ke dunia mafia, secara diam-diam Aleo membekukan aset yang dimiliki Leona.


Tujuan utamanya hanya satu, agar saat itu Leona mau pulang ke rumah. Tidak di sangka, uang Leona jauh lebih banyak ketika ia telah terjun ke dalam dunia mafia. Hingga pada akhirnya, bisa dibilang usaha Aleo sia-sia saja.


"Kau masih tahap penyembuhan. Menurutlah! Jangan bekerja dan memikirkan hal apapun itu." Aleo duduk di kursi kerjanya. Ia memandang layar komputernya dengan wajah yang sangat serius.


Leona duduk di atas meja kerja Aleo. Ia memajukan bibirnya dengan wajah cemberut. Kedua kakinya berayun-ayun. "Kak, aku gak bisa di rumah aja. Kwan sudah tidak ada. Kakak juga sudah sibuk dengan perusahaan. Aku ingin memiliki kegiatan lagi." Leona terus saja berusaha membujuk. Dia tidak akan menyerah sampai usahanya berhasil.


"Kau bisa pergi berbelanja bersama mama. Atau ajak Tamara liburan," ucap Aleo tanpa memandang.


Leona mengeryitkan dahinya. Sejak tadi ia tidak membahas nama Tamara sedikitpun. Namun, tiba-tiba saja Aleo menyebut putri tunggal dari Tama dan Anna itu. Leona memandang Aleo dengan tatapan curiga.


"Kak, bagaimana hubunganmu dengan Tamara? Apa sudah mengalami kemajuan?" ledek Leona. Wajahnya benar-benar penasaran. Ia ingin tahu hubungan asmara kakak kandungnya saat ini.


Aleo menghentikan kegiatannya. Ia memandang ke depan. Tiba-tiba saja ia kembali ingat dengan pertemuan terakhirnya dengan Tamara.

__ADS_1


"Aku akan pindah ke Jepang. Di sini ada banyak rumah sakit. Aku juga ingin menentukan masa depanku mulai sekarang. Aku ingin menemui pria yang sejak dulu aku cintai." Saat itu wajah Tamara terlihat bahagia. Ia seperti sedang membayangkan wajah seseorang.


Aleo berpikir kalau sudah ada nama pria lain di dalam hati Tamara. Hingga pada akhirnya, Aleo tidak mau menyimpan harapan apa-apa lagi kepada Tamara. Ia tidak mau sakit hati karena di tolak. Di tambah lagi, memang hingga detik ini Aleo tidak memiliki perasaan apapun terhadap Tamara.


"Kak, Kak Aleo," ucap Leona sambil memegang lengan Aleo dan mengoyang tubuh pria itu. Sudah banyak kalimat yang ia ucapkan. Namun, Aleo tidak meresponnya sedikitpun. Hal itu membuat Leona kesal.


"Hmm, ya." Aleo memandang wajah Leona. "Ada apa?" Wajahnya terlihat bingung.


Leona menghela napas. Ia memandang ke arah lain. "Kakak tidak mendengar apa yang tadi aku ucapkan?" Wajah Leona berubah sedih.


"Tentang?" Aleo mengeryitkan dahinya.


Aleo mengangguk pelan. "Cantik. Dia juga wanita yang sopan dan baik."


Leona mengukir senyuman penuh arti. "Apa dia tipe kakak?"


Aleo memandang wajah Leona. Ia mengacak rambut adik tercinta. "Kau adikku. Kau wanita paling cantik yang pernah aku temui."


"Kakak selalu bisa membuatku bahagia." Leona mengukir senyuman. "Kak, kenapa hingga detik ini kakak tidak pernah dekat dengan wanita? Apa karena kakak belum menemui wanita yang cantiknya melebihi kecantikanku?" Leona menahan tawa. Sebenarnya ia merasa geli saat bersombong diri seperti itu.

__ADS_1


"Karena ... cinta itu hal yang rumit. Bahkan jauh lebih sulit daripada menyelesaikan persoalan di perusahaan," jawab Aleo pelan. Ia membayangkan bagaimana kisah percintaan adiknya yang berakhir dengan pertarungan besar beberapa waktu yang lalu.


"Kak, sebaiknya kau segera membuka hatimu. Akan seru jika nanti kita menikah di waktu yang bersamaan," ucap Leona dengan tawa tertahan.


Aleo menaikan satu alisnya dengan tatapan menyelidik. "Siapa yang mau menikahimu? Kau saja hingga detik ini belum memiliki pacar," ledek Aleo tidak mau kalah. Satu kesempatan bagi Aleo untuk membela diri. Karena memang hingga detik ini Leona dan Jordan belum juga jadian.


Leona tertegun. Ia memalingkan wajahnya. Kali ini ia benar-benar kalah hingga tidak memiliki kata-kata lagi untuk membela dirinya. "Kakak menyebalkan!"


"Jangan cemberut. Kau terlihat jelek jika seperti itu." Aleo menarik pipi Leona. Ia terlihat geram melihat wajah menggemaskan saudara kembarnya itu.


Seseorang mengetuk pintu. Leona memandang ke arah pintu bersamaan dengan Aleo. Seorang pelayan masuk ke dalam. Ia menunduk sejenak sebelum memandang wajah Aleo dan Leona.


"Tuan, Nona. Nyonya meminta Anda berdua untuk turun." Pelayan itu kembali menundukkan tatapan matanya setelah selesai berbicara. Walau keluarga Serena terkesan santai, tapi semua orang yang bekerja di rumah utama menjunjung tinggi nilai kesopanan. Mereka sangat menghormati majikan-majikan mereka. Mereka semua menyadari batasan antara mereka dan majikannya.


"Apa ada yang datang?" tebak Leona asal saja.


"Iya, Nona. Mereka-"


"Aku akan turun ke bawah." Leona segera beranjak dari meja kerja Aleo. Wanita itu terlihat sangat bersemangat untuk menyambut tamu yang datang. Di dalam hatinya, ia berharap Jordanlah sosok yang menjadi tamunya sore itu.

__ADS_1


Aleo mematikan layar komputernya. Pekerjaannya terpaksa ia tunda karena sejak tadi ia terus saja di ganggu oleh Leona. Ketika Leona pergi, justru ada tamu yang datang. Aleo merapikan meja kerjanya sebelum berjalan dengan santai meninggalkan ruang kerja.


__ADS_2