
Jordan telah tiba di Cambridge. Bersama dengan Lukas dan yang lainnya, mereka segera berjalan menuju kamar Zeroun dan Emelie. Kabar terakhir yang di dapat Jordan adalah ibunda tercinta tidak sadarkan diri.
Emelie syok ketika mendengar kabar putri tercintanya di culik. Bahkan sang suami yang terkenal hebat dan nyaris sempurna dalam segala strategi itu sempat kebingungan karena tidak berhasil melacak keberadaan Katterine dalam waktu singkat.
Letty tidak ikut dengan Jordan dan yang lainnya menuju ke kamar Emelie. Wanita itu lebih memilih pergi ke taman belakang. Memang istana itu sudah seperti rumah baginya. Sejak dulu baik Letty maupun Oliver selalu di sambut baik kedatangannya oleh Zeroun dan Emelie.
Letty berjalan menuju ke taman tempatnya berkumpul dan menghabiskan waktu. Wanita itu tertegun. Kekompakan dan keakraban saat mereka bertiga masih bersahabat telah terlihat jelas di sana. Seolah-olah momen indah itu kembali berputar di hadapannya.
Taman belakang penuh kenangan itu membuat Letty tersadar atas kesalahan yang sudah ia perbuat. Walau begitu, tetap saja rasa egois memenuhi pikirannya. Letty tidak ingin menjadi wanita lemah. Wanita itu masih bersih keras dengan keputusannya untuk membalas perbuatan Jordan.
Letty duduk di salah satu kursi besi yang ada di taman tersebut. Ia memegang ponsel yang baru saja berdering. Alisnya saling bertaut saat melihat panggilan telepon itu dari orang yang kini berada di Jerman. Dengan wajah tidak bersemangat, Letty mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Ada apa?" ketus Letty sambil menggerak-gerakkan kedua kakinya. Kepalanya bersandar pada telapak tangan yang bertumpuk pada sandaran kursi.
"Bos, ada kabar baik," ucap lawan bicara Letty dari kejauhan.
Letty terlihat tertarik dengan informasi yang ingin ia dengar. Wanita itu mengatur posisi duduknya dengan bibir tersenyum. "Katakan."
"Big Boss Queen Star telah tewas. Saya baru saja mendapat kabar kalau nyawanya tidak tertolong," sambung pria itu dengan tawa kecil yang bisa di dengar jelas oleh Letty.
__ADS_1
Letty diam sejenak. Kedua matanya tidak terbaca apa ia sedang senang atau sedang sedih. Letty terlihat melamun dan berpikir keras.
"Bos, apa Anda masih ada di sana?" tanya lawan bicara Letty dengan suara khawatir.
"Ya," ucap Letty pelan.
"Bos, Anda harus segera bersembunyi. Saat ini nyawa Anda dalam bahaya. Ada banyak orang yang ingin membunuh Anda. Mereka ingin membalaskan perbuatan Anda. Terutama pria bernama Kwan!" Suara pria itu meninggi. Ia terlihat serius dan benar-benar khawatir dengan keselamatan Letty saat ini.
"Kau tenang saja. Aku bisa mengurus diriku. Kerjakan tugasmu di sana dan jangan pikirkan keselamatanku," ketus Letty. Merasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi, Letty memutuskan panggilan telepon tersebut. Wanita itu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Kini Letty telah memikirkan cara agar bisa Kabir dari jangkauan Oliver, Lukas dan Lana. Terutama Jordan. "Aku harus segera meninggalkan istana ini," gumam Letty di dalam hati.
Letty memutar tubuhnya dan ingin berjalan pergi. Gerakannya terhenti saat melihat sosok pria yang kini berdiri di hadapannya. "Sejak kapan kau di situ?"
***
"Lepaskan!" teriak Katterine saat tubuhnya di tarik paksa oleh pria bernama Clouse tersebut. Katterine merasa kesal dan tidak terima. Selama ini belum ada pria manapun yang berbau berbuat kurang ajar seperti itu kepada dirinya. Kali ini perbuatan Clouse benar-benar tidak termaafkan. Jika saja Katterine diberi kesempatan untuk selamat nantinya, ia ingin menghukum Clouse. Ia ingin membuat pria itu menyesal karena sudah menyentuhnya.
Clouse membawa Katterine kembali ke kamar yang sejak tadi di tiduri Katterine. Di kamar itu masih ada pria yang tadi membawakan makanan dan minuman untuk Katterine. Pria itu memutar tubuhnya saat melihat Clouse membawa Katterine kembali masuk ke dalam kamar tersebut.
"Apa kau gila? Kenapa kau membiarkan wanita ini kabur?" teriak Clouse tidak terima. Pria itu menyeret paksa Katterine dan menghempaskan tubuh wanita cantik itu ke arah tempat tidur.
__ADS_1
"Bukankah itu tugasmu?" jawab pria asing tersebut sambil memandang wajah Katterine yang terlihat menahan amarah.
"Miller! Kau di sini untuk membantuku. Bukan mempersulit hidupku!" teriak Clouse lagi.
Pria yang di sapa Miller itu mengukir senyuman. Ia berjalan ke arah pintu untuk meninggalkan Clouse berdua bersama Katterine di dalam kamar tersebut. Ia terlihat tidak tertarik untuk berdebat dengan sahabat terbaiknya itu.
"Kau selalu saja mempersulit diri sendiri. Aku tidak yakin pasukan milikku bisa mengalahkan keluarga kerajaan tersebut," ucap Miller sambil berjalan pergi. "Aku juga tidak mau masuk penjara."
"Tidak akan," ucap Clouse mantap. Pria itu menatap wajah Katterine dengan tatapan yang sangat tajam. "Mereka tidak akan berani mengambil resiko sebesar ini. Kini harta paling berharga milik keluarga Cambridge ada di tangan kita."
Katterine menyunggingkan senyuman kecil. "Kau terlalu percaya diri. Tidak lama lagi, orang-orang yang menyayangiku akan segera tiba dan datang menyelamatkanku!" ucap Katterine dengan sorot mata yang tidak kalah tajam.
"Itu hanya ada di dalam mimpi, Putri Katterine. Bahkan saat ini mereka belum tentu berhasil mengalahkan strategi yang sudah saya siapkan di dalam istana megah Anda tersebut," ucap Clouse dengan senyuman licik.
Katterine mengeryitkan dahi. "Apa yang ingin kau lakukan di rumahku?" ucap Katterine sambil menggelengkan kepalanya.
"Hanya syok terapi," jawab Clouse meledek Katterine. Pria itu memutar tubuhnya untuk meninggalkan Katterine sendiri di dalam kamar.
"Kau tidak akan berhasil mencelakai keluargaku!" teriak Katterine histeris. Wanita itu semakin frustasi saat mendengar kabar kalau kini keluarga tercintanya juga dalam bahaya. Daddy, Mommy, Kak Jordan ... Oliver. Aku yakin kalian akan baik-baik saja. Kalian pasti akan segera menjemputku pulang," gumam Katterine dengan wajah yang sangat sedih.
__ADS_1