Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 5


__ADS_3

Waktu terus berganti. Malam kembali tiba. Katterine keluar dari kamar setelah setengah hari mengurung diri di dalam kamar. Ia mencari-cari keberadaan Oliver. Rumah itu terlihat sunyi. Oliver tidak ada di sana.


"Di mana dia? Apa dia pergi karena kesal?" gumam Katterine di dalam hati. Ia berjalan ke arah meja makan. 


Ada aroma sedap di sana. Wanita itu tersenyum ketika melihat aneka menu tersaji di meja makan. Tadinya dengan malas Katterine berjalan ke dapur karena harus memasak. Namun ketika melihat menu di atas meja ia merasa sangat bahagia.


"Apa Oliver yang menyiapkan semua ini?" Katterine mendekati meja makan. Ia sudah tidak sabar untuk melahap makanan yang tersaji di sana.


Katterine duduk di salah satu kursi. Ia membalik piring dan siap mengisinya dengan makanan yang ada. Sebelum memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulut, Katterine kembali ingat dengan keberadaan Oliver.


"Kenapa dia tidak ada di sini?"


Sekali lagi Katterine mengitari ruangan tersebut. Namun tidak terlihat tanda-tanda apapun. Karena tidak juga berhasil menemukan Oliver, Katterine memutuskan untuk melanjutkan makan malamnya.


Dari gedung lain Oliver mengamati Katterine yang sedang melahap makanannya. Tidak tahu kenapa, ia semakin tidak berani berdiri di hadapan Katterine. Oliver merasa menjadi seorang pengecut. Ia tidak sanggup jika Katterine bersikap cuek seperti tadi kepadanya. Namun, mau marah Oliver juga tidak bisa.


"Apa dia sangat suka makanan itu?" ucap Oliver dengan senyuman.


"Bos, kenapa kita harus menjaga Putri Katterine secara sembunyi-sembunyi? Bukankah pengawal tersembunyi juga sudah ada?" Seorang pria yang sejak tadi menemani Oliver mulai merasa jenuh. Ia lelah berdiri di sana hanya untuk menunggu Katterine bangun dan makan malam.


"Sejak kapan kau memiliki hak untuk bersuara? Patuhi apa yang aku perintahkan. Jangan membantah!"

__ADS_1


"Baik, Bos. Maafkan saya." Pria itu hanya bisa menunduk dengan wajah ketakutan. Masih setengah marah saja sudah menyeramkan. Ia tidak berani kalah sampai Oliver benar-benar marah kepadanya.


Saat suasana kembali hening, tiba-tiba saja Oliver mendengar suara sepatu yang mendekati posisinya berdiri. Dengan tenang dan tetap waspada, Oliver menghitung jarak antara dirinya dan orang misterius tersebut. Kapan saja musuhnya mengambil tindakan, maka Oliver akan segera membasminya lebih dulu.


"10 … 9 … 8 …." Oliver menghitung jarak mereka. Hingga saat jarak mereka sudah berada sangat dekat. Oliver berbalik dengan senjata api di depannya.


"Siapa kau?"


***


Katterine tersedak ketika tiba-tiba saja perasaannya berubah tidak enak. Ia merasa kalau kini Oliver dalam masalah. Segelas air putih yang ada di atas meja segera di teguk Katterine hingga habis. Ia membersihkan mulutnya dan menyelesaikan makan malamnya walau belum merasa kenyang.


"Oliver, kenapa aku sangat mengkhawatirkannya?" Katterine mengambil ponselnya. Ia tidak peduli dengan rencananya kali ini. Katterine memutuskan mengalah dan menghubungi Oliver lebih dulu. Ia ingin memastikan kalau pria yang paling ia cintai itu kini baik-baik saja.


Suara ketukan pintu membuat Katterine menahan gerakannya. Ia memandang ke arah pintu dengan harapan kalau yang ada di delan sana adalah Oliver. Katterine meletakkan ponselnya di atas meja dan berlari kencang menuju pintu.


"Oliver, apa itu benar Oliver? Apa dia telah kembali?" 


Katterine membuka kunci yang ada di pintu. Dengan segera ia menarik lintu hingga terbuka lebar. Senyum mengembang yang di hiasi wajah penuh harap itu luntur seketika. Bukan Oliver yang ada di sana. Melainkan Robert yang berdiri dengan sebuket bunga di tangannya.


"Selamat malam, Putri. Malam ini Anda terlihat sangat cantik."

__ADS_1


Katterine hanya diam tanpa tahu mau berbicara apa lagi. Kedua matanya terasa perih karena ia sangat ingin bertemu dengan Oliver. Namun haralannya sia-sia ketika pria yang kini ada di hadapannya adalah Roberto.


"Kenapa kau bisa di sini?"


"Putri, apa Anda baik-baik saja? Apa kedatangan saya mengganggu ketenangan Anda?" Robert memasang wajah yang sangat serius.


"Di mana dia?" lirih Katterine dengan bibir gemetar. "Aku sangat mengkhawatirkannya."


"Siapa yang Anda maksud, Putri? Anda merindukan siapa?" Robert memegang pundak Katterine dan mengguncang tubuh wanita itu. Ia juga tidak tega melihat Katterine kebingungan dan ketakutan seperti itu.


"Dia …." Katterine menghapus air matanya. Tatapannya beralih ke arah lorong yang ada di samping. Tiba-tiba saja Oliver muncul di sana dengan keadaan yang baik-baik saja. Bahkan pria itu masih bisa tersenyum saat melihat Katterine kini memandangnya.


"Oliver!" Katterine berlari kencang mendekati Oliver. Tanpa memikirkan gengsi dan harga dirinya ia berhambur ke dalam pelukan Oliver. Wanita itu membenamkan kepalanya di dada bidang Oliver.


"Kenapa kau pergi? Apa kau marah padaku? Aku tidak serius. Aku hanya bercanda."


Oliver tertegun mendengar perkataan Katterine. Wajahnya yang semula terlihat sangat dingin berubah hangat dalam hitungan detik saja. Kedua tangannya terangkat ke atas dan memeluk tubuh Katterine dengan erat.


"Aku baik-baik saja. Aku keluar sebentar untuk mencari udara segar."


"Seandainya aku tahu kalau kau baik-baik saja. Aku tidak akan khawatir seperti ini." Katterine sedikit protes terhadap dirinya sendiri karena sudah berpikiran aneh-aneh tadi.

__ADS_1


Dari jarak yang tidak terlalu jauh. Robert menatap tajam adegan mesra antara Katterine dan Oliver. Detik itu ia sadar kalau hubungan antara mereka bukan sekedar pengawal dan majikan. Ada ikatan lain yang tidak bisa di jelaskan.


"Sepertinya pria ini tidak bisa di sepelekan. Aku harus menyingkirkannya terlebih dahulu agar dia tidak mengganggu rencanaku lagi," gumam Robert di dalam hati.


__ADS_2