Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Gagal Kenalan


__ADS_3

Leona dan Kwan membagi tim Queen Star menjadi dua. Sebagian ikut dengan Kwan dan menunggu di lantai bawah. Sedangkan sisanya, ikut Leona untuk melakukan pembunuhan dari sisi yang tidak tertebak.


Leona terlihat sangat tenang dengan kaca mata hitam di wajahnya. Langkahnya terhenti saat melihat pria yang berdiri di hadapannya. Pria itu mengukir senyuman indah dan memandang wajahnya dengan tatapan yang sangat serius.


“Senang bertemu denganmu lagi. Oiya, apa kau mau berkenalan denganku?” ucap Jordan dengan satu kedipan mata. Pria itu mengukir senyum indahnya lalu menyodorkan satu tangannya untuk berkenalan dengan Leona. “Namaku Oliver,” ucap Jordan dengan senyuman ramah. Ia tidak berani menggunakan nama aslinya. Bagaimanapun juga, ia harus menjaga nama baik istana Cambridge. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berbohong dan meminjam nama dari Putra tunggal Lukas dan Lana tersebut.


Leona menatap wajah Jordan dengan seksama. Wanita itu terlihat tidak tertarik untuk berkenalan dengan pria yang berdiri di hadapannya. Selain pria asing, memang selama ini Leona tidak lagi mau mengenal pria. Wanita itu sudah sangat menikmati hidupnya saat ini. Ia tidak ingin membuka hatinya untuk menerima pria baru lagi.


“Menyingkirlah!” ucap Leona dengan wajah tidak suka.


Jordan menurunkan tangannya. Pria itu menatap wajah Leona dengan saksama sebelum mengembuskan napasnya. “Wanita yang keras kepala. Semakin menarik,” gumam Jordan di dalam hati.


Melihat Jordan tidak juga menyingkir dari hadapannya. Leona memberi perintah kepada pasukan Queen Star untuk angkat senjata. Semua bawahan Leona telah mengangkat senjata mereka dan mengarahkan ujung pistol itu ke arah tubuh Jordan. Hanya sekedar bentuk ancaman kecil agar Jordan menyingkir.


Jordan menatap pasukan rahasia miliknya. Pria itu memberi perintah untuk tidak menunjukkan diri mereka. Jordan tidak ingin berkelahi dengan Leona. Sejak awal, bukan itu tujuan utamanya. Ia hanya ingin berkenalan dan dekat dengan Leona.


“Kak, target kita akan segera pergi jika kau tidak muncul dalam lima menit,” teriak Kwan dari Hansdfree.

__ADS_1


Leona memegang handsfree di telinga kirinya sebelum memandang wajah Jordan lagi. Wanita itu berjalan ke depan dan mendorong tubuh Jordan agar menjauh dari jalan yang akan ia lewati. Kedua mata Leona menatap tajam wajah Jordan sebelum memandang ke arah depan.


Jordan mengukir senyuman. Pria itu semakin jatuh hati melihat wajah cantik Leona dari jarak yang begitu dekat. “Kau tidak akan bisa jauh-jauh dariku, Leona.”


Jordan melipat kedua tangannya di depan dada dan melihat Leona pergi menjauh bersama dengan pasukannya. Pria itu ingin mengetahui apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Leona hingga terlihat sangat terburu-buru. Seorang pria muncul dari belakang Jordan dan memberikan sniper kepadanya. Lagi-lagi Jordan hanya berani mengintai Leona dari jarak yang jauh.


Jordan mengambil posisinya dari sisi yang cukup jauh dari posisi Leona berada. Pria itu terlihat sangat tenang ketika mengamati wajah cantik Leona. Ya. Bukan apa yang dilakukan Leona. Tapi, memang Jordan terlalu fokus pada wajah cantik wanita tangguh tersebut.


Leona merakit senjata apinya dengan gerakan cepat. Wanita itu mengambil posisi dan membidik ke arah target yang ia incar pagi itu. Target itu berdiri di depan pintu masuk gedung sebuah perusahaan yang tidak jauh dari supermarket. Leona terlihat mengukir senyuman tipis saat kini targetnya sedang kosong tanpa pengahalang. Bahkan pengawal dari target yang ingin ia celakai juga sepertinya tidak sadar kalau ada bahaya yang sedang mengincar majikannya.


Namun, baru saja ia ingin menarik pelatuk senjata apinya. Tiba-tiba saja, Leona mematung. Wanita itu menghentikan gerakannya. Leona melihat wajah Zean di samping target yang ingin ia habisi. Tidak tahu kenapa. Napasnya berubah sesak. Ia tidak tahu harus bagaimana detik ini. Ingin sekali ia alihkan saja bidikan itu ke kepala Zean agar pria itu tewas detik ini juga.


Jordan yang sejak tadi mengamati Leona terlihat bingung. Pria it mengenyitkan dahi ketika melihat Leona tidak juga melakukan tindakan apapun. Padahal sejak awal Jordan ingin melihat kualitas menembak dari Leona.


“Apa yang dipikirkan wanita itu? Dia tadi terlihat sangat bersemangat untuk menghabisi lawannya. Sekarang tiba-tiba memasang wajah sedih,” ucap Jordan bingung. Jordan memperhatikan Leona dengan seksama. Pria itu sangat penasaran bahkan semakin penasaran melihat sifat Leona yang suka berubah.


Leona hanya diam mematung hingga beberapa detik. Wanita itu mengukir senyuman kecil sebelum mengangkat senjata laras panjang yang sejak tadi ada di hadapannya. Wanita itu kembali mengincar target yang ingin ia lumpuhkan.

__ADS_1


DUARR


Satu tembakan dilepas Leona tepat di dahi target yang kini berusaha lari. Leona tidak lagi memandang wajah Zean. Setelah memastikan targetnya tewas, Leona melekatkan ponselnya di telinga. “Misi selesai,” ucapnya bahagia. Wanita itu memutar tubuhnya lalu pergi meninggalkan lokasi tersebut.


Jordan menghela napas. “Dia bukan hanya jago berkelahi. Tapi jago menembak. Sungguh menarik,” ucap Jordan pelan. Pria itu semakin kagum dengan sosok Eleonora.


Beberapa mobil hitam menunggu kedatangan Leona. Ada Kwan di salah satu mobil tersebut. Leona berjalan cepat menuju ke arah mobil. Langkah wanita itu terhenti saat melihat Jordan yang bersandar di dinding sambil memperhatikan wajah Leona dari kejauhan.


“Pria gila!” umpat Leona kesal sebelum masuk ke dalam mobil. Leona masih belum sadar kalau Jordan adalah pria yang sama dengan pria yang menghalangi rencananya saat di lokasi pesta. Mungkin ceritanya bisa beda lagi jika Leona tahu kalau mereka adalah pria yang sama. Pria bertopeng yang sudah mengalihkan misinya hingga gagal.


Kwan memperhatikan wajah Leona sekilas sebelum melajukan mobilnya. “Kakak melihatnya?” tanya Kwan kepada Leona.


“Hmm,” jawab Leona singkat.


“Lalu, apa yang mau kakak lakukan selanjutnya?” ucap Kwan masih dengan pandangan yang fokus pada jalanan depan.


“Tentu saja kembali masuk ke dalam kehidupannya. Aku harus tahu seluruh pasukannya. Sebelum nanti mengalahkannya,” ucap Leona sambil memperhatikan pistol berwarna hitam mengkilat yang adadi tangannya.

__ADS_1


Kwan mengangguk pelan. “Sebaiknya Kakak jangan lupa memberi kabar kepada Tante Serena hari ini. Mereka akan curiga jika kita tidak memberi kabar. Aku sudah mengurus semuanya. Tidak akan ada yang mencurigai kita sejauh ini,” ucap Kwan sebelum menambah laju mobilnya.


“Ya,” jawab Leona singkat. Wanita itu memandang keluar jendela dengan senyuman tipis. Ia sudah tidak sabar berhadapan langsung dengan Zean dan mendekati pria itu. Kali ini, Leona yakin kalau ia akan menang. “Kita akan kembali bertemu setelah bertahun-tahun berpisah. Kau tidak akan pernah menyangka, kalau kedatanganku kali ini untuk membunuh nyawamu, Zean Wick!” umpat Leona di dalam hati.


__ADS_2