Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Siapa Mereka


__ADS_3


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Oliver dan Kwan sudah tiba di Jerman. Mereka segera bergerak ke lokasi yang sempat di kabarkan oleh pasukan Gold Dragon. Lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Sebuah gudang tak berpenghuni yang ada di sudut kota.


Kwan dan Oliver memandang ke arah depan dengan wajah bingung. Ada banyak polisi di gudang itu. Polisi itu terlihat sangat waspada dan mencari seseorang. Kwan mulai mengkhawatirkan keadaan Tama saat ini. 


“Aku tidak bisa ikut turun. Jika ada yang mengenaliku, itu hanya akan menambah masalah baru,” ucap Oliver sambil memandang wajah Kwan.


Kwan mengangguk. “Kau bisa mengawasinya dari kejauhan. Biar aku yang turun tangan. Pada akhirnya, yang tampan yang akan turun tangan langsung,” ucap Kwan penuh percaya diri.


Oliver menatap wajah Kwan dengan tatapan sinis sebelum memalingkan wajahnya. “Kau hanya sedang beruntung saja,” ucap Oliver tidak mau kalah. "Terkadang yang tangguh lebih dibutuhkan!"


Kwan tertawa kecil ketika mendengar jawaban dari Oliver. Pria itu segera turun dari mobil untuk melihat apa yang terjadi di sana. Oliver mamakai topeng untuk menutupi identitasnya. Pria itu melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan lokasi tersebut. Ia ingin mengawasi Kwan dari jarak yang tidak bisa di tebak oleh semua orang.


Miller terlihat sangat serius ketika membebaskan Tama dan Anna. Pria itu bersikap profesional. Beberapa polisi lainnya juga membantu Miller untuk membawa Tama dan Anna yang baru saja mereka bebaskan.


“Paman Tama, Tante Anna,” ucap Kwan penuh rasa bahagia. Pria itu segera berjalan mendekat untuk memastikan kedua orang tua Tamara baik-baik saja. “Paman, apa kalian baik-baik saja?”

__ADS_1


“Kwan, di mana Tamara? Apa Tamara baik-baik saja? Apa ada yang mengancamnya lagi?” ucap Anna dengan wajah yang sangat panik.


“Tamara baik-baik saja. Apa Paman dan Tante mengingat wajah pria yang membawa kalian sampai ke negara ini?” ucap Kwan penuh tanya tanya.


Tama menggeleng kepalanya pelan. “Mereka menutup mata kami. Bahkan kami tidak tahu kalau kini sudah ada di Jerman. Kami hanya dengar kalau pria itu terus saja menyebut nama Tamara.”


Miller yang sejak tadi mendengarkan cerita mereka hanya bisa menjadi pendengar setia. Hingga detik ini, pria penuh tato itu belum mengetahui tujuan sahabatnya menyekap sepasang suami istri paruh baya yang kini ada di hadapannya.


“Hmm, permisi. Maaf mengganggu waktu kalian. Tapi, saya harap kalian untuk ikut dengan saya ke kantor polisi. Ada beberapa hal yang harus saya tanyakan,” ucap Miller dengan senyuman ramah.


Kwan memandang wajah Miller. "Kami butuh waktu lima menit untuk berbicara!" Kwan kembali memandang wajah Tama dan Anna. “Paman, Kwan akan selalu mendampingi kalian.”


Tama menghentikan langkah kakinya. Pria itu kembali ingat saat pria yang menculik mereka juga menyebutkan nama Leona. Pria paruh baya itu menganggap Leona seperti putri kandungnya sendiri. Ia tidak ingin Leona dalam bahaya.


“Kwan, bagaimana dengan Leona?” ucap Tama dengan wajah bingung. Ia berharap kalau jawaban Kwan akan membuat hatinya kembali tenang.


Kwan menghentikan langkah kakinya. Ia sudah berjanji untuk tidak memberi tahu siapapun tentang keberadaan Leona. Termasuk kedua orang tuanya sendiri. Kwan memutar tubuhnya dengan wajah sedih. Pria itu menunduk seperti orang yang baru saja kehilangan.

__ADS_1


“Kami tidak berhasil menyelamatkan nyawa Kak Leona, Paman,” lirih Kwan dengan akting yang sangat menyakinkan. Semakin sedih maka musuh semakin percaya. Seperti itu moto yang diberikan Aleo kepada Kwan kemarin.


Anna menutup mulutnya dengan tangan. Kepalanya menggeleng tidak percaya. Ia merasa sedih dan sangat kehilangan. “Itu tidak mungkin,” ucap Anna tidak terima.


Sama halnya dengan Tama. Pria itu memasang wajah yang sangat sedih. Kehilangan Leona sama seperti ia kehilangan putri kandungnya sendiri. Sejak dulu, Daniel sering bercerita bagaimana nakalnya putri kembarnya itu. Di saat Tama ingin membuat putrinya dan putri Daniel menjadi akrab dan sangat dekat. Kabar buruk itu sudah menghampiri hidup mereka.


“Kita akan segera menangkap pembunuh Leona. Dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak setelah ini,” ucap Tama dengan sorot mata yang dipenuhi dendam. Tentu saja di saat seperti ini ia kembali ingat dengan sahabat terbaiknya yang tangguh dan tidak terkalahkan. Biao Lovers. Eh bukan. Biao aja, alias Presdir Bo.


“Tentu, Paman. Kwan akan memikirkan cara untuk menangkap pria yang sudah membuat kekacauan ini,” ucap Kwan penuh keyakinan.


Miller mematung mendengarkan cerita Tama dan Kwan. Ia menaikan kaca mata hitam yang saat itu ia kenakan. “Siapa mereka? Mereka terlihat sangat percaya diri bisa mengalahkan Clouse. Bahkan aku sendiri yang berteman dengannya bertahun-tahun kini tidak tahu dia ada di mana,” gumam Miller di dalam hati. “Tapi ... tunggu. Mereka menyebutkan Leona. Leona? Apa Leona yang mereka sebutkan adalah Leona yang sama dengan Leona putri paman Daniel dan Tante Serena?”


“Pak, semua sudah siap. Saatnya kita berangkat,” ucap salah satu polisi kepada Miller.


Miller mengangguk pelan dan memandang wajah Kwan dan Tama secara bergantian. Ia melirik wajah Anna yang masih menangis dan ada di dalam pelukan Tama. Miller ingin segera mengajak mereka semua ke kantor polisi untuk melewati proses pemeriksaan. Namun, beberapa mobil hitam tiba di lokasi tersebut. Mobil itu ada lima unit. Mobil yang sangat familiar di mata Miller.


Seorang wanita cantik berambut pendek turun dari salah satu mobil. Beberapa bodyguard juga turun untuk menjaga wanita yang usianya sudah tidak muda lagi itu. Miller mematung ketika melihat ibu kandungnya kini juga ada di hadapannya. 

__ADS_1


“Kenapa Bos mafia The Family ini bisa ada di sini juga?”


#Author lagi sakit perut. Sakit bulanan, pasti yang cewek tahu. Jadi mohon pengertiannya. Semoga segera cepat berlalu agar kita bisa crazy up ya. Oiya, satu lagi. Kalau part ini agak ngawur, itu tandanya author ngetiknya lagi meringis kesakitan🤣🤣🤣


__ADS_2