
Oliver berlari kencang ketika melihat Letty tergeletak dengan mata terpejam. Pria itu segera mengangkat tubuh Letty ke dalam gendongannya. Katterine yang saat itu juga ada di sana terlihat bingung. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Katterine merasa kasihan ketika melihat luka yang memenuhi seluruh tubuh Letty.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit," ucap Katterine sambil memandang wajah Oliver.
Oliver hanya bisa mengangguk pelan. Pria itu ingin segera membawa Letty ke rumah sakit agar ia bisa mendapat pertolongan dokter. Namun, sayangnya niat mereka tidak berjalan mulus. Sejak tadi Zean masih ada di sana. Memang Kwan telah pergi dan tidak tahu ada dimana. Tapi, Zean. Pria itu ingin memastikan kalau tidak ada satu orangpun yang menolong Letty hingga malaikat maut menjemput wanita itu.
"Biarkan wanita itu menemui ajalnya. Sebaiknya jangan lakukan apapun untuk menyelamatkannya," ucap Zean dengan kedua tangan di dalam saku. Pria itu memandang wajah Oliver dan Katterine secara bergantian. Bersamaan dengan itu, pasukan milik Zean keluar dari tempat persembunyiannya.
Oliver membalas tatapan Zean dengan tatapan yang tajam. Giginya saling menggertak menahan emosi. "Menyingkirkan. Aku tidak ingin melukai siapapun saat ini."
Zean tertawa kecil. "Aku juga tidak tertarik melukaimu. Tapi, aku tidak suka kau menyelamatkannya!" tegas Zean dengan wajah yang cukup serius.
"Dia adikku. Aku akan menyelamatkannya jika dia dalam bahaya. Aku akan mengobatinya jika ia terluka," jawab Oliver mantap.
Zean menyipitkan kedua matanya. "Kita melakukan hal yang sama. Aku juga akan membalas perbuatan orang yang melukai Leona. Aku akan membunuh siapa saja yang menghalangiku!"
Zean terlihat bersungguh-sungguh dengan kalimat yang ia ucapkan. Bagi Zean, nyawanya tidak lagi penting asalkan ia bisa membunuh orang yang telah mencelakai Leona. Wanita yang sangat ia cintai itu.
"Baiklah. Jika itu yang kau inginkan," ucap Oliver sebelum membaringkan tubuh Letty lagi. Ia memandang wajah Letty dengan sedih sebelum berdiri dan menantang Zean.
__ADS_1
Katterine segera memegang lengan kekar Oliver. Wanita itu menggeleng pelan sebagai bentuk tidak setuju. Katterine tidak ingin Oliver terluka.
Pasukan Gold Dragon juga sudah muncul untuk melindungi sang Boss. Mereka mengeluarkan senjata tajam dan siap Bertarung dengan pasukan Zean yang hanya berjumlah beberapa saja.
"Jangan lakukan ini!" ucap Katterine dengan wajah takut.
"Sebaiknya kau tetap di sini. Jangan pergi kemanapun. Aku akan menghadapinya. Aku yakin, aku bisa memenangkannya," jawab Oliver sambil memandang wajah Katterine.
"Tidak! Kau tidak boleh berkelahi," tolak Katterine dengan kedua mata berkaca-kaca.
Oliver melepas genggamannya dari tangan Oliver. Wanita itu melangkah mundur dan mengambil ponselnya dari dalam saku. Tidak ada yang bisa ia minati tolong selain Jordan. Hanya kakak kandungnya yang bisa menolong Katterine saat ini.
Jordan, Zeroun, Emelie, Daniel dan Serena telah ada di sebuah kantin. Mereka berkumpul untuk membahas masalah kerajaan Cambridge. Wajah semua orang terlihat tidak bersemangat. Masing-masing dari mereka memiliki masalah yang cukup berat.
"Dad, aku yakin ini semua berasal dari Isabel. Dia ingin mencelakai kita hingga membayar orang," ucap Jordan dengan wajah serius.
Zeroun menggeleng tidak setuju. "Tidak, Jordan. Isabel tidak terlibat. Daddy sudah menyelidikinya. Saat ini kerajaan mereka sedang dalam tahap pengembangan. Masa kejayaan mereka ada di atas. Tidak mungkin hanya gara-gara hal sepele, Isabel melakukan hal seceroboh ini."
Emelie mengusap tangan Jordan. "Kau tidak perlu memikirkan masalah ini. Semua sudah mama atur agar segera menangkap pelaku sebenarnya. Kita juga masih tinggal di istana yang lain," ucap Emelie dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Ya, Mom. Jordan sangat mengkhawatirkan keadaan mommy dan Daddy. Ketika mendengar kabar itu, Jordan tidak lagi bisa tenang."
"Siapa Isabel?" ucap Serena dengan wajah bingung.
"Isabel adalah wanita yang ingin kami jodohkan dengan Jordan," jawab Emelie cepat. "Jordan tidak pernah memperkenalkan wanita yang ia cintai. Hingga akhirnya, aku memilih seorang wanita untuk menjadi istrinya. Usia Jordan sudah 27 tahun. Dia harus segera menikah dan menggantikan posisi Zeroun."
Serena mengangguk pelan. Wanita itu mengukir senyuman. "Jordan, apa kau mau menikah dengan Leona?"
Jordan membalas senyuman Serena. "Tentu saja, Tante. Ketika Leona bangun nanti, Jordan akan melamar Leona dengan kejutan yang manis. Tapi ... sebelumnya Jordan akan membuat Leona mencintai Jordan dulu. Jordan merasa, masih ada nama pria lain di hatinya." Jordan kembali membayangkan wajah Zean.
Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja Jordan merasa khawatir ketika Zean mengatakan akan merebut Leona lagi. Bahkan Zean juga sudah berubah menjadi lebih baik. Jordn tidak mau Leona kembali melunak dengan Zean. Jordan takut jika hal itu benar-benar terjadi.
"Jordan, kau harus percaya satu hal. Jika kalian di takdirkan bersama. Apapun halangannya, kalian akan tetap bersama," ucap Daniel untuk memberi semangat kepada Jordan.
"Jika kalian tidak berjodoh, jangan bersedih. Pasti akan ada wanita lain yang akan mendampingi hidupmu nanti. Karena ... jika takdir tidak menentukan kalian bersama. Apapun cara yang akan kau lakukan. Kalian tetap tidak bisa bersama," sambung Zeroun dengan wajah yang sangat tenang.
Jordan mengangguk pelan ketika mendengar kalimat yang diucapkan Daniel dan Zeroun. Sedangkan Emelie dan Serena saling memandang dengan pikiran mereka masing-masing. Kalimat yang diucapkan oleh dua pria itu seperti sindiran untuk Serena.
"Kenapa harus seperti ini. Kenapa putriku juga di hadapkan dengan pilihan. Aku harap, Leona tidak lagi menyimpan perasaan apapun dengan Zean," gumam Serena di dalam hati.
__ADS_1
"Apa yang akan terjadi jika nasip Jordan seperti nasip daddynya. Tidak berhasil mendapatkan cinta pertamanya. Sangat menyedihkan. Apa mungkin Jordan bisa tegar dan menerima kekalahannya?" gumam Emelie dengan wajah cemas.