
"Lepaskan aku!" protes Katterine sambil mengerak-gerakkan tubuhnya agar tali yang mengikat tubuhnya terlepas. Hanya saja, sejak tadi usahanya sia-sia. Bukan berhasil Mala kedua tangannya memerah karena tergesek tali yang terikat dengan erat.
Miller memandang wajah Clouse dengan saksama sebelum memandang ke arah depan lagi. "Mereka tidak bodoh. Dua jebakanku, berhasil mereka lewati dengan selamat," ucap Miller dengan wajah yang sangat tenang.
Clouse yang saat itu sedang melajukan mobilnya terlihat panik dan tidak tahu harus bagaimana.
"Kita bisa menggunakan kepolisian untuk mencegah mereka," ucap Clouse sambil menatap wajah Miller sejenak.
Miller menghela napas. Pria itu mengambil ponselnya dari dalam saku. "Ada target yang berhasil masuk ke zona A. Kumpulkan pasukan dan segera buat strategi penangkapan," perintah Miller dengan sangat tenang.
Katterine tertegun ketika mendengar perintah yang terucap dari bibir Miller. Wanita itu mengeryitkan dahi dengan wajah bingung. "Gawat. Pasti Oliver dan Kak Jordan yang mereka maksud. Bagaimana ini. Jika Oliver sampai tertangkap, akan sulit membebaskannya. Mungkin Kak Jordan bisa selamat dengan mudah," gumam Katterine di dalam hati. "Tunggu-tunggu. Kenapa pria ini sangat mudah memberi perintah kepada kepolisian? Keamanan Belanda sangat ketat apa lagi menyangkut wilayah kerajaan. Apa jangan-jangan … pria ini."
Clouse menghentikan laju mobilnya secara mendadak. Pria itu memukul stir mobilnya dengan wajah menahan emosi. "Mereka sangat cepat!" umpat Clouse sambil memakai topeng di wajahnya.
Miller meletakkan bahan peledak di dashboard mobil sambil mengukir senyuman. Pria itu juga memakai topeng yang hanya menutupi sebagian wajahnya.
"Baby, tetap di sini. Jangan nakal jika kau ingin bertemu dengan keluargamu lagi," ucap Miller dengan senyuman. Pria itu turun dari mobil diikuti dengan Clouse setelahnya.
Katterine memandang wajah Jordan dan Oliver yang berdiri menghalangi jalan. Wanita itu terlihat bahagia ketika dua pria tangguh yang ia miliki telah datang untuk menolong dirinya.
__ADS_1
"Kakak … Oliver. Aku yakin mereka akan datang untuk menolongku. Tapi, bagaimana jika kepolisian datang saat mereka belum selesai bertarung?"
***
Jordan dan Oliver menatap wajah Katterine yang ada di bangku penumpang. Dua pria itu bisa bernapas dengan lega ketika melihat Katterine baik-baik saja.
Clouse mengangkat senjata apinya dan menodongkannya ke arah Jordan. "Sepertinya kau tamu yang datang tidak diundang. Lihat saja luka temanmu itu. Dia terkena peluru dari penembak jitu milikku. Apa kau tahu, mereka tidak suka ada orang asing yang datang mengunjungi tempat tinggalnya."
"Apa yang kalian inginkan?" ketus Jordan tanpa mau basa-basi. Pria itu menatap wajah Clouse dan Miller secara bergantian. Ia terlihat penasaran dengan dua pria bertopeng yang kini ada di hadapannya.
"Kau ingin tahu tentangku?" ledek Clouse dengan tawa kecil sebagai bentuk menghina. "Bagaimana kalau saya kasih tahu dulu cara main permainan berikutnya. Di dalam mobil ini ada bom. Melangkah dan melakukan hal ceroboh, maka mobil ini akan meledak."
Berbeda dengan Jordan maupun Miller. Dua pria itu saling memandang satu sama lain dengan ekspresi wajah yang dingin. Sekilas, mereka berdua terlihat seperti kakak adik karena memiliki sifat yang hampir serupa. Tenang walaupun masalah genting ada di depan mata.
"Jika kau pria, hadapi aku. Satu lawan satu," tantang Oliver sambil mengacungkan jarinya.
Clouse menaikan kedua bahunya. "Baiklah. Kau yang memintanya," ucap Clouse sambil membuka jas miliknya. Pria itu meletakkan pistol miliknya di bawah kaki sebagai pertanda kalau mereka bertarung tidak lagi menggunakan senjata api.
Oliver juga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sejak beberapa saat yang lalu ia memang sudah geram melihat tingkah laku musuhnya. Walau pihak musuh tidak memiliki pasukan satu orangpun, tapi Oliver bisa cedera karenanya. Kali ini Oliver bertekad untuk balas dendam.
__ADS_1
Dia pria itu bertarung dengan sengit. Mereka terlihat sama-sama tangguh dan kuat. Pukulan masing-masing yang ingin dilayangkan bisa mereka tangkis dengan mudah hingga membuat pertarungan itu menjadi lama.
Jordan mengukir senyuman kecil saat menatap wajah Miller yang menatapnya tanpa berkedip. "Isabel ada di balik semua ini. Kau polisi yang bertugas sebagai pelindung Putri Isabel bukan?" ucap Jordan dengan tatapan menuduh.
Miller hanya diam tanpa mau mengeluarkan suara. Pria itu memamerkan remot pacu yang ada di tangannya. Walau tanpa berkata apapun, pria itu cukup yakin kalau Jordan pasti takut dengan ancamannya.
Pasukan Gold Dragon tiba. Mereka semua menodongkan senjata api ke arah Miller. Sedangkan Oliver dan Clouse menghentikan perkelahian mereka dengan beberapa luka di wajah. Clouse berjalan mendekati Miller. Sedangkan Oliver mendekati Jordan.
Bersamaan dengan itu, suara sirine polisi terdengar dengan begitu jelas. Jordan memandang wajah Oliver dan memberi kode di sana. Oliver mengusap darah yang ada di sudut bibirnya sambil memberi perintah kepada pasukannya agar segera pergi dan menyelamatkan diri. Sedangkan Jordan, pria itu memasukkan kedua tangannya di dalam saku dengan bibir tersenyum.
"Katakan pada Isabel, kalau dia pasti kalah jika ingin bermain-main dengan keluargaku. Aku akan datang lagi untuk membalas perbuatannya," ucap Jordan sambil memutar tubuh. Pria itu masuk ke salah satu mobil yang ada di belakangnya dan melajukannya dengan cepat.
Sedangkan Clouse dan Miller saling memandang satu sama lain. Mereka segera tersadar dengan Katterine yang sejak tadi mereka sekap di dalam mobil dan sebagai bahan ancaman untuk Jordan.
Clouse segera membuka pintu dan memeriksa keberadaan Katterine. Betapa terkejutnya pria itu ketika melihat Katterine tidak ada di dalam.
"Shit!" umpatnya Clouse kesal saat rencananya gagal begitu saja.
Sedangkan Miller mengukir senyuman kecil saat membayangkan kecerdasan Jordan saat itu. "Lumayan."
__ADS_1