
Jordan telah tiba di Jerman. Pria itu memandang wajah Leona dengan senyuman kecil. Kedua matanya berkaca-kaca. Ia merasa bersalah karena sudah meninggalkan Leona begitu lama. Jordan merasa tidak berguna.
"Leona, ini aku. Kau tidak mau bangun dan melihat wajahku?" lirih Jordan sambil mengusap lembut tangan Leona yang ada di genggamannya.
Di ruangan itu hanya ada Kwan dan Jordan saja. Semua orang telah berada di hotel dan beristirahat. Sudah berhari-hari mereka tidak mementingkan kesehatan karena Leona sakit.
"Kak Leona memanggil namamu sejak kemarin. Jika kau dalam masalah, seharusnya kau mengatakannya padaku. Aku bisa menggerakkan Queen Star untuk membantumu," ucap Kwan yang duduk di samping tempat tidur Leona. Pria itu memandang wajah Jordan sekilas sebelum memandang wajah pucat Leona lagi. "Kami merahasiakan keberadaan Kak Leona. Semua ini menyangkut beberapa target yang pernah kami bunuh. Mereka mulai melacak keberadaan Kak Leona ketika tahu Kak Leona kritis," sambung Kwan lagi.
"Aku akan menjaga Leona. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukainya," jawab Jordan cepat. Pria itu mengecup punggung tangan Leona. Ia menatap wajah Leona lagi tanpa berkedip.
Suara pintu terbuka. Kwan dan Jordan memandang ke arah Alana yang baru saja tiba di rumah sakit. Wanita itu menggenggam paper bag di tangannya.
"Selamat pagi," sapa Alana dengan bibir tersenyum. Wanita itu melanjutkan langkah kakinya dan mendekati Kwan.
Kwan beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu menatap wajah Alana dengan tatapan menyelidik. Kwan fokus pada paper bag yang ada di genggaman Alana.
"Apa yang kau bawa?" ucap Kwan sambil menarik tangan Alana. Pria itu merebut paper bag yang di genggam Alana dan memeriksa isi di dalamnya.
"Baju ganti untukmu. Kau belum ganti sejak semalam," ucap Alana dengan suara pelan.
Kwan menaikan satu alisnya. Pria itu mengukir senyuman kecil. "Kau memperhatikanku?" ledek Kwan dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
Alana membuang tatapannya dengan bibir tersenyum. Wanita itu malu-malu ketika Kwan meledeknya dengan kalimat seperti itu.
"Tante Shabira yang memintaku untuk memberikan ini," ucap Alana penuh kebohongan. Walau sebenarnya memang Alana sendiri yang sangat memperhatikan kebersihan Kwan. Tapi Alana masih malu-malu mengakuinya. Mereka belum memiliki ikatan apapun saat ini. Kedekatan mereka bisa di bilang kedekatan seperti saudara semata.
Kwan meletakkan paper bag itu di atas tempat tidur Leona. Pria itu kembali duduk pada kursi yang sempat ia duduki. "Aku tidak mau memakainya," ketus Kwan sebelum membuang tatapannya ke arah lain.
Alana memajukan bibirnya hingga memperlihatkan wajah yang menggemaskan. Wanita itu mengerak-gerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Sama seperti Sharin ketika masih muda dulu.
"Baiklah, aku jujur. Baju itu aku yang membelinya," ucap Alana dengan wajah memerah karena malu.
Jordan menggeleng pelan sambil menghela napasnya dengan kasar. Pria itu sedang bersedih karena wanita yang ia cintai sedang koma. Tapi, di depan matanya ada pria dan wanita yang sedang kasmaran.
"Benarkah? Kau peduli padaku?" ucap Kwan dengan wajah yang serius. Kali ini Kwan yang memegang kendali. Dengan mudahnya ia membalikkan keadaan hingga terkesan, Alana lah yang mengejar-ngejar dirinya.
"Alana ...." celetuk Kwan lagi.
"Hem, ya. Tapi ... jika kau tidak mau memakainya juga tidak masalah. Aku tidak suka memaksa seseorang. Apa lagi pria," ketus Alana sebelum memutar tubuhnya. Wanita itu berjalan cepat menuju ke arah pintu.
"Alana," teriak Kwan dengan cepat. Teriakan Kwan berhasil membuat Alana menghentikan langkah kakinya ketika sudah tiba di depan pintu. Bahkan wanita itu memutar tubuhnya dan memandang wajah Kwan.
"Ada apa?" ujar Alana dengan wajah jutek.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Kwan dengan senyuman. Pria itu memegang paper bagnya. "Aku akan segera memakainya."
Alana tidak lagi mengeluarkan suara. Wanita itu segera pergi meninggalkan ruangan Leona. Ia tidak ingin berlama-lama berada di depan Kwan.
Kwan mengukir senyuman sambil memandang paper bag yang diberikan Alana. Pria itu tidak lagi sadar kalau Jordan memperhatikannya tanpa berkedip.
"Kwan, kau baik-baik saja?" ucap Jordan dengan alis saling bertaut.
Kwan tersadar dari lamunannya. Pria itu memandang wajah Jordan dan mengatur ekspresi wajahnya agar tidak di ledek oleh Jordan.
"Hmm, ya. Jadi pria tampan sepertiku ini memang sungguh repot. Aku harus bisa menjaga perasaan wanita yang mencintaiku," ucap Kwan dengan penuh rasa percaya diri.
Jordan mengangguk pelan. Pria itu memandang wajah Leona. Seandainya saja Leona juga mau mengejar-ngejarku. Mungkin aku tidak akan mempermainkan perasaannya seperti kau memperlakukan wanita tadi," sindir Jordan tanpa memandang wajah Kwan.
Kwan mendengus kesal. "Itu tidak bisa. Kak Leona dan aku sama-sama harus di kejar-kejar. Apa kau tahu? Di cintai jauh lebih indah jika dibandingkan dengan mencintai," ucap Kwan dengan wajah bersungguh-sungguh. "Dulu aku yang mengejar-ngejarnya dan terus mencari perhatian darinya. Tapi, dia tidak peduli."
"Lalu kau menyerah?" sambung Jordan dengan wajah yang serius.
Kwan mengangguk pelan. "Aku tidak menyerah sebenarnya. Aku hanya memberikan waktu kepadanya ... agar dia bisa menyadari perasaanku kepadanya," ucap Kwan lagi sambil membayangkan wajah Alana yang cantik.
Jordan tertegun ketika mendengar kalimat yang diucapkan Kwan. Pria itu mengukir senyuman sambil memandang wajah Leona.
__ADS_1
"Ya, kau benar. Kita tidak harus memaksa seorang wanita untuk menerima cinta kita. Kita hanya perlu memberikannya waktu, agar dia menyadari rasa cintanya kepada kita. Seperti kau Leona. Aku akan menunggu sampai kapanpun itu. Hingga suatu saat nanti kau sadar, betapa besarnya cintaku padamu," gumam Jordan di dalam hati.