Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Rencana Orang Tua


__ADS_3

Isabel mengatur ekspresi wajahnya. Ia berusaha setenang mungkin agar semua orang tidak mencurigainya saat ini. “Yang Mulia, musuhnya hanya satu. Sebuah geng mafia yang memang sejak dulu selalu meresahkan karena selalu saja membuat kehancuran di mana-mana. Gold Dragon dan Queen Star! Jika saat ini istana kita di serang oleh geng mafia itu, lalu siapa yang sudah menyerang istana Cambridge?”


“Isabel, semua masih dalam proses penyelidikan. Untuk saat ini, Daddy hanya ingin mengatakan kepadamu kalau Istana kita akan kalah. Pergilah untuk menyelamatkan diri. Ayah dan beberapa polisi militer yang tersisa akan berusaha menghalangi musuh kita agar tidak membunuhmu. Ayah tahu kalau kini mereka mengincar nyawamu,” ucap Raja dengan wajah sedih. “Pergilah sejauh mungkin bersama dengan orang-orang kepercayaanmu.”


“Tidak bisa, Yang Mulia. Isabel tidak akan pergi meninggalkan Yang Mulia Raja!” teriak Isabel tidak terima. "Walau harus mati bersama!"


Raja menggeleng pelan dengan senyuman kecil. Pria itu memberi perintah kepada pengawalnya untuk membawa Isabel pergi dari istana. Kini keadaan benar-benar kacau. Raja tidak ingin kehilangan putri semata wayangnya. 


“TIDAK! LEPASKAN!” berontak Isabel saat kini tubuhnya di seret paksa untuk pergi. Membiarkan Raja sendirian di istana itu sama saja mengundang malaikat maut untuk menjemput ayah tercintanya. Isabel tidak mau kehilangan ayah kandung yang sangat ia cintai. “Lepaskan!”  lirih Isabel dengan mata berkaca-kaca. Wanita itu menangis memohon agar Raja tidak mengusirnya dari Istana Timur.


***


Cambridge.


Daniel dan Kenzo memainkan senjata api mereka ke segala arah yang tidak ada orang. Mereka terlihat sangat menikmati permainan tembak-tembakan mereka saat ini. Ada canda tawa di saat mereka melakukan permainan itu. 


“Aku tidak menyangka kita melakukan permainan ini lagi ketika sudah tua seperti ini,” ucap Kenzo dengan tawa geli. Ia harus melakukan tembakan agar terkesan seolah-olah kini Istana Cambridge sedang berperang. Membuat kerusakan di mana-mana.


“Ya. Tidak lama lagi seluruh tentara akan datang. Lalu saat mereka datang, kita akan berubah menjadi korban. Oh ya, jangan lupa untuk membawa foto anak kecil itu agar dia terkenal,” ucap Daniel lagi. Ia sudah tidak sabar memberikan wajah Clouse kepada pihak keamanan dan mengatakan kalau pria itu yang telah menghancurkan Cambridge.


Kenzo menggeleng pelan. Ia memandang wajah Shabira dan Serena yang memainkan senjata dan bahan peledak tidak jauh dari posisi mereka berada. Bahkan Zeroun juga berpartisipasi untuk membuat kekacauan di istana miliknya sendiri.

__ADS_1


Serena menatap wajah Shabira. “Semoga saja nanti ketika kita memiliki cucu, kita tidak lagi melakukan hal konyol seperti ini,” ucap Serena dengan wajah tidak bersemangat.


Shabira tertawa geli ketika mendengar perkataan Serena. Wanita itu mengisi peluru ke dalam senjata apinya.


“Kak, jika nanti Leona dan Aleo sudah menikah, kakak ingin cucu laki-laki atau perempuan?” tanya Shabira penasaran.


Serena menghela napas. “Sebenarnya aku suka dengan anak perempuan, tapi keluarga Wang memiliki riwayat buruk jika keturunannya seorang wanita. Aku tidak mau cucuku membangkitkan Queen Star generasi ke tiga,” ucap Serena tidak bersemangat.


Shabira semakin tertawa geli ketika mendengar keluhan Serena. Ia menggeleng pelan. “Kak, tenang saja. Aku akan meminta Kwan memberikanku cucu laki-laki agar bisa menjaga cucu kakak yang perempuan,” ucap Shabira di sela-sela tawanya.


Serena menggeleng pelan. “Apa generasi mafia ini harus ada hingga tujuh turunan?”


Beberapa minggu yang lalu.


“Leona masih hidup! Aku tidak akan membiarkan putriku pergi! Kalian tahu kematian ini hanya untuk proses penyembuhan Leona saja. Aku tidak ingin Leona benar-benar pergi meninggalkanku. Aku tidak mau Leona terluka! Dia putriku. Putri kandungku! Aku akan turun tangan untuk menolongnya!” ucap Serena mantap. Sejak tadi ia tidak mau menerima saran dari Daniel dan yang lainnya. Serena bertekad keras untuk turun tangan langsung agar bisa menyelamatkan nyawa putrinya yang ingin berperang di Belanda.


Emelie, Daniel, Kenzo, Shabira, Lukas dan Lana hanya bisa diam membisu. Tidak ada satu orangpun yang berani menentang Serena. Bujukan juga sudah tidak bisa membuat Serena tenang. Kini harapan mereka hanya Zeroun. Namun, sejak tadi pria itu hanya diam sambil memikirkan sesuatu. Ia tidak memberi solusi ataupun mencegah Serena untuk pergi. 


Sebenarnya Zeroun sendiri memiliki pemikiran yang sama dengan Serena. Turun tangan langsung adalah solusi yang pas agar bisa menyelamatkan nyawa Jordan dan Leona. Namun, kini lawan mereka tidak main-main. Aparat negara yang telah berkumpul menjadi satu. Selain sangat kuat, sudah bisa dipastikan kalau mereka akan berhasil menangkap Zeroun dan yang lainnya. Tidak tahu mereka menang atau kalah. Yang pasti mereka semua akan masuk ke dalam penjara. Tidak terkecuali anak-anak mereka yang bersalah dan yang tidak bersalah. Bahkan kerabat dekat yang pernah berhubungan dengan mereka juga bisa terlibat jika memang pasukan elit sudah turun tangan.


“Sayang, tenanglah.” Daniel berdiri. Ia membujuk Serena agar duduk.

__ADS_1


“Tidak Daniel, aku tidak bisa duduk diam sedangkan putriku di sana sedang merencanakan penyerangan,” bantah Serena dengan wajah yang tidak lagi bisa tenang.


“Bagaimana kalau kita memancing mereka untuk datang? Bukankah jika seluruh aparat negara tidak ada di Belanda, Jordan dan Leona bisa memenangkan pertarungan ini?” ucap Zeroun memberi solusi.


Serena tersenyum kecil. “Zeroun, apa kau pikir kita punya rekan polisi? Apa kau pikir polisi-polisi itu kini ada di pihak kita?”


Zeroun menghela napas. Ia memandang wajah Daniel dan memasang wajah memelas. Zeroun berdiri dari kursi yang ia duduki. Emelie memandang wajah Zeroun dengan alis saling bertaut. “Sayang, apa yang mau kau lakukan?”


“Untuk menempuh jarak dari Belanda ke Cambridge, pasukan khusus sekalipun membutuhkan waktu hitungan jam. Satu jam saja jika istana Isabel tidak memiliki pertahanan, aku yakin Jordan dan Leona pasti bisa mengalahkan seluruh pengawal yang tersisa.” Zeroun memandang wajah Serena. “Kita biarkan saja seluruh aparat negara yang ada di dunia ini berkumpul di Belanda untuk melindungi penyerangan saat pesta ulang tahun berlangsung. Tetapi, secara bersamaan. Kita akan memasang alarm bahaya. Jika Istana Belanda baik-baik saja dan tidak menunjukkan tanda-tanda apapun, seluruh pasukan khusus pasti akan beralih ke istana Cambridge.”


Serena memandang wajah Zeroun dengan saksama. “Bagaimana caranya membuat penyerangan yang seperti itu di Cambridge?”


“Itu sangat mudah, Nona. Gold Dragon memiliki banyak stok senjata di Hongkong. Gudang senjata kami pasti cukup untuk membuat Istana Cambridge seolah-olah habis di serang,” ucap Lukas dengan wajah penuh semangat.


“Ya. Sekarang hanya tinggal menunggu keputusan pemilik istana saja,” ucap Shabira sambil memandang wajah Emelie. 


Zeroun dan semua orang yang ada di ruangan tersebut memandang wajah Emelie dengan seksama. Hal itu membuat Emelie lebih memilih menunduk dengan rasa bersalah. Ia tidak lagi bisa bersikap egois. Kini nyawa putra dan putrinya yang akan menjadi taruhannya.


“Aku setuju. Apapun yang ingin kalian lakukan terhadap istana Cambridge, lakukan saja,” ucap Emelie mantap.


Zeroun mengukir senyuman. Pria itu duduk dan memeluk istrinya dengan wajah bahagia. “Terima kasih, Sayang.”

__ADS_1


__ADS_2