
Katterine baru saja tiba di istana Cambridge. Istana menyambut kedatangan Katterine dan Oliver dengan wajah tidak percaya. Pasalnya selama ini setiap kali Katterine pulang pasti selalu ada sambutan. Minimal makan malam atau Emelie yang menunggu di pintu masuk. Tapi kali ini tidak ada tanda-tanda apapun hingga membuat pengawal dan pelayan yang kebetulan ada di depan istana kaget.
"Putri, selamat datang kembali. Apa Anda baik-baik saja?" Salah satu pelayan yang selalu menemani Katterine terlihat khawatir. Ia memperhatikan perban yang masih bersisa darah di dahi Katterine.
"Mommy. Di mana mommy?" Katterine tidak terlalu menghiraukan pertanyaan pelayan itu. Ia justru jauh lebih tertarik untuk melihat keadaan ibunda tercintanya saat ini. Setidaknya melihat Emelie baik-baik saja akan membuat rasa nyaman di dalam hatinya.
"Ratu sudah masuk ke kamar, Putri."
Katterine tidak mau menunggu lama lagi. Ia berlari masuk bersama dengan Oliver di belakangnya. Beberapa pelayan setia Katterine mengejar mereka dari belakang.
Tak Tak. Sepatu high heels Katterine terdengar begitu berisik. Memang jam sudah menunjukkan jam tidur. Ruang sunyi yang dingin membuat suara sekecil apapun terdengar dengan jelas. Katterine terus saja berjalan menuju ke kamar kedua orang tuanya
"Hati-hati." Oliver tidak mau Katterine sampai terjatuh. Namun wanita itu tetap saja keras kepala dan tidak menghiraukan perkataan kekasihnya.
"Mommy!" Katterine seperti seorang putri yang tidak tahu aturan. Ia menggedor pintu kamar Emelie dan Zeroun seperti yang biasa ia lakukan pada Jordan. Padahal biasanya ia selalu menjunjung tata Krama kalau akan berkunjung ke kamar Raja dan Ratu.
"Mom!" teriaknya semakin kesal ketika pintu kamar tersebut tidak kunjung terbuka.
"Putri, bersabarlah. Biar pelayan yang memanggil. Tangan Anda bisa sakit." Salah satu pelayan terlihat semakin khawatir. Sedangkan Oliver hanya bisa diam di tempatnya berdiri.
"Mom, Dad!" teriak Katterine semakin menjadi. Hingga akhirnya pintu kamar itu terbuka. Emelie berdiri di sana sambil memandang wajah Katterine.
"Sayang, kau sudah pulang?"
Katterine segera memeluk tubuh Emelie. Rasanya hatinya benar-benar lega ketika melihat wanita yang ia sayangi kini baik-baik saja. Buliran air mata mulai menetes hingga membuat Emelie menjadi bingung.
Melihat Katterine berdiri di hadapannya saja sudah membuatnya kebingungan. Kini ia harus melihat putrinya menangis dengan penuh ketakutan. Tubuh Katterine dingin. Entah itu dingin karena cuaca atau memang wanita itu kelelahan dan berkeringat.
"Sayang, ada apa?" Emelie melepas pelukan Katterine. Ia sangat syok ketika melihat perban di dahi putrinya. Kedua matanya melebar. Oliver satu-satunya pria yang bertugas menjaga Katterine kini mendapat tatapan menuduh dari Emelie.
__ADS_1
"Apa ini?"
Zeroun hanya diam di belakang Emelie. Ia sendiri tidak cerita apapun tentang masalah yang dihadapi putrinya. Kondisi istri tercintanya itu lemah jadi dia lebih memilih diam dan menyembunyikan semuanya.
"Katterine ...." Katterine memandang wajah Zeroun yang begitu tenang. Dari ekspresi wajah ayahnya ia bisa tahu kalau jujur adalah sebuah kesalahan. Ia tidak boleh jujur malam ini demi kesehatan Emelie.
"Katterine jatuh di kamar mandi dan terbentur dinding."
"Kenapa kau bisa begitu ceroboh!" Emelie menarik tangan Katterine dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ratu Cambridge itu tidak membenarkan siapapun masuk ke dalam kamarnya. Bahkan Oliver. Hanya Katterine yang boleh masuk ke dalam.
Zeroun menutup pintu kamar. Sebelum pintu itu tertutup rapat, Zeroun memandang wajah Oliver yang hanya diam membisu. Dia tahu pria itu pasti sangat lelah menjaga putrinya yang cerewet dan keras kepala.
"Istirahatlah. Katterine akan baik-baik saja."
"Baik, Bos." Oliver menunduk penuh hormat. Pintu itu tertutup rapat. Oliver dan pelayan lainnya memutuskan untuk menjauh dari kamar. Hanya pelayan setia Emelie yang berdiri di sana untuk menunggu perintah dari Emelie. Biasanya wanita itu akan memanggil pelayannya jika membutuhkan sesuatu. Bukan pelayan setia Katterine.
***
"Sayang, apa masih sakit? Apa sudah diobati oleh dokter?" Emelie melepas perban itu dengan hati-hati. Bukan Emelie namanya jika tidak melihat langsung luka yang di alami putrinya. Ia harus tahu kalau luka itu benar luka karena terbentur. Bukan luka karena di pukul dengan sengaja.
"Mom, Katterine baik-baik saja. Sudah jam segini kenapa mommy dan Daddy belum tidur?"
Pada akhirnya Katterine terpaksa harus menanyakan penyebab tempat tidur yang maish rapi. Walau itu cukup memalukan. Bukankah seharusnya itu menjadi privasi kedua orang tuanya.
Emelie memandang wajah Zeroun yang kini duduk di dekatnya. Wanita itu tersenyum dan menyelipkan sedikit rambut Katterine di balik telinga.
"Mommy baru saja selesai menelepon kakakmu."
"Kak Jordan?" teriak Katterine histeris. Ia juga sangat mengkhawatirkan pengantin baru tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana bisa! Bukankah Kak Jordan melarang kita semua menghubunginya selama bukan madu?"
"Jadi ceritanya Kakak iparmu bermimpi buruk dan tidak bisa tidur untuk beberapa hari. Hingga akhirnya Jordan memutuskan untuk menghubungi mommy. Leona katanya sangat merindukan Cambridge. Besok mereka akan pulang. Kebetulan sekali kau sudah pulang. Kita akan membuat sambutan istimewa untuk kepulangan pengantin baru."
"Mom, ini baik-baik saja." Katterine mengeluh sakit ketika perban itu terbuka sempurna. Emelie memperhatikan luka tersebut dengan wajah tidak percaya. Tidak mungkin terpeleset. Luka sedalam itu biasanya karena di dorong atau sengaja di celakai oleh seseorang.
"Sayang, kau membohongi mommy?"
"Tidak, Mom." Katterine terlihat panik. Berbohong kepada Emelie memang sulit untuk ia lakukan.
"Kau sama saja seperti Daddy mu. Selalu menutupi sesuatu yang kalian alami. Apa kondisi mommy seburuk itu hingga kalian tidak mau menceritakan yang sebenarnya?"
"Sayang ... Katterine sudah menceritakan semuanya. Jangan mempersulit putri kota dengan tuduhan seperti itu. Siapa juga yang berbohong? Aku selalu jujur kepadamu." Zeroun berusaha menenangkan suasana di ruangan tersebut.
"Tapi luka ini ...."
"Bahkan jauh lebih parah ketika kau jatuh dari tangga beberapa tahun yang lalu. Mungkin memang Katterine benar-benar terpeleset."
"Benar, Mom. Jangan khawatir seperti itu lagi ya. Aku baik-baik saja. Di kamar aku akan meminta pelayan untuk mengganti perbannya."
"Baiklah. Kali ini mommy berusaha percaya sana perkataanmu. Tapi, jika nanti kau ketahuan berbohong, mommy akan marah!"
"Iya mom. Oh ya, bagaimana kabar Kak Jordan?"
Bercerita tentang Jordan dan Leona membuat Emelie mengukir senyuman indah. Ia bisa membayangkan kebahagiaan kedua anaknya itu. Dari canda tawa Leona dan Jordan bisa dibayangkan kalau mereka kini sangat bahagia
"Mommy harap Leona segera mengandung. Apa yang mereka rencanakan bisa berjalan dengan lancar."
"Mom, ini kabar baik. Katterine juga sudah tidak sabar melihat anak kak Jordan."
__ADS_1
Zeroun menaikan satu alisnya. Ia tersenyum ketika mendengar perbincangan antara istri dan putrinya. Mereka berdua sudah membahas soal nama, kamar dan segala hal keperluan bayi walau kini jelas-jelas Leona belum positif hamil. Tapi hal itu bisa membuat Zeroun kembali lega. Setidaknya Emelie tidak lagi berburuk sangka kepada dirinya dan Katterine yang memang jelas-jelas sedang menyembunyikan sesuatu.