Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Perlindungan Zean


__ADS_3

Isabel masih menangis sedih saat beberapa pengawal memaksanya pergi sejauh mungkin. Salju turun dengan lebat. Mereka kesulitan untuk berjalan. Jalan raya yang biasa mereka gunakan kita tertutup salju yang tebal.


"Lepaskan!" teriak Isabel dengan kedua mata memerah.


DUARR DUARR


Isabel dan seluruh pasukan pengawal miliknya berhenti. Mereka memandang ke arah depan. Samar-samar terlihat beberapa orang berdiri di sana. Mereka berjalan mendekati. Namun lama kelamaan orang-orang itu terlihat sangat banyak. Bahkan tidak muncul di depan saja tapi sudah mengelilingi.


Isabel menghapus air matanya. Wanita itu menggeleng ketakutan. Tubuhnya gemetar. Gaun yang semula ia kenakan memang sudah terganti. Kali ini penampilan Isabel tidak mempersulit dirinya untuk melangkah.


"Apa ini? Apa kini mereka mengincar nyawaku?" gumam Isabel tidak percaya. "Pieter! Clouse! Di mana kalian?" teriak Isabel ketakutan.


"Putri, jangan berteriak seperti itu. Apa Anda tidak kasihan dengan tenggorokan Anda? Bagaimana kalau nanti jadi kering dan sakit?"


Zean muncul dan berdiri di hadapan Isabel. Pria itu terlihat sudah tidak sabar untuk membunuh Isabel detik itu juga.


Isabel berusaha tetap kuat. Pengawal yang ikut bersamanya telah melingkari Isabel untuk melindungi. Udara semakin dingin. Memang saat turun salju seperti ini semua orang seharusnya ada di rumah untuk menghangatkan diri. Bukan berkeliaran di luar.


"Aku tidak memiliki masalah denganmu. Kenapa kau mau menyerang istanaku?" ucap Isabel berusaha bernegosiasi.


"Anda sudah mengusik hidup saudara kami! Siapapun yang sudah berani mengusik kami, maka harus siap menerima konsekuensinya!" jawab Zean dengan sorot membunuhnya. "Kau telah menghilangkan nyawa seorang wanita yang berharga bagi kami."


"Leona?" ucap Isabel pelan. "Semua ini karena wanita itu?" tanya Isabel tidak percaya.


"Ya. Kami ingin kau juga merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan." Zean melangkah maju. Para pengawal mengeluarkan pedang mereka dan siap menebas siapa saja yang ingin mendekat. Sebagian lagi sudah memegang senjata api dan siap menembak.


"Tidak semudah itu!" ucap seseorang dari arah yang tidak jauh dari posisi Isabel dan Zean berada.

__ADS_1


Isabel dan Zean sama-sama memiringkan kepala mereka. Di sana ada Miller yang berdiri dengan pasukan polisi miliknya. Mereka sudah menodongkan senjata api dan siap menangkap tersangka yang di anggap jahat.


"Miller, apa Clouse yang mengirimmu ke sini?" teriak Isabel kegirangan.


Miller memandang wajah Isabel dan menunduk hormat. "Tidak ada yang bisa memerintah saya selain negara, Putri. Saya di sini untuk melindungi kerajaan Belanda."


Zean mengepal kuat tangannya. Kali ini jumlah mereka seimbang. Bahkan jauh lebih banyak pasukan Miller. "Kau polisi yang munafik! Kau mendukung orang yang bersalah karena mereka rekanmu."


Miller merasa tertampar saat mendengar perkataan Zean. Memang seperti itu adanya dan dia tidak menampik semua itu.


"Miller, tangkap mereka. Pastikan mereka ada di penjara seumur hidup!" perintah Isabel dengan senyum licik di bibirnya.


Miller memandang wajah Zean dan mulai memberi perintah kepada pasukan yang ia bawa untuk segera menyerang. Bersamaan dengan itu Leona dan Jordan muncul. Mereka menembak ke arah Miller tanpa peduli mereka polisi atau bukan.


Kali ini Leona sudah kembali memakai topeng. Bahkan Jordan juga. Mereka harus menutupi identitas mereka saat berhadapan dengan polisi.


Clouse muncul dan segera berlari ke arah Isabel. Pria itu memegang pedang dan siap menebas siapa saja yang ingin menyentuh Isabel. Tubuhnya sudah dipenuhi dengan luka. Tapi, dia masih bisa bertahan.


Langkah Leona terhenti ketika melihat Clouse ada di sana. Tadi ia pergi meninggalkan Clouse kepada Oliver dan Kwan. Kini pria itu berhasil lolos. Lalu Kwan dan Oliver tidak muncul. Leona khawatir jika dua pria tangguh itu dalam bahaya.


Jordan memandang wajah Clouse dan Miller bergantian. Pangeran Cambridge itu memegang tangan Leona dan siap menyerang. Kini jumlah mereka seimbang. Leona dan Jordan mengincar Clouse sedangkan mereka menyerahkan Miller kepada Zean. Tidak peduli walau Miller adalah putra dari Sonia. Sahabat terbaik ayah kandung Leona. Siapapun yang menghalangi akan mereka habisi!


"Clouse, siapa mereka? Di mana Pieter?" ucap Isabel sambil memandang wajah Clouse yang berdiri di sampingnya.


"Pieter ada di istana untuk menghadapi sebagian dari mereka. Ada bom waktu di istana putri. Pieter yang memiliki tugas untuk menanganinya," ucap Clouse apa adanya.


"Apa? Bom?" teriak Isabel tidak percaya. "Aku harus kembali. Aku tidak mau Raja dalam bahaya."

__ADS_1


Clouse menggenggam tangan Isabel dan menahan wanita itu agar tidak pergi. "Jangan berbuat konyol putri! Kita dalam penyerangan."


Isabel memandang wajah Leona dan Jordan. Dia terlihat kesal dan sakit hati. Wanita itu mengambil pedang Clouse secara paksa dan berlari ke depan. Isabel ingin menebas sendiri Leona. Ia ingin membalaskan dendamnya.


Leona menyambut Isabel. Wanita itu memegang pedang juga. Jika Isabel yang memulai lebih dulu maka ia tidak akan segan lagi untuk menghabisi nyawa Isabel.


Jordan menghalangi Clouse yang ingin menghentikan Isabel dan menyerang Leona. Miller yang bergerak maju juga sudah di halangi oleh Zean. Pria itu tentu saja tidak akan memberikan kesempatan pada siapa saja untuk melukai Leona lagi.


"Pergilah ke neraka!" teriak Isabel dengan wajah penuh dendam.


Leona menangkis pedang yang di genggam dengan kedua tangan Isabel. Hingga akhirnya pedang itu terlepas dan terhempas. Isabel tidak memiliki senjata lagi untuk melawan Leona. Memang tandingannya bukan Leona. Isabel tidak memiliki kemampuan apa-apa.


Leona menodongkan pedangnya di depan wajah Isabel. Kini Isabel terduduk di atas tumpukan salju yang dingin. Napasnya terputus-putus saat ujung pedang yang runcing itu ada di hadapannya.


"Aku tidak suka membunuh wanita. Sejak dulu tanganku ini hanya aku gunakan untuk membunuh pria. Terutama pria jahat yang suka melukai hati wanita. Jika memang pedang ini sampai menusuk tubuhmu, kau adalah wanita pertama yang mati di tanganku sendiri!" ucap Leona dengan suara pelan.


"Kau tidak bisa melukainya. Dia seorang Putri. Jika kau membunuhnya maka itu akan membuat dirimu sendiri masuk ke dalam penjara," ucap Miller memperingati.


Leona memandang wajah Miller. Wanita itu mengukir senyum kecil. "Bagaimana kalau posisinya di balik? Apa kau bisa menangkap wanita ini dan menghukumnya?"


Miller tertegun. Ia memandang wajah Clouse lalu memandang Leona lagi. "Kita bisa berdamai."


Leona menggenggam pedangnya semakin kuat. "Tidak pernah ada kata damai!"


Srekk.


Leona menarik pedangnya dan berhasil membuat luka di wajah Isabel. Darah segar keluar dari sana. Wanita itu merasakan perih yang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2