Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
I Miss You


__ADS_3

Miller berjalan mendekati Leona. Pria itu sangat penasaran dengan sosok wanita cantik yang salam ini selalu di ceritakan oleh ibu tercinta. Miller berdiri di samping tempat tidur Leona dan memandang wanita itu tanpa berkedip. Ia sangat penasaran ketika melihat wanita secantik Leona bisa berbaring dan koma di rumah sakit.


“Tante, kalau boleh saya tahu. Eleo ... nora apa yang menyebabkannya berada di rumah sakit ini? Kenapa kepalanya harus di perban seperti itu? Apa dia kecelakaan?” tanya Miller penasaran.


Serena mengukir senyuman. Wanita itu menggeleng pelan. “Ada tragedy yang kami alami sebulan yang lalu. Tapi, maaf. Tante tidak bisa menceritakannya kepadamu, Miller.” Serena terlihat sangat sedih karena tidak bisa menceritakan apa yang ingin di ketahui Miller. Tapi, ini semua demi kebaikan Leona juga. Mengingat Miller adalah kepala Polisi yang sangat di segani di Jerman.


Sonia memandang wajah Serena dan putranya secara bergantian. Wanita itu tertawa kecil untuk memecah keheningan. Sebelum Serena bercerita, Sonia sudah paham kita-kira masalah seperti apa yang akan di hadapi oleh Serena saat ini.


“Miller, sebaiknya kau duduk saja bersama Papa dan Paman Daniel di sana,” ucap Sonia dengan bibir tersenyum.


“Miller mau tetap di sini, Ma,” bantah Miller cepat. Pria itu masih belum bisa lepas dari wajah cantik Leona. Ia terpaku hingga tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Kak, Kak Leona sudah memiliki kekasih. Kau jangan berharap untuk merusak hubungannya dengan kekasihnya,” rengek Natalie. 


Miller mengeryitkan dahi dengan wajah yang serius. Pria itu memandang wajah Serena dengan tatapan tidak percaya. “Apa itu benar, Tante?”


Serena mengukir senyuman kecil. “Ya. Sudah ada pria baik yang akan menjadi pendamping Leona. Kau datang terlambat Miller,” ledek Serena dengan tawa kecil.


Miller mengangkat kedua bahunya. “Setidaknya Miller bisa berteman dengan Leona ketika ia sudah bangun nanti, kan Tante?”


“Tentu saja. Kalian memiliki usia yang sama. Kebetulan sekali kalian lahir di tahun yang sama namun bulan yang berbeda.” Serena memberikan kode kepada Sonia. Hal itu berhasil membuat Sonia menyelipkan rambutnya dan menahan tawa.

__ADS_1


“Ya. Aku yang salah. Aku hanya tidak ingin kalian repot waktu itu. Makanya aku merahasiakan Miller dari kalian,” sambung Sonia cepat.


Miller dan Natalie mengeryitkan dahi dengan wajah bingung. “Ma, apa maksud mama dengan menyembunyikan.”


“Miller, jadi ibumu ini tidak pernah bercerita kepada kami kalau dia sudah mengandung dan melahirkan. Bahkan saat ia datang ke San Fransisco juga tidak memberi tahu kami kalau dia sudah melahirkan dirimu,” ucap Serena dengan wajah serius.


“Ya. Aku dan Aldi berada pada fase buruk saat itu. Banyak musuh yang mengincar nyawa kami. Jadi, kami merahasiakan kehadiran Miller. Termasuk kepada kerabat dekat kami.” Sonia memandang wajah Miller dengan senyuman. Tatapannya beralih kepada Natalie yang saat itu masih memasang wajah serius. “Selama ini di mata semua orang, kau anak perama kami Natalie. Tidak ada yang tahu kalau ternyata kau anak kedua kami.”


“Ibumu sangat hebat, bukan?” ucap Serena lagi.


Miller dan Natalie tertawa. “Tante, ibu kami bukan hanya hebat. Tapi ia terlihat seperti bos mafia yang menyeramkan kalau di rumah. Jangankan kami anaknya. Daddy saja sangat takut kepada mami,” ucap Natalie sambil mengukir senyuman indah.


Sedangkan Miller, pria itu masih asyik memandang wajah Leona. Ia mengukir senyuman yang indah untuk wanita yang belum sadarkan diri itu. “Cepat sembuh. Aku ingin mendengar suaramu.”


***


Hari sudah gelap. Jordan telah kembali untuk menemani Leona di dalam kamarnya. Seperti malam-malam sebelumnya. Ada Jordan dan Kwan yang akan menjaga Leona di sana. Sedangkan Serena dan Daniel tidur di hotel. 


Jordan dan Kwan berjalan cepat menuju ke arah ruangan Leona. Mereka terlihat sudah jauh lebih segar. Baju telah terganti dan terlihat sangat rapi. Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan penampilan mereka sebelumnya.


“Jordan, aku ingin menghubungi Alana dulu. Kau masuk saja duluan.” Kwan mengambil ponselnya dan berjalan ke arah sudut ruangan. Jordan memandang punggung Kwan sebelum masuk ke dalam.

__ADS_1


Di dalam ruangan Leona sudah ada Tamara. Wanita itu telah sibuk memeriksa keadaan Leona. Ia terlihat sangat serius saat sedang memeriksa alat-alat medis yang menancap di tubuh Leona. Tamara ingin memastikan kalau cairan yang masuk ke dalam tubuh Leona. Aman.


Tamara memandang ke arah pintu ketika Jordan muncul. Namun, wanita itu masih tetap melanjutkan pemeriksaannya. Jordan berdiri di samping tempat tidur Leona. “Dokter Tamara, apa Leona sudah mengalami kemajuan?” tanya Jordan sebelum duduk di kursi kecil yang biasa ia duduki.


“Belum. Ini sangat buruk. Jika selalu seperti ini, Kak Leona akan lama bangunnya,” ucap Tamara dengan wajah sedih. “Aku sudah melakukan segala cara agar bisa membuatnya segera sembuh. Tapi, tidak ada satupun yang berhasil.”


Jordan memasang wajah sedih. Pria itu memandang gelang yang ada di tangan Leona. Sebelumnya, Leona tidak memakai gelang apapun di sana. “Dokter Tamara, siapa yang menemani Leona sebelum Anda tiba di sini?”


“Seorang pria. Sepertinya dia sepupu Kak Leona. Pria itu sangat baik dan tampan,” ucap Tamara dengan senyuman kecil.


“Pria? Apa dia pernah datang sebelumnya?” tanya Jordan dengan tatapan menyelidik.


“Jordan, dia datang bersama dengan ibu dan ayahnya. Ada juga seorang wanita yang memanggilnya kakak. Sepertinya mereka orang yang sangat dekat dengan Tante Serena.” Tamara merapikan barang-barangnya. “Jika kau sudah datang, saatnya aku pulang. Aku lelah ingin istirahat. Ingat pesanku. Kau harus menghubungi perawat agar memeriksa keadaan Leona setiap jamnya.”


Jordan mengangguk. “Terima kasih.”


Setelah Tamara pergi, Jordan kembali memandang gelang yang ada di tangan Leona. Pria itu melepas gelangnya dan memperhatikannya dengan saksama. “Untuk apa pria itu memberi gelang ini kepada Leona?” Jordan cemburu. Ia tidak suka ada yang lebih perhatian kepada Leona selain dirinya. Pria itu melemparkan gelangnya ke lantai. Namun, dalam hitungan detik saja. Jordan kembali ingat. Tadi Tamara bilang pria itu sepupu Leona. Jordan tidak ingin mengambil resiko. Pria itu mengutip lagi gelang yang ia buang dan menggenggamnya dengan erat. “Aku akan menyimpan gelang ini. Jika kau menginginkannya. Kau harus bangun dan merebutnya dariku,” ucap Jordan sambil memandang jemari Leona.


Leona menggerakkan jarinya. Jordan mengukir senyuman ketika melihat Leona memberi respon seperti itu. “Hemm, baiklah. Aku anggap itu sebagai jawaban kalau kau setuju gelang ini aku simpan.” Jordan memasukkan gelang tersebut ke dalam saku jasnya. Ia menjatuhkan kepalanya di samping tubuh Leona berbaring. Satu tangannya mengusap rambut Leona dengan mesra. “Apa yang harus aku lakukan agar kau bangun, Baby girl?” bisik Jordan dengan wajah sedih. Jordan memejamkan matanya saat merasa lelah. Pria itu ingin tidur di samping Leona seperti malam-malam sebelumnya. Tangannya tidak lepas dari kepala Leona. Ia ingin tetap menjaga Leona walaupun dalam kondisi tidak terjaga.


Leona membuka matanya. Wanita itu memandang langit-langit kamar dengan tatapan yang tidak terbaca. “Maafkan aku!”

__ADS_1


__ADS_2