
"Dad, apa Mommy baik-baik saja?" ucap Jordan khawatir. Pria itu duduk di pinggiran tempat tidur sambil memegang tangan Emelie. Ia sedih saat melihat ibu tercintanya kini memejamkan mata dengan bibir pucat.
"Jordan, Daddy sudah mengerakkan pasukan khusus untuk menyelidiki penculik tersebut. Tapi, Daddy tidak juga berhasil. Satu-satunya informasi yang Daddy dapat hanya Belanda. Mereka membawa Katterine ke Belanda," ucap Zeroun dengan wajah khawatir. Ia tidak menyangka kalau di usianya yang tidak muda lagi ini dia harus di hadapankan dengan lawan yang jauh lebih cerdas dan lincah daripada dirinya.
Lukas mengeryitkan dahi. "Belanda?" celetuknya dengan wajah serius. "Tidak mudah masuk ke dalam wilayah itu. Kecuali seseorang membiarkannya untuk masuk," ucap Lukas lagi.
"Membiarkan? Maksudmu ada yang mendalangi penculikan ini?" ucap Lana dengan wajah bersemangat. Ia sangat tertarik dengan topik pembahasan yang baru saja dikatakan oleh Lukas.
"Ya. Apa yang dikatakan Paman Lukas benar. Pemerintahan Belanda memiliki sistem keamanan yang begitu ketat. Katterine Putri Cambridge yang cukup terkenal. Hampir semua orang mengenal wajahnya. Tidak mungkin penculik itu bisa dengan mudah membawa Katterine masuk ke dalam negara itu. Kecuali seseorang sengaja memberinya tempat untuk penculik itu bersembunyi," sambung Jordan cepat.
Zeroun mengeryitkan dahi. "Apa ini ada hubungannya dengan putri Isabel?" Tidak tahu kenapa, Zeroun segera menuju ke wanita cantik yang ingin ia jodohkan dengan Jordan. Walau wanita cantik berwatak lembut itu terkenal sangat sopan dan baik. Tapi tidak ada yang bisa menjamin kalau dia baik-baik saja setelah keluarga Zeroun membatalkan pertunangan Isabel dan Jordan beberapa waktu yang lalu.
"Saya akan menyelidikinya," ucap Lukas mantap pria itu memandang wajah perawat yang baru saja tiba. Ia menatapnya dengan tatapan menyelidik. Sama halnya dengan Lana. Wanita berbaju serba putih itu terlihat sangat mencurigakan. Ia berjalan mendekati tempat tidur Emelie sambil membawa obat dan air putih sesuai dengan resep dokter.
Jordan menyingkir ketika melihat perawat itu ingin memeriksa ibunda tercintanya. Pria itu memandang wajah Zeroun yang sedang duduk di sofa tunggal yang berada tidak jauh dari tempat tidur. "Dad, Jordan akan berangkat bersama Oliver. Paman Lukas dan Tante Lana bisa tetap di sini untuk menjaga Daddy dan Mommy. Jordan khawatir jika Daddy hanya sendirian menjaga Mommy di istana kita ini," ucap Jordan dengan wajah bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Zeroun mengangguk pelan. Pria itu berdiri dan menepuk pundak Jordan beberapa kali. "Maafkan Daddy. Daddy tahu, saat ini pikiranmu masih tertinggal di Jerman. Maafkan Daddy karena memintamu untuk meninggalkan Leona dalam keadaan seperti ini," ucap Zeroun dengan wajah bersalah.
Jordan memandang ke arah lain. Mendengar nama Leona membuatnya kembali sedih dan merasa bersalah. "Jordan akan segera menyelesaikan masalah ini dan kembali untuk menemaninya, Dad."
"Awas!" teriak Lukas dengan suara lantang.
Jordan menyingkir ketika sebuah belati melayang di depan wajahnya. Belati itu tertuju ke arah perawat yang baru saja tiba dan menyiapkan obat untuk Emelie. Tanpa adanya persiapan sama sekali, belati itu melayang dan mengincar dirinya. perawat itu terluka ketika belati itu menancap di lengan kanannya.
"Lukas apa yang kau lakukan?" protes Zeroun sambil menatap wajah Lukas.
Lukas mundur beberapa langkah dengan wajah kaget. "Kenapa kau bisa ada di sini?" ucap Lukas dengan wajah bingung.
Sama halnya dengan Jordan. Pria itu juga bingung ketika melihat wanita itu jatuh terduduk dengan pistol di sampingnya. "Dad, sebenarnya apa yang terjadi di sini?"
"Daddy menemukan bom di istana. Daddy tidak ingin membuat kau dan yang lainnya khawatir. Maka dari itu, Daddy mengubungi Gold Dragon dan meminta mereka untuk berjaga-jaga di istana," ucap Zeroun dengan wajah serius.
__ADS_1
"Gold Dragon?" celetuk Jordan dengan alis saling bertaut. "Gold Dragon tidak mau menuruti perintah seseorang jika tidak ada perintah dari Paman Lukas dan Oliver. Bagaimana bisa Gold Dragon mengikuti perintah Daddy begitu saja?" tanya Jordan dengan tatapan menyelidik.
Zeroun dan Lukas saling melempar pandangan. Mereka bingung ketika kini Jordan sudah mulai curiga dengan Gold Dragon. "Soal itu ...."
"Jordan. Kita adalah keluarga. Bukan hanya perintah dari Daddymu saja. Pasukan Gold Dragon juga tunduk atas perintah Nona Serena. Kau tidak perlu memusingkan hal seperti ini," sambung Lukas cepat.
Jordan masih terlihat tidak percaya dengan penjelasan yang dikatakan Lukas. Ia merasa masih ada sesuatu yang ditutupi darinya. "Hmm, baiklah. Jordan juga yakin, cepat atau lambat akan ketahuan juga jika Daddy dan Paman Lukas berbohong," sindir Jordan sebelum pergi.
Lukas menghela napas. Bersamaan dengan itu, Zeroun juga terlihat mengatur napasnya dengan embusan yang jauh lebih tenang.
"Secepatnya kita harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Bos," ucap Lukas sambil memandang wajah Zeroun.
Zeroun hanya diam membisu. Ia memandang wajah isteri tercintanya dengan wajah yang khawatir. "Ini permintaan Emelie. Aku juga tidak tahu, kenapa ia memintaku merahasiakan Gold Dragon dari Jordan dan Katterine," gumam Zeroun di dalam hati.
Part Leona di pending dulu ya. Sebenarnya mau crazy up. Tapi ada urusan mendadak. Jadi sabar dulu ya.
__ADS_1