Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 31


__ADS_3

Leona mengeryitkan dahi ketika melihat suaminya berpenampilan rapi. Sejak tadi mereka tidak merencanakan untuk pergi kemanapun. Leona sendiri sudah memakai gaun tidur karena memang hari sudah malam. Seharian tadi mereka sudah puas bermain-main. Rasanya malam ini sangat melelahkan hingga membuat Leona memutuskan untuk tidur jauh lebih cepat.


"Sayang, mau ke mana?" Leona memeluk Jordan dari belakang. Wanita itu terlihat manja dan tidak rela jika suami tercinta harus pergi meninggalkannya.


"Aku ingin keluar sebentar. Tidak lama."


"Ikut."


"Jangan ...."


Leona hanya diam dengan bibir maju ke depan. Tidak biasanya Jordan menolak dirinya ikut. Bahkan biasanya pria itu selalu mengajak dirinya kemanapun.


Hingga detik ini memang tidak ada yang berani memberi kabar hilangnya Katterine kepada Jordan. Dengan tegas Jordan berkata untuk tidak mengganggu bulan madunya. Dan hal itu disetujui semua orang. Perjalanan percintaan mereka sangat rumit. Jadi tidak akan ada yang tega jika saat bulan madu mereka juga harus menghadapi masalah. Seperti bukan madu Zeroun dan Emelie dulunya.


"Ya sudah." Leona melepas pelukannya. Sejak menikah ia terlihat seperti wanita yang tidak terlalu mengikat suaminya. Walau begitu, tetap saja rasa penasaran di dalam hatinya tidak bisa dihilangkan begitu saja.


"Terima kasih baby girl. Aku pergi dulu." Jordan menarik tengkuk Leona dan mengecup bibir wanita sejenak. Ia pergi meninggalkan kamar hotel walau kini ia bisa melihat jelas wajah tidak rela dari istrinya.


"Apa yang sebenarnya ingin ia lakukan?"


Bukan Leona namanya jika diam di kamar untuk menunggu Jordan kembali. Wanita itu segera mengganti pakaiannya sebelum mengejar kepergian Jordan. Ia ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh suaminya.


***


Jordan melajukan mobilnya dengan begitu tenang. Bibirnya tersenyum ketika melihat Leona kini ada di belakang mobilnya. Walau tidak terlihat jelas, tapi ia yakin kini istrinya sedang mengikutinya.


"Dia benar-benar istriku," gumam Jordan sebelum menambah laju mobilnya.


Pria itu memberhentikan mobilnya di sebuah hotel yang tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap selama ini. Leona sendiri sempat syok ketika melihat Jordan berhenti dan masuk ke dalam sebuah hotel. Ini bulan madu mereka yang paling manis. Tidak seharusnya Jordan menyembunyikan apapun dari dirinya. Dengan wajah mulai kesal Leona turun dari mobil. Ia berjalan secara perlahan agar Jordan tidak menyadari keberadaannya.


Jordan memastikan kalau Leona masih mengikutinya. Ia tidak mau Leona sampai kehilangan jejak dan membuat rencana hang sudah di susun Jordan gagal begitu saja.


Jordan masuk ke sebuah lift. Pria itu menunduk dengan bibir tersenyum ketika melihat istrinya berlari untuk mengejar pintu lift yang lainnya.


Ting. Lift terbuka. Jordan berjalan menuju ke arah balkon yang ada di hotel tersebut. Tempatnya sangat nyaman dan cocok untuk bersantai. Ada api-api yang dibiarkan menyala agar lokasi tersebut terasa tetap hangat.


Seorang wanita tersenyum menyambut kedatangan Jordan. Wanita itu tidak lain adalah Lusya. Sahabat yang sangat di sayangi oleh Leona.


"Pangeran Jordan, terima kasih Anda sudah mau datang ke tempat ini. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi jika sampai Anda tidak hadir malam ini."


Jordan memandang wajah Lusya dengan tatapan tidak tertarik. Pria itu duduk di salah satu kursi yang tersedia.


"Katakan saja sebenarnya apa yang kau inginkan?"

__ADS_1


"Saya tahu sebuah rahasia. Ini sangat penting bagi Anda dan keluarga Anda. Tapi semua itu tidak gratis."


Leona yang baru saja tiba hanya bisa bersembunyi dengan wajah penasaran. Ingin sekali ia lebih dekat lagi agar bisa mendengar dengan jelas perbincangan antara Jordan dan Lusya. Melihatnya saja sudah membuat hatinya panas dan siap memukul keduanya.


"Saya sudah tahu sejak awal, kalau kau muncul bukan tanpa tujuan. Apa kau pikir aku tidak tahu siapa pria yang menghajarmu saat di kapal? Tidak semudah itu mengelabuhiku. Aku membiarkanmu dekat dengan Leona semata-mata ingin melihat niat jahatmu saja."


Lusya tertawa lepas ketika mendengar cerita Jordan. Ia bahkan tepuk tangan ketika mengetahui kecerdasan yang dimiliki oleh Jordan.


"Pantas saja Anda di angkat menjadi seorang raja. Anda benar-benar hebat dalam menganalisa sebuah keadaan."


"Apa yang kau inginkan. Katakan saja."


"Kau."


Jordan tersenyum sambil melipat kedua tangannya. Lusya seperti sebuah kapas yang bisa dengan mudah ia embus dan ia hempaskan. Ia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan wanita selicik Lusya kali ini. Mendekati Leona dan menganggap sahabat hanya agar bisa mendapatkan suami dari sahabat nya tersebut.


"Yakin hanya menginginkan diriku?" ledek Jordan dengan senyuman.


"Sepertinya Anda juga bukan tipe pria yang setia, Pengeran."


"Dari mana Anda bisa menilai setia atau tidaknya seorang pria?"


"Baiklah, tapi tidak semudah itu. Tinggalkan Leona dan menikahlah denganku. Rahasia yang aku ketahui berhubungan dengan ibu Anda. Ratu Emelie. Tentukan pilihan Anda dari sekarang sebelum Anda menyesal."


Jordan beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu sudah tidak sabar untuk mencekik leher Lusya. Kali ini tanpa toleransi lagi Jordan ingin menekan dan memaksa Lusya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Katakan apa yang sudah kau rencanakan atau aku akan membunuhmu detik ini juga!"


Lusya merasa tidak takut sama sekali. Bahkan sorot mata wanita berubah dan tidak lagi sama. Tidak ada rasa takut dan rengekan seperti yang selama ini ia tunjukkan di depan Leona.


Leona melebarkan kedua matanya ketika melihat apa yang dilakukan oleh Jordan. Ia berlari dan ingin menghentikan perbuatan Jordan.


"Jordan, hentikan!" Leona memegang tangan Jordan berharap pria itu segera melepaskannya. Namun sorot mata Jordan benar-benar marah. Bahkan permintaan Leona tidak ia dengarkan begitu saja.


"Jordan, lepaskan!" teriak Leona lagi. Ia memukul Jordan namun tetap saja Jordan tidak mau melepaskannya. Pria itu sudah gelap mata.


"Jordan, Leona melangkah mundur. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Hingga akhirnya mau tidak mau ia memukul Jordan dan membuat pria itu melepas cekikannya.


"Lusya, apa kau baik-baik saja?" Leona berlutut untuk menolong Lusya. Jordan segera menarik tangan Leona agar wanita itu tidak menolong Lusya. Tapi, Leona marah dan menghempaskan tangan Jordan begitu saja.


"Leona, dia wanita yang jahat. Untuk apa kau percaya pada dirinya? Dia datang hanya untuk mencelakai keluarga kita!" teriak Jordan penuh emosi. Bukan madu mereka yang tinggal hitungan hari itu harus di lengkapi dengan pertengkaran.


"Leona, aku tidak tahu kenapa Pangeran Jordan sangat membenciku. Aku tahu kalau aku hanya wanita biasa yang tidak pantas berteman dengan wanita sepertimu. Dia memaksaku untuk meninggalkanmu."

__ADS_1


"Beraninya kau berkata seperti itu!" Jordan semakin murkah. Kali ini pria itu mengambil pistolnya dan mengarahkannya ke arah Lusya. Mungkin ketika wanita itu tewas maka semua akan berakhir.


Leona menghalangi. Bahkan jika Jordan benar ingin menarik pelatuk nya maka peluru di dalam akan terkena Leona lebih dulu.


"Leona, kau istriku. Bagaimana bisa kau percaya dengan orang lain daripada suamimu sendiri?"


"Pergilah Jordan. Aku tidak ingin menemuimu." Leona memalingkan wajahnya dan membantu Lusya berdiri. Ia mengabaikan Jordan begitu saja dan pergi bersama Lusya.


Jordan memegang tangan Leona. Berharap wanita itu hanya salah bicara saja. Mereka saling bertatapan dengan pikiran masing-masing.


"Jika kau mencintaiku, kau pasti percaya padaku." Jordan tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Jika kau mencintaiku, kau pasti akan tahu keinginanku!" Leona membawa Lusya pergi. Jordan hanya diam tanpa mau berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa mengepal kuat tangannya dengan wajah yang kesal.


Sungguh seperti mimpi buruk melihat istri tercintanya percaya dengan orang lain daripada dirinya.


***


Waktu terus berlalu.


Katterine membuka mata dengan kepala yang masih sakit. Orang yang pertama kali ia lihat adalah Oliver. Pria itu duduk dengan kepala menunduk. Ia benar-benar sedih dan tidak bisa tidur sampai Katterine membuka mata. Walau jelas-jelas tadi malam kata dokter semua baik-baik saja.


"Pergi kau!" Katterine segera beranjak dari posisinya. Ia benar-benar trauma dengan Oliver palsu yang sudah menyiksanya. Bahkan ketika melihat Oliver yang asli ia sudah tidak percaya lagi.


Oliver kaget bukan main. Ia bahagia melihat Katterine kembali bangun. Namun ia tidak menyangka kalau wanita itu akan ketakutan melihat dirinya.


"Katterine, ini aku." Oliver menunjuk dirinya berharap wanita itu bisa kembali tenang.


"Tidak! Pergi! Pergi! Tolong! Tolong." Katterine seperti orang gila yang berusaha meminta tolong. Oliver memutuskan untuk mundur agar tidak membuat Katterine semakin takut. Bersamaan dengan itu, Zeroun muncul dan segera menghampiri putrinya.


"Daddy." Katterine segera memeluk Zeroun dan menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar takut dan trauma dengan apa yang baru saja ia alami.


Oliver pucat dengan wajah bersalah. Ia tidak tahu harus bagaimana ketika berhadapan dengan Zeroun kali ini. Ia benar-benar malu dan tidak berguna. Bahkan kini Katterine saja tidak mau dekat dengannya lagi.


"Sayang, tenanglah. Jangan menangis."


"Dia ... suruh dia pergi dad."


Zeroun menatap tajam wajah Oliver. Tapi, dari kedua mata Oliver, Zeroun tahu kalau pria itu tidak mau pergi. Ada banyak hal yang ingin ia jelaskan kepada Zeroun.


"Bos, saya bisa-"


"Pergi!" tegas Zeroun tanpa memandang. Kali ini Oliver merasa tidak ada yang membelanya. Hatinya benar-benar hancur. Dengan berat hati ia pergi meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan Zeroun dan Katterine yang masih menangis tanpa henti.

__ADS_1


"Apa lagi sekarang? Aku tidak mau dibenci olehnya. Aku sangat mencintainya!"


__ADS_2