
Serena duduk karena kakinya terasa tidak bertenaga. Wanita itu sangat sedih mendengar kisah cinta putrid tercintanya begitu buruk dan sangat menyayat hati. Walau di hatinya masih mengucapkan syukur karena Leona tidak kehilangan keperawanannya. Sama halnya dengan Aleo. Pria itu bahkan sudah tidak sabar untuk melihat wajah pria yang sudah menyakiti adiknya.
“Sayang, tenanglah,” ucap Daniel sambil mengusap lembut pundak Serena.
“Ini salah kami,” ucap Serena dengan suara lirih.
Shabira hanya diam membisu. Sudah saatnya bagi mereka untuk menceritakan masa lalu yang pernah mereka hadapi dulung. Saat tangan hanya digunakan untuk membunuh tanpa menggunakan hati.
“Ma, apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa mereka dendam pada kita? Mereka mafia, Ma. Kita keluarga terpandang. Selama ini belum pernah berurusan dengan mafia,” ucap Aleo pelan. Ia juga tidak ingin terlalu menekan ibu kandungnya.
“Aleo, maafkan mama. Sebenarnya, semua ini salah mama. Kesalahan mama di masa lalu yang menyebabkan ini semua terjadi.” Serena menghapus tetes air matanya. Ia berusaha menjadi wanita yang kuat walau kini hatinya terluka dan perih karena membayangkan bagaimana lukanya perasaan Leona saat ini.
“Ma, jika mama belum siap untuk cerita. Aleo tidak akan memaksa mama,” ucap Aleo pelan.
Serena menggeleng pelan. “Kalian sudah dewasa. Sudah saatnya kalian mengetahui semua ini, Aleo.”
“Waktu itu, mama bersama dengan Tante Shabira....” Serena menatap wajah Shabira.
Di suatu malam. Serena baru saja tiba di markas Queen Star. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya dengan kepala yang sedikit pusing. Biasanya kondisinya selalu saja sehat. Tidak tahu kenapa, detik itu ia merasa sangat lelah dan ingin beristirahat. Shabira muncul dari dapur dengan membawa teh hangat kepada Serena. Wanita itu duduk di samping Serena.
“Kak, apa kakak baik-baik saja?” tanya Shabira pelan.
__ADS_1
“Hmm, hanya butuh istirahat sebentar saja,” ucap Serena dengan senyuman. Wanita itu meraih teh hangat yang ada di atas meja sebelum meneguknya.
“Kak, pria ini target kita malam ini. Apa kakak mau ikut? Aku bisa mengatasinya sendiri. Kita memang harus membunuhnya demi memperluas daerah kekuasaan,” ucap Shabira penuh semangat.
“Aku akan menyusul nanti. Kalian bisa berangkat lebih dulu,” ucap Serena sebelum bersandar di sofa. Wanita itu memejamkan matanya dan mengatur posisinya agar bisa tidur dengan nyaman.
Shabira beranjak dari sofa tersebut. Ia mengambil senjata apinya dan membawa pasukan Queen Star untuk menemaninya menyerang mafia kecil yang baru saja berkembang itu.
Beberapa jam kemudian, Shabira dan timnya telah tiba di depan rumah milik pria bernama Wick. Mereka menyerang seluruh pasukan milik Wick yang terlihat berjaga di bagian depan. Tidak ada satupun yang di biarkan oleh Shabira untuk meloloskan diri. Semua ia buat tewas.
Pada saat yang bersamaan, Serena juga tiba. Mereka masuk ke dalam rumah berukuran luas itu dengan wajah sok hebat. Tidak ada yang bisa menghalangi mereka lagi. Kini saatnya mereka melancarkan aksi pembunuhan terhadap pemimpin geng mafia itu.
Tuan Wick menyambut kedatangan Serena dan Shabira dengan wajah takut. Pria itu menggendong tubuh Zean kecil. Walau sudah jelas-jelas kalah, tapi Wick terlihat tidak ingin mengalah. Ia mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkannya ke arah Serena.
Serena menghindar. Wanita itu membalas tembakan Wick. Ia melayangkan sebuah peluruh ke kaki kanan Wick. Hingga membuat pria itu terlihat kesakitan dan kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya jatuh terduduk. Zean kecil yang ada di gendongannya hanya bisa menangis melihat ayah tercintanya terluka dan kesakitan.
Serena memberi perintah kepada pasukannya untuk membawa Zean agar menjauh dari tubuh Wick. Wanita itu tidak suka membunuh anak kecil. Ia juga tidak mau ada Zean di samping musuh yang akan segera ia bunuh.
Setelah tubuh Zean menjauh, Shabira mengambil alih untuk menembak Wick. Wanita itu terlihat sangat bahagia melihat lawannya kini tidak lagi berdaya. Hanya satu tembakan saja, Wick telah meregang nyawanya. Shabira mengincar dahi pria itu agar tidak merasakan penderitaan yang luar biasa sakitnya.
Bagi Shabira, itu cara membunuh yang paling elegan jika dibandingkan dengan cara membunuhnya selama ini. “Kak, bagaimana dengan anak kecil itu?” ucap Shabira sambil menatap wajah mungil Zean yang masih menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
“Biarkan saja ia tetap hidup!” ucap Serena sebelum memutar tubuhnya. Wanita itu tidak lagi peduli, kemana dan dengan siapa Zean tinggal. Dengan wajah tidak peduli, Serena dan geng pergi meninggalkan rumah milik Wick.
***
Aleo dan Kwan terlihat kaget ketika mendengar kekejaman yang dilakukan oleh ibu mereka. Wanita lemah lembut yang biasanya mereka pandang dengan penuh belas kasih itu ternyata memiliki masa lalu yang begitu mengerikan.
“Mama ... membunuh? Mama juga menembak?” celetuk Aleo pelan. “Mama mafia dulunya?” sambung Aleo dengan wajah tidak percaya.
“Ya, Aleo. Maafkan mama karena telah menutupi semua ini darimu dan Leona,” ucap Serena pelan.
Kwan menatap wajah Shabira dan Kenzo secara bergantian. Pria itu juga memasang wajah yang sama dengan tatapan Aleo. “Ma, kenapa mama tidak menceritakan semuanya dengan Kwan. Kami bisa jaga-jaga jika kami tahu memiliki musuh dari dendam masa lalu,” protes Kwan. Ia kembali ingat dengan Leona. Wanita itu pasti sangat kecewa jika mendengar cerita Serena barusan.
“Mama ...,” ucap seseorang dari kejahuan. Leona berdiri tidak jauh dari lokasi meja makan. Wanita itu memegang selembar foto yang ia temui di laci kamar. Di dalam laci itu, terdapat banyak foto Serena saat memimpin Queen Star. Tanpa banyak kata lagi, Leona berlari meninggalkan kamar untuk menagih penjelasan sang ibu. Tidak di sangka, ia justru mendengar kabar yang sangat menyayat hati.
Sekilas, Leona berpikir. Kalau Zean melakukan hal yang benar. Membalaskan dendam yang selama ini ia simpan terhadap orang yang telah membunuh ayah kandungnya. Bahkan, jika Leona sendiri ada diposisi itu. Mungkin ia juga akan melakukan hal itu.
“Leona,” ucap Serena dengan suara yang lirih. Wanita itu beranjak dari kursi yang ia duduki lalu berjalan mendekati posisi Leona berdiri. Tapi, sepertinya Leona tidak ingin di dekati. Wanita itu mundur beberapa langkah dengan kepala menggeleng pelan. Hingga membuat Serena terlihat bingung dan tidak lagi bisa tenang.
“Jangan dekati, Leona. Ma!” teriak Leona. Tanpa banyak kata lagi, Leona memutar tubuhnya dan berlari pergi. Ia sudah mendengar semuanya. Baginya tidak ada yang perlu dijelaskan lagi karena semua sudah sangat jelas.
“Leona!” teriak Daniel. Tapi, teriakan pria itu juga tidak lagi di dengar oleh Leona.
__ADS_1
“Biar Aleo saja yang bicara dengan Leona, Ma. Pa.” Aleo berjalan cepat mengejar Leona. Pria itu sangat yakin kalau akan berhasil membujuk Leona.